Saturday, November 14, 2015

Another Moon - Part 2

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 2

Selama tiga hari ini Bintang selalu diminta mamanya untuk menemani Rain. Karena Rain tidak ingin berdua dengannya, otomatis Rain mengajak serta Felicia. Itulah mengapa tiga hari ini tiada waktu tanpa Felicia dalam harinya. Dan kehadiran gadis itu sukses membuatnya sebal setengah mati. Guru Rain itu sepertinya tahu sekali bagaimana merusak hari-hari Bintang.

Siang itu, sepulang sekolah, Rain meminta ditemani ke taman kota. Sebagai orang dewasa, itu merupakan hal yang membosankan menurut Bintang. Taman kota? Kenapa harus taman kota? Seperti tidak ada tempat lain saja!

"Berisik!" seru Felicia yang mendengar gerutuan Bintang karena permintaan Rain. "Dasar! Kalau tidak ikhlas tidak usah mengantar!"

Bintang hanya bisa menatap tajam Felicia. Mau tidak mau ia harus menemani Rain daripada ia mendapat ceramah dari mamanya seharian.

Di taman kota, Bintang memilih tempat duduk di bawah pohon tak jauh dari kolam. Pikirannya berkelana jauh. Bulan. Walau ia ingin melupakan, tapi selalu saja terbayang di kepalanya. Seakan-akan otaknya sudah diatur hanya untuk memikirkan Bulan.

Tersadar, Bintang menoleh sekelilingnya mencari Felicia dan Rain. Tidak dilihatnya dua orang yang bersama dirinya tadi. Bintang bangkit dan mencoba mencari di sisi lain taman. Ternyata Felicia dan Rain sedang duduk di dekat rumpun bunga dan pohon kecil sambil makan es krim.

Bintang tak langsung menghampiri, namun memperhatikan agak jauh. Bintang memperhatikan interaksi antara Felicia dan Rain. Melihat betapa sabarnya gadis itu menghadapi bocah menyebalkan yang selalu punya banyak stok pertanyaan.

"Berarti kalau ulat itu sudah makan banyak dan menjadi besar, dia akan berubah jadi kupu-kupu?" tanya Rain sambil merentangkan tangannya ketika mengatakan 'besar'.

"Tapi, sebelum berubah jadi kupu-kupu, ulat yang sudah kenyang itu akan tidur dulu. Nah, ia tidur di dalam kepompong." Jawab Felicia dengan sabar.

"Kepompong?"

"Yep, seperti selimut. Selimut itu membungkus si ulat selama beberapa waktu." Jawab Felicia menjelaskan.

"Berapa lama?" tanya Rain yang selalu ingin tahu.

"Sampai dia lapar lagi."

"Berapa lama dia lapar lagi?"

"Kurang lebih dua minggu. Baru kemudian si ulat yang tidur tadi bangun dan keluar dari kepompong menjadi kupu-kupu." Felicia menjelaskan dengan sabar dan menggunakan penjelasan yang mudah.

"Ulat makan daun, tapi Rain lihat kupu-kupu sering ada di atas bunga. Apa kupu-kupu makan bunga?" dengan mata bulat yang selalu ingin tahu itu, Rain menunjuk ke arah kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga.

Mendengar penuturan Rain membuat Felicia tertawa. "Tidak. Kupu-kupu tidak makan bunga. Biasanya, kupu-kupu makan madu yang ada pada bunga. Madu pada bunga itu namanya nektar."

"Rain juga suka madu. Manis. Besok Rain mau bawa madu untuk kupu-kupu." Seru Rain penuh semangat. Sesekali ia memakan es krim di tangannya.

Felicia tertawa dan mencubit pipi Rain dengan gemas. "Kupu-kupu hanya suka madu yang ada di bunga. Tidak suka madu yang lain."

Rain terlihat mengangguk-anggukkan kepala seolah sudah mengerti. Ia mencoba memahami apa yang tadi dijelaskan padanya.

"Karena tadi Rain yang menemukan ulat dan kupu-kupu, sekarang Bunda Feyi yang mencari kepompongnya." Felicia memutari rumpun untuk mencari kepompong.

Bintang memperhatikan Rain yang mengekor di belakang Felicia dengan penasaran, kemudian terjatuh karena menabrak Felicia yang tiba-tiba berhenti. Seketika Bintang bergegas menghampiri dua orang yang sedari tadi dipandanginya. Tapi ia hanya berdiri, melihat Felicia yang memperlakukan Rain dengan sangat baik dan penuh sayang.

"Maaf, baju Bunda Feyi jadi kotor." Kata Rain yang melihat baju Felicia kotor terkena es krim.

Felicia menggeleng tak mempermasalahkannya. "Rain tidak apa-apa?" tanya Felicia khawatir. Ia menepuk-nepuk pakaian Rain untuk membersihkan debu. Untung saja sedang tidak hujan.

Rain menggeleng. "Kan Bunda Feyi yang bilang kalau Rain kuat." Ia tersenyum lebar dan menunjukkan telapak tangannya yang sedikit terluka.

"Sakit?" tanya Bintang yang tiba-tiba sudah berjongkok di sebelah Felicia.

Rain mengangguk dan tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang mungil. "Tapi Rain tidak menangis. Rain kuat."

Bintang tersenyum dan mengacak rambut Rain. "Itu baru namanya anak laki-laki." Bintang menggendong Rain dan mendudukkannya di bangku bawah pohon yang teduh.

"Rain duduk manis dan tunggu Bunda Feyi di sini." kata Felicia yang di sambut anggukan Rain.

Felicia membasahi sapu tangan yang dibawanya di keran air bersih terdekat. Ketika ia sedang membasahi sapu tangannya, seorang ibu datang menggandeng puteranya.

"Mau cuci tangan?" tanya Felicia pada anak itu, dan anak itu mengangguk. "Silahkan."

"Senangnya jalan-jalan bersama keluarga." Celetuk ibu anak itu tersenyum.

Felicia mengerutkan keningnya. "Keluarga?" tanyanya tak mengerti.

"Iya, itu suami dan anaknya kan?" ibu itu menunjuk ke arah pohon tempat di mana Rain dan Bintang duduk. "Semoga langgeng dan bahagia ya."

Felicia hanya bisa tersenyum kaku menanggapi ibu itu, kemudian segera pamit.

Jika orang mengira Rain adalah anaknya, itu adalah hal biasa. Ia sering dikira seorang ibu ketika berjalan dengan anak kecil. Tapi Bintang, menjadi suaminya? Mungkin dunia sudah gila jika itu terjadi. Felicia menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan apa yang dikatakan ibu tadi.

Begitu Felicia sampai di tempat Rain dan Bintang duduk, ia segera mengusapkan sapu tangan basah itu ke tangan Rain yang terluka.

"Sakit?" tanya Felicia.

"Seperti digigit semut." Rain menjawab dengan mantap.

Bintang tertawa mendengar jawaban Rain, dan itu membuat Felicia mengangkat sebelah alisnya. Bintang? Tertawa? Ia jadi teringat lagi perkataan ibu tadi. Ugh! Kenapa harus Bintang?!

"Es krimnya..." sahut Rain menggantung.

"Ayo kita ke tempat es krim yang enak!" seru Felicia menghibur Rain.

***

Felicia mengambil tempat duduk di depan Bintang dan di sebelah Rain. Bintang mengamati tempat yang dipilih Felicia. Kafe di mana ia biasa memesan kopinya.

"Hai Kak Emma!" sapa Felicia ketika seorang waiters yang datang ke meja mereka.

Bintang menatap sekilas pada waiters itu. Waiters yang biasa menyajikan kopi pesanannya.

Waiters itu mengernyitkan kening. "Kalian saling mengenal?" tanyanya.

"Dia orang yang pernah kuceritakan pada kakak." Jawab Felicia sambil membaca menu.

"Si pria menyebalkan itu?" tanya Emma, dan dijawab Felicia dengan anggukan tanpa menoleh. Ia tidak tahu kini Bintang menatapnya tajam meminta penjelasan.

Seperti menyadari ada sesuatu, Emma membaca ulang pesanan Felicia yang baru saja diberikan padanya. "Es krim choco-vanilla, es krim matcha, dan macaroon. Ada lagi?"

"Kopi hitam kental tanpa gula." Jawab Bintang.

Felicia mengernyit bingung dengan pesanan Bintang. Kopi hitam yang pahit? Memangnya enak? Dasar aneh!

"Oke, tunggu sebentar." Emma mengangguk dan berlalu.

"Siapa?" tanya Bintang.

"Apa?" tanya Felicia tak mengerti. "Oh, kakakku." Jawab Felicia mengikuti arah pandang Bintang ke pintu di mana kakaknya menghilang.

