Saturday, March 10, 2018

[Review] Ti Amo, Tia Amoria by Karla M. Nashar

Judul: Ti Amo, Tia Amoria
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Agustus 2011
Tebal: 344 hlm.
ISBN: 978-979-22-7409-7
.
.
Tia Amoria, si mata cokelat ekspresif, dengan mudah membuat lelaki tergelincir dalam kecantikan alami yang dimilikinya. Sayangnya, Tia telah mematri rapat hatinya karena ia memiliki alasan terbaik di dunia ini untuk bersikap demikian. Tapi semua itu berubah ketika dia bertemu dengan Marco Dantè yang eksentrik.

Marco Dantè, si tampan yang eksentrik, selama dua tahun terakhir berhasil hidup steril tanpa kehadiran wanita. Seperti halnya Tia, Marco memilih untuk menutup pintu hatinya karena ia pun memiliki alasan terbaik di dunia ini untuk bersikap seperti itu. Tapi semua itu berubah ketika dia bertemu dengan Tia Amoria yang memesona.

Butuh energi luar biasa bagi Tia untuk mempertahankan apa yang selama ini dipercayainya setelah Marco memasuki kehidupannya. Tia pun harus mempertanyakan kembali semua keputusan yang telah dibuatnya beberapa tahun lalu.

Terlebih ketika Marco berbisik di telinganya...

“Ti amo, Tia Amoria — I love you, Tia Amoria.”
.
.
.
Setelah kucermati, cerita yang ditawarkan Karla ini banyak mengambil isu yang ada di sekitar kita; kali ini mengenai anak di luar nikah yang sering disebut anak haram--dan aku tidak setuju dengan itu. Selain itu, heroine selalu digambarkan dengan sosok yang sangat menikmati pekerjaannya. Khas Karla juga dengan segala kalimat² manisnya yang menyihir.

Karakter tokoh cukup kuat untuk bisa membuatku nggak membandingkan dengan tokoh di buku Karla yang lain. Tia, seorang orang tua tunggal yang juga seorang wanita karier. Ia sosok yang tegar dan keras hati. Marco, seorang pria yang too good to be true--tampan, baik hati, smart, sukses, dan kaya. Alila, kusuka karakter dia yang ceria dan cerdas, memberi warna tersendiri di cerita ini. Jeannie, sosok yang baik hati, tegar, dan realistis, ia tidak akan menangisi masa lalunya, menjadikannya pelajaran dan melangkah maju--itu yang kusuka. Arleena, aku nggak suka dengan tipe ini, terkesan manja, egois, dan menyebalkan--sorry! Masih ada Nico, yang pengertian dan camer idaman--eh! Pak Wayan bos yang royal, baik hati, dan cinta keluarga--sungguh bos idaman!

Untuk setting, sama seperti LHHP, aku suka karena digambarkan dengan detail--aku menikmati membayangkan deskripsi dari tempat² dan suasana Bali dan Italia. Pun deskripsi perasaan mereka--aku jengkel ketika Tia egois dan Arleena yang seenaknya sendiri.

Menggunakan sudut pandang orang ketiga, yang bikin aku bisa melihat sudut² cerita yang tidak diungkapkan tokoh pada dialog. Herannya, meski dengan pov ini aku tetap bisa merasakan perasaan masing² dari mereka.

Alur maju mundur disampaikan dengan rapi dan apik. Seperti menyodorkan teka-teki untuk dirangkai dan dijawab. Alur akan terasa sedikit lambat ketika tokoh berurusan dengan pekerjaannya. Tapi ini yang aku suka, cukup detail! Jadi bukan hanya berisi cinta yang menye². Di awal cerita, tadinya aku berpikir akan seperti LHHP yang kedua tokoh sudah saling mengenal, ternyata belum. Btw, mungkin, munculnya perasaan mereka agak mengejutkan karena interaksi di awal atau narasi nggak terlalu menunjukkan perasaan mereka.

Selain konflik yang lumayan bikin geregatan, cerita ini cukup komplit menguras emosi. Dari komedi, sedih, hingga jengkel--perasaanku campur aduk baca ini. Kebanyakan part lucu itu menyangkut Marco dan Alila.

Dari karya Karla yang kubaca, aku paling suka ending cerita ini. Dinarasikan pada sebuah coretan diari. Karla menutup cerita ini dengan sangat manis dan romantis. Rasanya aku belum rela mendapati kisah mereka selesai. Walau banyak typo bertebaran, cerita ini mampu membuatku tidak mengindahkannya. Kalian nggak akan menyesal baca ini, melihat indahnya Bali dan Italia.

Saturday, November 11, 2017

[Review] Wedding Debt By Rati natiF

Judul: Wedding Debt
Penulis: Rati natiF
Penerbit: Penerbit KataDepan
Terbit: Cetakan pertama 2016
ISBN: 978-602-6805-82-9
Tebal: iv+316 hlm.

===============

Sinopsis:
Laki-laki tinggi bermata biru itu datang dan mengubah seluruh hidupku. Dia bilang, Ayah berhutang lima miliar! Lima miliar, bayangkan apa saja yang bisa kubeli dengan uang sebanyak itu? Laki-laki jahat itu memintaku menikah dengannya, dan hutang Ayah akan dianggap lunas.

Masa depanku terjual, tetapi benar-benar tak ada cara lain. Aku tak mau Ayah mennaggung semuanya sendirian. Akhirnya aku rela menikah dengan laki-laki dengan wajah dipenuhi cambang itu. Aku rela demi Ayah dan Mama.

Namun, benarkah semua demi Ayah dan Mama? Lalu, mengapa aku jadi begitu resah saat tahu laki-laki itu ternyata menyimpan rahasia? Tentang perempuan bernama Clara dan perempuan lain yang ia tunggu dari masa lalunya?

Aku hanya menikah karena utang Ayah, aku tahu itu.
Aku tak akan pernah jatuh cinta kepadanya.

Kita bisa saja terus mengingkarinya, terus mengingkari keberadaannya. Namun diam-diam kita tahu, cinta tak akan pernah bisa terbayar lunas.

==============

Menikah karena berhutang 5M dan karena tuntutan. Siapa yang mau menikah karena paksaan? Nggak ada. Kinan terpaksa memutuskan hubungannya dengan Danny, kekasihnya, demi Prasasti yang akan menjadi suaminya.
.
.

Pernikahan terjadi dalam waktu singkat, dan tanpa cinta. Menjadi istri Pras harus punya pabrik sabar. Clara, (mantan) kekasih Pras masih terus mengganggu kehidupan mereka. Nempelin Pras terus kaya nasi yang keinjek, nggak lepas-lepas.
.
.
Aku paling suka di awal, saat Pras datang bawa duit receh banyak ke bank tempat Kinan kerja, dan minta Kinan yang ngitung. Dia sengaja iseng.  Setelah itu dikasih ke Kinan, terserah sama Kinan mau dipakai buat apa. Dan karena Kinan sebel sama Pras, itu duit dikasih ke orang-orang kantor buat makan mi ayam. Padahal itu duit lumayan berharga untuk Pras. 😂😂
.
.
Saat sebelum pernikahan, Kinan bisa kabur dari para pengawal yang diminta Pras untuk menjaga Kinan. Karena Kinan pernah bisa kabur, akhirnya ditaruhlah Farhan untuk mengawal Kinan.
.
.
Farhan, tokoh favoritku dari awal dan selalu (Bang Farhaaaaann~!! Awas kemucing ibundaaa~ >w<) yang tak pernah absen bersajak. Dasar Pujangga Khatulistiwa! XD Aku suka dia sejak di wattpad. Tapi entah hanya perasaanku saja atau memang betulan, rasanya di buku cetak Bang Farhan munculnya nggak sebanyak yang di wattpad. Dan ketika baca, aku merindukannya. :'( #halah
.
.
Aslikkk seru banget baca ini, apalagi pas bagian Farhan, ahaha. Romantis, lucu, sedih, geregetan. Campur aduk! Walaupun rasanya agak beda sama yang di wattpad, tapi ini bagus! >w<
.
.
"Tapi jahangan percaya bisik tetangga. Sang Kholik lebih utama." (hlm 261)
3.8/5 ⭐⭐⭐⭐

Friday, November 10, 2017

[Review] The Chemistry of Marriage By Asri Tahir

Judul: The Chemistry of Marriage
Penulis: Asri Tahir
Penerbit: CV. PAA
Tahun: Cetakan pertama Maret 2016
ISBN: 987-602-70121-2-7
Tebal: 352 hlm.

=====================

"Karena mencintai membutuhkan perjuangan. Beranikah kamu menantang hatimu untuk jatuh dan terbang di saat bersamaan?"
.
.
Urusan hati memang selalu rumit. Karena tidak hanya sekali atau dua kali hatimu tidak sejalan dengan logikamu.

===

Ketika hati telah tertambat padanya sejak lama, namun dia tidak melihatmu sama seperti kamu melihatnya. Di saat yang sama kamu diharuskan menikah dengan seseorang demi menyelamatkan nama kekuarga.
.
.
Di lain pihak... Dalam keadaan patah hati karena sebuah pengkhianatan, ia berusaha untuk melupakan. Berakhir dengan menikahi seseorang, dengan alasan sebuah tanggung jawab.
.
.
Logika mengambil alih pengambilan keputusan meski awalnya hati menolak. Lalu bagaimana jika nantinya hati menerima bahwa keputusan itu benar?
.
Sama seperti hati yang mengambil sebuah keputusan yang salah, lalu kemudian logika memaparkannya kebenarannya. Karena hati dan logika tidak bisa dipisahkan. Mereka harusnya berjalan bersama, saling melengkapi.

