Sunday, November 2, 2014

Hujan di Musim Panas

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####


Suara serangga di pohon menambah kental suasana musim panas. Hal yang paling menyenangkan dilakukan pada saat ini tentu saja bermain air dan makan semangka.

Tapi tidak dengan gadis itu. Dia menghabiskan musim panasnya dengan laki-laki di sampingnya. Mereka duduk bersebelahan, saling menggenggam tangan, menikmati hembusan angin musim panas.

"Kau tahu," kata gadis itu menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. "Aku ingin selalu bersamamu. Tidak hanya di musim panas. Ketika musim semi, musim gugur, dan juga musim dingin."

"Hei, kau tak bisa begitu." Kata laki-laki itu tertawa. "Aku tak akan ke mana-mana. Aku akan selalu mengunggumu di sini."

***

Gadis itu menatap ke kejauhan. Ia bertahan, supaya dapat sedikit lebih lama menahan cairan bening di ujung matanya. Ia tidak mau menangis. Ia akan menjalaninya dengan biasa, dengan senyum dan tawa. Ia hanya berharap semua akan berakhir dengan baik.

Sebuah lengan melingkar di bahu gadis itu, memeluknya, berharap pelukannya bisa meringankan kesedihan gadis itu. Ia tahu itu, kehadirannya lah penyebab gadis itu bersedih.

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Ia berbalik dan tersenyum.

"Aku akan baik-baik saja." Katanya dengan bibir tersenyum. Tapi tidak untuk matanya. Mata tak bisa berbohong. Dengan jujur, setetes air mata lolos dari pertahannya. Mata selalu jujur. Ya, gadis itu menangis.

"Sssh," kata laki-laki itu mencoba menenangkan dengan mengusap pipi gadis itu. Menghapus air matanya. "Kita akan baik-baik saja." Katanya meyakinkan. Air mata gadis itu mengalir di dalam pelukannya, membasahi hatinya.

Laki-laki itu mempererat pelukannya. Ia dapat merasakan kesedihan gadis yang dipeluknya, karena ia juga merasakan hal yang sama. Ia takut. Ia juga sedih. Tapi, jika hal itu diperlihatkannya, sama saja menambahkan kesedihan pada gadisnya. Gadis yang sangat ia cintai.

"Aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin berpisah denganmu." Kata gadis itu disela isak tangisnya.

"Sssh, tanpa kau katakan pun aku tahu itu." Kata laki-laki itu mengecup puncak kepala gadis di pelukannya. "Kita akan selalu bersama. Di hatimu. Di hatiku."

Gadis itu melepaskan tangan laki-laki yang memeluknya, dan menatapnya sebentar dalam diam. Sampai angin yang berhembus sedikit kencang menyadarkan mereka.

"Ayo kita turun. Sepertinya angin yang berhembus di atap ini semakin kencang." Dia menarik tangan itu dan melangkah menuju tangga.

"Mungkin akan hujan." Kata laki-laki itu mengedikkan bahu dan mengikuti langkah gadisnya.

***

"Ayo kita jalan-jalan sebentar." Kata laki-laki itu meraih tangan gadisnya pada suatu pagi.

Gadis itu menatap dengan ragu tangan mereka yang bertaut. "Tapi,"

"Tenang saja. Tidak jauh. Hanya ke taman di depan supermarket." Katanya bersemangat.

Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah. Hanya sebentar." Kata gadis itu mengalah.

Mereka berjalan bergandengan di jalan kota. Menyusur trotoar tepi jalan dan penuh tawa. Mereka menyeberang menuju ke taman kecil di tengah kota. Mereka mengambil tempat duduk di bawah pohon, tak jauh dari danau buatan. Ya, berkat danau itu musim panas jadi tak sepanas seharusnya.

"Apa kau lelah?" Tanya gadis itu.

"Hei, harusnya aku yang bertanya padamu." Kata laki-laki itu terkekeh.

Tak jauh dari tempat mereka mengobrol dan bercanda, ada kakak adik yang sedang bermain kran air, membuat airnya menyemprot ke segala arah dan membasahi mereka.

Mereka berdua hanya menatap kakak adik yang basah itu dengan tawa tertahan.

"Melihat air yang jatuh ke tanah itu mengingatkanku pada hujan." Kata laki-laki itu menggenggam jemari gadis di sampingnya.

"Mengapa? Apa karena sekarang musim panas dan kau merindukan hujan?" Tanya gadis itu tak mengerti.

Laki-laki itu tertawa. "Bukan. Bukan itu." Laki-laki itu mengacak kepala gadisnya. "Melihat itu, mengingatkanku tentang hujan. Hujan di musim panas. Tetes airnya akan dengan cepat menghilang dibalik butiran tanah."

Gadis itu menoleh, menatap laki-laki di sampingnya. "Apa yang kau pikirkan?"

Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum. "Tak ada. Hanya tentang kau dan aku."

"Kau tahu," gadis itu kembali menatap ke arah kakak beradik tadi. "Walaupun air hujan itu nantinya menghilang, sebelum menghilang ia telah membuat sesuatu yang indah. Pelangi. Bahkan setelah ia masuk ke dalam tanah, ia telah berbuat suatu hal yang menakjubkan. Air hujan yang masuk ke tanah akan membuat warna tanaman semakin indah."

Laki-laki itu hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan gadis yang kini di peluknya. Dia tersenyum.

"Kau pucat. Sepertinya kau butuh minum. Biar kubelikan sebentar." Kata laki-laki itu seraya bangkit dari duduknya.

"Aku ikut. Aku masih ingin bersamamu." Dengan reflek, gadis itu meraih lengan bajunya.

