Karena ini fanfic, maka
suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit
untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D
Aku udah nyoba semampuku
buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior.
Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah
ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
- - - - -
#FanFiction
Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*
jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D
Let's begin..
#####
Part 2
Selama tiga hari ini
Bintang selalu diminta mamanya untuk menemani Rain. Karena Rain tidak
ingin berdua dengannya, otomatis Rain mengajak serta Felicia. Itulah
mengapa tiga hari ini tiada waktu tanpa Felicia dalam harinya. Dan
kehadiran gadis itu sukses membuatnya sebal setengah mati. Guru Rain itu
sepertinya tahu sekali bagaimana merusak hari-hari Bintang.
Siang itu, sepulang
sekolah, Rain meminta ditemani ke taman kota. Sebagai orang dewasa, itu
merupakan hal yang membosankan menurut Bintang. Taman kota? Kenapa harus
taman kota? Seperti tidak ada tempat lain saja!
"Berisik!" seru Felicia
yang mendengar gerutuan Bintang karena permintaan Rain. "Dasar! Kalau
tidak ikhlas tidak usah mengantar!"
Bintang hanya bisa
menatap tajam Felicia. Mau tidak mau ia harus menemani Rain daripada ia
mendapat ceramah dari mamanya seharian.
Di taman kota, Bintang
memilih tempat duduk di bawah pohon tak jauh dari kolam. Pikirannya
berkelana jauh. Bulan. Walau ia ingin melupakan, tapi selalu saja
terbayang di kepalanya. Seakan-akan otaknya sudah diatur hanya untuk
memikirkan Bulan.
Tersadar, Bintang
menoleh sekelilingnya mencari Felicia dan Rain. Tidak dilihatnya dua
orang yang bersama dirinya tadi. Bintang bangkit dan mencoba mencari di
sisi lain taman. Ternyata Felicia dan Rain sedang duduk di dekat rumpun
bunga dan pohon kecil sambil makan es krim.
Bintang tak langsung
menghampiri, namun memperhatikan agak jauh. Bintang memperhatikan
interaksi antara Felicia dan Rain. Melihat betapa sabarnya gadis itu
menghadapi bocah menyebalkan yang selalu punya banyak stok pertanyaan.
"Berarti kalau ulat itu
sudah makan banyak dan menjadi besar, dia akan berubah jadi kupu-kupu?"
tanya Rain sambil merentangkan tangannya ketika mengatakan 'besar'.
"Tapi, sebelum berubah
jadi kupu-kupu, ulat yang sudah kenyang itu akan tidur dulu. Nah, ia
tidur di dalam kepompong." Jawab Felicia dengan sabar.
"Kepompong?"
"Yep, seperti selimut. Selimut itu membungkus si ulat selama beberapa waktu." Jawab Felicia menjelaskan.
"Berapa lama?" tanya Rain yang selalu ingin tahu.
"Sampai dia lapar lagi."
"Berapa lama dia lapar lagi?"
"Kurang lebih dua
minggu. Baru kemudian si ulat yang tidur tadi bangun dan keluar dari
kepompong menjadi kupu-kupu." Felicia menjelaskan dengan sabar dan
menggunakan penjelasan yang mudah.
"Ulat makan daun, tapi
Rain lihat kupu-kupu sering ada di atas bunga. Apa kupu-kupu makan
bunga?" dengan mata bulat yang selalu ingin tahu itu, Rain menunjuk ke
arah kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga.
Mendengar penuturan Rain
membuat Felicia tertawa. "Tidak. Kupu-kupu tidak makan bunga. Biasanya,
kupu-kupu makan madu yang ada pada bunga. Madu pada bunga itu namanya
nektar."
"Rain juga suka madu.
Manis. Besok Rain mau bawa madu untuk kupu-kupu." Seru Rain penuh
semangat. Sesekali ia memakan es krim di tangannya.
Felicia tertawa dan mencubit pipi Rain dengan gemas. "Kupu-kupu hanya suka madu yang ada di bunga. Tidak suka madu yang lain."
Rain terlihat mengangguk-anggukkan kepala seolah sudah mengerti. Ia mencoba memahami apa yang tadi dijelaskan padanya.
"Karena tadi Rain yang
menemukan ulat dan kupu-kupu, sekarang Bunda Feyi yang mencari
kepompongnya." Felicia memutari rumpun untuk mencari kepompong.