===

Dalam sebuah pernikahan tidak hanya mengenai dua orang yang hidup bersama. Tapi dua orang yang menjadi satu, yang saling berbagi hidup. Berbagi sedih dan bahagia, dan juga saling percaya. Jika tidak bisa saling percaya, bagaimana bisa berbagi hidup, sedangkan keluargamu yang paling dekat dan selalu bersamamu adalah dia?
.
.
"Biar gimana pun kan perempuan itu tulang rusuk laki-laki yang hilang. Hidupmu mungkin nggak apa-apa tanpanya. Terlihat sempurna tapi nggak lengkap!" (hlm 310)

==============

Aku suka ceritana yang padet. Nggak cuma scene roman semata. Emang nggak sengebaperin OTR, tapi yang ini tetep bikin baper.
.
Ada Disa si cewek yang rada cuek. Rangga, si cowok yang kalau kata Disa ini gantengnya maskulin dan bukan cowok pomade. Terus ada Erick, cowok yang care banget sampai bisa bikin geregetan. Oh iya, ada juga si Renata yang centilnya bikin aku pengen nabok dia pake seblak kasur.
.
Benang-benang takdir mereka saling bertemu dan mengait, membuat cerita mereka tak bisa lepas satu sama lain.
3,5/5⭐ 

[Review] Over the Rain By Asri Tahir

Judul: Over the Rain
Penulis: Asri Tahir
Penerbit: Elex Media
Terbit: Cetakan pertama 2015
ISBN: 978-602-02-7399-0
Tebal: 142+227 hlm.

========================

"Mereka mencintai, tapi tidak ada jalan bersama. Mereka beraama tapi tidak saling mencintai. Meski hidup tak selamanya indah, akankah mereka bahagia di jalan yang berbeda?"

======

Ketika cinta masa lalunya belum selesai, tetiba menghadang di depannya yang kini telah bersama orang lain. Dia yang sangat ingin bersama dengan yang ia cintai, sedangkan ia telah ada yang memiliki. Karena ego masing-masing, mereka pun jadi melukai satu sama lain.
.
Karena cinta nggak melulu seperti di negeri dongeng, yang ketemu pangeran kemudian happy end. Cinta adalah perjuangan, berjuang untuk bertahan dan memperjuangkan satu sama lain.

======

"Kamu... lara yang menjadi anganku paling sempurna. Bersemayam indah tanpa pernah kusadari ada di dalam hatiku. Mencintaimu sama dengan membunuhku! Namun kehilanganmu juga membuatku kehilangan akal...."

=============

Sinar Rembulan. Sebuah nama yang cantik yang mencintai Bintang Lazuardi. Mereka saling mencintai, seakan dari nama mereka, mereka memang ditakdirkan untuk bersama. Tapi siapa yang akan menyangka bahwa takdir membalikkan punggungnya pada mereka?
.
Bulan menikah dengan Reza dan memiliki seorang putera, Bumi. Nama yang telah ia siapkan sejak lama. Mereka hidup bahagia dan saling mengasihi. Hingga badai datang menerpa rumah tangga mereka. Badai itu bernama Bintang.
.
Bintang datang kembali ke kehidupan Bulan setelah sekian lama menghilang tanpa kabar. Ia berniat untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya. Bulan.
.
Kedatangan Bintang menggoyahkan hati Bulan. Sisa-sisa cinta masa lalunya kembali mekar, menyeruak dan membuatnya bimbang. Dalam kebimbangan itulah dia melakukan kesalahan besar. Sebuah kesalahan yang membuatnya berakhir pergi dari kehidupan semua orang yang dicintainya, menjalani hidupnya seorang diri tanpa mereka.
.
.
Langit Malam dan Over the Rain. 2 cerita dalam 1 buku. 2 in 1, paket komplit. Komplit juga bapernya. 😂
.
Sedih dan geregetan baca buku ini. Meskipun berulang kali baca, tapi tetap aja menguras emosi. Aku jengkel sama Bintang yang masih kekeuh untuk dapetin Bulan, walau di sisi lain aku tau perasaannya yang pengen memperjuangkan cintanya.
.
Aku kesel pas Bulan sama Bintang, tega betul dia sama Reza. Sedih juga pas Bulan sama Reza pisah, gimana sikap Bulan dan juga sikap Reza.
.
Geregetan sama mereka, walaupun aku ngerasa jadi mereka pas baca, dan aku juga akan melakukan hal yang sama kalau jadi mereka.
.
Pas mereka saling menyakiti... ikutan sakit euy, sakiiiiit! 😅
.
Gimana akhirnya, apakah Bulan memilih cinta masa lalunya yang belum selesai, ataukah bersama dengan orang mencintainya? Karena cinta akan selalu menemukan jalannya. 😊😊 4/5⭐ untuk Bintang-Bulan-Reza 😄
.
.

"Karena bahagianya aku adalah bersama kamu."
- Fahreza Ibrahim -

[Review] Cafe Waiting Love By Giddens Ko

Judul: Cafe Waiting Love
Penulis: Giddens Ko
Penerbit: @penerbitharu
Terbit: Cetakan pertama, Januari 2016
Tebal: 404 hlm.
ISBN: 978-602-7742-70-3
.
.
Cafe Waiting Love, Cafe dengan nama romantis yang ada di ujung jalan sebuah pasar malam, di depan Universitas Tsing Hua. Nyonya Bos dengan kopi "Racikan Spesial Nyonya Bos"-nya, sebagai pemilik kafe. Memiliki dua orang pekerja; Albus, seorang lesbian, pekerja senior yang mahir meracik kopi, dan Li Siying, pekerja junior yang masih berstatus murid SMA kelas 3.
.
.
Banyak pelanggan yang datang ke kafe itu dan tau akan kemampuan Albus dalam meracik kopi, hingga ia sering mendapat tantangan. Pesanan untuk serombongan anak SMA memesan "Tapak Duka Nestapa Seperti yang Ada di Turnamen Gunung Huashan" dan juga pesanan sembarangan dari Raja Sembarang Pesan.
.
.
Di kafe itu, Siying bertemu dengan Zeyu, pemuda pecinta kopi Kenya yang memesan latte yang tidak disukainya, demi sang pacar. Ia berharap Zeyu adalah cinta yang ia cari.
.
.
Siying mulai berteman dengan A Tuo, pemuda yang sering diledek teman-temannya karena pacarnya direbut oleh seorang lesbian--dan menjadi dekat. Dari A Tuo ia mengenal berbagai macam temannya; ada Paman Cheng si bos pemilik bengkel sepeda, Bibi Pisau Emas pemilik penatu yang kemampuan memasaknya tiada duanya di Hsinchu. Ia hanya memasak di hari Minggu, dan setiap masakannya memiliki nama.
.
.
Ada Abang Bao, ketua gangster yang julukannya 'Dewa Kematian yang Bagaikan Badai Berjalan'. Ia suka sekali menonton film, memiliki banyak kaset, lengkap dengan 'bioskop buatan'.
.
.
A Tuo juga mengenalkan Siying pada Xiao Cai, murid lesnya yang 5x ikut ujian masuk universitas. Dia punya banyak keahlian dan sibuk belajar Seni Keajaiban Tubuh.
.
.
Kurasa tokoh utamanya adalah Siying dan A Tuo. Tapi, sepertinya nggak tepat juga kalau dikatakan demikian, karena semua tokohnya memiliki cerita masing-masing. Banyak tokoh yang muncul di sini dan mereka semua menyenangkan!
.
Banyak hal positif yang bisa diambil dari tokoh-tokohnya. Misal Albus, darinya aku mendapatkan, "semakin dewasa seseorang, semakin ia tau apa yang harus dilakukan untuk menghadapi masalah" dari scene dia membuat kopi untuk sekelompok remaja iseng.
.
Dari Abang Bao, walau dia ketua gangster, tapi dia tetap manusia. Dia hobi nonton film, dan dia juga suka telur. Selain itu dia juga sangat setia kawan.
.
Xiao Cai veda lagi, dari dia aku belajar, bahwa kekurang nggak seharusnya membuat kita menyerah untuk menggali kelebihan yang kita miliki. 😄😄
Pokoknya 4/5🌟 untuk banyak kisahnya yang unik dan antimainstream~ recommended!

[Review] Love O2O By Gu Man

Judul: Love O2O
Penulis: Gu Man
Penerbit: Haru
Cetakan: April 2017
Isbn: 978-602-6383-13-6
Tebal: 434 hlm.
.
.
"Sejauh mana kau melangkah, sejauh itulah akan kubangun benteng untuk mempertahankanmu." (hlm. 373)
.
.
'Suami' Wei Wei memintanya untuk bertemu di Pulau Putus Cinta untuk bercerai. Wei Wei tidak ambil pusing, karena baginya itu hanyalah permainan game online. Pasangannya hanyalah formalitas untuk menaikkan level dan menyelesaikan misi.
.
.
Sialnya, banyak pemain yang mengira bahwa Wei Wei cemburu karena 'mantan suami'nya, Zhen Shui Wu Xiang menikahi Xiao Yu Yao Yao--yang merupakan cewek paling cantik di game online itu--hanya karena ia berdiri di jembatan di mana pasangan pengantin itu akan lewat. Ada alasan tersendiri mengapa ia berdiri di sana 'melihat' Zhen Shui Wu Xiang menikah.
.
.
Di saat yang acakadut itu, Wei Wei bingung harus bagaimana, dan dengan tiba-tiba sebuah ide muncul. Ide yang nantinya akan membuatnya ribut dengan perkumpulannya. Pada saat bingung itulah Yi Xiao Nai He, seorang pemain kecapi--Si Tuan Dewa--muncul. Dijuluki demikian karena ia adalah pemain level tinggi. Hal yang paling mengejutkan adalah, Tuan Dewa meminta untuk menikahinya.
.
.
Lalu apa yang akan terjadi ketika dunia game dan dunia nyata terhubung oleh benang merah? Seakan menjadi dunia paralel antara game dan kenyataan mengenai hubungan tokoh dan perasaan di dalamnya?
.
.
Ish, gemas deh baca ini. Aku seakan jadi seorang gamer pas baca ini. 😅😅
Sweet banget. Yah, memang aneh gitu sih dengan perfect couple, seperti roman kebanyakan; cewek cantik yang nyaris sempurna disandingkan dengan cowok tampan yang nyaris sempurna pula. Jadi aku merasa kurang asyik dengan background mereka.
.
Tapi jalan ceritanya mengalir asyik. Nggak hanya tokoh utamanya, tokoh-tokoh pendukungnya pun membuat cerita menjadi semakin menyenangkan. Tingkah mereka yang konyol dan membuat gemas. Menurutku, karakter mereka lumayan kuat. Aku kesulitan mengingat nama mandarin, tapi aku ingat mereka dari karakter mereka. 
.
Sampul bukunya juga manis banget, jadi kebayang film China zaman dulu. Baca buku ini enak betul kalo disambung nonton serial dramanya. Bahkan ada movienya juga loh. 😆😆 4/5🌟 untuk buku ini~~
.
#LoveO2O #PenerbitHaru #MNovel #fiksi #romance #novel #mandarin #asia #bibliophile #bookworm #booknerd #bookholic #bookreview #bookstagram

Tuesday, June 20, 2017

[Review] Stay with Me Tonight by Sofi Meloni

Judul: Stay with Me Tonight
Penulis: Sofi Meloni
Penerbit: EMK
Terbit: tahun 2015
ISBN: 978-602-02-6646-6
Tebal: 271 hlm.

