Karena ini fanfic, maka
suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit
untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D
Aku udah nyoba semampuku
buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior.
Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah
ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
- - - - -
#FanFiction
Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*
jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D
Let's begin..
#####
Part 4
Setiap hari Minggu
pagi, Felicia selalu menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah. Ia
bangun pagi untuk menyapu dan mengepel dalam rumah, menyapu halaman, dan
merawat sedikit bunga-bunga yang ada di halaman kecilnya.
"Bunda Feyiii!!!"
Felicia sudah sangat hafal siapa pemilik suara itu. Anak laki-laki yang selama seminggu ini hampir selalu bersamanya.
"Halo, Rain." Sapa Felicia meletakkan sekop tanamannya. Ia melepaskan sarung tangan kemudian mencuci tangannya.
"Selamat pagi, Bunda." Seru Rain dengan sumringah.
"Selamat pagi juga." Jawab Felicia membalas senyum Rain.
"Ehem!"
Felicia juga sangat
mengenali dehaman itu. Siapa lagi kalau bukan Bintang si pria
menyebalkan? Rasa-rasanya pria itu terlalu sering berdeham padanya
sebelum mengucapkan sesuatu. Pasti tenggorokannya terasa tidak nyaman
hingga berdeham. Mungkin dia bisa memberikan permen pelega tenggorokan
untuk pria itu.
"Ada apa?" Sapa Felicia ramah.
Bintang menatap Felicia
ragu. "Apa kami mengganggu?" Tadi ia melihat Felicia menghentikan
kegiatannya dan mencuci tangan sebelum akhirnya menemuinya dan Rain.
"Tidak juga." Felicia mengedikkan bahu. "Hanya tidak menyangka."
"Tadi Rain bilang dia ingin bertemu denganmu." Jawab Bintang memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Rain? Memangnya dirimu
tidak? Dasar tidak jujur. Kenapa sulit mengatakan yang sesungguhnya di
depan gadis ini, hah? Katakan saja kalau kau juga ingin bertemu. Ck!
Felicia mengerutkan kening. Ia menyejajarkan dirinya dengan Rain. "Ada apa, Rain?"
"Ini hari Minggu, Rain
mau ajak Bunda Feyi main." Jawab Rain dengan polosnya. Karena setiap
hari bertemu dengan Felicia, ia merasa ada yang kurang ketika tidak
bertemu di hari Minggu.
"Main? Main ke mana?" Tanya Felicia mendongak menatap Bintang.
Bintang hanya mengangkat
bahu tanda ia tidak tahu. Ia tidak tahu sama sekali tentang rencana
Rain yang mengajaknya bertemu Felicia untuk pergi bermain. Ia mengira
mereka hanya akan menghabiskan waktu di rumah Felicia.
"Memangnya Rain mau ke mana?" Tanya Felicia menatap Rain dengan lembut untuk menyembunyikan keterkejutannya.
"Emm..." Rain terlihat berpikir. "Tidak tahu." Rain menggelengkan kepalanya bingung.
Melihat Rain yang bingung membuat Bintang dan Felicia ikut mengerutkan kening. Bingung.
"Rain masuk rumah dengan
Om Bintang ya? Bunda Feyi mau menyelesaikan merawat bunganya dulu." Kata
Felicia menunjuk ke dua pot terakhir yang belum diurusnya. "Setelah
Bunda Feyi selesai, baru kita pergi."
Felicia mengangguk pada
Bintang, memberi isyarat untuk duduk di dalam rumah. Bintang yang sejak
tadi berdiri kemudian mengucapkan terima kasih, lalu melangkah ke teras
dan duduk di sana.
"Madu untuk kupu-kupu?" Tanya Rain ingin tahu.
"Yep, makanan kupu-kupu." Felicia tersenyum pada Rain. Ia tak menyangka Rain akan mengingat penjelasan darinya.
"Rain ikut!!" Seru Rain bersorak seakan ia mendapat hadiah.
"Eits, no no no!" Sambil tersenyum, Felicia menggoyangkan telunjuknya di hadapan Rain. "Nanti bajumu kotor."
Sebenarnya bukan tidak
boleh, hanya saja Felicia tidak punya pakaian anak-anak. Jika saja ia
punya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk memperbolehkan Rain ikut
bermain tanah dengannya.
Dengan memperbolehkan
Rain bermain tanah bersamanya, Rain akan mampu menangkap lebih banyak
pelajaran yang ia dapatkan langsung dari praktek, dibandingkan hanya
melihat atau hanya penjelasan.
Felicia menghela napas dan tersenyum. Mungkin lain kali.
"Rain mau ikut Bunda Feyi." Bibir Rain mencebik kecewa karena tidak diperbolehkan.
"Rain boleh ikut Bunda Feyi, tapi hanya melihat. Oke?" Tanya Felicia bernegosiasi.
Rain mengangguk berjanji
dan mengikuti Felicia di belakangnya. Mengamati semua yang dilakukan
guru kesayangannya itu dengan penuh rasa ingin tahu.
***
Bintang menghentikan
mesin mobilnya. Sedetik setelah ia melepas kunci otomatis pintu mobil,
anak laki-laki di sebelahnya langsung membuka pintu dan melompat turun.
"Bunda Feyiii!!!" Seru Rain yang membuatnya terkekeh.