"Tunggulah di sini. Aku tak lama." Kata laki-laki itu tersenyum meyakinkan dan melangkah pergi.

Hingga kemudian yang tersisa hanya bunyi ambulans yang menuntut akses jalan ke rumah sakit.

***


"Kau tahu, kau selalu khawatir padaku. Kau pikir aku tak khawatir padamu, huh?" Serunya ketika kekasihnya telah siuman, tetapi tetap masih tergolek lemah.

Dia hanya tersenyum dibalik alat bantu pernapasan.

"Bukankah kau berjanji bahwa kita akan selalu bersama?" Katanya lembut mengusap jemari yang tidak terpasang infus.

"Istirahatlah. Ada yang harus kubicarakan dengan dokter." Perlahan ia mengecup tangan itu dan pergi.

***

Dia melangkah tergesa karena ingin segera menemui kekasihnya.

"Hai," sapanya. Dan ia terkejut mendapati kekasihnya sedang duduk dengan buku dan alat tulis dihadapannya.

"Hai. Pagi sekali kau datang. Maafkan aku selalu merepotkanmu." Jawabnya tersenyum.

"Kau selalu merepotkanku. Kau tahu, betapa khawatirnya aku ketika kau tidak kembali dari supermarket dan aku mendengar ambulans? Aku berlari ke supermarket dan menanyakanmu pada petugas di sana. Mereka bilang kau dibawa ambulans, dan aku segera kemari. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu." Kata gadis itu tersenyum.

Laki-laki itu terkekeh. "Kau masih ingat kata-kataku tentang hujan di musim panas?" Ia bertanya dan meletakkan bukunya. Gadis itu mengangguk.

"Itulah aku."

Gadis itu mengerutkan kening tak mengerti.

"Kalau aku pergi, kesedihan itu akan datang namun tak lama ia akan hilang bersama waktu. Bagai hujan di musim panas. Tak berjejak." Katanya tersenyum.

Mata gadis itu membulat syok. Air mata kesedihan kembali terjun bebas tanpa diharapkan.

"Aku berharap aku tak perlu meninggalkan jejak kepedihan yang akan selalu membuatmu menangis seperti ini." Kata laki-laki itu mengusap lembut pipi gadis di sampingnya, mengusap air matanya. Berharap dapat mengurangi kesedihan yang bergelung di hatinya.

"Bukankah kau bilang kita akan selalu bersama?" Tanya gadis itu mencoba menahan air matanya.

"Sssh, jangan menangis. Kita akan selalu bersama. Aku kan hanya mengatakan 'kalau'." Kata laki-laki itu nyengir dengan wajah tak berdosa.

"Kau menyebalkan. Bercandamu tak lucu." Kata gadis itu menggigit pelan tangan yang tadi mengelus pipinya. Membuat si pemilik mengaduh namun tetap terkekeh.

"Berjanjilah padaku kau tidak akan menangis seperti tadi." Kata-kata laki-laki itu membuat bibir gadis yang dicintainya itu mengerucut. "Karena kau cantik sekali ketika tersenyum. Senyummu selalu membuatku jatuh cinta."

Mata gadis itu membelalak sekejap karena terkejut. Dia kemudian mengangkat telapak tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.

"Kau berjanji akan selalu tersenyum dan membuatku jatuh cinta?" Kata laki-laki itu menggoda.

Gadis itu mengangkat wajahnya yang merah dan mendaratkan pukulan ringan di tangan laki-laki itu.

"Aku berjanji."

"Hei, ini sudah mendekati akhir musim panas. Kapan kau akan berangkat?" Tanya laki-laki itu.

"Apa kau mengusirku?" Tanya gadis itu mencebik kesal.

Laki-laki itu tertawa melihat gadisnya. "Tidak, hanya saja kau juga punya kegiatan lain di sana. Aku mengkhawatirkanmu."

Gadis itu diam, terlihat sedang berpikir.

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja di sini. Ayolah, kau harus segera menyiapkan tiketmu."

"Baiklah, baiklah. Aku akan berangkat lusa. Kau puas?" Kata gadis itu memutar bola matanya dengan kesal.

"Ahaha. Aku akan selalu menunggumu di sini. Akan kukirimkan surat padamu ketika aku sudah keluar dari rumah sakit." Laki-laki itu mengacak rambut gadis yang masih berwajah kesal di sampingnya.

"Kalau begitu, aku akan langsung datang menemuimu." Kata gadis itu bersemangat.

"Jangan, kau bisa datang kapan pun ketika kau libur. Jangan memaksakan diri."

"Kalau begitu aku akan datang di pertengahan musim gugur."

"Apakah kau libur?" tanya laki-laki itu penuh selidik.

"Tidak, aku akan cepat-cepat menyelesaikan tugasku dan mengambil izin cuti untuk menemuimu." Gadis itu meleletkan lidahnya seakan ingin mengatakan pada laki-laki itu untuk tidak sok tahu.

"Aku harap bosmu tidak marah." Kata laki-laki itu tersenyum miring.

"Tidak mungkin kakakku akan memecatku. Aku kan desainer yang tak tergantikan." Jawab gadis itu terkekeh dan membuat laki-laki itu mengulurkan tangan mengacak rambutnya.

***

Sudah tiga minggu sejak gadis itu meninggalkan kekasihnya. Ia melakukan aktivitasnya seperti sebelum ia menghabiskan akhir musim panas dengan kekasihnya.

Gadis itu mendapatkan surat yang dijanjikan hanya dua minggu setelah ia pergi.

"Hai, bagaimana kabarmu? Gadis sepertimu pasti akan selalu baik-baik saja. Aku sudah keluar dari rumah sakit. Aku sudah sembuh. Ingin sekali aku bertemu dan memelukmu. Tapi tidak mungkin. Kau berada jauh di sana. Hei, berjanjilah kau akan baik-baik di sana. Aku menyayangimu."