Mereka bilang hubungan di atas tempat tidur dan cinta itu dua hal yang berbeda.
Katanya lagi hubungan intim bisa dilakukan dengan ataupun tanpa cinta.
Dengan cinta? Bullshit...!
Cinta itu hanya ada di cerita dongeng belaka, setidaknya itu yang kupercaya sampai aku bertemu dengannya....

Mungkin pertemuan kami diawali dengan cara yang salah dan mungkin juga pada dasarnya dua orang yang sama-sams terluka tidak seharusnya bersama.

Pada akhirnya kami harus mengakui kalau kami adalah dua orang yang salah untuk satu sama lain.

-Ayu-

=========================

Ketika dijual oleh ayahnya, ia mengira kalau ia diselamatkan oleh seorang pangeran baik hati. Tapi bagaimana jika ia lepas dari mulut harimau dan malah masuk mulut buaya?

Pertemuan dengannya kala itu berlanjut sampai sekarang. Hubungan timbal balik yang semata hanya di atas ranjang. Antara uang dan pengisi ranjang. Tanpa mengenal nama dan identitas, bahkan latar belakang dan masa lalu.

Tetapi, sebuah awal yang salah tidak akan berakhir dengan baik. Dua orang yang sama-sama terluka tidak seharusnya bersama, karena hanya akan saling menyakiti. Ketika cinta muncul di antara mereka, tetapi ternyata tidak semudah itu untuk mencinta. Takdir bermain-main dengan memunculkan pecinta yang lain, memisahkan mereka, dan menebarkan luka pada semua. Tapi percayalah, takdir telah membuat benang-benang bahagia untuk Ayu, Benny, Yuana, dan Ditto.

"Hidup bersamanya seperti bom waktu yang berhenti pada detik 00:01. Tidak ada yang tahu apakah mesin itu sudah berhenti sepenuhnya atau punya kesempatan untuk kembali bekerja dan meledak begitu saja." (hlm 155) 

Ya ampun, suka sama covernya, aku banget! Ahaha~
Aku baper baca ini dari awal sampai akhir. Ceritanya romantis banget, padat,mengalir begitu aja, dan bahasa yang dipakai nggak vulgar. Pas tokohnya sakit hati, aku pun. Sedih dan jengkel pula. Aku terbawa suasana cerita. Geregetan! 😂

Ada beberapa typo huruf yang terbalik, nggak masalah. Tapi yang bikin aku kesela (dikit) pas baca itu salah kata yg berarti sebaliknya.  Aku bahkan langsung baca 2x, ahaha~ 😄

"Jangan memulai sesuatu yang tidak bisa kamu akhiri." (hlm 137)

4/5⭐⭐⭐⭐

#RSxLiteTreeChallenge #Readingchallenge #bookreview #StayWithMeTonight #SofiMeloni #romance #fiksi #ElexMedia #bookworm #bookstagram #bibliophile #booknerd #bookholic #bookworm #bacaituseru #asyikbaca #140617

[Review] Unperfect Marriage by Merry Maeta Sari

Judul: Unperfect Marriage
Penulis: Merry Maeta Sari
Penerbit: EMK
Isbn: 978-602-02-7548-2
Tebal: 230 hlm

Dylan:
Aku berharap kamulah yang menolak perjodohan ini. Tapi kamu menerimanya. Bahkan setelah menikah, berkali-kali aku menyakitimu, tak menganggapmu. Tapi kamu tak peduli. Kenapa kamu tak meninggalkanku? Mencari kebahagiaanmu sendiri, kamu berhak untuk berbahagia, Nin...!

Nina:
Sebab di dekatmulah aku merasa bahagia, Mas. Dengan atau tanpa kepedulianmu kepadaku. Bahkan sekalipun pada akhirnya setiap tarikan napasku hanya untuk menghirup luka. Tak apa. Sebab aku terlebih dulu memilihmu. Memilih untuk mencintaimu. Dan semuanya bertambah ketika pernikahan kita, aku hanya perlu taat padamu, dengan atau tanpa cintamu.

- - - - -

Bagaimana jika kau tinggal bersama dengan orang yang kau cintai tetapi tidak mencintaimu?

Nina dan Dylan, mereka menikah karena dijodohkan. Nina menyukai Dylan sejak SMA, yang adalah kakak kelasnya. Nina bahagia bisa menjadi istri Dylan. Tapi tidak untuk Dylan, dia mempunyai orang yang ia cintai. Winda.

Nina mencoba mempertahankan pernikahannya dengan mengajukan masa percobaan 3 bulan. Jika sampai saat itu Dylan tidak juga mencintainya, mereka bisa berpisah. Di saat permasalahan rumah tangganya rumit, muncul Andika. Andika menyukai Nina. Andika yang dulunya adalah cowok begajulan, berubah jadi alim dan memperbaiki diri demi Nina.

Nina semakin lelah berjuang sendiri mempertahankan pernikahannya. Bahkan keluarganya tak ada yang tahu mengenai rumah tangganya yang tidak berjalan baik, tak seorangpun tahu. Ia menyerah dan berniat melepas Dylan supaya dia bahagia. Ia tahu, karena hanya Winda yang Dylan cintai.
Apakah pernikahan mereka bisa dipertahankan? Apakah Nina akan memilih Andika daripada Dylan?

Cerita ini enak dibaca karena ngalir dan jelas karena menggunakan sudut pandang masing-masing tokoh juga. Tapi buatku jalan ceritanya kurang begitu gereget, terlalu kalem, hehe. Baca cerita ini, aku kagak nemu peran antagonis yang bisa bikin aku kesel pas baca, alhamdulillah puasaku jadi aman dari ngutuk-ngutuk tokoh, ahaha.

3,5/5 ⭐

#RSxLiteTreeChallenge #Readingchallenge #bookreview #UnperfectMarriage #MetaMine #romance #fiksi #ElexMedia #bookworm #bookstagram #bibliophile #booknerd #bookholic #bookworm #bacaituseru #asyikbaca #130617

[Review] Wedding Rush by Jenny Thalia Faurine

Judul: Wedding Rush
Penulis: Jenny Thalia F.
Penerbit: EMK
Terbit: 2015
ISBN: 978-602-02-6349-6
Tebal: 328 hlm

"Makanan adalah obat paling mujarab untuk penyakit patah hati." (hlm 15) -- aku banget nih, ahaha 😆

Itu yang dikatakan Daka pada Padma ketika Padma patah hati. Namun ternyata hal itu tidak berlaku untuk Padma.

Padma memutuskan meninggalkan tiga orang sahabatnya--Rajata, Resita, dan Daka--setelah akhirnya tahu kalau perasaanya pada Rajata bertepuk sebelah tangan. Rajata memilih Resita. Setelah dua tahun, ia memilih kembali pada saat pernikahan Rajata dan Resita. Kembalinya Padma setelah dua tahun menghilang menggemparkan dunia entertainment tanah air. Artis kelas atas akhirnya muncul kembali.

Padma bisa dengan cepat mengembalikan hubungan persahabatannya dengan Daka. Tetapi bagaimana dengan Rajata dan Resita? Dua orang yang selama ini ia hindari dan ingin ia benci, tetapi tidak bisa.

"Karena tak ada yang namanya 'bekas sahabat' selama apa pun kita meninggalkan mereka. Sahabat tetaplah sahabat." (hlm 37)

Daka yg paling dekat dengan Padma membantunya supaya hubungan persahabatan mereka berempat membaik. Keberadaan Daka sudah seperti kakak bagi Padma. Daka jugalah yang membantunya tersenyum kembali. Walau kemudian senyum itu menghilang dan muncul lagi dengan berbeda ketika bertemu dengan dua sahabatnya yang lain. Senyum akting seorang artis.

"Cinta bisa datang dengan sangat cepat namun sangat lama untuk membuat perasaan itu pergi dari hatinya." (hlm 41)

Terus gimana dengan Padma? Nasib cinta dan persahabatannya?

"Nggak pernah ada yang tahu kan masa depan itu gimana. Jalanin aja" (hlm 85)

Daka selalu ada untuk Padma, membantunya untuk memperbaiki hubungan persahabatan mereka berempat. Tanpa diyakinkan oleh Daka pun Padma tahu bahwa dia harus melanjutkan hidup, tidak melulu mempertahankan sakit di hatinya. Ia vakum sementara waktu dari dunia entertainment dan bekerja dengan Daka sebagai seorang SEO. Di sanalah ia bertemu dengan Riko, lelaki yang dikenal lumayan lama oleh ketiga sahabatnya, tapi tidak dengannya.

"Move on bukan berarti kenangan yang lalu itu hilang dan lo lupa sama semua kejadian yang lalu. Move on itu tentang melepaskan secara bertahap." (hlm 91)

Padma memutuskan untuk membiarkan Riko yang gencar mendekatinya. Ia menghabiskan sebagian waktunya bersama Riko di sela" kesibukannya. Di saat Padma mencoba meraih kebahagiaan, Daka masih belum bisa move on dari traumanya pada sebuah hubungan serius.