Bintang mengunci mobil
dan mengikuti Rain menghampiri Felicia. Dilihatnya gadis itu mengenakan
kaos lengan panjang yang terlihat kebesaran di tubuhnya, dan dipadukan
dengan celana pendek sepaha. Gadis itu terlihat sederhana dan cantik.
Bila dengan pakaian kerjanya ia terlihat cantik, maka kali ini lebih
cantik. Rasanya seperti menemukan tempat berteduh di bawah terik
matahari.
Di teras rumah ada meja
kecil yang diapit oleh satu kursi single dan satu kursi panjang. Bintang
duduk di kursi panjang menunggu Felicia menyelesaikan mengurus pot bunganya.
Dari teras, ia melihat Rain yang berjongkok di sebelah Felicia,
pertanyaan-pertanyaan penuh ingin tahu selalu meluncur begitu saja dari
bibir mungilnya. Felicia selalu menjawab pertanyaan Rain dengan sabar
dan selalu tersenyum.
Bintang tak sadar Felicia telah selesai dengan tanamannya, sampai Felicia ada dihadapannya.
"Tunggu sebentar, aku mandi dulu." Kata Felicia kemudian meninggalkan Rain dan Bintang.
"Kok Om Bintang tidak tahu kalau kita mau pergi main?" Tanya Bintang yang mengangkat dan mendudukkan Rain di sebelahnya.
"Rain cuma ingin sama Bunda Feyi." kata Rain tersenyum polos. "Memangnya Om Bintang tidak mau sama Bunda Feyi?"
Bintang melongo
mendengar Rain. Pertanyaan macam apa itu? Dirinya mau sama Bunda Feyi
atau tidak? Ya ampun, dia baru tahu kalo Rain juga punya simpanan
pertanyaan aneh seperti itu.
"Memangnya Bunda Feyi mau mengajak Rain ke mana?" Tanya Bintang mengabaikan pertanyaan Rain tadi.
Rain menggeleng.
Bintang pikir Felicia sudah memberitahu Rain ke mana mereka akan pergi. Fiuh, sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang.
***
Felicia menatap lemari pakaiannya dengan bingung. Apa yang harus dipakainya?
Ia mengingat Bintang.
Pria itu mengenakan celana jins hitam panjang dan polo shirt berwarna
hijau army, memperlihatkan dadanya yang bidang dan lengannya yang
berotot.
Keputusan akhirnya jatuh
pada dress sederhana tanpa lengan, potongan leher yang menutupi tulang
selangkanya, dan mengembang jatuh tepat di lututnya. Dress berwarna
kuning gading dengan corak bunga di bawahnya, dan sulur melintang hingga
ke dada itu terlihat manis dan anggun di tubuh Felicia.
Setelah selesai, Felicia
mengunci pintu dan menghadap ke dua laki-laki yang sedang menatapnya
tanpa bekedip. Ia mengernyit bingung. Apakah telihat aneh?
"Bunda Feyi cantik!" Seru Rain memecah suasana.
Felicia tersenyum. Sepertinya dress pilihannya tidak salah. "Terima kasih."
"Ehem!" Bintang sudah menemukan suaranya lagi. "Jadi, sekarang kita ke mana?"
"Kalian sudah makan?"
Tanya Felicia. Ia yakin dua orang di depannya ini belum makan. Mereka
datang sangat pagi. Pukul setengah delapan!
"Belum!" Seru Rain dengan semangat, sedangkan Bintang hanya mengedikkan bahu, seakan mengatakan 'mau bagaimana lagi'.
Felicia heran melihat Rain. Energinya selalu ada bahkan saat dia belum makan. "Kalau begitu, ayo!"
Bintang duduk di kursi
kemudi dan Felicia duduk di sebelahnya. Semenjak Rain mulai nyaman
dengan Bintang, ia tidak masalah duduk sendiri di belakang.
"Perempatan di depan nanti belok kiri." Felicia mengarahkan Bintang. "Nanti ada plang Go Green, nah di sana."
Bintang mengemudikan mobilnya sesuai petunjuk Felicia. "Supermarket?" Tanyanya tak yakin.
Felicia mengangguk. "Ayo turun."
***
Felicia mengambil beberapa sayuran, tepung, cokelat, biskuit, sereal, susu, keju, mentega, gula, dan masih banyak lagi.
Bintang hanya mengikuti
Felicia dari belakang sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Rain
yang ada di gendongannya. Ia tidak mau Rain hilang di supermarket,
walaupun Rain sudah berjanji tidak akan melakukannya. Tapi mencegah
lebih baik daripada mengobati, kan?
Ia tertegun melihat
Felicia yang selalu melihat bagian komposisi di balik kemasan. Felicia
juga hanya mengambil yang diperlukan. Katanya, supaya bahan-bahan yang
akan dibuat makanan itu masih dalam keadaan baik.
Ketika berjalan ke antrian kasir, Felicia menepuk dahinya.
"Ada apa?" Tanya Bintang.
"Aku lupa membeli
stroberi dan tomat. Bisa tunggu di sini sebentar?" Felicia meminggirkan
belanjaannya supaya tidak menghalangi jalan.
"Biar aku saja, kau tunggu di sini."
"Secukupnya saja."
Bintang mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Felicia masih dengan menggendong Rain. Sedangkan Felicia mengantri di kasir.
Sudah hampir giliran
Felicia ketika Bintang dan Rain kembali. Ia sedang meletakkan
belanjaannya di meja kasir. Felicia mengangkat sebelah alisnya ketika
melihat apa yang dibawa Bintang. Stroberi dan tomat pesanannya, kemudian
anggur, apel, yogurt, dan es krim.