"Kenapa? Kau menyukainya?" tanya Felicia dengan polosnya. "Percuma, dia sudah menyukai orang lain."

Bintang menatap Felicia dengan kesal. Gadis di depannya ini benar-benar menyebalkan dan sok tahu. Ia tidak mengacuhkan kata-kata Felicia tadi. Ia bertanya karena wajah Emma sudah tak begitu asing baginya. Emma lah yang memberikan banana pie padanya waktu itu.

Felicia sendiri pun tidak mempedulikan apa dan bagaimana tanggapan Bintang mengenai kata-katanya. Ia sibuk menjawab pertanyaan Rain yang sedang asyik dengan buku menu di hadapannya.

"Ini pesanan kalian." Kata Emma meletakkan dua mangkuk es krim, secangkir kopi, dan sepiring macaroon ke meja Felicia.

"Terima kasih." Jawab Felicia yang diikuti oleh Rain.

Emma menoleh ke arah Bintang. "Jika kau kemari untuk secangkir kopi, ketika sore hari biasanya ada seorang gadis yang selalu kemari untuk segelas greentea milkshake." Emma tersenyum kemudian kembali ke balik konter.

Bintang hanya mengedikkan bahu tak peduli. Lalu apa hubungannya dengannya?

Sembari sesekali menyesap kopinya, sesekali pula Bintang mengamati Felicia yang sangat memperhatikan Rain. Mungkin karena ia guru TK, sehingga sangat suka pada anak-anak. Felicia terlihat sangat keibuan dan penyayang. Kesabarannya dalam menjelaskan, senyumnya yang selalu melengkung jika berhadapan dengan anak-anak membuatnya semakin terlihat lembut.

Bintang hanya mendesah dan berharap dalam hati, semoga saja dia mendapatkan pengganti Bulan yang nantinya akan memperhatikannya keluarganya seperti Felicia yang memperhatikan Rain dengan sayang.

Tunggu! Kenapa harus yang seperti Felicia?! Aaargh! Bintang menggelengkan kepalanya menepis pikiran yang barusan muncul.

Ketika Bintang menoleh ke konter, ia melihat orang yang sudah tidak asing baginya. Siapa lagi jika bukan pemilik separuh hatinya. Bulan. Bulan datang bersama Reza. Hanya berdua. Seperti ABG yang sedang berkencan.

*** 

Cemburu? Tentu saja Bintang cemburu. Tapi entah kenapa tidak sesakit dulu. Ataukah karena sudah terlalu lama ia merasakan sakit, sehingga hatinya sudah kebal hingga mati rasa?

Felicia yang melihat Bintang terdiam langsung mengikuti arah pandangnya ke konter. Entah kenapa walaupun dia sebal pada Bintang, dadanya terasa nyeri ketika melihat Bintang memperhatikan wanita lain. Lebih sakit dari saat calon suaminya membatalkan pernikahannya.

Tiba-tiba Bulan menoleh ke arah meja di mana Bintang berada dan menghampirinya, sedangkan Reza masih di depan konter menunggu pesanannya dibungkus.

"Ta, apa kabar? Lama sekali tak mendengar kabarmu." Kata Bulan dengan senyum manisnya.
"Aku baik. Kau sendiri?" Bintang menjawab dengan senyum kaku dan mempersilahkan Bulan duduk.

"Baik."

Dari jawaban Bulan dan raut wajahnya yang bersinar, Bintang tahu kalau Bulan baik-baik saja tanpanya. Sama seperti dulu ketika ia pergi meninggalkan Bulan. Seharusnya ia tidak kembali. Seharusnya mereka tak bertemu lagi.

"Memangnya kau sudah boleh berpergian?" Bintang teringat bahwa Bulan baru saja melahirkan dengan operasi caesar.

"Aku baru saja dari rumah sakit untuk cek. Dan kondisiku sudah semakin membaik." Jawab Bulan.

"Syukurlah. Ingin memesan sesuatu?" tanya Bintang basa-basi untuk menghapus kecanggungan di antara mereka.

"Tidak. Kami mampir untuk membeli kue favorit Bumi. Dia meminta hadiah itu karena telah menjaga Rayya dengan baik." Bulan menjawab dengan senyum keibuan. "Apakah ini pacarmu?"

Bintang hanya tersenyum kaku. "Kulihat kalian sangat bahagia." Kata Bintang mengalihkan pembicaraan dengan mengedikkan kepala ke arah Reza.

"Aku bahagia, dan kuharap kau pun juga bahagia." Bulan tersenyum tulus. Kemudian ia menoleh ke arah Felicia. "Bintang pria yang baik, jaga dia."

Bintang bahagia? Entahlah. Mungkin hanya keajaiban yang dapat membuatnya bahagia tanpa Bulan di sisinya.

Bintang menyesap kopinya. Jika ia pria yang baik, kenapa Bulan memilih Reza dan menolak untuk bersamanya? Apa ia harus menjadi pria brengsek dulu supaya Bulan mau bersamanya? Bintang hanya terdiam dan menghembuskan napas lelah dengan perlahan.

Setelah berkenalan dengan Felicia dan Rain, Bulan segera pamit karena sudah ditunggu oleh putera-puterinya. Reza sendiri walaupun sudah memaafkan, bukan berarti melupakan apa yang dilakukan Bulan dan Bintang dulu. Ia hanya mengangguk pada Bintang dan pergi dengan menggandeng Bulan.

Felicia yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Kenapa harus dirinya yang menjaga Bintang? Dia bukan siapa-siapa. Dan kenapa harus Bintang? Aaargh! Sejak bertemu Bintang, hidupnya seakan menjadi keluar dari orbitnya. Jika dia adalah sebuah planet dan tata surya adalah hidupnya, maka pastilah tata surya sudah berantakan.

***

Setelah sampai di depan rumah Felicia, Felicia tidak segera turun. Ia masih duduk di tempatnya dalam diam.

"Kau tahu, lupakan hal-hal yang membuatmu sedih. Kau sendiri yang memilih, antara ingin bahagia atau tak bergerak dari kesedihan masa lalumu." Felicia menatap ke luar kaca mobil. "Melangkahlah maju dan kau akan baik-baik saja."

"Kau tak tahu apa pun. Diam dan segera turun." Sahut Bintang dengan ketus. Ia merasa terusik mendengar perkataan Felicia tentang Bulan.

"Karena aku yakin hidupmu masih lebih beruntung dari pada aku. Kau masih bisa bahagia jika kau mau mensyukuri yang kau punya." Tambah Felicia.

"Cukup! Cepat turun dan segera masuk!" seru Bintang yang tanpa sadar berteriak pada Felicia.

Felicia menahan napas ketika mendengar Bintang berteriak. Ini pertama kalinya Felicia melihat Bintang marah. Biasanya, sekesal apapun Bintang, ia tidak sampai meninggikan suaranya seperti saat ini. Mungkin ia sudah ikut campur terlalu jauh.

Tidak ingin melihat Bintang semakin marah, Felicia melepas seat belt-nya dan turun dari mobil. Tak lama setelah ia turun, Bintang segera melajukan mobilnya pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Felicia menghela napas panjang. Tidak seharusnya ia mencampuri urusan orang lain. Sedekat apa pun dia dengan Bintang, tidak seharusnya ia memaksakan pemikirannya pada Bintang. Mungkin ia bisa bertahan dengan pemikiran itu, namun belum tentu dengan Bintang.

Mengingat bagaimana reaksi Bintang ketika berada di dekat bulan, ketika Bintang meminta Bulan untuk duduk, ketika Bintang menanyakan kebahagiaan Bulan, semua itu sudah sangat jelas bahwa Bulan memiliki tempat yang sangat special di hati Bintang.

Felicia memukul kepalanya kesal. "Ck! Lalu kenapa kalau Bulan special di hati Bintang? Bukan urusanku!" serunya ketika masuk rumah dan menutup pintu dengan kasar.

***

Emma menoleh ketika mendengar suara pintu yang menutup dengan keras. Terdengar suara hentakan kaki yang sudah ia hafal. Siapa lagi kalau bakan langkah kaki Felicia yang sedang kesal.

"Kenapa Fey?" tanya Emma yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

"Kak! Kenapa sih pria itu kepala batu? Huh! Bisanya selalu membuat orang kesal! Bisa darah tinggi kalau keseringan bersamanya!" Felicia melemparkan tas selempangnya ke sofa, sedangkan ia sendiri menghempaskan diri di samping kakaknya.

Mendengar gerutuan kesal Felicia, mau tak mau Emma tersenyum. Paling tidak adik kesayangannya ini sekarang menjadi sedikit lebih ekspresif. Tidak seperti dulu, yang hanya selalu tersenyum tipis setelah ditinggalkan mantan calon suaminya.