"Sahabat akan terus saling memiliki, bagaimanapun kondisinya." (hlm 126)

Gimana dengan Padma mengenai persahabatan dan cintanya? Ketika dia mulai memutuskan, saat itu pula dia mulai merasa takut kehilangan. Gimana dia menghadapinya? Riko yang merasa cemburu dengan kedekatan Padma dengan sahabatnya, dan Daka yang sekalinya serius jatuh cinta malah mencintai calon istri orang. Tuhan memang Maha Asyik. Tuhan selalu punya rencana untuk bermain-main sebelum akhirnya membuat semua berakhir indah.

Akhirnya selesai juga~
Cerita ini asyik, nggak melulu cinta"an, tapi juga persahabatan. Aku gemes betul baca ini, pada egois ih. Isinya campur aduk bikin baper. Coba gitu Daka dan Riko fusion, pasti perfect! Love 'em! Ahaha 😆 *plak*

4/5 ⭐⭐⭐⭐

[Review] Morning Breeze by Viera Fitani

Judul: Morning Breeze
Penulis: Viera Fitani
Penerbit: EMK
Terbit: Cetakan kedua, 2015
ISBN: 978-602-02-5983-3
Tebal: 256 hlm.

Siapa yang tahu tentang jodoh?
Seorang Dinasty yang setia pada kekasih yang meninggalkannya selama setahun. Kesetiaan yang dia sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan dan status hubungan mereka. Ya, kekasihnya tidak memberi kabar apapun kecuali secarik surat sebelum ia pergi. Secarik surat yang berisi bahwa ia akan kembali. Tapi apa yang bisa diharapkan dari selembar surat yang bahkan dititipkan pada orang lain untuk diberikan pada Dinasty?

Sampai suatu hari Dinasty yang seorang perawat, bertemu dengan dr. Fabian. Lelaki yang awalnya dibenci Dinasty itu berhasil menyentuh hatinya. Menghapus air mata dan menjadi tempatnya bersandar. Mampu menggerakkan perasaannya untuk melangkah dari masa lalu, dari seseorang yang meninggalkannya tanpa alasan.

"Percayalah, tidak ada yang lebih melelahkan daripada menunggu dalam sebuah ketidakpastian." (hlm. 82)

Ketika Dinasty mulai menetapkan hatinya, kekasihnya kembali. Dirga datang untuk menepati janjinya. Lalu gimana dengan Dinasty? Kembali pada lelaki masa lalunya, ataukah lelaki yang menjanjikan masa depan untuknya? Keduanya sama-sama lelaki yang ia cintai. Dirga yang masih dicintainya, dan Fabian yang telah mendapatkan cintanya.

Serakah? Nggak juga. Siapa yang mau berada di posisi Dinasty yang rumit. Tapi itulah cinta. Dia yang akan membawa hatimu padanya tanpa disadari, dan cinta mampu membuatmu berkorban demi bahagianya dia yang kaucinta.

"Tapi cinta selalu seperti ini bukan? Datang tak terduga, tanpa pernah kita tahu kapan waktunya, atau bahkan dengan siapa hati kita memilih untuk berdebar lebih cepat." (hlm. 84)

- - - - -

Yampun, baca ini nyesek tapi juga jengkel dan geregetan. Nano-nano! Nyesek karena kek disuruh makan buah simalakama, jengkel dan geregetan karena sikap mereka. Selain itu, Fabian dan Dirga betul-betul idaman cewek deh. Gimana nggak, aku pun ikutan baper.

"Jadi pilihannya cuma dua, kamu dengan sukarela menyukai saya atau saya yang akan membuat kamu suka dengan saya." (hlm. 19)

"Dinasty Syafreena, bertemanlah denganku? Seumur hidup." (hlm. 247)

Secara keseluruhan aku suka buku ini. Bahasanya ngalir, enak dibaca, dan tau" udah kelar gitu aja, makanya selesai kurang dari sehari. Ada beberapa bahasa percakapan yang buatku kurang enak dibaca, personal sih, seperti; cape, ni, ama. Terus ada juga penggunaan kata 'mengacuhkan', seharusnya 'tidak mengacuhkan' (hlm. 17 dan 105). Acuh: peduli.
Overall, 4/5⭐ untuk buku ini~~ 😊😊

#RSxLiteTreeChallenge #Readingchallenge #bookreview #MorningBreeze #VieraFitani #romance #fiksi #ElexMedia #bookworm #bookstagram #bibliophile #booknerd #bookholic #bookworm #bacaituseru #asyikbaca #091017

Sunday, February 7, 2016

[Review] BANGKOK by MOEMOE RIZAL






Judul Buku : BANGKOK: The Journal
Penulis : Moemoe Rizal
Penerbit : Gagas Media
Tahun Terbit: 2013


Siapkan paspormu dan biarkan cerita bergulir. BANGKOK mengantar sepasang kakak dan adik pada teka-teki yang ditebar sang ibu di kota itu. Betapa perjalanan tidak hanya mempertemukan keduanya dengan hal-hal baru, tetapi juga jejak diri di masa lalu.

Di kota ini, Moemoe Rizal (penulis Jump dan Fly to The Sky) membawa Edvan dan adiknya bertemu dengan takdirnya masing-masing. Lewat kisah yang tersemat di sela-sela candi Budha Wat Mahathat, di antara perahu-perahu kayu yang mengapung di sekujur sungai Chao Phraya, juga di tengah dentuman musik serta cahaya neon yang menyala di Nana Plaza, Bangkok mengajak pembaca memaknai persaudaraan, persahabatan, dan cinta.

Tîeow hâi sà-nùk, selamat jalan. 


..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..+..

Woah, ini novel keren betul.. Aku nggak bisa berhenti berdecak ketika baca. :D
Ini review novel hasil #BlinDateWithBooks, Bangkok karya Moemoe Rizal. *kapan ngedate sama orang betulan yak? >w< //plakk*

Menceritakan kisah hidup Edvan, seorang arsitek muda sukses yang bekerja keras menggapai posisinya sekarang, demi sebuah pembuktian pada orang yang ia sayang. Ia yang tinggal di Singapura, akhirnya kembali ke Indonesia untuk menemui orang-orang terkasihnya, namun semua telah berubah setelah sepuluh tahun. Bahkan awalnya ia mengira ia sudah melupakan sosok adiknya. Ketika ia mendatangi pemakaman ibunya, ia sama sekali tidak mengenali orang di pemakaman sebagai adiknya. Setelah bertemu dengan adiknya, Edvin sangat terkejut dan tidak suka dengan perubahan drastis Edvan, adiknya. 

Saat Edvan merasa sudah tak memiliki apapun dan siapapun lagi, Edvin datang menemuinya memberikan sebuah jurnal terakhir milik ibu mereka sebagai warisan untuk Edvan, dan Edvan harus melakukan perjalanan ke Bangkok untuk mencari enam jurnal yang lain untuk menemukan warisannya.  Dan hal itulah yang dibenci Edvan: warisan.

Perjalanan yang Edvan lakukan awalnya ia lakukan dengan setengah hati, hanya demi sebuah bakti pada mendiang ibunya. Melaksanakan permintaan terakhir ibunya kepada dirinya. Dalam perjalanan itulah akhirnya ia menemukan warisannya. Menemukan arti dari semua kejadian yang menimpanya, juga menemukan keluarga dan labuhan cintanya.

Edvan-Edvin-Charm-Max
Tokoh-tokoh yang akan sering muncul untuk menemani perjalanan pembaca ketika berkeliling Bangkok mencari keenam jurnal yang tersebar di seluruh Bangkok. Mereka mencari jurnal-jurnal itu berbekal petunjuk yang tertera di setiap jurnal. Tiap-tiap jurnal itu akan membawa  mereka pada jurnal sebelumnya. 

Banyak quotes yang bisa diambil dari novel ini. Tapi aku cuma mau mencantumkan beberapa aja.



“Everything has beauty, but not everyone sees it.” --Confucius


"Jangan pedulikan siapa adikmu. Kalau kamu memang sayang, sayangilah. Titik." (hlm. 397)


"Nggak ada satu pengadilan mana pun yang bisa memutuskan hubungan darah antara ibu dan anak." (hlm. 399)


"Mendoakan orang nggak boleh ada ‘tapi’-nya." (hlm. 400)



Cerita BANGKOK ini menurutku lebih menekankan pada perjalanan berkeliling Bangkok. Romantisme antartokoh-utama kurang terasa. Aku juga penasaran dengan apa yang kemudian terjadi pada Max setelah 'kejadian di kamar mandi' ketika Edvan sakit.

Ketika aku membaca novel ini, aku merasa seperti aku ikut Edvan jalan-jalan berkeliling Bangkok. Serasa mengalir begitu saja dan ikut merasakan perjalanan. Setelah selesai membaca novel ini, aku malah jadi ingin ke Bangkok, semakin penasaran dengan tempat-tempat yang disebutkan. :D  
Kita tidak boleh men-judge seseorang begitu aja, apalagi hanya dari awal perjumpaan. Kita juga diperlihatkan, bagaimana keluarga yang sesungguhnya, bagaimana bahagia yang sesungguhnya, dan bagaimana cinta serta pengorbanan yang sesungguhnya. 

Selamat membaca dan selamat menikmati perjalanan di Bangkok. ^^ 

Saturday, November 14, 2015

Another Moon - Part 4

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 4

Setiap hari Minggu pagi, Felicia selalu menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah. Ia bangun pagi untuk menyapu dan mengepel dalam rumah, menyapu halaman, dan merawat sedikit bunga-bunga yang ada di halaman kecilnya.

"Bunda Feyiii!!!"

Felicia sudah sangat hafal siapa pemilik suara itu. Anak laki-laki yang selama seminggu ini hampir selalu bersamanya.

"Halo, Rain." Sapa Felicia meletakkan sekop tanamannya. Ia melepaskan sarung tangan kemudian mencuci tangannya.

"Selamat pagi, Bunda." Seru Rain dengan sumringah.

"Selamat pagi juga." Jawab Felicia membalas senyum Rain.

"Ehem!"