Bintang memperhatikan
Rain yang mengekor di belakang Felicia dengan penasaran, kemudian
terjatuh karena menabrak Felicia yang tiba-tiba berhenti. Seketika
Bintang bergegas menghampiri dua orang yang sedari tadi dipandanginya.
Tapi ia hanya berdiri, melihat Felicia yang memperlakukan Rain dengan
sangat baik dan penuh sayang.
"Maaf, baju Bunda Feyi jadi kotor." Kata Rain yang melihat baju Felicia kotor terkena es krim.
Felicia menggeleng tak
mempermasalahkannya. "Rain tidak apa-apa?" tanya Felicia khawatir. Ia
menepuk-nepuk pakaian Rain untuk membersihkan debu. Untung saja sedang
tidak hujan.
Rain menggeleng. "Kan
Bunda Feyi yang bilang kalau Rain kuat." Ia tersenyum lebar dan
menunjukkan telapak tangannya yang sedikit terluka.
"Sakit?" tanya Bintang yang tiba-tiba sudah berjongkok di sebelah Felicia.
Rain mengangguk dan tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang mungil. "Tapi Rain tidak menangis. Rain kuat."
Bintang tersenyum dan
mengacak rambut Rain. "Itu baru namanya anak laki-laki." Bintang
menggendong Rain dan mendudukkannya di bangku bawah pohon yang teduh.
"Rain duduk manis dan tunggu Bunda Feyi di sini." kata Felicia yang di sambut anggukan Rain.
Felicia membasahi sapu
tangan yang dibawanya di keran air bersih terdekat. Ketika ia sedang
membasahi sapu tangannya, seorang ibu datang menggandeng puteranya.
"Mau cuci tangan?" tanya Felicia pada anak itu, dan anak itu mengangguk. "Silahkan."
"Senangnya jalan-jalan bersama keluarga." Celetuk ibu anak itu tersenyum.
Felicia mengerutkan keningnya. "Keluarga?" tanyanya tak mengerti.
"Iya, itu suami dan
anaknya kan?" ibu itu menunjuk ke arah pohon tempat di mana Rain dan
Bintang duduk. "Semoga langgeng dan bahagia ya."
Felicia hanya bisa tersenyum kaku menanggapi ibu itu, kemudian segera pamit.
Jika orang mengira Rain
adalah anaknya, itu adalah hal biasa. Ia sering dikira seorang ibu
ketika berjalan dengan anak kecil. Tapi Bintang, menjadi suaminya?
Mungkin dunia sudah gila jika itu terjadi. Felicia menggelengkan
kepalanya, berusaha melupakan apa yang dikatakan ibu tadi.
Begitu Felicia sampai di
tempat Rain dan Bintang duduk, ia segera mengusapkan sapu tangan basah
itu ke tangan Rain yang terluka.
"Sakit?" tanya Felicia.
"Seperti digigit semut." Rain menjawab dengan mantap.
Bintang tertawa
mendengar jawaban Rain, dan itu membuat Felicia mengangkat sebelah
alisnya. Bintang? Tertawa? Ia jadi teringat lagi perkataan ibu tadi.
Ugh! Kenapa harus Bintang?!
"Es krimnya..." sahut Rain menggantung.
"Ayo kita ke tempat es krim yang enak!" seru Felicia menghibur Rain.
***
Felicia mengambil tempat
duduk di depan Bintang dan di sebelah Rain. Bintang mengamati tempat
yang dipilih Felicia. Kafe di mana ia biasa memesan kopinya.
"Hai Kak Emma!" sapa Felicia ketika seorang waiters yang datang ke meja mereka.
Bintang menatap sekilas pada waiters itu. Waiters yang biasa menyajikan kopi pesanannya.
Waiters itu mengernyitkan kening. "Kalian saling mengenal?" tanyanya.
"Dia orang yang pernah kuceritakan pada kakak." Jawab Felicia sambil membaca menu.
"Si pria menyebalkan
itu?" tanya Emma, dan dijawab Felicia dengan anggukan tanpa menoleh. Ia
tidak tahu kini Bintang menatapnya tajam meminta penjelasan.
Seperti menyadari ada sesuatu, Emma membaca ulang pesanan Felicia yang baru saja diberikan padanya. "Es krim choco-vanilla, es krim matcha, dan macaroon. Ada lagi?"