"Bintang?" tanya Emma.

"Siapa lagi kalau bukan si pria menyebalkan itu!" gerutu Felicia sambil mencomot keripik di toples yang dibawa Emma.

"Kulihat kau sangat akrab dengannya. Bahkan ketika kau bersama dengannya dan Rain, kalian terlihat seperti keluarga bahagia. Akhir-akhir ini jam pulangmu selalu sama. Kau tidak akan pulang jam delapan malam jika tidak akrab dengannya." kata Emma menggoda adiknya.

"Kami tidak akrab! Dia hanya orang yang menyebalkan." gumam Felicia.

"Hei, cinta dan benci itu batasnya hanya setipis kertas." Sahut Emma mengomentari. Tinggal berdua dengan Felicia membuat Emma begitu memahami adik semata wayangnya ini. Ayahnya pergi dan ibunya meninggal dua tahun yang lalu.
"Ck! Siapa bilang aku membencinya?" Felicia merebut toples kripik itu dari tangan Emma.

"Jadi, kau mencintainya?" tanya Emma yang langsung membuat gerakan Felicia terhenti.

Cinta? Felicia mencintai Bintang? Tidak mungkin dan tidak akan! Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang sama lagi karena cinta. Karena cinta, ibunya menderita. Karena cinta, kakaknya menderita. Karena cinta pula ia pernah menderita.

"Tidak akan!" seru Felicia menghempaskan toples keripik ke tangan Emma. Ia segera meraih tasnya dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.

Emma hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Ia hanya berharap semoga dengan hadirnya Bintang ini bisa membuat Felicia melupakan masa lalunya.

"Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu, Fey." Gumam Emma.

***

Setelah membersihkan diri, Felicia bersiap tidur dengan memeluk guling kesayangannya. Ia tidak bisa tidur jika tidak memeluk guling.

Pikirannya terbayang pada sosok Bintang yang akhir-akhir ini selalu mengisi harinya. Bagaimana sikap ketusnya, kata-katanya yang selalu membuat kesal, wajah kesalnya, dan yang paling menenangkan adalah wajahnya yang tersenyum dan tertawa di taman karena Rain.

Jika ia bisa tersenyum dan tertawa, kenapa dia harus memasang wajah kesal? Ck! Dasar menyebalkan. namun tak dapat dipungkiri bahwa ia mulai merasa nyaman jika berada di dekat Bintang. Pria itu menjadi menarik, bukan karena wajahnya atau hartanya. Walau selalu terlihat kesal, tapi dia pria yang baik. Ia menarik dengan caranya sendiri Sesuai dengan namanya. Bintang. Ia mempunyai cahaya sendiri.

"Bintang menyebalkan..." gumam Felicia sebelum terlelap hanyut dalam tidurnya.

***

Everyone make mistakes in life, but that doesnt mean they have to pay for them the rest of their life. Sometime good people make bad choices. It doesnt mean theyre bad. It means theyre human.

..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144795299-another-moon-re-part-2


Another Moon - Part 1

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 1

Apakah patah hati memiliki kadaluarsa? Jika iya, kapan kadaluarsa itu menyapanya hingga ia terbebas dari rasa sakit?

Siang itu ia menghentikan laju mobilnya dan masuk ke sebuah kafe yang sudah hampir dua bulan ini selalu didatanginya, kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Ia masuk dan memilih tempat duduk di samping jendela yang langsung menghadap langit di antara hutan beton. Seperti biasa, ia memesan kopi kental yang pahit. Minuman yang selalu menemaninya sendirian menatap langit. Entah sejak kapan ia menyukainya. Mungkin sejak ia kehilangan separuh hatinya.

Bintang. Ia menepati janjinya untuk tidak muncul di hadapan Bulan dan Reza lagi, meski hatinya berontak ingin tahu apakah anak yang dilahirkan Bulan adalah anaknya atau bukan. Ia menjauh, sebisa mungkin menghindari tempat-tempat di mana ia biasa melihat Bulan. Namun apa daya, hatinya masih tertambat dan terperangkap. Ia belum bisa melepaskan diri dari wanita yang dicintainya sepenuh hati. Ia hanya mampu menatapnya dari jauh, diam dalam bayang.

Sudah hampir dua bulan sejak Bulan melahirkan. Selama dua bulan itu pula Bintang berusaha melupakan perasaannnya. Melupakan cintanya. Melupakan patah hatinya. Menjauhi segala hal yang menjadi sumber rasa sakitnya. Lagipula, Bulan sudah bahagia dengan keluarganya sekarang. Suami yang menerimanya kembali dan dua anak yang lucu. Kehidupan yang sempurna.

Lelaki itu masih memandang ke luar jendela dan dengan pikirannya sendiri, ketika seorang waiters meletakkan cangkir kopinya yang keempat. Ia mengangkat sebelah alisnya dengan bingung ketika akan meraih cangkir kopinya.

"Aku tidak pesan kue." Kata Bintang menatap waiters di depannya.

Waiters itu tersenyum. "Traktiranku karena kau menjadi pelanggan tetap kami. Banana pie."

"Terima kasih. Tapi aku tidak suka manis." Tolak Bintang yang kemudian menyesap kopinya perlahan dan kembali menatap ke luar jendela. Ia berharap pahitnya kopi mampu mengenyahkan lubang tak kasat mata di dadanya.

"Hanya kali ini aku mentraktirmu. Makanlah. Aku yakin perutmu hanya terisi kopi selama beberapa hari ini." tak lama waiters itu pun pergi meninggalkan meja Bintang.

Bintang mendengus. Pasti waiters tadi salah satu dari wanita yang hanya ingin mencari perhatiannya. Dia tidak akan tertipu. Lagipula dia juga belum bisa mengumpulkan remah-remah hatinya yang hancur. Hatinya yang seluruhnya telah ia berikan pada Bulan. Walau pun ia lelaki, tapi ia juga memiliki hati. Ia bisa mencintai. Juga patah hati.

Siapa bilang cinta itu adalah bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia walau tidak bersama kita. Bullshit! Jika memang definisi cinta seperti itu, harusnya ia tidak merasakan sakit seperti sekarang ini. perasaan hampa dan kehilangan.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

"Ya, Ma?" sapa Bintang. Ia mengernyitkan kening ketika mendengar Mamanya berbicara.

"Kenapa harus aku?"

Bintang menghela napas panjang. "Baiklah, aku pergi sekarang. Bye, Ma."

Bintang memutus panggilan dan kemudian pergi setelah membayar tagihannya. Ia meminta banana pie tadi untuk dibungkus dan dibawanya.

***

Gadis itu sedang membereskan kelas yang berantakan karena anak didiknya, ketika dilihatnya seorang anak masih duduk dan bermain di bak pasir. Salah satu anak dari kelas yang diasuhnya. Ia meninggalkan pekerjaannya dan menghampirinya.

Ia berjongkok bersebelahan dengan anak itu. "Rain, apa yang sedang kau lakukan?"

Anak laki-laki itu menoleh dan tersenyum.

"Membuat istana." Rain melanjutkan kegiatannya membangun istana pasir menggunakan ember dan sekop kecil.

"Istanamu bagus." Sahut gadis itu.

"Tentu saja. Aku ingin Mama dan Papa melihat istanaku ini. Pasti hari ini mereka akan menjemputku. Apa Bunda Feyi ingin kubuatkan juga?" Rain menatap gurunya dengan mata berbinar. Ya, namanya Felicia namun anak-anak memanggilnya Bunda Feyi.

"Terima kasih, Rain. Sekarang masuk yuk. Istanamu sudah jadi dan kita akan menunggu Papa dan Mama di dalam." Bujuk Felicia. "Di mana ranselmu?"

"Tapi--"

"Bunda Feyi punya permen dan cokelat. Apa kau mau?" sahut Felicia cepat ketika melihat keengganan dari Rain.

"Mauuu!!" seru Rain melonjak dan langsung memeluk Felicia hingga hampir terjungkal ke belakang. Sebelah lutut Felicia menyentuh pasir untuk menyangga tubuhnya. "Ranselku ada di dekat pintu."

"Wow, ketika kau besar nanti kau pasti jadi pria yang kuat. Kau membuat Bunda Feyi hampir terjungkal." Felicia mengacak rambut Rain yang memeluknya dengan erat.

Rain hanya terkekeh dan menyurukkan wajahnya ke rambut panjang Felicia.

"Permisi," terdengar suara yang membuat Felicia menoleh. "Aku ingin menjemput seseorang."

***

Bintang menatap dua orang di depannya dengan pandangan aneh. Dua orang di depannya sedang berpelukan sambil tertawa-tawa. Gadis itu berambut cokelat panjang, sedang memeluk anak kecil.