Felicia juga sangat mengenali dehaman itu. Siapa lagi kalau bukan Bintang si pria menyebalkan? Rasa-rasanya pria itu terlalu sering berdeham padanya sebelum mengucapkan sesuatu. Pasti tenggorokannya terasa tidak nyaman hingga berdeham. Mungkin dia bisa memberikan permen pelega tenggorokan untuk pria itu.

"Ada apa?" Sapa Felicia ramah.

Bintang menatap Felicia ragu. "Apa kami mengganggu?" Tadi ia melihat Felicia menghentikan kegiatannya dan mencuci tangan sebelum akhirnya menemuinya dan Rain.

"Tidak juga." Felicia mengedikkan bahu. "Hanya tidak menyangka."

"Tadi Rain bilang dia ingin bertemu denganmu." Jawab Bintang memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

Rain? Memangnya dirimu tidak? Dasar tidak jujur. Kenapa sulit mengatakan yang sesungguhnya di depan gadis ini, hah? Katakan saja kalau kau juga ingin bertemu. Ck!

Felicia mengerutkan kening. Ia menyejajarkan dirinya dengan Rain. "Ada apa, Rain?"

"Ini hari Minggu, Rain mau ajak Bunda Feyi main." Jawab Rain dengan polosnya. Karena setiap hari bertemu dengan Felicia, ia merasa ada yang kurang ketika tidak bertemu di hari Minggu.

"Main? Main ke mana?" Tanya Felicia mendongak menatap Bintang.

Bintang hanya mengangkat bahu tanda ia tidak tahu. Ia tidak tahu sama sekali tentang rencana Rain yang mengajaknya bertemu Felicia untuk pergi bermain. Ia mengira mereka hanya akan menghabiskan waktu di rumah Felicia.

"Memangnya Rain mau ke mana?" Tanya Felicia menatap Rain dengan lembut untuk menyembunyikan keterkejutannya.

"Emm..." Rain terlihat berpikir. "Tidak tahu." Rain menggelengkan kepalanya bingung.

Melihat Rain yang bingung membuat Bintang dan Felicia ikut mengerutkan kening. Bingung.

"Rain masuk rumah dengan Om Bintang ya? Bunda Feyi mau menyelesaikan merawat bunganya dulu." Kata Felicia menunjuk ke dua pot terakhir yang belum diurusnya. "Setelah Bunda Feyi selesai, baru kita pergi."

Felicia mengangguk pada Bintang, memberi isyarat untuk duduk di dalam rumah. Bintang yang sejak tadi berdiri kemudian mengucapkan terima kasih, lalu melangkah ke teras dan duduk di sana.

"Madu untuk kupu-kupu?" Tanya Rain ingin tahu.

"Yep, makanan kupu-kupu." Felicia tersenyum pada Rain. Ia tak menyangka Rain akan mengingat penjelasan darinya.

"Rain ikut!!" Seru Rain bersorak seakan ia mendapat hadiah.

"Eits, no no no!" Sambil tersenyum, Felicia menggoyangkan telunjuknya di hadapan Rain. "Nanti bajumu kotor."

Sebenarnya bukan tidak boleh, hanya saja Felicia tidak punya pakaian anak-anak. Jika saja ia punya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk memperbolehkan Rain ikut bermain tanah dengannya.

Dengan memperbolehkan Rain bermain tanah bersamanya, Rain akan mampu menangkap lebih banyak pelajaran yang ia dapatkan langsung dari praktek, dibandingkan hanya melihat atau hanya penjelasan.
Felicia menghela napas dan tersenyum. Mungkin lain kali.

"Rain mau ikut Bunda Feyi." Bibir Rain mencebik kecewa karena tidak diperbolehkan.

"Rain boleh ikut Bunda Feyi, tapi hanya melihat. Oke?" Tanya Felicia bernegosiasi.

Rain mengangguk berjanji dan mengikuti Felicia di belakangnya. Mengamati semua yang dilakukan guru kesayangannya itu dengan penuh rasa ingin tahu.

***

Bintang menghentikan mesin mobilnya. Sedetik setelah ia melepas kunci otomatis pintu mobil, anak laki-laki di sebelahnya langsung membuka pintu dan melompat turun.

"Bunda Feyiii!!!" Seru Rain yang membuatnya terkekeh.

Bintang mengunci mobil dan mengikuti Rain menghampiri Felicia. Dilihatnya gadis itu mengenakan kaos lengan panjang yang terlihat kebesaran di tubuhnya, dan dipadukan dengan celana pendek sepaha. Gadis itu terlihat sederhana dan cantik. Bila dengan pakaian kerjanya ia terlihat cantik, maka kali ini lebih cantik. Rasanya seperti menemukan tempat berteduh di bawah terik matahari.

Di teras rumah ada meja kecil yang diapit oleh satu kursi single dan satu kursi panjang. Bintang duduk di kursi panjang menunggu Felicia menyelesaikan mengurus pot bunganya. Dari teras, ia melihat Rain yang berjongkok di sebelah Felicia, pertanyaan-pertanyaan penuh ingin tahu selalu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. Felicia selalu menjawab pertanyaan Rain dengan sabar dan selalu tersenyum.

Bintang tak sadar Felicia telah selesai dengan tanamannya, sampai Felicia ada dihadapannya.

"Tunggu sebentar, aku mandi dulu." Kata Felicia kemudian meninggalkan Rain dan Bintang.

"Kok Om Bintang tidak tahu kalau kita mau pergi main?" Tanya Bintang yang mengangkat dan mendudukkan Rain di sebelahnya.

"Rain cuma ingin sama Bunda Feyi." kata Rain tersenyum polos. "Memangnya Om Bintang tidak mau sama Bunda Feyi?"

Bintang melongo mendengar Rain. Pertanyaan macam apa itu? Dirinya mau sama Bunda Feyi atau tidak? Ya ampun, dia baru tahu kalo Rain juga punya simpanan pertanyaan aneh seperti itu.

"Memangnya Bunda Feyi mau mengajak Rain ke mana?" Tanya Bintang mengabaikan pertanyaan Rain tadi.
Rain menggeleng.

Bintang pikir Felicia sudah memberitahu Rain ke mana mereka akan pergi. Fiuh, sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang.

***

Felicia menatap lemari pakaiannya dengan bingung. Apa yang harus dipakainya?

Ia mengingat Bintang. Pria itu mengenakan celana jins hitam panjang dan polo shirt berwarna hijau army, memperlihatkan dadanya yang bidang dan lengannya yang berotot.

Keputusan akhirnya jatuh pada dress sederhana tanpa lengan, potongan leher yang menutupi tulang selangkanya, dan mengembang jatuh tepat di lututnya. Dress berwarna kuning gading dengan corak bunga di bawahnya, dan sulur melintang hingga ke dada itu terlihat manis dan anggun di tubuh Felicia.

Setelah selesai, Felicia mengunci pintu dan menghadap ke dua laki-laki yang sedang menatapnya tanpa bekedip. Ia mengernyit bingung. Apakah telihat aneh?

"Bunda Feyi cantik!" Seru Rain memecah suasana.

Felicia tersenyum. Sepertinya dress pilihannya tidak salah. "Terima kasih."

"Ehem!" Bintang sudah menemukan suaranya lagi. "Jadi, sekarang kita ke mana?"

"Kalian sudah makan?" Tanya Felicia. Ia yakin dua orang di depannya ini belum makan. Mereka datang sangat pagi. Pukul setengah delapan!

"Belum!" Seru Rain dengan semangat, sedangkan Bintang hanya mengedikkan bahu, seakan mengatakan 'mau bagaimana lagi'.

Felicia heran melihat Rain. Energinya selalu ada bahkan saat dia belum makan. "Kalau begitu, ayo!"

Bintang duduk di kursi kemudi dan Felicia duduk di sebelahnya. Semenjak Rain mulai nyaman dengan Bintang, ia tidak masalah duduk sendiri di belakang.

"Perempatan di depan nanti belok kiri." Felicia mengarahkan Bintang. "Nanti ada plang Go Green, nah di sana."

Bintang mengemudikan mobilnya sesuai petunjuk Felicia. "Supermarket?" Tanyanya tak yakin.

Felicia mengangguk. "Ayo turun."

***

Felicia mengambil beberapa sayuran, tepung, cokelat, biskuit, sereal, susu, keju, mentega, gula, dan masih banyak lagi.

Bintang hanya mengikuti Felicia dari belakang sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Rain yang ada di gendongannya. Ia tidak mau Rain hilang di supermarket, walaupun Rain sudah berjanji tidak akan melakukannya. Tapi mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Ia tertegun melihat Felicia yang selalu melihat bagian komposisi di balik kemasan. Felicia juga hanya mengambil yang diperlukan. Katanya, supaya bahan-bahan yang akan dibuat makanan itu masih dalam keadaan baik.

Ketika berjalan ke antrian kasir, Felicia menepuk dahinya.

"Ada apa?" Tanya Bintang.

"Aku lupa membeli stroberi dan tomat. Bisa tunggu di sini sebentar?" Felicia meminggirkan belanjaannya supaya tidak menghalangi jalan.

"Biar aku saja, kau tunggu di sini."

"Secukupnya saja."

Bintang mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Felicia masih dengan menggendong Rain. Sedangkan Felicia mengantri di kasir.

Sudah hampir giliran Felicia ketika Bintang dan Rain kembali. Ia sedang meletakkan belanjaannya di meja kasir. Felicia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat apa yang dibawa Bintang. Stroberi dan tomat pesanannya, kemudian anggur, apel, yogurt, dan es krim.

Felicia menatap Bintang meminta penjelasan. Bintang hanya terkekeh.

"Ketika aku mengambil anggur, Rain ikut meminta apel. Dan ketika aku mengambil yogurt, dia meminta es krim." Jelas Bintang tak bisa menyembunyikan kekehannya.

"Cuma satu, Bunda. Ya ya ya?" Rain menata Felicia dengan tatapan penuh harap.

"Hanya satu." Jawab Felicia mengalah. Ia menghela napas. Salahnya juga yang selalu membawa Rain ke kafe untuk makan es krim. Walau anak itu sangat menyukai es krim, tidak seharusnya ia terlalu sering memakannya.

