Saturday, November 14, 2015

Another Moon - Part 3

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 3

Felicia sudah berada di halaman sekolah dan menyambut anak didiknya yang baru tiba. Senyumnya terukir manis di bibirnya, membalas sapaan anak-anak yang terlihat bersemangat.

Ketika ia menatap ke arah gerbang sekolah, ia melihat Bintang yang menggandeng Rain. Terlihat manis, seperti ayah dan anak.

“Bunda Feyiii!!” seru Rain melepaskan genggaman Bintang dan berlari menghambur ke arah Felicia. 

“Selamat pagi!” seru Rain mencium punggung tangan Felicia.

Tingkah Rain membuat Felicia tertawa geli. “Selamat pagi, Rain.”

“Ehem!” Bintang berdehem, membuat Felicia dan Rain menoleh ke arahnya.

“Selamat pagi!” sapa Felicia tersenyum. Entah kenapa sejak bangun tidur tadi suasana hatinya sangat baik. Padahal seingatnya, ia tidak memimpikan apa pun.

Bintang membeku sesaat. Ia tidak membayangkan akan mendapatkan sapaan selamat pagi dari Felicia. Setelah kejadian semalam, ia pikir ia akan mendapatkan teriakan atau bahkan lemparan benda yang terjangkau oleh Felicia. Gadis itu benar-benar tak bisa ia prediksi.

“Bintang?” panggilan Felicia menyadarkan Bintang.

“Er, selamat pagi.” Jawabnya agak gugup. Semoga Felicia tidak menyadarinya, pikir Bintang.

“Tumben sekali kau mengantarkannya sangat pagi?” tanya Felicia melirik arlojinya, pukul 7.25.

Bintang berdeham. “Aku ada rapat pagi, jadi aku mengantarnya labih pagi. Iya kan Rain?” Bintang terlihat sedikit salah tingkah.

Felicia bingung melihat Bintang yang menanyakannya pada Rain. Memangnya apa urusannya dengan Rain?

“Iya Bunda, katanya Om Bintang harus rapat setengah sembilan.” Jawab Rain. Ia menjawab sesuai dengan apa yang dikatakan Bintang padanya tadi pagi.

“Oh ya?” jawab Felicia menanggapi Rain.

“Bunda Feyi tahu nggak? Rain bangun jam enam kurang.” Kata Rain bangga.

Felicia agak sedikit terkejut karena menurutnya itu terlalu pagi untuk sekolahnya yang masuk pukul delapan. Rain biasanya datang sekitar pukul 7.45.

“Wah, berarti Rain sudah besar dong?” tanya Felicia. Ia sudah terbiasa menanggapi celotehan anak kecil.

“Iyaaa! Kayak Om Bintaang!” serunya melompat ke arah Bintang. "Om Bintang juga bilang, anak laki-laki yang kuat itu tidak menangis."

Felicia agak sedikit terkejut melihat kedekatan Bintang dan Rain. Sepertinya kemarin tidak sedekat ini. “Terima kasih sudah mengantar. Kau bisa segera berangkat sebelum terlambat rapat.”

“Kau mengusirku?” tanya Bintang menaikkan sebelah alisnya.

“Bukan!” sahut Felicia cepat. Terlalu cepat. “Bukan begitu. Nanti kau terlambat rapat, dan bosmu bisa marah padamu.”

Melihat reaksi Felicia membuat Bintang terkekeh. “Sebenarnya aku ingin minta maaf padamu.”

“Minta maaf? Kenapa?” Felicia menatap Bintang dengan bingung.

“Untuk yang kemarin malam. Aku—”

“Harusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku ikut campur urusanmu.” Sahut Felicia memotong perkataan Bintang.

Bintang menggeleng. “Tidak seharusnya aku membentakmu.”

“Permintaan maaf diterima dengan syarat,” Felicia tersenyum.

“Syarat?” Bintang mengernyitkan kening.