"Permisi," Bintang mencoba menarik perhatian keduanya, yang membuat gadis itu menoleh. "Aku ingin menjemput seseorang."

Bintang menatap gadis itu menilai. Gadis itu kecil bila Bintang yang menjadi pembandingnya. Mungil mungkin kata yang lebih tepat. Rambut panjangnya yang lurus membingkai wajah mungilnya dengan sempurna. Mata hitam jernihnya semakin terlihat kekanakan karena poni yang menutupi dahinya. Gadis itu terlihat cantik dan manis secara bersamaan.

Bintang mengerutkan kening untuk mengusir pikirannya barusan. Sepertinya terlalu banyak kopi membuat otaknya bergeser.

Felicia melepaskan pelukan Rain dan berdiri. Ia menggenggam erat jemari Rain yang kini separuh badannya tersembunyi di balik tubuhnya. Dengan flat shoes di kakinya, tubuhnya hanya setinggi bahu Bintang.

"Menjemput seseorang? Siapa? Di sini sudah tidak ada siapa pun." Felicia menjawab dengan tegas dan dengan dahi berkerut. Jangan-jangan pria di depannya ini adalah penculik? Wajahnya terlihat kusut dan menyeramkan.

"Aku ingin menjemput dia." Bintang menunjuk Rain dengan tatapan tak yakin.

Melihat keraguan Bintang, Felicia menegang kaku. "Jangan berbohong! Dia sedang menunggu orang tuanya, dan itu bukan kau." Suara Felicia naik satu oktaf. Ia tidak akan membiarkan orang itu membohonginya. Ia akan menghadang pria itu meskipun ia penculik sadis.

Bintang memijat pangkal hidungnya dan menghela napas panjang. "Aku benar-benar diminta untuk menjemput anak ini." jawab Bintang meyakinkan gadis di depannya dan juga dirinya sendiri.

Ia yakin anak laki-laki ini yang diminta Mamanya untuk dijemput, karena gadis di hadapannya ini tadi bilang bahwa semua anak sudah pulang dan tinggal anak ini yang menunggu orang tuanya.

"Kau pasti ingin menculik anak ini kan?" Felicia berkacak pinggang dengan berani, sedangkan Rain bersembunyi di belakangnya dan memeluk dengan erat. "Aku tak akan tertipu!"

Bintang melengos mendengar tuduhan itu. "Felicia," panggilan Bintang membuat Felicia mengernyit. Ia mengetahui nama Felicia dari name tag di bajunya. "Aku bukan penculik." Kata Bintang tegas.

Sosok gadis cantik dan juga manis tadi menguap. Bintang merasa menyesal telah menilai gadis di hadapannya ini terlalu tinggi. Yang ada di hadapannya kini hanyalah seorang gadis bar-bar yang menyamar menjadi guru TK.

"Aku tidak akan termakan kata-katamu." Kata Felicia melipat lengannya di depan dada.

"Kau tidak percaya?" tanya Bintang.

Felicia menggeleng tegas.

Bintang mengeluarkan penselnya dan menghubungi mamanya. "Ini!" Bintang menyerahkan ponselnya pada Felicia.

Felicia mengernyit namun tetap menerima ponsel itu. "Halo," sapanya dengan ragu.

"Saya Felicia. Guru Taman Kartika, kelas Matahari." Felicia tampak mendengarkan. "Oh, begitu. Baik, terima kasih." Felicia menutup telepon dan mengembalikannya.

"Apa katanya?" tanya Bintang tajam.

"Nenek yang akhir minggu lalu mengantar Rain bilang bahwa Bintang akan datang menjemput." Felicia  menjawab dengan nada tak bersalah yang membuat Bintang melotot.

"See?" Bintang mendengus kesal. "Apa perlu kutunjukan KTP-ku kalau namaku Bintang, dan aku bukan penculik?" Ia menatap Felicia dengan tajam dan suara yang meninggi karena moodnya anjlok seketika.

"Bukan salahku. Itu salahmu kenapa tiba-tiba datang dan bilang ingin menjemput Rain." Felicia membalas karena tidak terima ia yang disalahkan.

"Kau--!"

Terdengar suara isakan kecil dari balik tubuh Felicia, yang membuat Felicia dan Bintang menoleh.

Dengan sigap Felicia berbalik dan berjongkok memeluk Rain. Rain langsung mengalungkan lengannya ke leher Felicia dan menyembunyikan wajahnya sambil masih terisak.

"Rain kenapa?" tanya Felicia yang suaranya berubah melembut. Bintang mendengus melihat perubahan itu.

Rain mengambil napas dan mengusap air matanya. "Rain takut Om itu. Om itu jahat ke Bunda Feyi."
Felicia tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Rain pelan. "Kenapa Rain bilang Om itu jahat ke Bunda Feyi?"

Kata-kata Felicia membuat Bintang menatapnya tajam.

"Om itu berteriak ke Bunda Feyi." Kata Rain memundurkan tubuhnya untuk menatap Felicia.

Felicia tertegun dengan apa yang diucapkan Rain. "Rain masih mau permen?" tanya Felicia mengalihkan pembicaraan.

"Dan cokelat." Jawab Rain malu-malu.

Hal itu membuat Felicia tertawa dan memegang kedua pipi Rain dengan gemas. "Kalau begitu jangan menangis lagi. Kau lebih tampan kalau tersenyum."

Felicia berdiri dan menggandeng tangan Rain. Ia mengambil ransel Rain di dekat pintu depan, kemudian masuk ke ruang untuk guru dengan Bintang mengikuti di belakangnya.

"Tunggu di sini."  kata Felicia mendudukkan Rain di kursi panjang tak jauh dari pintu ruang guru.

Tak lama, Felicia kembali dengan membawa sebuah permen lollipop dan dua cokelat. "Ini untuk Rain. Sekarang Rain pulang sama Om Bintang, ya?"

Felicia berjongkok di depan Rain yang menggeleng, sedangkan Bintang berdiri bersandar di daun pintu.
"Kenapa?" tanya Felicia dengan lembut.

"Rain mau pulang sama Bunda Feyi." Kata Rain menunduk dan memegang lengan kemeja Felicia.

Felicia melepas tangan Rain dari kemejanya. Sambil menggenggam tangan Rain, Felicia tersenyum dan mencoba memberi pengertian. "Kan Bunda Feyi harus beres-beres kelas dulu. Kalau tidak, besok kelasnya tidak bisa dipakai."

"Kalau gitu Rain bantu." Rain meloncat turun dari kursi dan menggandeng tangan Felicia, sedangkan tangan satunya membawa permen dan cokelat.

Sambil menggandeng tangan Felicia, Rain berjalan dengan cepat menuju ruang kelasnya. Ia meletakkan permen dan cokelatnya di salah satu meja kemudian mulai merapikan mainan yang ada di rak.

Walaupun anak-anak sudah mengembalikan apa yang tadinya di ambil kembali ke tempatnya, tetap saja ada beberapa yang masih berantakan. Selain itu meja dan kursi juga kurang rapi.

Felicia merapikan rak di sisi yang lain sambil tersenyum. Melihat Felicia dan Rain sibuk sendiri, Bintang menghela napas. Mau tak mau ia juga harus ikut membantu kalau ingin cepat pulang dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Ia merapikan semua meja dan kursi hingga rapi.

***

Felicia langsung melompat turun begitu mobil berhenti.

"Hei!" seru Bintang menahan kesal. Dilihatnya Felicia langsung menghambur masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikannya, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih. "Dasar gadis kasar yang menyebalkan! Tidak ada manis-manisnya sama sekali!" gerutu Bintang kemudian memacu mobilnya pulang ke rumah.

"Sudah kau antarkan sampai rumahnya?" tanya mama Bintang sambil meletakkan secangkir teh ketika puteranya masuk ke rumah.

"Ma, Bintang yang jadi korban, tapi kenapa Mama malah membela dia sih?" sungut Bintang yang mehempaskan tubuhnya di sofa depan mamanya.

"Memang kamu yang salah kan? Mengambil kesempatan dalam kesempitan?" goda mamanya yang membuat wajah Bintang semakin keruh.

"Ya ampun, Ma, tadi Bintang hanya menahannya supaya tidak terjatuh!" kata Bintang membela diri.

"Tetap saja, kan?"

"Sudahlah! Sekarang jelaskan ke Bintang, siapa Rain?" Bintang melipat lenganya di depan dada, masih kesal dengan kejadian hari ini.

Mama Bintang hanya tertawa. "Rainfal itu cucu teman mama, orang tuanya sangat sibuk bekerja hingga dia selalu bersama Eyangnya. Tiga hari ini teman Mama itu harus opname untuk cek kesehatan secara keseluruhan."