"Wah, anaknya lucu." Cetetuk ibu yang mengantri di belakang Felicia.

Gerakan Felicia yang mengeluarkan belanjaan dari keranjang belanja terhenti. Wajahnya bersemu, dan Bintang bisa melihat itu.

Melihat wajah Felicia yang memerah, Bintang langsung menyahut. "Bukan, Bu. Ini keponakan saya."

"Wah, berarti kalian pengantin baru ya?" Pernyataan ibu itu sukses membuat wajah Felicia semakin merah padam. "Semoga keponakannya bisa jadi pancingan dan cepat dapat momongan ya."

Bintang hanya bisa tersenyum. Tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Felicia pura-pura membaca rincian di layar monitor yang bertuliskan belanjaannya.

Kasir menyatakan nominal jumlah yang harus dibayar. Saved by the bell.

"Bayar pakai ini saja." Seru Bintang menyerahkan kartunya pada penjaga kasir.

"Tidak, punyaku saja." Sahut Felicia mengulurkan kartu miliknya.

Bintang menahan tangan Felicia dan menggeleng. "Simpan saja kartumu." Katanya dengan nada yang tak ingin dibantah.

Bintang hanya ingin keluar dari supermarket tanpa harus berdebat dengan Felicia lebih dulu. Ingin segera menyingkir dari tatapan kagum dan sumringah dari ibu-ibu yang mengantri di belakang Felicia.

"Ayo." Seru Bintang mengajak Felicia bergegas setelah pembayaran selesai. Sebelah tangan menggendong Rain, dan sebelahnya lagi membantu membawa kantong belanjaan Felicia.

Di mobil, Bintang tidak segera mengemudikan mobilnya. Ia duduk menyandar dan memejamkan matanya. Mengingat kata-kata ibu tadi membuat hatinya menghangat.

"Bintang?" Tanya Felicia.

Bintang membuka matanya dan menoleh. Ia melihat kekhawatiran di sana. Mungkin lebih tepatnya dia berhalusinasi melihat Felicia khawatir pada dirinya.

"Apa?" Felicia merasa aneh diperhatikan Bintang seperti itu.

Bintang menggeleng. "Ayo pulang." Katanya kemudian menyalakan mesin.

Bintang dengan pikirannya, Felicia dengan pertanyaan tak terucapnya, dan Rain yang sibuk dengan es krimnya.

***

"No! Kalian tidak boleh masuk ke dapur lagi." Seru Felicia berkacak sebelah pinggang. Ia meletakkan sebuah piring buah di meja ruang tengah. "Sekarang cuci muka dan duduk manis di sini."

Setelah meletakkan piring, dan kembali ke dapur dengan mengomel, Felicia melanjutkan lagi pekerjaannya. Rain dan Bintang yang melihat itu hanya masuk ke kamar mandi dengan terkekeh.

Bintang tersenyum. Harum vanilla. Aroma yang sama dengan Felicia. Pikirannya beralih pada Felicia yang mengenakan apron cokelat dengan aksen kotak-kotak di bawahnya, rambut panjangnya digelung ke atas. Cantik.

Ia menggelengkan kepalanya dan segera membersihkan wajah dan tangan Rain yang terkena adonan puding.

"Handuk ada di rak atas wastafel!" Seru Felicia dari dapur.

Bintang mengambil handuk dan mengeringkan rambut Rain yang sudah dicucinya. "Bisa lanjutkan sendiri? Om juga mau bersih-bersih." Kata Bintang sambil menunjuk wajah, rambut, dan bajunya yang sudah penuh dengan tepung.

Rain mengangguk dan keluar kamar mandi. Ia memilih duduk menonton televisi di ruang tengah sambil memakan potongan apel yang tadi diletakkan Felicia.

Bintang lebih memilih untuk mandi karena seluruh tubuhnya lebih kotor dari Rain. Awalnya mereka hanya ingin membantu Felicia, tapi entah sejak kapan berubah jadi bermain tepung.

Felicia yang melihat dapurnya berantakan segera mengusir Rain dan Bintang yang mengganggunya membuat puding. Biasanya Felicia bisa membuat puding dengan cepat, tapi karena Rain dan Bintang, membuatnya memakan waktu lebih lama.

Setelah dari supermarket tadi, Felicia memang sengaja pulang ke rumah untuk memasak karena Rain dan Bintang bilang mereka belum sarapan. Felicia juga belum. Lagipula mereka juga tidak tahu harus ke mana.

Felicia baru saja selesai memasak sop ayam dan sedang menggoreng ikan ketika mendapati Bintang yang melangkah ke dapur mencari gelas. Ia terbiasa minum segelas air mineral setelah mandi.

Ia terkejut melihat Bintang hanya dengan kaos tanpa lengan yang menempel lekat di tubuhnya. Memperlihatkan garis-garis otot liat yang terbentuk di sana. Sebelah tangan Bintang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Aww!" Felicia berseru tertahan karena tangannya terciprat minyak dari ikan di penggorengan.

Bintang segera meraih tangan Felicia tempat cuci piring dan mencucinya di bawah air keran yang mengalir.

"Ck! Ceroboh!" Hanya itu yang diucapkan Bintang pada Felicia.

"Bajumu--"

"Kotor." Sahut Bintang singkat.

Felicia menahan jantungnya yang berdegub lebih cepat dari biasanya, berharap Bintang tidak mendengarnya. Posisi Bintang yang menempel sangat dekat di sebelah membuatnya sulit bernapas. Padahal Bintang hanya memegang tangannya dan mencucinya.

"Kau obati lukamu saja biar aku yang menggoreng ikannya." Kata Bintang menutup keran.

"Memangnya kau bisa?" Tanya Felicia yang dalam suaranya kentara sekali bahwa ia tak yakin.

"Yang penting bisa dimakan. Sudah sana!" Seru Bintang yang fokus dengan penggorengan di depannya.

Felicia mengambil salep untuk luka bakar dan mengolesi lukanya dengan bibir mengerucut kesal. Dasar tukang paksa!

Tanpa Felicia tahu kalau Bintang melakukan itu untuk menjauhkan Felicia dari dirinya. Ia tidak ingin Felicia mendengar degub jantungnya yang bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya hanya dengan berdiri sangat dekat dengan gadis itu.

***

Setelah makan, Felicia, Bintang, dan Rain duduk di ruang tengah sambil makan puding karamel yang tadi dibuatnya. Rain dan Bintang dengan toping anggur dan madu, dan Felicia dengan lelehan cokelat dan stroberi.

Rain menatap Bintang yang sedang meneguk yogurt dari botolnya dengan wajah penasaran. Bintang menatap Rain dengan alis terangkat.

"Rain mau yogurt?" Tanya Bintang membuat Rain mengangguk antusias. "Biar Om ambilkan."

"Tunggu!" Sergah Felicia ketika melihat Bintang hendak bangkit dan mengambil yogurt di kulkas.

Felicia mengambil sendok puding milik Rain dan meraih botol yogurt yang digenggam Bintang. Bintang hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Ayo Rain aaaa dulu." Pinta Felicia menyodorkan sendok yang telah dituang yogurt.

Dengan semangat, Rain membuka mulutnya dan menelannya dengan cepat. Wajah Rain mengkerut masam. "Asaaam!"

Felicia dan Bintang terkekeh.

"Mau lagi?" Tanya Felicia yang disahut dengan gelengan Rain cepat. Felicia menyendok pudingnya dan memberikannya pada Rain. "Ini manis."

Rain membuka mulutnya kemudian tersenyum karena menyukainya. Felicia menyuapkan pudingnya pada Rain hingga habis tak tersisa.

Felicia membereskan handuk yang tadi dipakai Rain dan Bintang, kemudian mengumpulkan piring puding dan gelas minum mereka yang sudah kosong untuk dibawa ke tempat cucian. Setelah selesai mencuci, ia mengeluarkan dua toples bersih lalu memasukkan biskuit dan sereal ke dalam toples yang berbeda. Ia membawa dua toples itu ke meja ruang tengah.

"Cemilan sehat." Kata Felicia tersenyum ketika melihat wajah Bintang penuh tanya.

"Tadi buah, sekarang biskuit dan sereal, eh?" Tanya Bintang tersenyum miring. "Benar-benar sehat."

Felicia hanya terkekeh dan mengambil tempat duduk persis di sebelah Bintang. Rain tidur dengan kepala di pangkuan Bintang dan kakinya menjulur di sisi Bintang yang lain.

Sejenak mereka berada di situasi canggung.

"Ehem, Emma di mana?" Tanya Bintang membuka percakapan.

"Kak Emma di kafe, menggantikan temannya yang sakit." Jawab Felicia mengambil toples sereal dan memakannya.

"Oh," Bintang bingung harus berkata apa. "Orang tuamu?"

Felicia mengangkat bahu. "Tidak ada."

Bintang merasa sudah mengungkit topik yang sensitif. "Maaf, kami jadi mengganggu hari liburmu."

"Tidak apa, bersama Rain sangat menyenangkan." Jawab Felicia tersenyum. Bersamamu juga.

"Pacarmu tidak datang? Aku takut kalau kami mengacaukannya." Tanya Bintang. Ia penasaran. Tak pernah sekalipun Felicia membicarakan pria siapa pun itu.

Felicia menggeleng. "Tidak ada."

Bintang terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia menghela napas panjang. "Rasanya hidupku berantakan." Bintang mendongak menatap langit-langit. "Bertahun-tahun mencintai seseorang, mempercayakan hatimu padanya, tapi kemudian kau menemukan hatimu hancur terserak.

Tapi kau mengajarkan padaku bagaimana caranya untuk bisa menyatukannya lagi melalui remahan biskuit. Kau juga mengajarkanku untuk bahagia. Mengubah pahitnya kenangan menjadi menyenangkan dengan kopi susu." Ia menoleh ke arah Felicia dan tersenyum.

"Bukan aku. Kopi susu itu kau sendiri." Sergah Felicia.

"Tapi tetap saja semua berkat dirimu." Jawab Bintang tanpa sadar mengelus rambut Rain dan membuat Rain terbangun.