“Es krim.” Jawab Felicia diplomatis kemudian berbalik. Ia menggandeng Rain dan mengajaknya melangkah masuk kelas.

“Syarat diterima.” Seru Bintang yang dibalas senyuman Felicia dan lambaian tangan dari Rain. “Di kafe biasa, seperti biasa.” Tambah Bintang.

Ya, setiap sepulang menjemput Rain, mereka bertiga selalu menghabiskan waktu di kafe hingga sore hari. Dan biasanya, setelah mengantar Rain sampai di rumah, selalu saja ada hal yang membuat Felicia tinggal sedikit lebih lama.

Bintang menatap Felicia yang berlalu dari hadapannya. Ia tak menyangka seorang Felicia sangat berpengaruh padanya. Seperti kepakan kecil dari sepasang sayap, namun mengubah angin yang ada dalam radius kepakannya.

***

Di ruang kerjanya, Bintang tak bisa berhenti tersenyum. Senyumnya langsung mengembang saat ia teringat Felicia. Dan ia hampir tidak bisa menghapus bayangan Felicia yang tersenyum. Bahkan tanpa ia sadari, bayangan Bulan mulai memudar, bahkan di alam bawah sadarnya.

Rekan-rekan kerja Bintang mengira Bintang mulai gila. Siapa yang tidak berpikir seperti itu bila Bintang yang biasanya sibuk dengan kerjaannya, kini mempunyai kesibukan baru: melamun sambil tersenyum.

Bintang tidak peduli. Jika ada rekan kerja yang menegurnya atau mengejeknya, ia akan membalasnya dengan senyum. Harinya terlalu indah untuk dirusak oleh celetukan usil dari rekan-rekannya yang iri karena ia sedang bahagia.

Tunggu! Ia bahagia hanya dengan teringat Felicia?

Bintang menggelengkan kepala. Walaupun logikanya mencoba menyangkal, namun hatinya berkata lain. Bahkan bibirnya pun berkhianat dengan menebar senyum.

“Felicia…” gumam Bintang. “Kau benar-benar menyebalkan.”

Ia menggumamkannya dengan senyum yang masih tersungging.

***

Siang itu, setelah datang ke sekolah untuk menjemput Rain, Bintang membawa Felicia dan Rain ke kafe tempat Emma bekerja. Ia memesan menu yang biasa mereka pesan. Kopi hitam kental tanpa gula, es krim choco-vanila, es krim matcha, dan sepiring macaroon dengan berbagai rasa.

“Kau tahu, kak Emma menyukai bosnya.” Kata Felicia dengan suara pelan. Ia memajukan tubuhnya hingga menempel meja dan menipiskan jarak antara dia dan Bintang.

Bintang mengernyitkan kening. Ia agak bingung dengan topic yang tiba-tiba muncul.

Felicia menunjuk ke arah pintu di belakan konter. Di sana berdiri Emma bersama dengan seorang pria. Mereka  terlihat sedang mengobrol santai.

“Sahabat kak Emma itu duda. Kak Emma menyukainya tapi takut menyatakannya. Ia tidak mau persahabatan mereka rusak.” Kata Felicia sambil memakan es krimnya.

“Kenapa kau mengatakannya padaku?” tanya Bintang menyesap kopinya.

“Siapa tahu kau menyukainya. Jadi kau bisa menyiapkan diri untuk patah hati.” Jawab Felicia dengan polos.

Bintang menghela napas. Ia menatap gadis di depannya ini dengan tatapan tak percaya. “Kubilang, kau salah paham.”

“Atau… kau menyukai Bulan?” tanya Felicia lagi.

Bintang berdehem. “Sejak kapan kakakmu bekerja di sini?” ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Bukan membuka luka, hanya saja ia belum siap untuk bercerita. Ia masih dalam proses mengumpulkan serpihan hatinya.