Felicia menatap Bintang meminta penjelasan. Bintang hanya terkekeh.
"Ketika aku mengambil
anggur, Rain ikut meminta apel. Dan ketika aku mengambil yogurt, dia
meminta es krim." Jelas Bintang tak bisa menyembunyikan kekehannya.
"Cuma satu, Bunda. Ya ya ya?" Rain menata Felicia dengan tatapan penuh harap.
"Hanya satu." Jawab
Felicia mengalah. Ia menghela napas. Salahnya juga yang selalu membawa
Rain ke kafe untuk makan es krim. Walau anak itu sangat menyukai es
krim, tidak seharusnya ia terlalu sering memakannya.
"Wah, anaknya lucu." Cetetuk ibu yang mengantri di belakang Felicia.
Gerakan Felicia yang mengeluarkan belanjaan dari keranjang belanja terhenti. Wajahnya bersemu, dan Bintang bisa melihat itu.
Melihat wajah Felicia yang memerah, Bintang langsung menyahut. "Bukan, Bu. Ini keponakan saya."
"Wah, berarti kalian
pengantin baru ya?" Pernyataan ibu itu sukses membuat wajah Felicia
semakin merah padam. "Semoga keponakannya bisa jadi pancingan dan cepat
dapat momongan ya."
Bintang hanya bisa
tersenyum. Tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Felicia pura-pura
membaca rincian di layar monitor yang bertuliskan belanjaannya.
Kasir menyatakan nominal jumlah yang harus dibayar. Saved by the bell.
"Bayar pakai ini saja." Seru Bintang menyerahkan kartunya pada penjaga kasir.
"Tidak, punyaku saja." Sahut Felicia mengulurkan kartu miliknya.
Bintang menahan tangan Felicia dan menggeleng. "Simpan saja kartumu." Katanya dengan nada yang tak ingin dibantah.
Bintang hanya ingin
keluar dari supermarket tanpa harus berdebat dengan Felicia lebih dulu.
Ingin segera menyingkir dari tatapan kagum dan sumringah dari ibu-ibu
yang mengantri di belakang Felicia.
"Ayo." Seru Bintang
mengajak Felicia bergegas setelah pembayaran selesai. Sebelah tangan
menggendong Rain, dan sebelahnya lagi membantu membawa kantong belanjaan
Felicia.
Di mobil, Bintang tidak
segera mengemudikan mobilnya. Ia duduk menyandar dan memejamkan matanya.
Mengingat kata-kata ibu tadi membuat hatinya menghangat.
"Bintang?" Tanya Felicia.
Bintang membuka matanya
dan menoleh. Ia melihat kekhawatiran di sana. Mungkin lebih tepatnya dia
berhalusinasi melihat Felicia khawatir pada dirinya.
"Apa?" Felicia merasa aneh diperhatikan Bintang seperti itu.
Bintang menggeleng. "Ayo pulang." Katanya kemudian menyalakan mesin.
Bintang dengan pikirannya, Felicia dengan pertanyaan tak terucapnya, dan Rain yang sibuk dengan es krimnya.
***
"No! Kalian tidak
boleh masuk ke dapur lagi." Seru Felicia berkacak sebelah pinggang. Ia
meletakkan sebuah piring buah di meja ruang tengah. "Sekarang cuci muka
dan duduk manis di sini."
Setelah meletakkan
piring, dan kembali ke dapur dengan mengomel, Felicia melanjutkan lagi
pekerjaannya. Rain dan Bintang yang melihat itu hanya masuk ke kamar
mandi dengan terkekeh.
Bintang tersenyum. Harum
vanilla. Aroma yang sama dengan Felicia. Pikirannya beralih pada
Felicia yang mengenakan apron cokelat dengan aksen kotak-kotak di
bawahnya, rambut panjangnya digelung ke atas. Cantik.
Ia menggelengkan kepalanya dan segera membersihkan wajah dan tangan Rain yang terkena adonan puding.
"Handuk ada di rak atas wastafel!" Seru Felicia dari dapur.
Bintang mengambil handuk
dan mengeringkan rambut Rain yang sudah dicucinya. "Bisa lanjutkan
sendiri? Om juga mau bersih-bersih." Kata Bintang sambil menunjuk wajah,
rambut, dan bajunya yang sudah penuh dengan tepung.
Rain mengangguk dan
keluar kamar mandi. Ia memilih duduk menonton televisi di ruang tengah
sambil memakan potongan apel yang tadi diletakkan Felicia.
Bintang lebih memilih
untuk mandi karena seluruh tubuhnya lebih kotor dari Rain. Awalnya
mereka hanya ingin membantu Felicia, tapi entah sejak kapan berubah jadi
bermain tepung.
Felicia yang melihat
dapurnya berantakan segera mengusir Rain dan Bintang yang mengganggunya
membuat puding. Biasanya Felicia bisa membuat puding dengan cepat, tapi
karena Rain dan Bintang, membuatnya memakan waktu lebih lama.
Setelah dari supermarket
tadi, Felicia memang sengaja pulang ke rumah untuk memasak karena Rain
dan Bintang bilang mereka belum sarapan. Felicia juga belum. Lagipula
mereka juga tidak tahu harus ke mana.