"Om Bintang?" Gumam Rain yang langsung melihat Bintang ketika membuka matanya. Ia bangun dan duduk di sofa dengan terkantuk-kantuk.

Bintang terkekeh melihat Rain. "Sepertinya kami harus pulang. Rain butuh tidur siang." Ia melirik arlojinya yang hampir menunjukkan pukul satu.

Felicia ingin sekali menyarankan supaya Rain tidur di kamarnya, tapi ia urungkan. Bintang benar. Untuk anak seumuran Rain, tidur siang itu penting. Sedangkan selama seminggu bersamanya, Rain tidak pernah tidur siang.

Bintang menggendong Rain, meletakkannya di kursi depan dan memasang seat belt-nya. Ia tidak langsung pergi, namun mendekati Felicia untuk berpamitan.

"Sampai jumpa hari Senin. Hati-hati di rumah." Tanpa berpikir, Bintang langsung mengecup pipi Felicia dengan cepat dan segera berlari kembali ke mobil. Gadis itu terkesiap.

Felicia yang sudah kembali dari keterkejutannya langsung berteriak kesal. "Bintaaaaang!! Dasar menyebalkan!"

Mendengar itu, Bintang hanya terkekeh kemudian melajukan mobilnya pulang ke rumah.

***

Sore itu Bintang masih terlelap di kamarnya ketika Rain menyerbu masuk dan membangunkannya dengan ekstrim.

"Om Bintaaang!!" Seru Rain melompat dan menindih Bintang yang tengkurap. "Nenek bilang Om Bintang harus bangun dan menjemput Bunda Feyi!"

"Ugh!"

Bintang menarik Rain yang mengganggu tidurnya hingga rebah, kemudian menggelitiknya tanpa ampun. Rain yang digelitik pun hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal, pasrah.

"Bilang pada nenek kalau Om Bintang sedang mandi." Bintang segera masuk ke kamar mandi, sedangkan Rain keluar kamarnya berlari menemui mama Bintang.

Mama Bintang sedang memasak ketika Bintang turun dari kamarnya. Bintang segera ke dapur dan mencium pipi mamanya. Ia tidak melihat Rain di dapur, jadi kemungkinan dia sedang di ruang tengah.

"Ada apa, Ma?" Tanya Bintang sambil mencomot nugget yang ada di piring saji.

"Jemput Felicia untuk makan malam bersama." Kata mama Bintang memukul tangan puteranya yang asal comot.

"Untuk apa?"

Mama Bintang menatap tajam puteranya. "Jangan banyak tanya! Tinggal bilang iya saja kok susah!" Gerutunya.

"Kalau begitu Bintang menolak." Kata Bintang. Bukan benar-benar menolak, tapi ia ingin tahu apa alasannya.

"Ck, dasar! Besok Selasa pagi, eyangnya Rain akan menjemput. Teman Mama itu bilang kalau besok Selasa orang tua Rain akan pulang dari luar kota." Mama Bintang menjelaskan sambil tetap fokus pada masakannya.

"Kan Felicia masih bisa bertemu Rain di sekolah, Ma."

"Itu kalau orang tua Rain tidak membawa Rain bersama mereka. Tapi sepertinya, orang tua Rain ingin mereka tinggal bersama." Sahut mama Bintang. Ia tidak tahu kalau jawabannya itu membuat puteranya sedikit kecewa.

"Jadi sepi dong. Bilang ke tante Ma, biar cucunya di sini dulu selama seminggu lagi." Bintang mencoba merayu mamanya. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehadiran Rain.

"Makanya nikah sana! Umurmu sudah cukup untuk berumah tangga dan punya anak." Jawab mamanya dengan polos.

Sepertinya Bintang salah topik. "Bintang jemput Felicia dulu!" Seru Bintang bergegas keluar dapur untuk menghindar.

Di ruang tengah, Bintang melihat televisi menyala. Ia kira Rain sedang menonton, tapi ia salah. Rain yang membelakanginya sedang berkutat dengan sesuatu.

"Rain sedang apa?" Tanya Bintang ingin tahu. Ia penasaran.

Rain mendongak dan tersenyum lebar. "Ini!" Ia menunjukkan gambarnya di kertas hvs.

"Apa yang Rain gambar?"

"Ini Rain, Mama, dan Papa!" Rain menunjukkan gambarnya yang sudah jadi. "Ini Rain, Bunda Feyi, dan Om Bintang!" Seru Rain menunjukkan gambar yang sedang ia warnai.

Bintang tercengang. Melihat gambar Rain membuatnya tersentuh. Bukan bagus tidaknya gambar itu, namun karena di mata Rain ia memiliki sedikit arti. Semoga, jika Rain benar akan pindah dan tinggal bersama orang tuanya, ia tidak akan melupakan Bunda Feyi-nya dan Bintang.

"Sudah selesai?"

Rain mengangguk.

"Mau ikut Om Bintang menjemput Bunda Feyi untuk makan malam?" Tanya Bintang menggoyangkan kunci mobil di hadapan Rain.

Rain tersenyum lebar dan dengan bersemangat menarik Bintang untuk segera sampai ke mobil.

"Rain ingin bertemu mama dan papa?" Tanya Bintang ketika mobil melaju ke rumah Felicia.

Rain mengangguk. "Rain kangen! Rain sayang mama papa!" Serunya tersenyum lebar.

"Kalau Om Bintang dan bunda Feyi?"

"Rain sayang bunda Feyi!" Rain menjawab dengan semangat.

"Hanya bunda Feyi? Om Bintang tidak?" Bintang merajuk. Baru kali ini ia bersikap seperti itu. Ia sendiri terkejut bisa merajuk, pada Rain pula!

Rain tertawa. "Rain sayang Om Bintang, tapi lebih sayang bunda Feyi."

Bintang terkekeh mendengar penuturan Rain. Ia mengacak rambut Rain dengan gemas. Kata-kata anak kecil  itu polos. Murni dari apa yang dipikirkan dan dirasakan.

***

Felicia datang makan malam dengan mengenakan dress batik selutut dengan lengan pendek, rambut panjangnya diikat tinggi menjadi ekor kuda, dengan sapuan make up tipis di wajahnya, dan flat shoes cokelat menyempurnakae penampilannya. Sopan namun tetap terlihat santai. Tadinya ia sangat terkejut mendapati Bintang dan Rain di depannya. Ia mengira akan bertemu mereka lagi besok Senin.

Selama makan malam, Bintang mencoba menyela mamanya ketika ingin mengatakan kalau Rain kemungkinan besar akan pindah. Ia tidak ingin Felicia mengetahui itu di meja makan. Ia akan mengatakannya pada Felicia ketika mengantarnya pulang.

Bintang mengantar Felicia pulang setelah yakin Rain benar-benar tertidur lelap. Ia membiarkan Rain yang merajuk ingin tidur dengan dibacakan dongeng oleh Felicia. Sebenarnya ia tak tega pada Felicia, tapi sudahlah. Nanti pun Felicia akan ia beritahu.

Sesampainya di depan rumah Felicia, Bintang tidak langsung turun dari mobil. Begitu pun Felicia. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Terima kasih sudah datang memenuhi undangan mama." Kata Bintang memecah sunyi.

"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih. Sudah lama aku tidak makan malam bersama seperti itu. Pasti mamamu kerepotan menyiapkan semuanya sendiri." Felicia menatap Bintang dan tersenyum teduh.

"Mama tidak akan keberatan kalau kau sering makan malam bersama kami. Mama pasti senang." Bintang membalas senyum Felicia.

Felicia melihat ke depan. Walaupun senyum masih tersungging di bibirnya, tapi tidak dengan matanya. Senyum itu tidak menyentuh matanya. Mata itu hanya menatap jauh ke depan. Kosong.

"Ayah selingkuh dan bercerai saat umurku empat tahun dan kak Emma sepuluh tahun, dan ibu meninggal dua tahun lalu. Mantan pacar kak Emma yang dulu sekali, sering menampar kak Emma dan kemudian meminta maaf, dan berulang lagi hingga akhirnya kak Emma mengakhiri hubungannya. Kak Emma tidak tahu kalau aku sering melihatnya diperlakukan seperti itu. Lalu mantan calon suamiku membatalkan pernikahan kami seminggu sebelum hari-H tanpa alasan yang jelas." Felicia menghela napas.

"Tapi sekarang aku bahagia. Dan aku yakin kau pun bisa sepertiku, bahkan bisa lebih bahagia dariku jika kau mau."

Tanpa disadari, secara tidak langsung Felicia trauma pada cinta. Melihat bagaimana ayah yang meninggalkan ibunya demi wanita lain. Melihat bagaimana perlakuan mantan pacar Emma yang dulu. Kemudian yang paling membekas adalah bagaimana mantan calon suaminya itu membatalkan pernikahan tanpa alasan yang jelas.

Bintang senang karena Felicia mau menceritakan tentang dirinya. Tapi ia tak menyangka Felicia mengalami banyak hal buruk di masa lalunya. Melihat kesungguhan kata-kata Felicia, ia sadar bukan hanya dirinya saja yang pernah merasakan sakit karena cinta. Bahkan Felicia lebih parah, sejak dulu ia terlalu mengenal apa arti dari ditinggalkan.

Felicia menoleh ke arah Bintang dan tersenyum menenangkan. Namun efeknya menjadi terbalik pada jantung Bintang yang melompat-lompat. Bintang menggenggam tangan Felicia dan meremasnya, mencoba memberi tahu Felicia bahwa semua baik-baik saja.

Refleks, Bintang mendekatkan wajahnya pada Felicia dan mengecup bibirnya perlahan dan dengan lembut. Felicia tersentak, hanya beberapa detik. Tak menyangkal bahwa ia juga menikmatinya bahkan membalas kecupan Bintang pada detik berikutnya. Beberapa saat kemudian Felicia menarik diri.

"Ini untukmu." Felicia menyerahkan sekotak permen pelega tenggorokan. "Aku harus masuk. Sampai jumpa." Felicia keluar dari mobil dengan senyum yang sangat manis.