Entah sudah berapa kali gadis itu membaca surat yang dipegangnya. Gadis itu sudah membalas surat yang diterimanya. Dia sedang menunggu surat balasan. Dia tersenyum membayangkan pertengahan musim gugur nanti.

***

Tak terasa dua minggu sejak ia mendapatkan surat balasan dari laki-laki yang dicintainya. Tak banyak yang ditulisnya, tapi tetap saja surat itu selalu membuat gadis itu tersenyum.

"Hei, sedang apa kau? Jangan terlalu sering memikirkanku! Aku tidak suka membayangkan kekasihku tersenyum dengan muka bodoh karena memikirkanku. Baik-baik di sana. Aku menyayangimu."

"Huh, dasar pelit. Membuatku menunggu lama hanya untuk mendapatkan balasan sependek ini." Gerutu gadis itu ketika pertama kali menerimanya.

Karena kesibukannya, gadis itu lupa membalas surat yang diterimanya. Hingga ia mendapati seorang tukang pos yang mengantarkan surat laki-laki itu padanya.

"Kumohon berhentilah memikirkanku. Aku serius. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu tersenyum. Aku tidak ingin melihat air matamu. Melihatmu menangis membuatku sedih karena tak ada di sampingmu untuk menghapusnya. Aku mengharapkan kebahagiaanmu. Tidak adil jika hanya aku yang berbahagia karena mencintaimu. Kini giliranmu, carilah penggantiku dan berbahagialah."

Gadis itu menatap bingung surat ditangannya. Apa maksudnya? Apa laki-laki itu marah karena suratnya yang lalu belum dibalas?

Gadis itu melipat suratnya. Ia sudah memutuskan, besok pagi ia akan pergi menemui kekasihnya untuk meminta penjelasan.

***

Gadis itu tersenyum, menahan air matanya. ia memutar kembali ingatannya ketika ia berbicara dengan dokter yang menengani kekasihnya.


"Maafkan kami, Nona. Tapi kami sudah melakukan yang kami bisa semampu kami." kata Dokter itu di ruangannya, menjelaskan sambil mengamati perubahan raut muka gadis di depannya.

"Berapa lama?" sahut gadis itu.

Dokter itu menghela napas panjang. "Paling lama satu tahun." Dokter itu kembali menarik napas, seakan-akan pasokan udara di paru-parunya tidak terlalu banyak. "Itu jika jantungnya tidak mengalami serangan mendadak, dan juga tergantung ketahanan kondisi fisiknya."

"Jika, ada serangan mendadak atau kondisinya menurun? Dia—" kata gadis itu menyimpulkan. dan dokter itu mengangguk.

Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Baiklah. Terima kasih, Dok." kata gadis itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang dokter.


Kini, mau tak mau gadis itu mencurahkan keluh kesalnya di hadapan kekasihnya.

"Kau benar-benar menepati janjimu. Selalu menungguku di sini. Kenapa kau selalu memaksakan diri? Bukankah kau bilang bahwa kau sudah sembuh?" Kata gadis itu. Yang ia ajak bicara tetap bergeming tak bergerak menatapnya.

"Apa kau meragukan cintaku? Kau lah satu-satunya pelangi di hatiku, walaupun kau bilang kau adalah hujan di musim panas." Gadis itu menarik napas panjang.

"Sebelum air hujan jatuh ke tanah dan menghilang, kau telah meninggalkan pelangi warna warni yang tak akan pernah kulupakan."

"Aku sudah menemukan kebahagiaanku." Kata gadis itu mengulurkan tangan. "Di masa laluku hingga sekarang, bahagiaku adalah karena aku bersamamu. Dan bahagiaku nanti adalah karena selamanya kau ada di hatiku."

"Kau bilang, kau tidak ingin melihatku menangis. Bolehkah aku melanggar janjiku untuk kali ini? Ini terakhir kalinya aku menangis di hadapanmu. Aku janji." Kata gadis itu yang air matanya mulai mengalir.

"Kenapa waktu itu kau membiarkanku pergi? Kenapa? Kenapa kau lakukan semua ini padaku?" Gadis itu menghapus air matanya. "Kalau aku tahu kau akan pergi, waktu itu aku tidak akan meninggalkanmu."

Gadis itu menarik napas panjang dan menghentikan tangisnya. Ia tersenyum. "Terima kasih kau telah bahagia karena mencintaiku. Sampai jumpa lagi. Aku akan selalu menyempatkan diri untuk menjengukmu. Kau benar. Kini kau telah terbebas dari rasa sakit." katanya mengusap nisan di depannya.

Gadis itu berbalik dan pergi. Ia bergegas ke stasiun dan mengambil tiket kereta yang akan membawanya pulang.

Di kereta, gadis itu hanya menatap ke luar jendela. Tanpa ia sadari, ia tertidur. Meninggalkan surat terakhir yang masih terbuka di tangannya. Dalam tidurnya ia bermimpi. Entah mimpi apa hingga tanpa ia tahu, air mata sudah mengalir di pipinya.

***

"Maafkan aku. Tapi aku tidak akan menyesalinya. Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah mengetahui semuanya. Ketika suratku sampai kepadamu, berarti aku sudah pergi dan jauh darimu. Maafkan aku mengenai semua surat yang kau terima. Aku sengaja melakukannya. Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu tanpa adanya bayang-bayangku.

Aku sudah menepati janjiku padamu, untuk selalu menunggumu di sini. Kini giliranmu menepati janjimu padaku untuk tidak menangis dan selalu tersenyum. Kau mau aku selalu jatuh cinta padamu kan? Haha, aku hanya bercanda. Selamat tinggal, baik-baiklah di sana. Aku mencintaimu."