Felicia baru saja
selesai memasak sop ayam dan sedang menggoreng ikan ketika mendapati
Bintang yang melangkah ke dapur mencari gelas. Ia terbiasa minum segelas
air mineral setelah mandi.
Ia terkejut melihat
Bintang hanya dengan kaos tanpa lengan yang menempel lekat di tubuhnya.
Memperlihatkan garis-garis otot liat yang terbentuk di sana. Sebelah
tangan Bintang mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Aww!" Felicia berseru tertahan karena tangannya terciprat minyak dari ikan di penggorengan.
Bintang segera meraih tangan Felicia tempat cuci piring dan mencucinya di bawah air keran yang mengalir.
"Ck! Ceroboh!" Hanya itu yang diucapkan Bintang pada Felicia.
"Bajumu--"
"Kotor." Sahut Bintang singkat.
Felicia menahan
jantungnya yang berdegub lebih cepat dari biasanya, berharap Bintang
tidak mendengarnya. Posisi Bintang yang menempel sangat dekat di sebelah
membuatnya sulit bernapas. Padahal Bintang hanya memegang tangannya dan
mencucinya.
"Kau obati lukamu saja biar aku yang menggoreng ikannya." Kata Bintang menutup keran.
"Memangnya kau bisa?" Tanya Felicia yang dalam suaranya kentara sekali bahwa ia tak yakin.
"Yang penting bisa dimakan. Sudah sana!" Seru Bintang yang fokus dengan penggorengan di depannya.
Felicia mengambil salep untuk luka bakar dan mengolesi lukanya dengan bibir mengerucut kesal. Dasar tukang paksa!
Tanpa Felicia tahu kalau
Bintang melakukan itu untuk menjauhkan Felicia dari dirinya. Ia tidak
ingin Felicia mendengar degub jantungnya yang bekerja dua kali lebih
cepat dari biasanya hanya dengan berdiri sangat dekat dengan gadis itu.
***
Setelah makan, Felicia,
Bintang, dan Rain duduk di ruang tengah sambil makan puding karamel yang
tadi dibuatnya. Rain dan Bintang dengan toping anggur dan madu, dan
Felicia dengan lelehan cokelat dan stroberi.
Rain menatap Bintang
yang sedang meneguk yogurt dari botolnya dengan wajah penasaran. Bintang
menatap Rain dengan alis terangkat.
"Rain mau yogurt?" Tanya Bintang membuat Rain mengangguk antusias. "Biar Om ambilkan."
"Tunggu!" Sergah Felicia ketika melihat Bintang hendak bangkit dan mengambil yogurt di kulkas.
Felicia mengambil sendok
puding milik Rain dan meraih botol yogurt yang digenggam Bintang.
Bintang hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Ayo Rain aaaa dulu." Pinta Felicia menyodorkan sendok yang telah dituang yogurt.
Dengan semangat, Rain membuka mulutnya dan menelannya dengan cepat. Wajah Rain mengkerut masam. "Asaaam!"
Felicia dan Bintang terkekeh.
"Mau lagi?" Tanya
Felicia yang disahut dengan gelengan Rain cepat. Felicia menyendok
pudingnya dan memberikannya pada Rain. "Ini manis."
Rain membuka mulutnya kemudian tersenyum karena menyukainya. Felicia menyuapkan pudingnya pada Rain hingga habis tak tersisa.
Felicia membereskan
handuk yang tadi dipakai Rain dan Bintang, kemudian mengumpulkan piring
puding dan gelas minum mereka yang sudah kosong untuk dibawa ke tempat
cucian. Setelah selesai mencuci, ia mengeluarkan dua toples bersih lalu
memasukkan biskuit dan sereal ke dalam toples yang berbeda. Ia membawa
dua toples itu ke meja ruang tengah.
"Cemilan sehat." Kata Felicia tersenyum ketika melihat wajah Bintang penuh tanya.
"Tadi buah, sekarang biskuit dan sereal, eh?" Tanya Bintang tersenyum miring. "Benar-benar sehat."
Felicia hanya terkekeh
dan mengambil tempat duduk persis di sebelah Bintang. Rain tidur dengan
kepala di pangkuan Bintang dan kakinya menjulur di sisi Bintang yang
lain.
Sejenak mereka berada di situasi canggung.
"Ehem, Emma di mana?" Tanya Bintang membuka percakapan.
"Kak Emma di kafe, menggantikan temannya yang sakit." Jawab Felicia mengambil toples sereal dan memakannya.
"Oh," Bintang bingung harus berkata apa. "Orang tuamu?"
Felicia mengangkat bahu. "Tidak ada."
Bintang merasa sudah mengungkit topik yang sensitif. "Maaf, kami jadi mengganggu hari liburmu."
"Tidak apa, bersama Rain sangat menyenangkan." Jawab Felicia tersenyum. Bersamamu juga.
"Pacarmu tidak datang?
Aku takut kalau kami mengacaukannya." Tanya Bintang. Ia penasaran. Tak
pernah sekalipun Felicia membicarakan pria siapa pun itu.
Felicia menggeleng. "Tidak ada."
Bintang terdiam. Ia
tidak tahu harus mengatakan apa. Ia menghela napas panjang. "Rasanya
hidupku berantakan." Bintang mendongak menatap langit-langit.
"Bertahun-tahun mencintai seseorang, mempercayakan hatimu padanya, tapi
kemudian kau menemukan hatimu hancur terserak.