Meninggalkan Bintang dengan pikirannya sendiri sesaat, sebelum akhirnya kesadarannya kembali dan segera pulang.

***

Bintang berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. Sambil menggenggam permen dari Felicia, ia memikirkan kata-kata gadis itu.

Bahagia? Dirinya? Apa bisa?

Felicia benar. Mungkin Bintang harus mencoba cara lain untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia tidak bisa seperti ini terus. Tidak bisa hanya diam di titik ini.

"Felicia..." Bintang menggumam dan tersenyum.

Mengingat Felicia dan kebersamaan mereka seminggu ini, terutama hari ini, membuatnya berani membuat harapan baru. Harapan untuk bahagia. Walau ia belum yakin pada perasaannya. "Jika denganmu mungkin aku bisa."

Tiba-tiba Bintang tersentak dan mengusap wajahnya. "Aku lupa memberitahunya tentang Rain..."

***

Bintang terkejut ketika ia datang ke sekolah untuk menjemput Rain. Rain menangis dan wajah Felicia memerah menahan tangis. Di sana ada sepasang suami istri yang berdiri di belakang Rain.

Biasanya ketika ia menjemput Felicia dan Rain, sekolah sudah sepi. Siapa mereka?

"Bunda Feyi jangan lupa sama Rain ya? Rain sayang Bunda Feyi." Rain melepaskan pelukannya pada Felicia dan mencium pipinya penuh sayang. "Ini untuk Bunda Feyi." Rain menyerahkan gambar yang ia buat kemarin.

"Rain? Kenapa menangis?" tanya Bintang mendekati keduanya.

"Om Bintang harus jaga Bunda Feyi! Awas kalau bikin Bunda Feyi menangis!" seru Rain mengusap air matanya kemudian melangkah ke arah pasangan suami istri tadi.

Sepasang suami istri tersebut mengucapkan terima kasih dan berpamitan, kemudian segera melaju pergi. Rain melambaikan tangan kecilnya pada Felicia dan Bintang melalui kaca belakang mobil.

"Dah Bunda Feyi, dah Om Bintang!" Serunya.

Ternyata suami istri tadi adalah orang tua Rain. Mereka datang untuk membawa Rain untuk tinggal bersama mereka.

Ya, melihat ekspresi Felicia bisa dipastikan bahwa Bintang lupa memberi tahu Felicia. Tadi pagi Bintang kesiangan mengantar Rain ke sekolah dan bergegas supaya tidak terlambat kerja. Itu yang membuatnya lupa.

Felicia duduk di ayunan yang teduh di bawah pohon. Siapa pun yang melihat wajah Felicia pasti akan tahu bahwa perpisahan itu membuatnya sedih. Apalagi setelah beberapa hari ini.

"Kenapa kau menangis?" tanya Bintang yang mengambil tempat duduk di ayunan sebelah Felicia.

Dengan kesal Felicia memukul bahu Bintang dan membuatnya meringis menahan sakit. "Aku tidak menangis!"

"Ya, kau hampir menangis." Jawab Bintang enteng.

"Aku tidak--!"

"Katamu, kita harus melepaskan hal yang membuat kita sedih? Tapi kenapa yang kulihat berbeda dengan yang kudengar ya Fey?" kata Bintang memotong perkataan Felicia.

Untuk menutupi perasaannya, Felicia menatap Bintang tajam, seakan-akan ingin membunuhnya.

"Maaf," Felicia menatap Bintang dengan bingung. "Kemarin aku ingin memberi tahumu, tapi lupa. Lagipula aku tidak menyangka Rain akan dijemput hari ini. Mama bilang, eyangnya akan menjemput Rain besok." Sahut Bintang sebelum Felicia bertanya.

Felicia hanya menatap ke depan dalam diam. Ia tidak menangis. Ia tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Merasa kehilangan? Sudah pasti. Tapi ia bisa apa jika memang takdir sudah menentukan?

"Kalau kau begitu kehilangan Rain, kenapa kau tidak membuat anak saja denganku? Kita buat Rain yang lain." celetuk Bintang yang menatap Felicia dengan polosnya.

Entah dari mana Bintang bisa mempunyai pikiran itu. Yang ia tahu, ia ingin menghibur ketika melihat Felicia sedih. Walau Felicia tidak mengatakannya, ia tahu itu. Ia bisa melihatnya.

Felicia terbelalak terkejut. Sadar dari keterkejutannya, Felicia memukul bahu Bintang dengan keras. "Bercandamu tidak lucu! Kau pikir aku gadis macam apa hah?!"

"Hei! Aku serius! Kau ini selalu saja kasar padaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah aku menikah denganmu." Bintang mengelus lengannya yang dipukul Felicia.

"Kumohon jangan bercanda lagi." Felicia berkata lirih. Mendengar kata-kata Bintang membuatnya berharap. Ia takut hal yang dulu terulang lagi. Lagipula keberadaan Bintang hanya karena Rain, dan Rain sudah tidak di sini. Mereka bertemu untuk berpisah di sini.

"Aku tidak bercanda. Menikahlah denganku, Fey. Kau sendiri yang bilang bahwa kita yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. Aku ingin bahagia, dan aku memilihmu." Bintang menatap Felicia serius.

"Aku tidak mau terluka lagi." sahut Felicia dengan cepat.

"Tidak akan!" Sanggah Bintang dengan yakin.

Entah sejak kapan Bintang mulai menaruh perhatiannya pada Felicia tanpa ia sadari. Namun yang pasti, Bintang bisa melupakan Bulan jika berada dalam radius Felicia. Ia sangat suka melihat Felicia yang perhatian dan terlihat sangat sayang pada anak-anak. Dia juga menyukai bagaimana Felicia berteriak padanya. Dia mulai menyukai semuanya yang ada pada diri gadis itu. Dan Bintang pikir bahwa Felicia gadis yang menarik. Ia yakin hidupnya akan lebih baik jika mencoba bersamanya.

"Semua orang bertemu untuk berpisah. Kita bertemu karena Rain, dan kita pun berpisah di sini." Jawab Felicia menunduk.

"Di sini aku sedang berusaha meyakinkan diriku untuk percaya bahwa aku bisa melangkah maju seperti yang pernah kau bilang. Tapi kenapa kau tidak percaya pada dirimu sendiri bahwa kau pun bisa bahagia karena cinta?" Bintang masih mencoba membujuk Felicia. Namun masih tak ada tanggapan.

"Yang terpenting adalah bagaimana kau menikmati waktumu sebelum perpisahan. Kalau kau tak percaya pada hatimu, bagaimana aku bisa mempercayakan remahan hatiku yang kukumpulkan ini untuk kau jaga?"

Felicia tercenung mendengar kata-kata Bintang. Bintang percaya padanya?

"Ayolah Fey, menikahlah denganku." Bintang meminta lagi.

"Tidak mau!" Sahut Felicia tegas.

"Kena--"

"Kenapa kau memanggilku 'Fey'?" Felicia menyahut cepat dan mengerutkan alisnya.

"Terbiasa mendengar anak-anak memanggilmu 'Bunda Feyi', dan memanggilmu 'Fey' sangat pas di lidahku. Fey-yi." Bintang mengedikkan bahu dan menampilkan senyum miringnya.

Felicia mendengus kesal.

"Jadi? Apa kau mau me--" Bintang hampir mengulang pertanyaannya tadi.

"Kubilang tidak!"

Seruan Felicia membuat raut wajah Bintang berubah pias karena kecewa atas penolakannya yang kedua kalinya.

"Aku tidak mau menikah. Aku belum mengenalmu, dan aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kukenal." lanjut Felicia tanpa ragu.

Ia bangkit dan berdiri di hadapan Bintang. "Kenalkan, namaku Felicia Luna, 24 tahun." Felicia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Bintang terhenyak. Ia menatap Felicia dengan tatapan tak percaya. Ia merasa hatinya ringan karena Felicia memberinya kesempatan untuk mencoba bahagia. Ia diberi kesempatan untuk mengenal gadis di hadapannya ini.

"Bintang Lazuardi, 27 tahun. Senang berkenalan denganmu." Kata Bintang menjabat tangan Felicia dengan senyum yang tersungging dengan sendirinya. Sesaat kemudian ia menyeringai jahil. "Kupikir umurmu 20 tahun, tidak kusangka umurmu lebih tua dari tampilanmu."

Kalimat terakhir Bintang sukses membuat Felicia kesal. Ia memukul lengan Bintang sekuat tenaga sampai Bintang mengaduh meminta ampun.

Bintang menahan tangan Felicia dan menggenggamnya. "Kuberi waktu satu minggu untuk saling mengenal. Kemudian aku akan datang ke rumahmu bersama keluargaku."

Felicia hanya terbelalak mendengar penuturan Bintang. Satu minggu perkenalan. Satu minggu? "Satu minggu?!" Serunya. "Ck! Kau ini benar-benar tukang paksa yang menyebalkan!"

"Tukang paksa menyebalkan yang akan segera jadi calon suamimu." Jawab Bintang mengecup jemari Felicia yang masih digenggamnya. "Hanya kematian yang nantinya akan memisahkanmu dan aku." Bisiknya lagi.

Dalam hati Bintang tertawa dengan geli. Gadis yang membuatnya nyaman seperti rumah. Rasanya seperti puzzle yang dipasang pas dengan pasangannya. Mungkin inilah takdirnya. Bulan yang ditakdirkan untuk Bintang. Felicia Luna.

If I know what love is, it's because of you...

***

Moving on doesn't mean you forget about things. It just means you have to accept what happened and continue living.

..+..+..+..+..+..

FIN.

- - - - -
 
Aku belajar banyak pas nulis Another Moon. Terutama satu pelajaran berharga buatku: kalau nulis jangan lupa dibackup, karena apapun bisa terjadi. Tulisan yang ditulis sepenuh hati, kemudian tiba-tiba hilang... sakitnya lebih dari sakit ketika patah hati. _):'3
Maaf kalau ceritanya diluar ekspektasi kalian..

..+..+..+..+..+..
https://www.wattpad.com/144796433-another-moon-re-part-4