"Kopi hitam kental tanpa gula." Jawab Bintang.
Felicia mengernyit bingung dengan pesanan Bintang. Kopi hitam yang pahit? Memangnya enak? Dasar aneh!
"Oke, tunggu sebentar." Emma mengangguk dan berlalu.
"Siapa?" tanya Bintang.
"Apa?" tanya Felicia tak
mengerti. "Oh, kakakku." Jawab Felicia mengikuti arah pandang Bintang
ke pintu di mana kakaknya menghilang.
"Kenapa? Kau menyukainya?" tanya Felicia dengan polosnya. "Percuma, dia sudah menyukai orang lain."
Bintang menatap Felicia
dengan kesal. Gadis di depannya ini benar-benar menyebalkan dan sok
tahu. Ia tidak mengacuhkan kata-kata Felicia tadi. Ia bertanya karena
wajah Emma sudah tak begitu asing baginya. Emma lah yang memberikan banana pie padanya waktu itu.
Felicia sendiri pun
tidak mempedulikan apa dan bagaimana tanggapan Bintang mengenai
kata-katanya. Ia sibuk menjawab pertanyaan Rain yang sedang asyik dengan
buku menu di hadapannya.
"Ini pesanan kalian." Kata Emma meletakkan dua mangkuk es krim, secangkir kopi, dan sepiring macaroon ke meja Felicia.
"Terima kasih." Jawab Felicia yang diikuti oleh Rain.
Emma menoleh ke arah
Bintang. "Jika kau kemari untuk secangkir kopi, ketika sore hari
biasanya ada seorang gadis yang selalu kemari untuk segelas greentea
milkshake." Emma tersenyum kemudian kembali ke balik konter.
Bintang hanya mengedikkan bahu tak peduli. Lalu apa hubungannya dengannya?
Sembari sesekali
menyesap kopinya, sesekali pula Bintang mengamati Felicia yang sangat
memperhatikan Rain. Mungkin karena ia guru TK, sehingga sangat suka pada
anak-anak. Felicia terlihat sangat keibuan dan penyayang. Kesabarannya
dalam menjelaskan, senyumnya yang selalu melengkung jika berhadapan
dengan anak-anak membuatnya semakin terlihat lembut.
Bintang hanya mendesah
dan berharap dalam hati, semoga saja dia mendapatkan pengganti Bulan
yang nantinya akan memperhatikannya keluarganya seperti Felicia yang
memperhatikan Rain dengan sayang.
Tunggu! Kenapa harus yang seperti Felicia?! Aaargh! Bintang menggelengkan kepalanya menepis pikiran yang barusan muncul.
Ketika Bintang menoleh
ke konter, ia melihat orang yang sudah tidak asing baginya. Siapa lagi
jika bukan pemilik separuh hatinya. Bulan. Bulan datang bersama Reza. Hanya berdua. Seperti ABG yang sedang berkencan.
***
Cemburu? Tentu saja
Bintang cemburu. Tapi entah kenapa tidak sesakit dulu. Ataukah karena
sudah terlalu lama ia merasakan sakit, sehingga hatinya sudah kebal
hingga mati rasa?
Felicia yang melihat
Bintang terdiam langsung mengikuti arah pandangnya ke konter. Entah
kenapa walaupun dia sebal pada Bintang, dadanya terasa nyeri ketika
melihat Bintang memperhatikan wanita lain. Lebih sakit dari saat calon
suaminya membatalkan pernikahannya.
Tiba-tiba Bulan menoleh
ke arah meja di mana Bintang berada dan menghampirinya, sedangkan Reza
masih di depan konter menunggu pesanannya dibungkus.
"Ta, apa kabar? Lama sekali tak mendengar kabarmu." Kata Bulan dengan senyum manisnya.
"Aku baik. Kau sendiri?" Bintang menjawab dengan senyum kaku dan mempersilahkan Bulan duduk.
"Baik."
Dari jawaban Bulan dan
raut wajahnya yang bersinar, Bintang tahu kalau Bulan baik-baik saja
tanpanya. Sama seperti dulu ketika ia pergi meninggalkan Bulan.
Seharusnya ia tidak kembali. Seharusnya mereka tak bertemu lagi.