Tapi kau mengajarkan
padaku bagaimana caranya untuk bisa menyatukannya lagi melalui remahan
biskuit. Kau juga mengajarkanku untuk bahagia. Mengubah pahitnya
kenangan menjadi menyenangkan dengan kopi susu." Ia menoleh ke arah
Felicia dan tersenyum.
"Bukan aku. Kopi susu itu kau sendiri." Sergah Felicia.
"Tapi tetap saja semua berkat dirimu." Jawab Bintang tanpa sadar mengelus rambut Rain dan membuat Rain terbangun.
"Om Bintang?" Gumam Rain
yang langsung melihat Bintang ketika membuka matanya. Ia bangun dan
duduk di sofa dengan terkantuk-kantuk.
Bintang terkekeh melihat
Rain. "Sepertinya kami harus pulang. Rain butuh tidur siang." Ia
melirik arlojinya yang hampir menunjukkan pukul satu.
Felicia ingin sekali
menyarankan supaya Rain tidur di kamarnya, tapi ia urungkan. Bintang
benar. Untuk anak seumuran Rain, tidur siang itu penting. Sedangkan
selama seminggu bersamanya, Rain tidak pernah tidur siang.
Bintang menggendong
Rain, meletakkannya di kursi depan dan memasang seat belt-nya. Ia tidak
langsung pergi, namun mendekati Felicia untuk berpamitan.
"Sampai jumpa hari
Senin. Hati-hati di rumah." Tanpa berpikir, Bintang langsung mengecup
pipi Felicia dengan cepat dan segera berlari kembali ke mobil. Gadis itu
terkesiap.
Felicia yang sudah kembali dari keterkejutannya langsung berteriak kesal. "Bintaaaaang!! Dasar menyebalkan!"
Mendengar itu, Bintang hanya terkekeh kemudian melajukan mobilnya pulang ke rumah.
***
Sore itu Bintang masih terlelap di kamarnya ketika Rain menyerbu masuk dan membangunkannya dengan ekstrim.
"Om Bintaaang!!" Seru
Rain melompat dan menindih Bintang yang tengkurap. "Nenek bilang Om
Bintang harus bangun dan menjemput Bunda Feyi!"
"Ugh!"
Bintang menarik Rain
yang mengganggu tidurnya hingga rebah, kemudian menggelitiknya tanpa
ampun. Rain yang digelitik pun hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal,
pasrah.
"Bilang pada nenek kalau
Om Bintang sedang mandi." Bintang segera masuk ke kamar mandi,
sedangkan Rain keluar kamarnya berlari menemui mama Bintang.
Mama Bintang sedang
memasak ketika Bintang turun dari kamarnya. Bintang segera ke dapur dan
mencium pipi mamanya. Ia tidak melihat Rain di dapur, jadi kemungkinan
dia sedang di ruang tengah.
"Ada apa, Ma?" Tanya Bintang sambil mencomot nugget yang ada di piring saji.
"Jemput Felicia untuk makan malam bersama." Kata mama Bintang memukul tangan puteranya yang asal comot.
"Untuk apa?"
Mama Bintang menatap tajam puteranya. "Jangan banyak tanya! Tinggal bilang iya saja kok susah!" Gerutunya.
"Kalau begitu Bintang menolak." Kata Bintang. Bukan benar-benar menolak, tapi ia ingin tahu apa alasannya.
"Ck, dasar! Besok Selasa
pagi, eyangnya Rain akan menjemput. Teman Mama itu bilang kalau besok
Selasa orang tua Rain akan pulang dari luar kota." Mama Bintang
menjelaskan sambil tetap fokus pada masakannya.
"Kan Felicia masih bisa bertemu Rain di sekolah, Ma."
"Itu kalau orang tua
Rain tidak membawa Rain bersama mereka. Tapi sepertinya, orang tua Rain
ingin mereka tinggal bersama." Sahut mama Bintang. Ia tidak tahu kalau
jawabannya itu membuat puteranya sedikit kecewa.
"Jadi sepi dong. Bilang
ke tante Ma, biar cucunya di sini dulu selama seminggu lagi." Bintang
mencoba merayu mamanya. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehadiran Rain.
"Makanya nikah sana! Umurmu sudah cukup untuk berumah tangga dan punya anak." Jawab mamanya dengan polos.
Sepertinya Bintang salah topik. "Bintang jemput Felicia dulu!" Seru Bintang bergegas keluar dapur untuk menghindar.
Di ruang tengah, Bintang
melihat televisi menyala. Ia kira Rain sedang menonton, tapi ia salah.
Rain yang membelakanginya sedang berkutat dengan sesuatu.
"Rain sedang apa?" Tanya Bintang ingin tahu. Ia penasaran.
Rain mendongak dan tersenyum lebar. "Ini!" Ia menunjukkan gambarnya di kertas hvs.
"Apa yang Rain gambar?"
"Ini Rain, Mama, dan
Papa!" Rain menunjukkan gambarnya yang sudah jadi. "Ini Rain, Bunda
Feyi, dan Om Bintang!" Seru Rain menunjukkan gambar yang sedang ia
warnai.
Bintang tercengang.
Melihat gambar Rain membuatnya tersentuh. Bukan bagus tidaknya gambar
itu, namun karena di mata Rain ia memiliki sedikit arti. Semoga, jika
Rain benar akan pindah dan tinggal bersama orang tuanya, ia tidak akan
melupakan Bunda Feyi-nya dan Bintang.