"Rainfall?"

"Rainfal! Aduh, telingamu ini!" gerutu Mama Bintang. "Ya sudah, bersihkan badanmu kemudian istirahat."

"Tapi kenapa Bintang tidak tahu kalau Rain di sini?" tanya Bintang yang keningnya sudah berkerut bingung.

"Tentu saja kau tidak tahu, kau berangkat kerja pagi sekali dan selalu pulang larut." Mama bangkit meninggalkan Bintang untuk kembali ke kamarnya.

***

Felicia menatap langit-langit kamarnya dengan kesal. "Pria menyebalkaaan!!" serunya sambil menekan wajahnya dengan bantal.

Felicia mengingat harinya tadi yang menurutnya teramat sangat sial.

Rain hanya ingin ikut pulang dengan Bintang jika Felicia ikut bersamanya. Akhirnya dengan terpaksa dan sedikit debat, Felicia pun ikut mobil Bintang dan menemani Rain pulang. Bintang menatap Felicia dengan tatapan tidak suka ketika Felicia dan Rain duduk di bangku belakang. Jadilah bangku depan ditempati oleh kotak berisi banana pie.

"Siapa pun, pindah ke depan!" seru Bintang dengan geraman tertahan. "Aku bukan sopir kalian!"

Namun Felicia dan Rain hanya bergeming, tak bergerak. Bahkan terlihat tidak peduli dengan Bintang yang menahan kesal. Ia menghela napas panjang dengan kesal. Bersama dua orang ini bisa membuat umurnya berkurang.

Rain tidak mau duduk di depan yang bersebelahan dengan Bintang, tapi Rain juga tidak mau duduk sendiri di belakang karena aura Bintang yang mengintimidasi. Daripada melihat Rain menangis, lebih baik dia duduk bersama Rain di bangku belakang, itu yang Felicia pikirkan.

Setelah sampai dan menyerahkan Rain pada mama Bintang, Felicia pamit pulang, namun mama Bintang memintanya menemani Rain dulu karena ia sedang memasak.

"Tolong temani Rain dulu ya, Nak Feli." Mama Bintang meminta dengan wibawa seorang ibu yang tidak bisa ditolak oleh Felicia.

"Iya Tante." Felicia memanggilnya tante karena mama Bintang yang memintanya.

Akhirnya Felicia menemani Rain bermain, berceloteh, dan makan banana pie yang tadi dibawa oleh Bintang.

Rain anak yang aktif dan ceria, namun perasaannya sangatlah sensitif. Bintang duduk di depan televisi karena ia dilarang ke kamar oleh mamanya.  Felicia dan Rain bermain puzzle bergambar transportasi di atas karpet tak jauh dari tempat Bintang duduk.

Telalu asyik bermain dengan Rain, Felicia tidak sadar bahwa hari sudah gelap dan saatnya makan malam. Mau tak mau Felicia ikut makan malam bersama keluarga Bintang baru kemudian diantarkan Bintang untuk pulang.

Setelah selesai makan malam, Felicia membantu membereskan meja makan. Ketika ia bangkit, kakinya terantuk kaki kursi yang didudukinya.

Melihat dia yang hampir terjungkal, Bintang refleks berdiri dan meraih tubuhnya supaya tidak jatuh. Namun bukan itu yang membuat Felicia marah dan juga malu, tapi tangan Bintang yang tak sengaja menyentuh dadanya ketika menahan tubuhnya. Felicia langsung melepaskan diri dan menendang tulang kering Bintang hingga berteriak kesakitan.

"Aaarrgh! Bintang sialaaan!!" seru Felicia yang menelungkup sambil menghentakkan kedua kakinya di ranjang.

***

Sometimes we need to forget some people from our past because of one simple reason; they just don't belong to our future.
..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144794591-another-moon-re-part-1


Sunday, November 2, 2014

Hujan di Musim Panas

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####


Suara serangga di pohon menambah kental suasana musim panas. Hal yang paling menyenangkan dilakukan pada saat ini tentu saja bermain air dan makan semangka.

Tapi tidak dengan gadis itu. Dia menghabiskan musim panasnya dengan laki-laki di sampingnya. Mereka duduk bersebelahan, saling menggenggam tangan, menikmati hembusan angin musim panas.

"Kau tahu," kata gadis itu menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. "Aku ingin selalu bersamamu. Tidak hanya di musim panas. Ketika musim semi, musim gugur, dan juga musim dingin."

"Hei, kau tak bisa begitu." Kata laki-laki itu tertawa. "Aku tak akan ke mana-mana. Aku akan selalu mengunggumu di sini."

***

Gadis itu menatap ke kejauhan. Ia bertahan, supaya dapat sedikit lebih lama menahan cairan bening di ujung matanya. Ia tidak mau menangis. Ia akan menjalaninya dengan biasa, dengan senyum dan tawa. Ia hanya berharap semua akan berakhir dengan baik.

Sebuah lengan melingkar di bahu gadis itu, memeluknya, berharap pelukannya bisa meringankan kesedihan gadis itu. Ia tahu itu, kehadirannya lah penyebab gadis itu bersedih.

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Ia berbalik dan tersenyum.

"Aku akan baik-baik saja." Katanya dengan bibir tersenyum. Tapi tidak untuk matanya. Mata tak bisa berbohong. Dengan jujur, setetes air mata lolos dari pertahannya. Mata selalu jujur. Ya, gadis itu menangis.

"Sssh," kata laki-laki itu mencoba menenangkan dengan mengusap pipi gadis itu. Menghapus air matanya. "Kita akan baik-baik saja." Katanya meyakinkan. Air mata gadis itu mengalir di dalam pelukannya, membasahi hatinya.

Laki-laki itu mempererat pelukannya. Ia dapat merasakan kesedihan gadis yang dipeluknya, karena ia juga merasakan hal yang sama. Ia takut. Ia juga sedih. Tapi, jika hal itu diperlihatkannya, sama saja menambahkan kesedihan pada gadisnya. Gadis yang sangat ia cintai.

"Aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin berpisah denganmu." Kata gadis itu disela isak tangisnya.

"Sssh, tanpa kau katakan pun aku tahu itu." Kata laki-laki itu mengecup puncak kepala gadis di pelukannya. "Kita akan selalu bersama. Di hatimu. Di hatiku."

Gadis itu melepaskan tangan laki-laki yang memeluknya, dan menatapnya sebentar dalam diam. Sampai angin yang berhembus sedikit kencang menyadarkan mereka.

"Ayo kita turun. Sepertinya angin yang berhembus di atap ini semakin kencang." Dia menarik tangan itu dan melangkah menuju tangga.

"Mungkin akan hujan." Kata laki-laki itu mengedikkan bahu dan mengikuti langkah gadisnya.

***

"Ayo kita jalan-jalan sebentar." Kata laki-laki itu meraih tangan gadisnya pada suatu pagi.

Gadis itu menatap dengan ragu tangan mereka yang bertaut. "Tapi,"

"Tenang saja. Tidak jauh. Hanya ke taman di depan supermarket." Katanya bersemangat.

Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah. Hanya sebentar." Kata gadis itu mengalah.

Mereka berjalan bergandengan di jalan kota. Menyusur trotoar tepi jalan dan penuh tawa. Mereka menyeberang menuju ke taman kecil di tengah kota. Mereka mengambil tempat duduk di bawah pohon, tak jauh dari danau buatan. Ya, berkat danau itu musim panas jadi tak sepanas seharusnya.

"Apa kau lelah?" Tanya gadis itu.

"Hei, harusnya aku yang bertanya padamu." Kata laki-laki itu terkekeh.

Tak jauh dari tempat mereka mengobrol dan bercanda, ada kakak adik yang sedang bermain kran air, membuat airnya menyemprot ke segala arah dan membasahi mereka.

Mereka berdua hanya menatap kakak adik yang basah itu dengan tawa tertahan.

"Melihat air yang jatuh ke tanah itu mengingatkanku pada hujan." Kata laki-laki itu menggenggam jemari gadis di sampingnya.

"Mengapa? Apa karena sekarang musim panas dan kau merindukan hujan?" Tanya gadis itu tak mengerti.

Laki-laki itu tertawa. "Bukan. Bukan itu." Laki-laki itu mengacak kepala gadisnya. "Melihat itu, mengingatkanku tentang hujan. Hujan di musim panas. Tetes airnya akan dengan cepat menghilang dibalik butiran tanah."

Gadis itu menoleh, menatap laki-laki di sampingnya. "Apa yang kau pikirkan?"

Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum. "Tak ada. Hanya tentang kau dan aku."