Felicia langsung paham. Bintang menyukai Bulan. Tidak, sangat Bintang mencintainya. Entah mengapa tiba-tiba terasa sesuatu menggores hatinya.

“Sudah dua tahun ini.” jawab Felicia sambil membersihkan pipi Rain yang terkena es krim.

“Oh,” hanya itu. Bintang tak tahu harus mengatakan apa.

Bintang mengulurkan tangan dan menyentuh sudut bibir Felicia. “Kau juga.” Kata Bintang membersihkan es krim di sana.

“T-terima kasih.” Jawab Felicia gugup.

Bintang terkekeh melihat wajah Felicia yang bersemu.

Felicia menatap Bintang kesal dan melemparkan remasan tisu padanya.  “Menyebalkan!” gerutunya.

“Bunda Feyi, habis.” Kata Rain meletakkan sendoknya.

Felicia menoleh ke arah Rain dan menyodorkan sendoknya berisi es krim matcha miliknya.  “Mau coba punya Bunda Feyi?” 

“Apa itu enak?” tanya Rain yang terlihat ragu.

Felicia mengangguk dan menyodorkan sendoknya semakin dekat, mencoba meyakinkan Rain bahwa es krimnya enak.

“Bagaimana?” tanya Felicia setelah Rain menerima suapan darinya.

“Emm…” Rain terlihat sedang berpikir dan memastikan sesuatu. “Enak!” serunya tersenyum lebar. “Rain boleh minta es krim Bunda Feyi?”

“Semuanya untukmu.” Jawab Felicia tersenyum dan memberikan mangkuk es krimnya yang masih tersisa separuh.

"Yaiiy! Terima kasih, Bunda!" Seru Rain bersorak.

Felicia membayangkan, andai saja dulu ia jadi menikah, pasti akan sangat membahagiakan berbagi es krim dengan anaknya.

“Kupesankan lagi?” tanya Bintang menawarkan.

“Tidak usah, terima kasih. Aku selalu bawa air mineral kok.” Kata Felicia sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari tas selempangnya.

Bintang terkekeh. “Kau seperti Rain yang selalu bawa bekal sendiri.”

“Hei, apa maksudmu?” Felicia memicingkan mata dengan kesal. “Kau mau?” tanya Felicia mengeluarkan dua bungkus cokelat dan meletakkannya di meja.

Bintang hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Ia tak habis pikir dengan gadis di depannya ini. Ia terlalu sulit dibaca. Bintang mengambil satu cokelat dan memakannya perlahan. Begitu pula dengan Felicia.

“Bunda Feyi, Rain juga mau.” Pinta rain ketika melihat dua orang dewasa yang bersamanya sedang asyik memakan cokelat.

Belum sempat Felicia mematahkan cokellat di tangannya, Bintang sudah menyodorkan separuh cokelatnya pada Rain.

“Terima kasih, Om!” seru Rain kegirangan. Ia mengunyah cokelat dan sesekali menyuapkan es krim matcha.

Felicia dan Bintang hanya bisa menatap Rain tak berkedip. Memangnya enak makan es krim matcha sambil makan cokelat?

Setelah Rain menghabiskan es krim dan cokelatnya, Felicia membersihkan pipi dan bibir Rain. Tak lama kemudian mereka pamit pada Emma untuk pulang.

Belum sempat Bintang menarik pintu untuk Felicia dan Rain, ia dikejutkan oleh sosok di depannya.

“Friska?” tanya Bintang.

Friska hanya mengangkat bahu. “Obat patah hati itu makan yang banyak.” Jawab Friska sekenanya.

“Semoga cepat sembuh kalau begitu.” Jawab Bintang terkekeh.

“Harusnya kau berkaca.” Balas Friska memutar bola matanya. “Tapi kulihat kau sudah hampir sembuh.” Setelah mengatakan itu Friska langsung menuju konter.