"Sudah selesai?"
Rain mengangguk.
"Mau ikut Om Bintang menjemput Bunda Feyi untuk makan malam?" Tanya Bintang menggoyangkan kunci mobil di hadapan Rain.
Rain tersenyum lebar dan dengan bersemangat menarik Bintang untuk segera sampai ke mobil.
"Rain ingin bertemu mama dan papa?" Tanya Bintang ketika mobil melaju ke rumah Felicia.
Rain mengangguk. "Rain kangen! Rain sayang mama papa!" Serunya tersenyum lebar.
"Kalau Om Bintang dan bunda Feyi?"
"Rain sayang bunda Feyi!" Rain menjawab dengan semangat.
"Hanya bunda Feyi? Om
Bintang tidak?" Bintang merajuk. Baru kali ini ia bersikap seperti itu.
Ia sendiri terkejut bisa merajuk, pada Rain pula!
Rain tertawa. "Rain sayang Om Bintang, tapi lebih sayang bunda Feyi."
Bintang terkekeh
mendengar penuturan Rain. Ia mengacak rambut Rain dengan gemas.
Kata-kata anak kecil itu polos. Murni dari apa yang dipikirkan dan
dirasakan.
***
Felicia datang makan
malam dengan mengenakan dress batik selutut dengan lengan pendek, rambut
panjangnya diikat tinggi menjadi ekor kuda, dengan sapuan make up tipis
di wajahnya, dan flat shoes cokelat menyempurnakae penampilannya. Sopan
namun tetap terlihat santai. Tadinya ia sangat terkejut mendapati
Bintang dan Rain di depannya. Ia mengira akan bertemu mereka lagi besok
Senin.
Selama makan malam,
Bintang mencoba menyela mamanya ketika ingin mengatakan kalau Rain
kemungkinan besar akan pindah. Ia tidak ingin Felicia mengetahui itu di
meja makan. Ia akan mengatakannya pada Felicia ketika mengantarnya
pulang.
Bintang mengantar
Felicia pulang setelah yakin Rain benar-benar tertidur lelap. Ia
membiarkan Rain yang merajuk ingin tidur dengan dibacakan dongeng oleh
Felicia. Sebenarnya ia tak tega pada Felicia, tapi sudahlah. Nanti pun
Felicia akan ia beritahu.
Sesampainya di depan
rumah Felicia, Bintang tidak langsung turun dari mobil. Begitu pun
Felicia. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Terima kasih sudah datang memenuhi undangan mama." Kata Bintang memecah sunyi.
"Tidak, aku yang
harusnya berterima kasih. Sudah lama aku tidak makan malam bersama
seperti itu. Pasti mamamu kerepotan menyiapkan semuanya sendiri."
Felicia menatap Bintang dan tersenyum teduh.
"Mama tidak akan keberatan kalau kau sering makan malam bersama kami. Mama pasti senang." Bintang membalas senyum Felicia.
Felicia melihat ke
depan. Walaupun senyum masih tersungging di bibirnya, tapi tidak dengan
matanya. Senyum itu tidak menyentuh matanya. Mata itu hanya menatap jauh
ke depan. Kosong.
"Ayah selingkuh dan
bercerai saat umurku empat tahun dan kak Emma sepuluh tahun, dan ibu
meninggal dua tahun lalu. Mantan pacar kak Emma yang dulu sekali, sering
menampar kak Emma dan kemudian meminta maaf, dan berulang lagi hingga
akhirnya kak Emma mengakhiri hubungannya. Kak Emma tidak tahu kalau aku
sering melihatnya diperlakukan seperti itu. Lalu mantan calon suamiku
membatalkan pernikahan kami seminggu sebelum hari-H tanpa alasan yang
jelas." Felicia menghela napas.
"Tapi sekarang aku bahagia. Dan aku yakin kau pun bisa sepertiku, bahkan bisa lebih bahagia dariku jika kau mau."
Tanpa disadari, secara
tidak langsung Felicia trauma pada cinta. Melihat bagaimana ayah yang
meninggalkan ibunya demi wanita lain. Melihat bagaimana perlakuan mantan
pacar Emma yang dulu. Kemudian yang paling membekas adalah bagaimana
mantan calon suaminya itu membatalkan pernikahan tanpa alasan yang
jelas.
Bintang senang karena
Felicia mau menceritakan tentang dirinya. Tapi ia tak menyangka Felicia
mengalami banyak hal buruk di masa lalunya. Melihat kesungguhan
kata-kata Felicia, ia sadar bukan hanya dirinya saja yang pernah
merasakan sakit karena cinta. Bahkan Felicia lebih parah, sejak dulu ia
terlalu mengenal apa arti dari ditinggalkan.
Felicia menoleh ke arah
Bintang dan tersenyum menenangkan. Namun efeknya menjadi terbalik pada
jantung Bintang yang melompat-lompat. Bintang menggenggam tangan Felicia
dan meremasnya, mencoba memberi tahu Felicia bahwa semua baik-baik
saja.
Refleks, Bintang
mendekatkan wajahnya pada Felicia dan mengecup bibirnya perlahan dan
dengan lembut. Felicia tersentak, hanya beberapa detik. Tak menyangkal
bahwa ia juga menikmatinya bahkan membalas kecupan Bintang pada detik
berikutnya. Beberapa saat kemudian Felicia menarik diri.