"Kau tahu," gadis itu kembali menatap ke arah kakak beradik tadi. "Walaupun air hujan itu nantinya menghilang, sebelum menghilang ia telah membuat sesuatu yang indah. Pelangi. Bahkan setelah ia masuk ke dalam tanah, ia telah berbuat suatu hal yang menakjubkan. Air hujan yang masuk ke tanah akan membuat warna tanaman semakin indah."

Laki-laki itu hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan gadis yang kini di peluknya. Dia tersenyum.

"Kau pucat. Sepertinya kau butuh minum. Biar kubelikan sebentar." Kata laki-laki itu seraya bangkit dari duduknya.

"Aku ikut. Aku masih ingin bersamamu." Dengan reflek, gadis itu meraih lengan bajunya.

"Tunggulah di sini. Aku tak lama." Kata laki-laki itu tersenyum meyakinkan dan melangkah pergi.

Hingga kemudian yang tersisa hanya bunyi ambulans yang menuntut akses jalan ke rumah sakit.

***


"Kau tahu, kau selalu khawatir padaku. Kau pikir aku tak khawatir padamu, huh?" Serunya ketika kekasihnya telah siuman, tetapi tetap masih tergolek lemah.

Dia hanya tersenyum dibalik alat bantu pernapasan.

"Bukankah kau berjanji bahwa kita akan selalu bersama?" Katanya lembut mengusap jemari yang tidak terpasang infus.

"Istirahatlah. Ada yang harus kubicarakan dengan dokter." Perlahan ia mengecup tangan itu dan pergi.

***

Dia melangkah tergesa karena ingin segera menemui kekasihnya.

"Hai," sapanya. Dan ia terkejut mendapati kekasihnya sedang duduk dengan buku dan alat tulis dihadapannya.

"Hai. Pagi sekali kau datang. Maafkan aku selalu merepotkanmu." Jawabnya tersenyum.

"Kau selalu merepotkanku. Kau tahu, betapa khawatirnya aku ketika kau tidak kembali dari supermarket dan aku mendengar ambulans? Aku berlari ke supermarket dan menanyakanmu pada petugas di sana. Mereka bilang kau dibawa ambulans, dan aku segera kemari. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu." Kata gadis itu tersenyum.

Laki-laki itu terkekeh. "Kau masih ingat kata-kataku tentang hujan di musim panas?" Ia bertanya dan meletakkan bukunya. Gadis itu mengangguk.

"Itulah aku."

Gadis itu mengerutkan kening tak mengerti.

"Kalau aku pergi, kesedihan itu akan datang namun tak lama ia akan hilang bersama waktu. Bagai hujan di musim panas. Tak berjejak." Katanya tersenyum.

Mata gadis itu membulat syok. Air mata kesedihan kembali terjun bebas tanpa diharapkan.

"Aku berharap aku tak perlu meninggalkan jejak kepedihan yang akan selalu membuatmu menangis seperti ini." Kata laki-laki itu mengusap lembut pipi gadis di sampingnya, mengusap air matanya. Berharap dapat mengurangi kesedihan yang bergelung di hatinya.

"Bukankah kau bilang kita akan selalu bersama?" Tanya gadis itu mencoba menahan air matanya.

"Sssh, jangan menangis. Kita akan selalu bersama. Aku kan hanya mengatakan 'kalau'." Kata laki-laki itu nyengir dengan wajah tak berdosa.

"Kau menyebalkan. Bercandamu tak lucu." Kata gadis itu menggigit pelan tangan yang tadi mengelus pipinya. Membuat si pemilik mengaduh namun tetap terkekeh.

"Berjanjilah padaku kau tidak akan menangis seperti tadi." Kata-kata laki-laki itu membuat bibir gadis yang dicintainya itu mengerucut. "Karena kau cantik sekali ketika tersenyum. Senyummu selalu membuatku jatuh cinta."

Mata gadis itu membelalak sekejap karena terkejut. Dia kemudian mengangkat telapak tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.

"Kau berjanji akan selalu tersenyum dan membuatku jatuh cinta?" Kata laki-laki itu menggoda.

Gadis itu mengangkat wajahnya yang merah dan mendaratkan pukulan ringan di tangan laki-laki itu.

"Aku berjanji."

"Hei, ini sudah mendekati akhir musim panas. Kapan kau akan berangkat?" Tanya laki-laki itu.

"Apa kau mengusirku?" Tanya gadis itu mencebik kesal.

Laki-laki itu tertawa melihat gadisnya. "Tidak, hanya saja kau juga punya kegiatan lain di sana. Aku mengkhawatirkanmu."

Gadis itu diam, terlihat sedang berpikir.

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja di sini. Ayolah, kau harus segera menyiapkan tiketmu."

"Baiklah, baiklah. Aku akan berangkat lusa. Kau puas?" Kata gadis itu memutar bola matanya dengan kesal.

"Ahaha. Aku akan selalu menunggumu di sini. Akan kukirimkan surat padamu ketika aku sudah keluar dari rumah sakit." Laki-laki itu mengacak rambut gadis yang masih berwajah kesal di sampingnya.

"Kalau begitu, aku akan langsung datang menemuimu." Kata gadis itu bersemangat.

"Jangan, kau bisa datang kapan pun ketika kau libur. Jangan memaksakan diri."

"Kalau begitu aku akan datang di pertengahan musim gugur."

"Apakah kau libur?" tanya laki-laki itu penuh selidik.

"Tidak, aku akan cepat-cepat menyelesaikan tugasku dan mengambil izin cuti untuk menemuimu." Gadis itu meleletkan lidahnya seakan ingin mengatakan pada laki-laki itu untuk tidak sok tahu.

"Aku harap bosmu tidak marah." Kata laki-laki itu tersenyum miring.

"Tidak mungkin kakakku akan memecatku. Aku kan desainer yang tak tergantikan." Jawab gadis itu terkekeh dan membuat laki-laki itu mengulurkan tangan mengacak rambutnya.

***

Sudah tiga minggu sejak gadis itu meninggalkan kekasihnya. Ia melakukan aktivitasnya seperti sebelum ia menghabiskan akhir musim panas dengan kekasihnya.

Gadis itu mendapatkan surat yang dijanjikan hanya dua minggu setelah ia pergi.

"Hai, bagaimana kabarmu? Gadis sepertimu pasti akan selalu baik-baik saja. Aku sudah keluar dari rumah sakit. Aku sudah sembuh. Ingin sekali aku bertemu dan memelukmu. Tapi tidak mungkin. Kau berada jauh di sana. Hei, berjanjilah kau akan baik-baik di sana. Aku menyayangimu."

Entah sudah berapa kali gadis itu membaca surat yang dipegangnya. Gadis itu sudah membalas surat yang diterimanya. Dia sedang menunggu surat balasan. Dia tersenyum membayangkan pertengahan musim gugur nanti.

***

Tak terasa dua minggu sejak ia mendapatkan surat balasan dari laki-laki yang dicintainya. Tak banyak yang ditulisnya, tapi tetap saja surat itu selalu membuat gadis itu tersenyum.

"Hei, sedang apa kau? Jangan terlalu sering memikirkanku! Aku tidak suka membayangkan kekasihku tersenyum dengan muka bodoh karena memikirkanku. Baik-baik di sana. Aku menyayangimu."

"Huh, dasar pelit. Membuatku menunggu lama hanya untuk mendapatkan balasan sependek ini." Gerutu gadis itu ketika pertama kali menerimanya.

Karena kesibukannya, gadis itu lupa membalas surat yang diterimanya. Hingga ia mendapati seorang tukang pos yang mengantarkan surat laki-laki itu padanya.

"Kumohon berhentilah memikirkanku. Aku serius. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu tersenyum. Aku tidak ingin melihat air matamu. Melihatmu menangis membuatku sedih karena tak ada di sampingmu untuk menghapusnya. Aku mengharapkan kebahagiaanmu. Tidak adil jika hanya aku yang berbahagia karena mencintaimu. Kini giliranmu, carilah penggantiku dan berbahagialah."

Gadis itu menatap bingung surat ditangannya. Apa maksudnya? Apa laki-laki itu marah karena suratnya yang lalu belum dibalas?

Gadis itu melipat suratnya. Ia sudah memutuskan, besok pagi ia akan pergi menemui kekasihnya untuk meminta penjelasan.

***

Gadis itu tersenyum, menahan air matanya. ia memutar kembali ingatannya ketika ia berbicara dengan dokter yang menengani kekasihnya.


"Maafkan kami, Nona. Tapi kami sudah melakukan yang kami bisa semampu kami." kata Dokter itu di ruangannya, menjelaskan sambil mengamati perubahan raut muka gadis di depannya.

"Berapa lama?" sahut gadis itu.