"Satu greentea milkshake dan satu tiramisu." Setelah memesan, Friska menuju tempat duduk paling pojok. Ia sudah tak mengacuhkan Bintang dan berkutat dengan pikirannya sendiri.

Melihat Friska, Bintang jadi berpikir. Apa dulu dia juga terlihat seperti itu? Friska terlihat memaksakan diri. Beruntung Bintang bertemu dengan Felicia dan Rain. Mereka berdua memberi warna pada hidupnya yang abu-abu.

Bintang segera membuka pintu dan menhannya. Membiarkan Felicia dan Rain keluar lebih dulu, kemudian mengikutinya.

“Siapa?” tanya Felicia yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Teman seperjuangan.” Jawab Bintang enteng, membiarkan Felicia bingung dengan pikirannya sendiri.

Teman seperjuangan? Berjuang? Bintang mencintai Bulan. Bintang pernah memperjuangkan Bulan. Tidak mungkin kan wanita itu juga menyukai Bulan?

Felicia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikirannya yang mulai ngawur.

***

“Nak Feli bantu Tante dulu ya?” bujuk mama Bintang.

Felicia menatap Bintang meminta bantuan. Bintang hanya mengedikkan bahu seakan berkata ‘Sudahlah, ikuti saja’.

"Tapi Rain gimana?" Tanya Felicia mencoba mencari alasan.

"Rain bersamaku. Dia juga tidak protes kok." Bintang menyahut dan tersenyum miring.

Merasa tidak ada pilihan lain, Felicia menghela napas. “Baiklah. Tapi hanya sebentar ya Tante, setelah itu saya pulang.” jawabnya tersenyum kaku.

Bukannya ia tidak mau membantu, hanya saja ia merasa tidak enak hati. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya orang luar. Tadi mama Bintang memintanya membantu memasak. Memasak? Bukannya mau menolak, tapi memasak itu kan untuk keluarga... sedangkan dia?

Sembari bermain lego di meja ruang tengah, sesekali Bintang mencuri pandang ke arah dapur. Ia bisa mendengar ibunya dan Felicia sedang membicarakan masakan. Bintang tersenyum. Hatinya menghangat hanya dengan melihat Felicia ada di rumahnya. Rain sendiri sedang asyik menyusun lego membentuk istana. Mungkin seperti ini rasanya jika di rumahnya ada seseorang yang mengurusnya dan teman kecil yang mengajaknya bermain.

"Om, robotnya mana?" Tanya Rain. Ya, tadi Rain meminta Bintang membuat robot, sedangkan dirinya membuat istana.

"Tunggu, Om sedang memasang kakinya." Jawab Bintang kembali memasang sambil sesekali menanggapi celotehan Rain.

Bintang bersyukur Rain sudah mulai dekat dengannya. Rain menyenangkan. Hidupnya jauh berubah setelah ia mengenal Felicia dan Rain. Harinya berwarna abu-abu dan gelap sejak ia tahu Bulan telah menikah dan punya anak, dan sejak Bulan memilih kembali pada Reza...

Jujur, Bintang menyesal karena sempat membuat hancur rumah tangga Bulan. Selain Bulan yang tersakiti, begitu pun dirinya. Bintang sempat percaya bahwa Bulan mencintainya, yang ternyata hanyalah cinta semu. Kalau saja ia tidak bertemu Bulan lagi, pasti dirinya dan Bulan tidak akan tersakiti.

Kalau kau tidak bertemu Bulan dan tidak patah hati, kau tidak akan bertemu dengan Felicia.

Bintang terhenyak ketika hatinya berbicara. Ya, dia tidak akan bertemu dengan Felicia karena dia tidak akan bekerja di sini. Jika dulu ia tidak menemui Bulan, pasti sekarang ia masih ada di luar kota.

Bintang tersenyum saat memberikan robotnya yang sudah selesai pada Rain. Felicia dan ibunya pun sudah selesai memasak. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Felicia.