"Ini untukmu." Felicia
menyerahkan sekotak permen pelega tenggorokan. "Aku harus masuk. Sampai
jumpa." Felicia keluar dari mobil dengan senyum yang sangat manis.
Meninggalkan Bintang dengan pikirannya sendiri sesaat, sebelum akhirnya kesadarannya kembali dan segera pulang.
***
Bintang berbaring
terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. Sambil menggenggam
permen dari Felicia, ia memikirkan kata-kata gadis itu.
Bahagia? Dirinya? Apa bisa?
Felicia benar. Mungkin
Bintang harus mencoba cara lain untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia
tidak bisa seperti ini terus. Tidak bisa hanya diam di titik ini.
"Felicia..." Bintang menggumam dan tersenyum.
Mengingat Felicia dan
kebersamaan mereka seminggu ini, terutama hari ini, membuatnya berani
membuat harapan baru. Harapan untuk bahagia. Walau ia belum yakin pada
perasaannya. "Jika denganmu mungkin aku bisa."
Tiba-tiba Bintang tersentak dan mengusap wajahnya. "Aku lupa memberitahunya tentang Rain..."
***
Bintang terkejut ketika
ia datang ke sekolah untuk menjemput Rain. Rain menangis dan wajah
Felicia memerah menahan tangis. Di sana ada sepasang suami istri yang
berdiri di belakang Rain.
Biasanya ketika ia menjemput Felicia dan Rain, sekolah sudah sepi. Siapa mereka?
"Bunda Feyi jangan lupa
sama Rain ya? Rain sayang Bunda Feyi." Rain melepaskan pelukannya pada
Felicia dan mencium pipinya penuh sayang. "Ini untuk Bunda Feyi." Rain
menyerahkan gambar yang ia buat kemarin.
"Rain? Kenapa menangis?" tanya Bintang mendekati keduanya.
"Om Bintang harus jaga
Bunda Feyi! Awas kalau bikin Bunda Feyi menangis!" seru Rain mengusap
air matanya kemudian melangkah ke arah pasangan suami istri tadi.
Sepasang suami istri
tersebut mengucapkan terima kasih dan berpamitan, kemudian segera melaju
pergi. Rain melambaikan tangan kecilnya pada Felicia dan Bintang
melalui kaca belakang mobil.
"Dah Bunda Feyi, dah Om Bintang!" Serunya.
Ternyata suami istri tadi adalah orang tua Rain. Mereka datang untuk membawa Rain untuk tinggal bersama mereka.
Ya, melihat ekspresi
Felicia bisa dipastikan bahwa Bintang lupa memberi tahu Felicia. Tadi
pagi Bintang kesiangan mengantar Rain ke sekolah dan bergegas supaya
tidak terlambat kerja. Itu yang membuatnya lupa.
Felicia duduk di ayunan
yang teduh di bawah pohon. Siapa pun yang melihat wajah Felicia pasti
akan tahu bahwa perpisahan itu membuatnya sedih. Apalagi setelah
beberapa hari ini.
"Kenapa kau menangis?" tanya Bintang yang mengambil tempat duduk di ayunan sebelah Felicia.
Dengan kesal Felicia memukul bahu Bintang dan membuatnya meringis menahan sakit. "Aku tidak menangis!"
"Ya, kau hampir menangis." Jawab Bintang enteng.
"Aku tidak--!"
"Katamu, kita harus
melepaskan hal yang membuat kita sedih? Tapi kenapa yang kulihat berbeda
dengan yang kudengar ya Fey?" kata Bintang memotong perkataan Felicia.
Untuk menutupi perasaannya, Felicia menatap Bintang tajam, seakan-akan ingin membunuhnya.
"Maaf," Felicia menatap
Bintang dengan bingung. "Kemarin aku ingin memberi tahumu, tapi lupa.
Lagipula aku tidak menyangka Rain akan dijemput hari ini. Mama bilang,
eyangnya akan menjemput Rain besok." Sahut Bintang sebelum Felicia
bertanya.
Felicia hanya menatap ke
depan dalam diam. Ia tidak menangis. Ia tahu, setiap pertemuan pasti
ada perpisahan. Merasa kehilangan? Sudah pasti. Tapi ia bisa apa jika
memang takdir sudah menentukan?
"Kalau kau begitu
kehilangan Rain, kenapa kau tidak membuat anak saja denganku? Kita buat
Rain yang lain." celetuk Bintang yang menatap Felicia dengan polosnya.
Entah dari mana Bintang
bisa mempunyai pikiran itu. Yang ia tahu, ia ingin menghibur ketika
melihat Felicia sedih. Walau Felicia tidak mengatakannya, ia tahu itu.
Ia bisa melihatnya.
Felicia terbelalak
terkejut. Sadar dari keterkejutannya, Felicia memukul bahu Bintang
dengan keras. "Bercandamu tidak lucu! Kau pikir aku gadis macam apa
hah?!"
"Hei! Aku serius! Kau
ini selalu saja kasar padaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti
setelah aku menikah denganmu." Bintang mengelus lengannya yang dipukul
Felicia.
"Kumohon jangan bercanda
lagi." Felicia berkata lirih. Mendengar kata-kata Bintang membuatnya
berharap. Ia takut hal yang dulu terulang lagi. Lagipula keberadaan
Bintang hanya karena Rain, dan Rain sudah tidak di sini. Mereka bertemu
untuk berpisah di sini.