Dokter itu menghela napas panjang. "Paling lama satu tahun." Dokter itu kembali menarik napas, seakan-akan pasokan udara di paru-parunya tidak terlalu banyak. "Itu jika jantungnya tidak mengalami serangan mendadak, dan juga tergantung ketahanan kondisi fisiknya."

"Jika, ada serangan mendadak atau kondisinya menurun? Dia—" kata gadis itu menyimpulkan. dan dokter itu mengangguk.

Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Baiklah. Terima kasih, Dok." kata gadis itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang dokter.


Kini, mau tak mau gadis itu mencurahkan keluh kesalnya di hadapan kekasihnya.

"Kau benar-benar menepati janjimu. Selalu menungguku di sini. Kenapa kau selalu memaksakan diri? Bukankah kau bilang bahwa kau sudah sembuh?" Kata gadis itu. Yang ia ajak bicara tetap bergeming tak bergerak menatapnya.

"Apa kau meragukan cintaku? Kau lah satu-satunya pelangi di hatiku, walaupun kau bilang kau adalah hujan di musim panas." Gadis itu menarik napas panjang.

"Sebelum air hujan jatuh ke tanah dan menghilang, kau telah meninggalkan pelangi warna warni yang tak akan pernah kulupakan."

"Aku sudah menemukan kebahagiaanku." Kata gadis itu mengulurkan tangan. "Di masa laluku hingga sekarang, bahagiaku adalah karena aku bersamamu. Dan bahagiaku nanti adalah karena selamanya kau ada di hatiku."

"Kau bilang, kau tidak ingin melihatku menangis. Bolehkah aku melanggar janjiku untuk kali ini? Ini terakhir kalinya aku menangis di hadapanmu. Aku janji." Kata gadis itu yang air matanya mulai mengalir.

"Kenapa waktu itu kau membiarkanku pergi? Kenapa? Kenapa kau lakukan semua ini padaku?" Gadis itu menghapus air matanya. "Kalau aku tahu kau akan pergi, waktu itu aku tidak akan meninggalkanmu."

Gadis itu menarik napas panjang dan menghentikan tangisnya. Ia tersenyum. "Terima kasih kau telah bahagia karena mencintaiku. Sampai jumpa lagi. Aku akan selalu menyempatkan diri untuk menjengukmu. Kau benar. Kini kau telah terbebas dari rasa sakit." katanya mengusap nisan di depannya.

Gadis itu berbalik dan pergi. Ia bergegas ke stasiun dan mengambil tiket kereta yang akan membawanya pulang.

Di kereta, gadis itu hanya menatap ke luar jendela. Tanpa ia sadari, ia tertidur. Meninggalkan surat terakhir yang masih terbuka di tangannya. Dalam tidurnya ia bermimpi. Entah mimpi apa hingga tanpa ia tahu, air mata sudah mengalir di pipinya.

***

"Maafkan aku. Tapi aku tidak akan menyesalinya. Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah mengetahui semuanya. Ketika suratku sampai kepadamu, berarti aku sudah pergi dan jauh darimu. Maafkan aku mengenai semua surat yang kau terima. Aku sengaja melakukannya. Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu tanpa adanya bayang-bayangku.

Aku sudah menepati janjiku padamu, untuk selalu menunggumu di sini. Kini giliranmu menepati janjimu padaku untuk tidak menangis dan selalu tersenyum. Kau mau aku selalu jatuh cinta padamu kan? Haha, aku hanya bercanda. Selamat tinggal, baik-baiklah di sana. Aku mencintaimu."



==Fin==

Magelang, 02 November 2014

https://www.wattpad.com/79193851-rain-in-summer


Saturday, October 25, 2014

Semangkuk Matahari

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..

#####


…who said life would be fair anyway.


Sering sekali ia terlihat berjalan ke arah timur pada waktu yang sama dan dengan gaya yang sama. Ia memakai topi warna oranye hangat dan dress dengan warna hampir senada, seakan ia adalah bias matahari. Ia selalu memegang tali selempang tasnya, dan kadang menunduk menatap langkah kakinya. Ia berjalan dengan cepat, namun tidak terlihat terburu-buru, malah terlihat santai.


***


Sekarang waktunya makan siang. Hampir semua teman kerjaku pergi untuk mencari makan. Hanya ada beberapa yang masih di dalam ruangan, menyelesaikan pekerjaan—termasuk aku.

“Lang, apa kau ingin menitip sesuatu?” tanya Raya yang melihatku maasih berkutat di depan laptop dan laporan.

“Tidak, terima kasih. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya,” jawabku tersenyum, yang dibalasnya dengan acungan jempol.

Aku bersikeras menahan lapar, karena aku ingin laporan ini segera selesai. Namun, ternyata usahaku untuk menahan lapar belum cukup keras. Perutku tidak bisa diajak kompromi. Aku menyerah. Kumatikan laptop dan kemudian berjalan ke luar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Aku memilih makan siang di kedai ramen yang ada dekat kantor, karena laporan tadi harus cepat kuselesaikan. Aku memesan semangkuk ramen dan segelas ocha. Sambil menunggu pesanan, aku memperhatikan interior kedai. Meski kecil, tempat itu nyaman.

Ketika aku memandang ke arah dalam—staff only, tak sengaja aku melihat gadis itu keluar membawa nampan. Ya. Gadis yang sering kulihat. Ternyata ia di sini. Gadis yang seperti matahari, bahkan dengan aksesoris yang dipakainya, jepit rambut matahari. Di kedai itu, hanya dirinya yang terlihat jauh dari kesan Japanese, namun ia bisa bekerja sebagaimana orang-orang Asia Timur itu bekerja. Ia terlihat menikmatinya, bahkan tidak merasa berbeda. Gadis yang supel.

Aku kembali ke kantor dengan pikiran terbagi, antara menyelesaikan laporan dan semakin penasaran dengan gadis itu. Aku mencoba mengusir bayangan bagaimana senyum sopannya pada pelanggan dan juga bagaimana ia berinteraksi dengan teman-teman kerjanya. Ah!
Aku harus cepat-cepat menyelesaikan laporanku, sebelum bayangan itu semakin merusak konsentrasiku.


***


Sejak hari itu, aku hampir selalu makan di kedai ramen. Pikiranku semakin dipenuhi rasa penasaran tentangnya. Beberapa teman kerjaku penasaran mengapa kini aku selalu keluar untuk makan siang, suatu hal yang sebelumnya hampir jarang kulakukan. Siapa yang menyangka kalau Si Gadis matahari ini membuatku menjadi merasa berwarna.

“Lang, katakan padaku. Adakah seseorang yang cantik di luar sana? Seseorang yang mampu membuat seorang Elang keluar ‘sarang’ untuk makan siang?” goda Raya.

“Tidak ada. Memang apa salahnya keluar untuk makan siang?” aku memalingkan wajahku ke arah tumpukan dokumen, mencari sesuatu.

“Kau tahu, saat kau berbohong, telingamu akan memerah semerah tomat. Hahaha.”

Aku mengacak rambutku salah tingkah. “Yah, mau bagaimana lagi.” Kulihat Raya menatapku penuh arti. Tatapan bahwa dia menginginkan cerita dariku.

“Aku belum tahu apapun tentangnya. Jangan bertanya lagi. Aku pun masih penasaran tentangnya.” Aku melihat jam tanganku. Sudah saatnya pulang. Aku membereskan apa yang perlu kubawa pulang.

“Kenapa kau terburu-buru?”

“Aku tidak mau ketinggalan bus. Hal itu hanya akan membuatku menunggu lebih lama kedatangan bus berikutnya. Aku duluan,” kulambaikan tangan pada Raya.

Aku melangkah masuk ke halte dengan santai. Sebelum sampai di halte, kulihat gadis matahari itu menunggu di halte yang sama denganku. Aku memilih untuk melihatnya. Bus datang. Kami berada di bus yang sama. Di dalam bus, ia hanya menyenandungkan lagu yang sedang mengalun dari ponsel di tangannya. Ia cuek sekali. Hingga aku turun lebih dulu, ia masih tetap dengan lagunya.


***


Siang itu aku kembali makan siang di kedai ramen. Aku sedang menunggu pesananku. Kulihat gadis itu membawa nampan dan mengantarkannya ke mejaku. Ketika ia membungkuk hormat, jepit rambutnya jatuh ke dalam mangkuk ramenku.

Ia terkejut dan meminta maaf, “Gomennasai,” katanya dalam bahasa Jepang. Kemudian ia buru-buru kembali ke dapur dan menggantinya. Ia kembali dengan mangkuk yang baru dan meminta maaf lagi. Dengan muka merah, ia berbalik dan kembali bekerja.