"Memangnya kau sudah boleh berpergian?" Bintang teringat bahwa Bulan baru saja melahirkan dengan operasi caesar.
"Aku baru saja dari rumah sakit untuk cek. Dan kondisiku sudah semakin membaik." Jawab Bulan.
"Syukurlah. Ingin memesan sesuatu?" tanya Bintang basa-basi untuk menghapus kecanggungan di antara mereka.
"Tidak. Kami mampir
untuk membeli kue favorit Bumi. Dia meminta hadiah itu karena telah
menjaga Rayya dengan baik." Bulan menjawab dengan senyum keibuan.
"Apakah ini pacarmu?"
Bintang hanya tersenyum
kaku. "Kulihat kalian sangat bahagia." Kata Bintang mengalihkan
pembicaraan dengan mengedikkan kepala ke arah Reza.
"Aku bahagia, dan
kuharap kau pun juga bahagia." Bulan tersenyum tulus. Kemudian ia
menoleh ke arah Felicia. "Bintang pria yang baik, jaga dia."
Bintang bahagia? Entahlah. Mungkin hanya keajaiban yang dapat membuatnya bahagia tanpa Bulan di sisinya.
Bintang menyesap
kopinya. Jika ia pria yang baik, kenapa Bulan memilih Reza dan menolak
untuk bersamanya? Apa ia harus menjadi pria brengsek dulu supaya Bulan
mau bersamanya? Bintang hanya terdiam dan menghembuskan napas lelah
dengan perlahan.
Setelah berkenalan
dengan Felicia dan Rain, Bulan segera pamit karena sudah ditunggu oleh
putera-puterinya. Reza sendiri walaupun sudah memaafkan, bukan berarti
melupakan apa yang dilakukan Bulan dan Bintang dulu. Ia hanya mengangguk
pada Bintang dan pergi dengan menggandeng Bulan.
Felicia yang melihat itu
hanya bisa menghela napas. Kenapa harus dirinya yang menjaga Bintang?
Dia bukan siapa-siapa. Dan kenapa harus Bintang? Aaargh! Sejak bertemu
Bintang, hidupnya seakan menjadi keluar dari orbitnya. Jika dia adalah
sebuah planet dan tata surya adalah hidupnya, maka pastilah tata surya
sudah berantakan.
***
Setelah sampai di depan rumah Felicia, Felicia tidak segera turun. Ia masih duduk di tempatnya dalam diam.
"Kau tahu, lupakan
hal-hal yang membuatmu sedih. Kau sendiri yang memilih, antara ingin
bahagia atau tak bergerak dari kesedihan masa lalumu." Felicia menatap
ke luar kaca mobil. "Melangkahlah maju dan kau akan baik-baik saja."
"Kau tak tahu apa pun.
Diam dan segera turun." Sahut Bintang dengan ketus. Ia merasa terusik
mendengar perkataan Felicia tentang Bulan.
"Karena aku yakin
hidupmu masih lebih beruntung dari pada aku. Kau masih bisa bahagia jika
kau mau mensyukuri yang kau punya." Tambah Felicia.
"Cukup! Cepat turun dan segera masuk!" seru Bintang yang tanpa sadar berteriak pada Felicia.
Felicia menahan napas
ketika mendengar Bintang berteriak. Ini pertama kalinya Felicia melihat
Bintang marah. Biasanya, sekesal apapun Bintang, ia tidak sampai
meninggikan suaranya seperti saat ini. Mungkin ia sudah ikut campur
terlalu jauh.
Tidak ingin melihat Bintang semakin marah, Felicia melepas seat belt-nya dan turun dari mobil. Tak lama setelah ia turun, Bintang segera melajukan mobilnya pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Felicia menghela napas
panjang. Tidak seharusnya ia mencampuri urusan orang lain. Sedekat apa
pun dia dengan Bintang, tidak seharusnya ia memaksakan pemikirannya pada
Bintang. Mungkin ia bisa bertahan dengan pemikiran itu, namun belum
tentu dengan Bintang.
Mengingat bagaimana
reaksi Bintang ketika berada di dekat bulan, ketika Bintang meminta
Bulan untuk duduk, ketika Bintang menanyakan kebahagiaan Bulan, semua
itu sudah sangat jelas bahwa Bulan memiliki tempat yang sangat special
di hati Bintang.