"Pulang sekarang?" Tanya Bintang.

Felicia mengangguk  dan tersenyum. "Tante, saya pulang dulu. Maafkan saya karena banyak merepotkan." Felicia mencium punggung tangan mama Bintang. Refleks.

"Tidak makan malam dulu?" Tanya mama Bintang penuh harap.

"Terima kasih, Tante. Mungkin lain kali." Felicia tersenyum mendengar tawaran mama Bintang yang menurutnya menggiurkan.

Ia merasa seperti memiliki sesosok ibu yang dulu pernah dimilikinya. Hatinya menghangat. Biar kebahagiaan semu ini dirasakannya. Sebelum kenyataan menyapa dan menghacurkannya. Mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa.

"Rain, Bunda Feyi pulang ya?" Kata Felicia menghampiri Rain yang sedang bermain.

Rain meletakkan mainannya dan berdiri. "Kok Bunda Feyi pulang sekarang?"

"Besok kita bertemu lagi di sekolah." Jawab Felicia menangkup kedua pipi Rain. "Janji sama Bunda Feyi kalo Rain tidak akan nakal, Rain tidak akan membuat susah Om Bintang dan Nenek."

"Rain janji, Rain kan sudah 0 besar!" Seru Rain mengangkat kedua lengannya membentuk lingkaran besar.

Felicia tersenyum. Ia berpamitan kemudian keluar bersama Bintang. Seperti biasa, Bintang mengantarkannya pulang sampai di depan rumah. Senja sudah turun ketika Felicia sampai. Sebelum turun, ia melihat rumahnya masih gelap. Kakaknya belum pulang. Biasanya kakaknya akan pulang pukul tujuh, dan sekarang masih pukul enam.

"Mau masuk?" Tanya Felicia.

Bintang terlihat menimbang, namun sedetik kemudian mengangguk.

Mereka turun dari mobil dan masuk ke rumah.

"Duduk dulu. Tunggu di sini sebentar." Kata Felicia yang menyalakan lampu ruang tamu, kemudian masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian Felicia keluar dengan pakaian santainya. Celana pendek selutut dan kaos yang terlihat agak kebesaran. Ia membawa secangkir kopi hitam kental tanpa gula untuk Bintang.

"Kopi hitam kental?" Tanya Bintang menaikkan sebelah alisnya.

"Kupikir kau menyukainya. Kau selalu memesan itu setiap datang ke kafe." Jawab Felicia.

Bintang  menyesap  kopinya yang masih panas dengan perlahan. "Pahit." Gumamnya.

Mendengar Bintang memprotes, Felicia mengerucutkan bibirnya kesal. "Lihat aku dan kopimu akan terasa manis." Ia menyahut dengan meleletkan lidah.

Bintang tertawa. Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya gemas. "Aku tidak suka kopi pahit." Katanya sambil tersenyum.

"Lalu, kenapa selalu memesan kopi tanpa gula?" Tanya Felicia mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti jalan pikiran pria di depannya ini.

"Kupikir kopi pahit bisa mengurangi sakit di sini." Kata Bintang menunjuk dadanya.

"Sakit jantung?" jawab  Felicia polos yang membuat  Bintang terkekeh.

"Kurang lebih lima tahun lalu, aku pergi meninggalkan orang kucintai. Ketika aku kembali, ia telah bersama yang lain. Sekuat apapun aku berusaha, hatinya sudah ada yang memiliki."  Bintang tersenyum tipis.

"Jangan cerita kalau itu membuka luka hatimu." Sahut Felicia tersenyum ringan. "Kalau hatinya sudah ada yang memiliki, cari saja hati yang masih belum ada pemiliknya."

"Tidak semudah itu." Kata Bintang menyesap kopinya lagi.