==Fin==

Magelang, 02 November 2014

https://www.wattpad.com/79193851-rain-in-summer


Saturday, October 25, 2014

Semangkuk Matahari

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..

#####


…who said life would be fair anyway.


Sering sekali ia terlihat berjalan ke arah timur pada waktu yang sama dan dengan gaya yang sama. Ia memakai topi warna oranye hangat dan dress dengan warna hampir senada, seakan ia adalah bias matahari. Ia selalu memegang tali selempang tasnya, dan kadang menunduk menatap langkah kakinya. Ia berjalan dengan cepat, namun tidak terlihat terburu-buru, malah terlihat santai.


***


Sekarang waktunya makan siang. Hampir semua teman kerjaku pergi untuk mencari makan. Hanya ada beberapa yang masih di dalam ruangan, menyelesaikan pekerjaan—termasuk aku.

“Lang, apa kau ingin menitip sesuatu?” tanya Raya yang melihatku maasih berkutat di depan laptop dan laporan.

“Tidak, terima kasih. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya,” jawabku tersenyum, yang dibalasnya dengan acungan jempol.

Aku bersikeras menahan lapar, karena aku ingin laporan ini segera selesai. Namun, ternyata usahaku untuk menahan lapar belum cukup keras. Perutku tidak bisa diajak kompromi. Aku menyerah. Kumatikan laptop dan kemudian berjalan ke luar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Aku memilih makan siang di kedai ramen yang ada dekat kantor, karena laporan tadi harus cepat kuselesaikan. Aku memesan semangkuk ramen dan segelas ocha. Sambil menunggu pesanan, aku memperhatikan interior kedai. Meski kecil, tempat itu nyaman.

Ketika aku memandang ke arah dalam—staff only, tak sengaja aku melihat gadis itu keluar membawa nampan. Ya. Gadis yang sering kulihat. Ternyata ia di sini. Gadis yang seperti matahari, bahkan dengan aksesoris yang dipakainya, jepit rambut matahari. Di kedai itu, hanya dirinya yang terlihat jauh dari kesan Japanese, namun ia bisa bekerja sebagaimana orang-orang Asia Timur itu bekerja. Ia terlihat menikmatinya, bahkan tidak merasa berbeda. Gadis yang supel.

Aku kembali ke kantor dengan pikiran terbagi, antara menyelesaikan laporan dan semakin penasaran dengan gadis itu. Aku mencoba mengusir bayangan bagaimana senyum sopannya pada pelanggan dan juga bagaimana ia berinteraksi dengan teman-teman kerjanya. Ah!
Aku harus cepat-cepat menyelesaikan laporanku, sebelum bayangan itu semakin merusak konsentrasiku.


***


Sejak hari itu, aku hampir selalu makan di kedai ramen. Pikiranku semakin dipenuhi rasa penasaran tentangnya. Beberapa teman kerjaku penasaran mengapa kini aku selalu keluar untuk makan siang, suatu hal yang sebelumnya hampir jarang kulakukan. Siapa yang menyangka kalau Si Gadis matahari ini membuatku menjadi merasa berwarna.

“Lang, katakan padaku. Adakah seseorang yang cantik di luar sana? Seseorang yang mampu membuat seorang Elang keluar ‘sarang’ untuk makan siang?” goda Raya.

“Tidak ada. Memang apa salahnya keluar untuk makan siang?” aku memalingkan wajahku ke arah tumpukan dokumen, mencari sesuatu.

“Kau tahu, saat kau berbohong, telingamu akan memerah semerah tomat. Hahaha.”

Aku mengacak rambutku salah tingkah. “Yah, mau bagaimana lagi.” Kulihat Raya menatapku penuh arti. Tatapan bahwa dia menginginkan cerita dariku.

“Aku belum tahu apapun tentangnya. Jangan bertanya lagi. Aku pun masih penasaran tentangnya.” Aku melihat jam tanganku. Sudah saatnya pulang. Aku membereskan apa yang perlu kubawa pulang.

“Kenapa kau terburu-buru?”

“Aku tidak mau ketinggalan bus. Hal itu hanya akan membuatku menunggu lebih lama kedatangan bus berikutnya. Aku duluan,” kulambaikan tangan pada Raya.

Aku melangkah masuk ke halte dengan santai. Sebelum sampai di halte, kulihat gadis matahari itu menunggu di halte yang sama denganku. Aku memilih untuk melihatnya. Bus datang. Kami berada di bus yang sama. Di dalam bus, ia hanya menyenandungkan lagu yang sedang mengalun dari ponsel di tangannya. Ia cuek sekali. Hingga aku turun lebih dulu, ia masih tetap dengan lagunya.


***


Siang itu aku kembali makan siang di kedai ramen. Aku sedang menunggu pesananku. Kulihat gadis itu membawa nampan dan mengantarkannya ke mejaku. Ketika ia membungkuk hormat, jepit rambutnya jatuh ke dalam mangkuk ramenku.

Ia terkejut dan meminta maaf, “Gomennasai,” katanya dalam bahasa Jepang. Kemudian ia buru-buru kembali ke dapur dan menggantinya. Ia kembali dengan mangkuk yang baru dan meminta maaf lagi. Dengan muka merah, ia berbalik dan kembali bekerja.

Sorenya di halte bus, sambil menunggu bus, aku duduk membaca koran sore. Aku terkejut ketika ada seseorang yang berdiri depanku. Aku mendongak.

“Ah, Si jepit matahari!” seruku refleks.