Sorenya di halte bus, sambil menunggu bus, aku duduk membaca koran sore. Aku terkejut ketika ada seseorang yang berdiri depanku. Aku mendongak.

“Ah, Si jepit matahari!” seruku refleks.

Si gadis matahari itu terkejut. Ia membungkuk dan meminta maaf lagi.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku sambil melipat koran.

“Ruiva,” jawabnya dengan senyum sopan.

Ketika kutanyakan di mana rumahnya—karena aku sering melihatnya, ia menjawab dengan tersenyum. Tempat tinggalnya tak begitu jauh dari rumahku. Hanya di komplek sebelah, tempat aku sering lari pagi di lapangan perumahan sana. Aku semakin menyukainya. Tentang ini: bagaimana cara menanggapi pertanyaanku, yang dijawabnya dengan sopan, tidak berlebihan. Tentang itu: bagaimana ia mengalihkan pembicaran dengan halus, ketika ia tak mau membahas pembicaaraan yang ia tak suka.

Setelah percakapan itu, tanpa sengaja kami sering bertemu di halte ketika pulang kerja. Awalnya ia memang agak menarik diri. Itu terlihat dari cara bicaranya yang terlalu tenang dan sopan. Namun, kini ia lebih ekspresif dalam berbicara. Terkadang ia tertawa sedikit lepas, tidak hanya menyunggingkan senyum seperti biasa. Tapi tetap saja aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.


***


Pagi itu, aku janji bertemu Ruiva di lapangan komplek perumahannya untuk berlari bersama. Awalnya aku ragu karena mengira Ruiva bekerja. Ternyata ia mengiyakan ajakanku karena hari itu Ruiva tidak bekerja. Ia akan mengantar saudaranya ke rumah sakit.

Sambil meluruskan kaki setelah lelah berlari, aku duduk di sebelah Ruiva dan berpikir bahwa hubungan kami semakin membaik. Atmosfer tampak mendukung hingga tanpa sadar aku meminta Ruiva untuk menjadi kekasihku.

“Rui, aku menyukaimu. Maukah kau—”

“Gomennasai, aku harus pulang.” Kata Ruiva cepat memotong kata-kataku. Ia bahkan tak membiarkanku menyelesaikannya. Namun, ia tetap berusaha tersenyum sopan walau tanpa memberi jawaban sepatah katapun. Ruiva beranjak meninggalkanku sendiri yang menatapnya pergi.


***


Semenjak kejadian itu, Ruiva tak pernah terlihat di kedai itu lagi. Mengapa ia tak ada? Apakah ia libur? Atau, apakah ia menjauhiku karena kata-kataku waktu itu? Apa yang harus kulakukan jika ia marah padaku? Kuhela napas panjang dan beranjak untuk membayar ramenku.

“Ah, maaf. Boleh aku bertanya?” kataku pada pegawai di meja kasir sambil membayar.

Arigatou gozaimasu (terima kasih banyak). Ya, ada yang bisa aku bantu?” jawabnya dengan memberikan uang kembalian padaku.

“Mengapa akhir-akhir ini Ruiva tidak terlihat?” tanyaku ingin tahu.

“Ah, anda teman Rui?” tanyanya, dan aku mengangguk. “Ya, kami sedih sekali ia sudah tidak bekerja di sini. Ia harus dirawat di rumah sakit. Padahal Ruiva anak yang menyenangkan.”

“Di rumah sakit?” tanyaku terkejut.

“Ah, sumimasen (permisi). Saya harus melanjutkan pekerjaan,” katanya, ketika kudengar seseorang memanggilnya dari dalam.

“Maaf menyita waktumu. Terima kasih atas informasinya.”

Douitashimashite (sama-sama),” jawabnya sambil membungkuk sopan, kemudian masuk ke ruang staff only.

Di rumah sakit? Rui sakit apa? Mengapa ia tak memberitahuku?


***


Hari itu aku bersama teman-teman sekantorku menjenguk seorang rekan kerja di rumah sakit. Aku memilih berjalan perlahan dan membiarkan teman-teman yang lain pulang tanpaku. Dari koridor, aku berhenti dan menatap ke luar jendela melihat angin yang menghembus daun.

Ketika aku berbalik melangkah pulang, aku melihatnya. Ya. Si Gadis matahari itu ada di depanku dengan pakaian rumah sakit dan menatapku tekejut, seakan matanya ingin berkata ‘bagaimana kau tahu aku ada di sini?

Aku hanya menatapnya dengan senyum.

“Aku tak tahu. Aku hanya menjenguk temanku yang operasi usus buntu.” Kataku mencoba menjawab pertanyaan di matanya. Kulihat dia berbalik.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah orang sakit seharusnya ada di tempat tidur?” tanyaku sambil mengikutinya. Aku meraih lengannya dan tersenyum. “Kamarmu bukan ke arah sana, kan? Aku tahu itu.”

Ruiva menatapku sebentar seakan ingin bilang ‘apa-apaan kau?’, namun kemudian berbalik patuh menuju kamarnya yang sesungguhnya.

“Aku hanya terlalu lelah, dan aku bosan bila harus terus berbaring,” jawabnya mengedikkan bahu dan tersenyum tipis.

Setelah aku tahu di mana Ruiva dirawat, hampir setiap hari aku menjenguknya untuk sekedar berbagi cerita beramanya. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaannya terhadapku. Hingga suatu hari, aku memintanya lagi untuk menjadi kekasihku.

“Suatu hari aku akan menjawabnya.” Ruiva hanya menjawab singkat sembari tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan.


***


Karena urusan pekerjaaan, aku harus pergi ke luar kota selama tiga hari. Aku menemui Ruiva sebelum berangkat bertugas.

“Aku tak bisa menemuimu tiga hari nanti, karena ada tugas ke luar kota. Maafkan aku.”

Mendengar kata-kataku, Ruiva hanya tersenyum maklum. Ketika aku melihat sorot matanya, aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya jika aku mampu.

Hari itu aku merasa bahwa semua perasaan tidak harus diungkap dengan kata-kata. Rui bahkan mencoba bercerita bagaimana senangnya ia ketika dokter berkata bahwa keadaannya membaik walaupun sedikit. Ia menceritakan apa pun untuk mengisi waktu kebersamaan kami.

Setelah mengobrol dengan Rui, aku berangkat dengan hati berat. Aku tidak suka membayangkan Rui di rumah sakit tanpaku. Aku berharap tiga hari akan cepat berlalu, dan aku bisa bertemu dan mengobrol lagi dengannya. Aku selalu terbayang senyum hangatnya yang seperti matahari.


***


Hari itu aku kembali dari tugasku di luar kota dan langsung pergi menemui Ruiva. Telah kuputuskan, aku akan tetap di sisinya walaupun ia tidak mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentangku. Aku pun tak akan menanyakan apapun tentangnya. Apa pun itu.

Aku membuka pintu kamarnya. Kulihat tempat tidurnya sudah rapi. Hanya seorang wanita setengah baya yang sedang berdiri menghadap jendela, membelakangiku.

“Permisi. Apa anda tahu pasien yang dirawat di sini sekarang ada di mana? Apa ia dipindahkan ke ruang lain?” tanyaku mencoba mengusir hawa dingin yang tiba-tiba meresap di dada.

“Maaf, apakah anda yang bernama Elang?” tanya wanita itu berbalik menghadapku. Melihat raut wajahnya membuatku terkesiap. Aku mengangguk. Kucoba mengusir semua prasangka yang ada di dalam kepalaku.

“Rui hanya menitipkan ini padaku. Mungkin ini akan menjelaskan semuanya. Terima kasih. Saya permisi.” Kata wanita itu memberikan sepucuk surat dan jepit matahari. Kulihat ia mengusap pipinya ketika berjalan ke luar.

Di sudut kanan bawah amplop tertulis namaku. Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar. Hanya ada selembar kertas di dalamnya.

Tidak banyak yang tertulis di situ, namun semua rangkaian kata itu membuatku pedih. Entah bagaimana, aku merasa seakan Ruiva sendiri yang mengatakannya dihadapanku. Aku merasa ia mengatakan banyak hal padaku dalam surat pendeknya itu. Aku bisa merasakan senyum mataharinya.


“Aku juga menyukaimu. Namun aku tak bisa menjadi kekasihmu, karena aku tahu waktuku telah usai. Aku tidak akan minta maaf karena pergi darimu. Tapi, terima kasih telah menemani sisa hariku. Rui.”

Aku hanya berdiri terpaku dan membeku. Seakan ia pergi dengan membawa sebagian hatiku.

==Fin==
Yogyakarta, 10 oktober 2013

Ingat, Allah selalu melihat.. ;)

https://www.wattpad.com/77783174-semangkuk-matahari