"Aku tidak bercanda.
Menikahlah denganku, Fey. Kau sendiri yang bilang bahwa kita yang
menentukan kebahagiaan kita sendiri. Aku ingin bahagia, dan aku
memilihmu." Bintang menatap Felicia serius.
"Aku tidak mau terluka lagi." sahut Felicia dengan cepat.
"Tidak akan!" Sanggah Bintang dengan yakin.
Entah sejak kapan
Bintang mulai menaruh perhatiannya pada Felicia tanpa ia sadari. Namun
yang pasti, Bintang bisa melupakan Bulan jika berada dalam radius
Felicia. Ia sangat suka melihat Felicia yang perhatian dan terlihat
sangat sayang pada anak-anak. Dia juga menyukai bagaimana Felicia
berteriak padanya. Dia mulai menyukai semuanya yang ada pada diri gadis
itu. Dan Bintang pikir bahwa Felicia gadis yang menarik. Ia yakin
hidupnya akan lebih baik jika mencoba bersamanya.
"Semua orang bertemu untuk berpisah. Kita bertemu karena Rain, dan kita pun berpisah di sini." Jawab Felicia menunduk.
"Di sini aku sedang
berusaha meyakinkan diriku untuk percaya bahwa aku bisa melangkah maju
seperti yang pernah kau bilang. Tapi kenapa kau tidak percaya pada
dirimu sendiri bahwa kau pun bisa bahagia karena cinta?" Bintang masih
mencoba membujuk Felicia. Namun masih tak ada tanggapan.
"Yang terpenting adalah
bagaimana kau menikmati waktumu sebelum perpisahan. Kalau kau tak
percaya pada hatimu, bagaimana aku bisa mempercayakan remahan hatiku
yang kukumpulkan ini untuk kau jaga?"
Felicia tercenung mendengar kata-kata Bintang. Bintang percaya padanya?
"Ayolah Fey, menikahlah denganku." Bintang meminta lagi.
"Tidak mau!" Sahut Felicia tegas.
"Kena--"
"Kenapa kau memanggilku 'Fey'?" Felicia menyahut cepat dan mengerutkan alisnya.
"Terbiasa mendengar
anak-anak memanggilmu 'Bunda Feyi', dan memanggilmu 'Fey' sangat pas di
lidahku. Fey-yi." Bintang mengedikkan bahu dan menampilkan senyum
miringnya.
Felicia mendengus kesal.
"Jadi? Apa kau mau me--" Bintang hampir mengulang pertanyaannya tadi.
"Kubilang tidak!"
Seruan Felicia membuat raut wajah Bintang berubah pias karena kecewa atas penolakannya yang kedua kalinya.
"Aku tidak mau menikah.
Aku belum mengenalmu, dan aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak
kukenal." lanjut Felicia tanpa ragu.
Ia bangkit dan berdiri
di hadapan Bintang. "Kenalkan, namaku Felicia Luna, 24 tahun." Felicia
mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
Bintang terhenyak. Ia
menatap Felicia dengan tatapan tak percaya. Ia merasa hatinya ringan
karena Felicia memberinya kesempatan untuk mencoba bahagia. Ia diberi
kesempatan untuk mengenal gadis di hadapannya ini.
"Bintang Lazuardi, 27
tahun. Senang berkenalan denganmu." Kata Bintang menjabat tangan Felicia
dengan senyum yang tersungging dengan sendirinya. Sesaat kemudian ia
menyeringai jahil. "Kupikir umurmu 20 tahun, tidak kusangka umurmu lebih
tua dari tampilanmu."
Kalimat terakhir Bintang
sukses membuat Felicia kesal. Ia memukul lengan Bintang sekuat tenaga
sampai Bintang mengaduh meminta ampun.
Bintang menahan tangan
Felicia dan menggenggamnya. "Kuberi waktu satu minggu untuk saling
mengenal. Kemudian aku akan datang ke rumahmu bersama keluargaku."
Felicia hanya terbelalak
mendengar penuturan Bintang. Satu minggu perkenalan. Satu minggu? "Satu
minggu?!" Serunya. "Ck! Kau ini benar-benar tukang paksa yang
menyebalkan!"
"Tukang paksa
menyebalkan yang akan segera jadi calon suamimu." Jawab Bintang mengecup
jemari Felicia yang masih digenggamnya. "Hanya kematian yang nantinya
akan memisahkanmu dan aku." Bisiknya lagi.
Dalam hati Bintang
tertawa dengan geli. Gadis yang membuatnya nyaman seperti rumah. Rasanya
seperti puzzle yang dipasang pas dengan pasangannya. Mungkin inilah
takdirnya. Bulan yang ditakdirkan untuk Bintang. Felicia Luna.
If I know what love is, it's because of you...
***
Moving on doesn't mean you forget about things. It just means you have to accept what happened and continue living.
..+..+..+..+..+..
FIN.
- - - - -
Aku
belajar banyak pas nulis Another Moon. Terutama satu pelajaran berharga
buatku: kalau nulis jangan lupa dibackup, karena apapun bisa terjadi.
Tulisan yang ditulis sepenuh hati, kemudian tiba-tiba hilang... sakitnya
lebih dari sakit ketika patah hati. _):'3
Maaf kalau ceritanya diluar ekspektasi kalian..
..+..+..+..+..+..
https://www.wattpad.com/144796433-another-moon-re-part-4
No comments:
Post a Comment