Si gadis matahari itu terkejut. Ia membungkuk dan meminta maaf lagi.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku sambil melipat koran.

“Ruiva,” jawabnya dengan senyum sopan.

Ketika kutanyakan di mana rumahnya—karena aku sering melihatnya, ia menjawab dengan tersenyum. Tempat tinggalnya tak begitu jauh dari rumahku. Hanya di komplek sebelah, tempat aku sering lari pagi di lapangan perumahan sana. Aku semakin menyukainya. Tentang ini: bagaimana cara menanggapi pertanyaanku, yang dijawabnya dengan sopan, tidak berlebihan. Tentang itu: bagaimana ia mengalihkan pembicaran dengan halus, ketika ia tak mau membahas pembicaaraan yang ia tak suka.

Setelah percakapan itu, tanpa sengaja kami sering bertemu di halte ketika pulang kerja. Awalnya ia memang agak menarik diri. Itu terlihat dari cara bicaranya yang terlalu tenang dan sopan. Namun, kini ia lebih ekspresif dalam berbicara. Terkadang ia tertawa sedikit lepas, tidak hanya menyunggingkan senyum seperti biasa. Tapi tetap saja aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.


***


Pagi itu, aku janji bertemu Ruiva di lapangan komplek perumahannya untuk berlari bersama. Awalnya aku ragu karena mengira Ruiva bekerja. Ternyata ia mengiyakan ajakanku karena hari itu Ruiva tidak bekerja. Ia akan mengantar saudaranya ke rumah sakit.

Sambil meluruskan kaki setelah lelah berlari, aku duduk di sebelah Ruiva dan berpikir bahwa hubungan kami semakin membaik. Atmosfer tampak mendukung hingga tanpa sadar aku meminta Ruiva untuk menjadi kekasihku.

“Rui, aku menyukaimu. Maukah kau—”

“Gomennasai, aku harus pulang.” Kata Ruiva cepat memotong kata-kataku. Ia bahkan tak membiarkanku menyelesaikannya. Namun, ia tetap berusaha tersenyum sopan walau tanpa memberi jawaban sepatah katapun. Ruiva beranjak meninggalkanku sendiri yang menatapnya pergi.


***


Semenjak kejadian itu, Ruiva tak pernah terlihat di kedai itu lagi. Mengapa ia tak ada? Apakah ia libur? Atau, apakah ia menjauhiku karena kata-kataku waktu itu? Apa yang harus kulakukan jika ia marah padaku? Kuhela napas panjang dan beranjak untuk membayar ramenku.

“Ah, maaf. Boleh aku bertanya?” kataku pada pegawai di meja kasir sambil membayar.

Arigatou gozaimasu (terima kasih banyak). Ya, ada yang bisa aku bantu?” jawabnya dengan memberikan uang kembalian padaku.

“Mengapa akhir-akhir ini Ruiva tidak terlihat?” tanyaku ingin tahu.

“Ah, anda teman Rui?” tanyanya, dan aku mengangguk. “Ya, kami sedih sekali ia sudah tidak bekerja di sini. Ia harus dirawat di rumah sakit. Padahal Ruiva anak yang menyenangkan.”

“Di rumah sakit?” tanyaku terkejut.

“Ah, sumimasen (permisi). Saya harus melanjutkan pekerjaan,” katanya, ketika kudengar seseorang memanggilnya dari dalam.

“Maaf menyita waktumu. Terima kasih atas informasinya.”

Douitashimashite (sama-sama),” jawabnya sambil membungkuk sopan, kemudian masuk ke ruang staff only.

Di rumah sakit? Rui sakit apa? Mengapa ia tak memberitahuku?


***


Hari itu aku bersama teman-teman sekantorku menjenguk seorang rekan kerja di rumah sakit. Aku memilih berjalan perlahan dan membiarkan teman-teman yang lain pulang tanpaku. Dari koridor, aku berhenti dan menatap ke luar jendela melihat angin yang menghembus daun.

Ketika aku berbalik melangkah pulang, aku melihatnya. Ya. Si Gadis matahari itu ada di depanku dengan pakaian rumah sakit dan menatapku tekejut, seakan matanya ingin berkata ‘bagaimana kau tahu aku ada di sini?

Aku hanya menatapnya dengan senyum.

“Aku tak tahu. Aku hanya menjenguk temanku yang operasi usus buntu.” Kataku mencoba menjawab pertanyaan di matanya. Kulihat dia berbalik.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah orang sakit seharusnya ada di tempat tidur?” tanyaku sambil mengikutinya. Aku meraih lengannya dan tersenyum. “Kamarmu bukan ke arah sana, kan? Aku tahu itu.”

Ruiva menatapku sebentar seakan ingin bilang ‘apa-apaan kau?’, namun kemudian berbalik patuh menuju kamarnya yang sesungguhnya.

“Aku hanya terlalu lelah, dan aku bosan bila harus terus berbaring,” jawabnya mengedikkan bahu dan tersenyum tipis.

Setelah aku tahu di mana Ruiva dirawat, hampir setiap hari aku menjenguknya untuk sekedar berbagi cerita beramanya. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaannya terhadapku. Hingga suatu hari, aku memintanya lagi untuk menjadi kekasihku.

“Suatu hari aku akan menjawabnya.” Ruiva hanya menjawab singkat sembari tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan.


***


Karena urusan pekerjaaan, aku harus pergi ke luar kota selama tiga hari. Aku menemui Ruiva sebelum berangkat bertugas.

“Aku tak bisa menemuimu tiga hari nanti, karena ada tugas ke luar kota. Maafkan aku.”

Mendengar kata-kataku, Ruiva hanya tersenyum maklum. Ketika aku melihat sorot matanya, aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya jika aku mampu.