"Hati yang hancur menjadi remah-remah itu memang akan sulit disusun lagi, jika kau membayangkan hati itu kaca. Tapi jika kau membayangkan hati itu seperti remah biskuit, untuk apa menyusunnya kembali? Buat saja susu atau es krim, dan campurkan saja dengan biskuit hancur tadi. Itu artinya kau punya cara lain untuk menikmati hidup." Felicia  tersenyum. "Tunggu di sini."

Ia masuk ke dapur dan kembali dengan setoples biskuit dan dua gelas susu vanila. Satu untuknya, satu untuk Bintang.

"Lihat." Felicia  meremukkan sebuah biskuit dengan  tangannya. "Kau akan kesulitan memakannya kalau seperti ini. Tapi kalau begini?"

Bintang mengamati Felicia yang memasukkan remahan biskuit tadi ke dalam gelas di depannya.
 
"Menikmati dengan cara lain." Kata Felicia tersenyum dan meminum susu vanila-biskuitnya.

Setelah melihat Felicia, kini Bintang menatap gelas di depannya. Sedetik kemudian ia meminum susu vanilanya hingga tersisa setengah gelas, kemudian menuangkan kopi ke dalamnya. Kopi susu.

"Menikmati dengan cara yang lain." Kata Bintang tersenyum. Ia menirukan Felicia.

Felicia tertawa. Rasanya ia bahagia sekali hari ini. Ia terlalu banyak melihat senyuman Bintang. Mungkin ia harus memeriksakan diri ke dokter, jangan sampai ia terkena diabetes karena terlalu banyak melihat sisi manis Bintang.

***

Emma masuk ke rumah dengan terkejut, tak menyangka akan melihat Felicia tertawa lepas seperti itu. Dan tawa itu muncul karena adiknya sedang bersama Bintang. Ia semakin yakin bahwa adiknya bisa bahagia bersama Bintang. Tapi juga bisa lebih hancur karena bersamanya.

Melihat Emma pulang, Bintang melirik arlojinya. Setengah delapan malam.

"Sudah malam, aku pulang dulu." Kata Bintang meneguk habis kopi susunya.

"Fey, Arga masih di depan. Tolong carikan map biru yang berisi coretan menu baru, di antara tumpukan kertas di meja kamarku." Emma mencoba mengusir adiknya dengan halus.

Felicia mengangguk dan langsung masuk ke kamar Emma.

Begitu Felicia menghilang di balik pintu, Emma segera meminta waktu bicara dengan Bintang. "Sudah lama?"

"Mungkin sekitar satu atau satu setengah jam yang lalu." Jawab Bintang tenang.

"To the point, aku tahu kau dekat sekali dengan adikku akhir-akhir ini. Aku hanya tidak ingin kau menyakitinya. Jangan terlalu dekat jika kau tak yakin."

Bintang menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak mengerti maksudmu, Em."

Tepat ketika Emma akan menjawab, Felicia muncul dengan map biru di tangannya.

"Thanks." Kata Emma setelah Felicia memberikan map itu padanya.

Emma segera beranjak untuk menemui Arga, bos sekaligus sahabatnya. Sedangkan Bintang masih mengira-ngira apa maksud kata-kata Emma.

"Jangan lupa, kau yang menentukan kebahagiaanmu." Kata Felicia menyadarkan Bintang yang berkutat dengan pikirannya sendiri.

Bintang mengangguk mengiyakan. "Sampai jumpa." Katanya kemudian melangkah ke mobilnya. Tak jauh dari mobilnya terparkir, ada Emma dan Arga yang sedang berbicara.

"Bye." Balas Felicia melambaikan tangan.

Tanpa Felicia dan Bintang sadari, orang yang yang melihat mereka berdua pasti mengira bahwa mereka sepasang kekasih.

***

Let it go. Forget the people who make you sad. Don’t let them affect you. But never forget what they taught you. The choices you make, the struggles you face prepare you for life.

..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144795524-another-moon-re-part-3


No comments:

Post a Comment