Felicia memukul
kepalanya kesal. "Ck! Lalu kenapa kalau Bulan special di hati Bintang?
Bukan urusanku!" serunya ketika masuk rumah dan menutup pintu dengan
kasar.
***
Emma menoleh ketika
mendengar suara pintu yang menutup dengan keras. Terdengar suara
hentakan kaki yang sudah ia hafal. Siapa lagi kalau bakan langkah kaki
Felicia yang sedang kesal.
"Kenapa Fey?" tanya Emma yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Kak! Kenapa sih pria
itu kepala batu? Huh! Bisanya selalu membuat orang kesal! Bisa darah
tinggi kalau keseringan bersamanya!" Felicia melemparkan tas
selempangnya ke sofa, sedangkan ia sendiri menghempaskan diri di samping
kakaknya.
Mendengar gerutuan kesal
Felicia, mau tak mau Emma tersenyum. Paling tidak adik kesayangannya
ini sekarang menjadi sedikit lebih ekspresif. Tidak seperti dulu, yang
hanya selalu tersenyum tipis setelah ditinggalkan mantan calon suaminya.
"Bintang?" tanya Emma.
"Siapa lagi kalau bukan si pria menyebalkan itu!" gerutu Felicia sambil mencomot keripik di toples yang dibawa Emma.
"Kulihat kau sangat
akrab dengannya. Bahkan ketika kau bersama dengannya dan Rain, kalian
terlihat seperti keluarga bahagia. Akhir-akhir ini jam pulangmu selalu
sama. Kau tidak akan pulang jam delapan malam jika tidak akrab
dengannya." kata Emma menggoda adiknya.
"Kami tidak akrab! Dia hanya orang yang menyebalkan." gumam Felicia.
"Hei, cinta dan benci
itu batasnya hanya setipis kertas." Sahut Emma mengomentari. Tinggal
berdua dengan Felicia membuat Emma begitu memahami adik semata wayangnya
ini. Ayahnya pergi dan ibunya meninggal dua tahun yang lalu.
"Ck! Siapa bilang aku membencinya?" Felicia merebut toples kripik itu dari tangan Emma.
"Jadi, kau mencintainya?" tanya Emma yang langsung membuat gerakan Felicia terhenti.
Cinta? Felicia mencintai
Bintang? Tidak mungkin dan tidak akan! Ia tidak akan membiarkan dirinya
jatuh ke lubang yang sama lagi karena cinta. Karena cinta, ibunya
menderita. Karena cinta, kakaknya menderita. Karena cinta pula ia pernah
menderita.
"Tidak akan!" seru
Felicia menghempaskan toples keripik ke tangan Emma. Ia segera meraih
tasnya dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.
Emma hanya bisa
menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Ia hanya berharap semoga
dengan hadirnya Bintang ini bisa membuat Felicia melupakan masa lalunya.
"Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu, Fey." Gumam Emma.
***
Setelah membersihkan
diri, Felicia bersiap tidur dengan memeluk guling kesayangannya. Ia
tidak bisa tidur jika tidak memeluk guling.
Pikirannya terbayang
pada sosok Bintang yang akhir-akhir ini selalu mengisi harinya.
Bagaimana sikap ketusnya, kata-katanya yang selalu membuat kesal, wajah
kesalnya, dan yang paling menenangkan adalah wajahnya yang tersenyum dan
tertawa di taman karena Rain.
Jika ia bisa tersenyum
dan tertawa, kenapa dia harus memasang wajah kesal? Ck! Dasar
menyebalkan. namun tak dapat dipungkiri bahwa ia mulai merasa nyaman
jika berada di dekat Bintang. Pria itu menjadi menarik, bukan karena
wajahnya atau hartanya. Walau selalu terlihat kesal, tapi dia pria yang
baik. Ia menarik dengan caranya sendiri Sesuai dengan namanya. Bintang.
Ia mempunyai cahaya sendiri.
"Bintang menyebalkan..." gumam Felicia sebelum terlelap hanyut dalam tidurnya.
***
Everyone make
mistakes in life, but that doesnt mean they have to pay for them the
rest of their life. Sometime good people make bad choices. It doesnt
mean theyre bad. It means theyre human.
..+..+..+..+..+..
https://www.wattpad.com/144795299-another-moon-re-part-2
No comments:
Post a Comment