Hari itu aku merasa bahwa semua perasaan tidak harus diungkap dengan kata-kata. Rui bahkan mencoba bercerita bagaimana senangnya ia ketika dokter berkata bahwa keadaannya membaik walaupun sedikit. Ia menceritakan apa pun untuk mengisi waktu kebersamaan kami.

Setelah mengobrol dengan Rui, aku berangkat dengan hati berat. Aku tidak suka membayangkan Rui di rumah sakit tanpaku. Aku berharap tiga hari akan cepat berlalu, dan aku bisa bertemu dan mengobrol lagi dengannya. Aku selalu terbayang senyum hangatnya yang seperti matahari.


***


Hari itu aku kembali dari tugasku di luar kota dan langsung pergi menemui Ruiva. Telah kuputuskan, aku akan tetap di sisinya walaupun ia tidak mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentangku. Aku pun tak akan menanyakan apapun tentangnya. Apa pun itu.

Aku membuka pintu kamarnya. Kulihat tempat tidurnya sudah rapi. Hanya seorang wanita setengah baya yang sedang berdiri menghadap jendela, membelakangiku.

“Permisi. Apa anda tahu pasien yang dirawat di sini sekarang ada di mana? Apa ia dipindahkan ke ruang lain?” tanyaku mencoba mengusir hawa dingin yang tiba-tiba meresap di dada.

“Maaf, apakah anda yang bernama Elang?” tanya wanita itu berbalik menghadapku. Melihat raut wajahnya membuatku terkesiap. Aku mengangguk. Kucoba mengusir semua prasangka yang ada di dalam kepalaku.

“Rui hanya menitipkan ini padaku. Mungkin ini akan menjelaskan semuanya. Terima kasih. Saya permisi.” Kata wanita itu memberikan sepucuk surat dan jepit matahari. Kulihat ia mengusap pipinya ketika berjalan ke luar.

Di sudut kanan bawah amplop tertulis namaku. Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar. Hanya ada selembar kertas di dalamnya.

Tidak banyak yang tertulis di situ, namun semua rangkaian kata itu membuatku pedih. Entah bagaimana, aku merasa seakan Ruiva sendiri yang mengatakannya dihadapanku. Aku merasa ia mengatakan banyak hal padaku dalam surat pendeknya itu. Aku bisa merasakan senyum mataharinya.


“Aku juga menyukaimu. Namun aku tak bisa menjadi kekasihmu, karena aku tahu waktuku telah usai. Aku tidak akan minta maaf karena pergi darimu. Tapi, terima kasih telah menemani sisa hariku. Rui.”

Aku hanya berdiri terpaku dan membeku. Seakan ia pergi dengan membawa sebagian hatiku.

==Fin==
Yogyakarta, 10 oktober 2013

Ingat, Allah selalu melihat.. ;)

https://www.wattpad.com/77783174-semangkuk-matahari

Keping Memori Terakhir

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
----


Tetes gerimis yang membasahi bumi menguarkan bau tanah bercampur salju. Seolah langit turut berduka. Salju sudah berhenti ketika pemakaman dilaksanakan, dan digantikan gerimis tipis, seakan langit menangis tak rela.

Beberapa orang terlihat mulai berbalik melangkah ke rumah masing-masing, meninggalkan seseorang yang masih tertunduk menatap gundukan tanah di depannya. Ia masih saja terdiam membiarkan hujan membasuhnya. Membasuh air matanya. Membasuh hatinya.

Seseorang menepuk bahu pemuda itu. “Kai, biarkan Athena beristirahat. Ayo kita pulang.” Pemuda itu menoleh. Ternyata mama Athena.

“Kenapa Bibi belum pulang? Bibi bisa sakit bila kehujanan seperti ini.” kata Kai bangkit, memegang payung yang dibawa mama Athena, supaya mama Athena tidak kehujanan. “Ayo kita pulang.”


-#TenAkatsuki#-


Kai menatap album ditangannya. Ditatapnya lembar demi lembar memori dihadapannya, sambil pikirannya berbalik beberapa waktu lalu.


“Ena! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku basah kuyup! Bagaimana jika nanti aku terkena flu?” seru Kai ketika Athena menyiramnya dengan selang air, di suatu musim panas.

“Hanya orang bodoh yang terkena flu di musim panas!” sahut Athena ceria. Mama Athena yang melihat peristiwa itu hanya tersenyum dan meletakkan sepiring potongan semangka untuk Kai dan Athena.

“Terima kasih, Bibi.” Ucap Kai.

Kai tinggal di sebelah rumah Athena. Mereka sudah berteman sejak kecil meski Kai setahun lebih tua dari Athena, hingga mereka sudah seperti saudara. Bagi mama Athena sendiri Kai sudah seperti anak sendiri.

Athena meletakkan selang airnya dan duduk di sebelah Kai menikmati semangka. “Aaah, segarnya. Di musim panas seperti ini memang lebih asyik bermain air dan makan semangka!” serunya riang yang hanya ditanggapi dengan biasa oleh Kai.

“Ada apa denganmu? Apa kau ada masalah? Atau… jangan-jangan kau sedang jatuh cinta?” seru Athena dengan senyum mengembang cerah.

Kai tersentak. “Apa ekspresi seperti ini adalah ekspresi seseorang yang jatuh cinta?” kata Kai menunjuk wajahnya yang datar.

“Mungkin saja, aku tidak tahu karena wajahmu jarang menampakkan ekspresi. Tapi jika tebakanku benar, aku ingin tahu siapa dia.” Kata-kata Athena yang penuh semangat itu membuat Kai menghela napas, ia kehilangan selera makan semangkanya.

Setelah bertahun-tahun mereka bersama, Kai sendiri baru menyadari perasaannya terhadap Athena beberapa waktu lalu. Tepat ketika seorang pemuda memanggil Athena ke belakang gedung sekolah, dan menyatakan cinta. Namun Kai tidak berani mengetahui jawaban apa yang diberikan oleh Athena.

Athena lah yang telah menyelamatkannya dari kesendirian. Kai hanya tinggal bersama ayahnya yang sibuk. Ayah dan ibunya telah lama bercerai. Setiap hari, tanpa merasa bosan, Athena selalu mengajak Kai bermain bersama.

“Hei, Ena, libur musim panas sudah hampir usai, bagaimana dengan tugas rumahmu?” tanya Kai mengalihkan pembicaraan, yang hanya dijawab Athena dengan cengiran lebar, yang menandakan bahwa tugas-tugas yang diberikan sekolah belum selesai dikerjakan. “Kalau kau berhasil menyelesaikannya dua hari sebelum sekolah dimulai, aku akan mengajakmu ke laut.”

“Benarkah? Kau pasti bercanda!” seru Athena girang, dan Kai hanya mengedikkan bahu. “Paaasti! Pasti akan kuselesaikan.” Kata Ena berapi-api.

Athena berkutat dengan tugas-tugasnya dengan bantuan Kai selama dua hari penuh. Karena tugasnya sudah selesai, Athena pun menagih janjinya pada Kai. Kai pergi ke laut bersama Athena dan mama Athena. Mama Athena mengambil foto untuk kenang-kenangan. Mama Athena memotret bagaimana senangnya Kai dan Athena bermain air di laut. Momen-momen bahagia itu diabadikan oleh mama Athena.


-#TenAkatsuki#-


Kai membalik lembar demi lembar foto lagi. Dilihatnya sebuah foto yang bahkan dia lupa kapan foto tersebut diambil. Foto dimana Athena menarik kedua pipi Kai karena Kai tidak mau tersenyum.


“Mengapa kau bersedih, Kai? Tidak bisakah kau perlihatkan padaku wajah penuh senyummu?” kata Athena menarik kedua pipi Kai dan melepasnya ketika Kai mengaduh.

“Aku tidak sebahagia kau, Ena. Kau dan keluargamu. Aku tidak bisa menemukan kebahagiaan itu.”

“Kalau begitu, kenapa tidak kau buat sendiri saja kebahagiaanmu? Kau kan juga keluargaku.” Kata Athena tulus, yang perlahan membuat ujung bibir Kai sedikit tertarik ke atas. “Ah! Kau tersenyum! Barusan kau tersenyum!” Kai memalingkan muka ke arah lain, menyembunyikan rasa malunya.


-#TenAkatsuki#-


Kai masih memandang album dalam diam, hingga mama Athena memanggilnya dan menyerahkan sesuatu padanya. Buku Harian milik Athena. Mama Athena ingin Kai menyimpannya. Dibukanya buku harian itu di bagian tengah.

Tanggal xx bulan xx
Ada yang menyatakan cinta padaku!!
Tapi maaf, hatiku sudah memilih orang lain.. X3
Aku harap dia segera tahu perasaanku, dan mempunyai perasaan yang sama denganku.


Tanggal xx bulan xx
Hari ini ada festival kembang api! Aku tak sabar menantikannya. Aku ingin mengenakan yukata terbaikku. Aku tidak mau kalah dengan gadis lain! Kai! Akan kubuat kau terpesona! Ingin sekali aku berteriak bahwa aku menyukaimu, Kai! Haha XD


Kai kembali membuka buku harian yang dibukanya secara acak.


Tanggal xx bulan xx
Aku harus tetap semangat! Tapi aku penasaran, ekspresi wajah Kai berubah ketika aku berkata apa dia sedang menyukai seseorang. Itu membuat hatiku sakit. Aku tidak ingin Kai pergi meninggalkanku. Tapi, siapa gadis yang sampai bisa masuk ke celah hati Kai?


Kai tersentak. Ia ingat momen itu. Mengapa? Mengapa ini terjadi?!

Walau pikirannya terasa penuh, Kai tetap melanjutkan membaca buku harian itu. Di bukanya pada halaman terakhir.


Tanggal xx bulan xx
Sayonara…
Aku akan melupakanmu, Kai. Pasti. Aku tidak akan merusak hubungan ini hanya karena keegoisanku menyukaimu. Aku tidak akan mengorbankan ikatan keluarga kita. Tenang saja, natal nanti hadiah untukmu tetap yang paling istimewa. Karena kau istimewa untukku.
Gadis itu… gadis yang bersamamu siang itu, aku rasa gadis itu cocok untuk Kai. Gadis yang tenang dan anggun, cocok dengan pembawaan Kai. Aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu, Kai.
Aku berharap dengan senyumku, bisa membuatmu tersenyum dan bahagia, karena aku bahagia jika semua orang di sekitarku bahagia, terutama kau, Kai.


‘Gadis itu hanya teman SMP yang tanpa sengaja bertemu di jalan, Ena! Kenapa kau bahkan tidak menanyakannya padaku?’ seru Kai dalam hati menahan sesal.

Ketika Kai mau menutup buku harian itu, sesuatu terjatuh. Fotonya bersama Athena pada festival kembang api yang diambil oleh teman Athena.


-#TenAkatsuki#-


Kai teringat bagaimana awal pertemuan mereka. Kai yang sendiri selalu menghabiskan waktunya duduk di taman kecil yang ada di kompleks rumah mereka. Kai hanya mampu memandang orang berlalu lalang dan berharap dia juga punya kesempatan untuk bahagia seperti mereka. Hingga pada suatu sore ia melihat gadis itu berjalan ke arahnya. Dia duduk di ayunan yang tergantung di sebelahnya.

“Apa?” tanyaku jengah dengan tatapannya.

“Lututku sakit.” Katanya tersenyum.

Aku mengerutkan alis. Kulihat lututnya yang berdarah. Lalu kenapa jika tututnya sakit? Apa urusannya denganku?

“Namaku Athena. A-T-H-E-N-A. panggil aku Ena.” Katanya mengulurkan tangan padaku. Aku hanya menatap tangannya yang terulur.

Nama yang aneh. Nama orang asing. Cocok sekali dengan dirinya yang aneh dan asing untukku.

Dia berdecak tak sabar dan meraih tanganku, menjabatnya. “Aku tahu namamu Kai. Kau tetangga sebelah yang pendiam itu kan? Aku sering melihatmu di taman ini. Apa ada yang menarik? Aku tahu sih, memang menarik melihat orang berlalu lalang. Aku malah sering sekali menghitungnya. Rekorku yaitu menghitung 437 orang yang lewat.”

Benar-benar gadis yang berisik dan kurang kerjaan. Dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

“Ayo pulang.” Katanya kembali menarik tanganku dan menggandengku pulang. Aku memilih diam.

“Kau tahu, mengapa Mama memberiku nama Athena?” aku menggeleng. “Karena kata Mama aku anak yang kuat dan tidak cengeng. Tadi aku tersandung dan jatuh, tapi aku tidak menangis karena aku kuat.” Katanya terkekeh.

Sepanjang perjalanan gadis itu tak henti-hentinya berbicara. Heran, apa dia tidak lelah berbicara tanpa henti seperti itu? Aku melepas genggaman tangannya dan berhenti.

“Ada apa?” tanyanya bingung.

“Ini rumahku.” Giliranku yang menatapnya dengan bingung. Kami sudah berdiri di depan pintu gerbang halaman rumahku.

Tiba-tiba gadis itu tersenyum dan menarik tanganku lagi. “Kita pulang ke rumahku.”

Aku hanya menatap rumahku yang gelap. Itu berarti tidak ada siapapun di rumah.

“Mamaaa! Kami pulang!” serunya yang kemudian disambut mamanya dengan senyum. Mama gadis itu pun menyambtku dengan hangat. Baru kali ini aku merasa seperti betul-betul pulang ke rumah. Pertama kalinya aku merasa punya tempat untuk tersenyum. Apakah ini kesempatan untukku bahagia?


Tapi itu hanyalah pemikiran naïf dari aku yang belum tahu apa arti keadilan hidup. Karena dalam kamus hidupku tidak akan pernah ditemukan kata ‘adil’. Karena hidup itu tak adil.


-#TenAkatsuki#-


Halaman demi halaman album foto dibukanya untuk mengingat kebersamaannya dengan Athena. Kai menelusuri memorinya bersama Athena sampai yang terakhir. Foto terakhir Athena. Foto itu diambil tepat sebelum saat kematian Athena. Foto di pagi hari pada hari sebelum natal tiba.

“Kai, apa ada yang kau inginkan?” tanya Athena tiba-tiba.

Aku menginginkanmu, Ena. “Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa.” Kata Kai meletakkan tangannya di pucuk kepala Athena.

“Tapi, malam natal nanti bertepatan dengan hari ulang tahunmu, Kai. Kau boleh meminta apapun dariku.” Kata Athena riang. “Kau mau aku membelikanmu kado apa?”

“Tidak. Lihat ini, jam tangan hadiah natal dua tahun yang lalu pun masih bekerja dengan baik dan selalu kupakai. Aku tidak membutuhkan apa-apa, Ena. Terima kasih.”

“Tapi—”

“Kalau kau memaksa, pulanglah lebih awal, dan kita akan berkumpul satu keluarga.” Kata Kai tersenyum. Baru kali ini senyum Kai terlihat manis. Baru kali ini juga kai mengatakan “Kita… keluarga…”

“Aku dengar dari berita cuaca tadi, bahwa malam ini salju akan turun. Aku ingin melihat salju pertama yang turun bersamamu! Kita semua akan berbahagia malam ini, yaiy!!” seru Athena penuh sukacita dan bahagia.

Athena mengingat percakapan pagi itu dan tidak sabar untuk segera pulang. Ia menyeberang dengan tergesa tepat pada saat ada sebuah mobil yang tergelincir. Kecelakaan pun tak terelakkan lagi.

Athena yang langsung dilarikan ke rumah sakit sempat koma beberapa waktu. Ia membuka mata dan tersenyum. “Aku ingin melihat salju pertama turun bersamamu.” Athena pergi ke tempat yang tak bisa Kai raih.

Tak berapa lama salju pertama pun turun di kota. Kai melihatnya. Seakan putihnya salju turut membawa kepergian Athena.

“Ena… Enaaaa!!!” baru kali ini Kai menangis setelah hampir 10 tahun sejak perceraian orang tuanya. Mama Athena membekap mulut menahan tangisnya yang menyesakkan.


-#TenAkatsuki#-


Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Kau tahu Ena, seandainya kau bertanya padaku siapa gadis itu, itu kau! Itu kau, Ena!

Kai mengambil fotonya bersama Ena pada saat festifal kembang api, dimana Kai dan Ena tersenyum, memasangnya pada pigura dan meletakkannya di meja. Kai memasukkan album dan buku harian Athena ke dalam kotak, berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi.

==Fin==
Yogyakarta, 25 Juni 2013

Ingat, Allah selalu melihat.. ;)

https://www.wattpad.com/77762530-keping-memori-terakhir

*This is mine. Don’t copy without my permission. Ten akatsuki!!*