Saturday, November 14, 2015

Another Moon - Part 1

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 1

Apakah patah hati memiliki kadaluarsa? Jika iya, kapan kadaluarsa itu menyapanya hingga ia terbebas dari rasa sakit?

Siang itu ia menghentikan laju mobilnya dan masuk ke sebuah kafe yang sudah hampir dua bulan ini selalu didatanginya, kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Ia masuk dan memilih tempat duduk di samping jendela yang langsung menghadap langit di antara hutan beton. Seperti biasa, ia memesan kopi kental yang pahit. Minuman yang selalu menemaninya sendirian menatap langit. Entah sejak kapan ia menyukainya. Mungkin sejak ia kehilangan separuh hatinya.

Bintang. Ia menepati janjinya untuk tidak muncul di hadapan Bulan dan Reza lagi, meski hatinya berontak ingin tahu apakah anak yang dilahirkan Bulan adalah anaknya atau bukan. Ia menjauh, sebisa mungkin menghindari tempat-tempat di mana ia biasa melihat Bulan. Namun apa daya, hatinya masih tertambat dan terperangkap. Ia belum bisa melepaskan diri dari wanita yang dicintainya sepenuh hati. Ia hanya mampu menatapnya dari jauh, diam dalam bayang.

Sudah hampir dua bulan sejak Bulan melahirkan. Selama dua bulan itu pula Bintang berusaha melupakan perasaannnya. Melupakan cintanya. Melupakan patah hatinya. Menjauhi segala hal yang menjadi sumber rasa sakitnya. Lagipula, Bulan sudah bahagia dengan keluarganya sekarang. Suami yang menerimanya kembali dan dua anak yang lucu. Kehidupan yang sempurna.

Lelaki itu masih memandang ke luar jendela dan dengan pikirannya sendiri, ketika seorang waiters meletakkan cangkir kopinya yang keempat. Ia mengangkat sebelah alisnya dengan bingung ketika akan meraih cangkir kopinya.

"Aku tidak pesan kue." Kata Bintang menatap waiters di depannya.

Waiters itu tersenyum. "Traktiranku karena kau menjadi pelanggan tetap kami. Banana pie."

"Terima kasih. Tapi aku tidak suka manis." Tolak Bintang yang kemudian menyesap kopinya perlahan dan kembali menatap ke luar jendela. Ia berharap pahitnya kopi mampu mengenyahkan lubang tak kasat mata di dadanya.

"Hanya kali ini aku mentraktirmu. Makanlah. Aku yakin perutmu hanya terisi kopi selama beberapa hari ini." tak lama waiters itu pun pergi meninggalkan meja Bintang.

Bintang mendengus. Pasti waiters tadi salah satu dari wanita yang hanya ingin mencari perhatiannya. Dia tidak akan tertipu. Lagipula dia juga belum bisa mengumpulkan remah-remah hatinya yang hancur. Hatinya yang seluruhnya telah ia berikan pada Bulan. Walau pun ia lelaki, tapi ia juga memiliki hati. Ia bisa mencintai. Juga patah hati.

Siapa bilang cinta itu adalah bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia walau tidak bersama kita. Bullshit! Jika memang definisi cinta seperti itu, harusnya ia tidak merasakan sakit seperti sekarang ini. perasaan hampa dan kehilangan.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

"Ya, Ma?" sapa Bintang. Ia mengernyitkan kening ketika mendengar Mamanya berbicara.

"Kenapa harus aku?"

Bintang menghela napas panjang. "Baiklah, aku pergi sekarang. Bye, Ma."

Bintang memutus panggilan dan kemudian pergi setelah membayar tagihannya. Ia meminta banana pie tadi untuk dibungkus dan dibawanya.

***

Gadis itu sedang membereskan kelas yang berantakan karena anak didiknya, ketika dilihatnya seorang anak masih duduk dan bermain di bak pasir. Salah satu anak dari kelas yang diasuhnya. Ia meninggalkan pekerjaannya dan menghampirinya.

Ia berjongkok bersebelahan dengan anak itu. "Rain, apa yang sedang kau lakukan?"

Anak laki-laki itu menoleh dan tersenyum.

"Membuat istana." Rain melanjutkan kegiatannya membangun istana pasir menggunakan ember dan sekop kecil.

"Istanamu bagus." Sahut gadis itu.

"Tentu saja. Aku ingin Mama dan Papa melihat istanaku ini. Pasti hari ini mereka akan menjemputku. Apa Bunda Feyi ingin kubuatkan juga?" Rain menatap gurunya dengan mata berbinar. Ya, namanya Felicia namun anak-anak memanggilnya Bunda Feyi.

"Terima kasih, Rain. Sekarang masuk yuk. Istanamu sudah jadi dan kita akan menunggu Papa dan Mama di dalam." Bujuk Felicia. "Di mana ranselmu?"

"Tapi--"

"Bunda Feyi punya permen dan cokelat. Apa kau mau?" sahut Felicia cepat ketika melihat keengganan dari Rain.

"Mauuu!!" seru Rain melonjak dan langsung memeluk Felicia hingga hampir terjungkal ke belakang. Sebelah lutut Felicia menyentuh pasir untuk menyangga tubuhnya. "Ranselku ada di dekat pintu."

"Wow, ketika kau besar nanti kau pasti jadi pria yang kuat. Kau membuat Bunda Feyi hampir terjungkal." Felicia mengacak rambut Rain yang memeluknya dengan erat.

Rain hanya terkekeh dan menyurukkan wajahnya ke rambut panjang Felicia.

"Permisi," terdengar suara yang membuat Felicia menoleh. "Aku ingin menjemput seseorang."

***

Bintang menatap dua orang di depannya dengan pandangan aneh. Dua orang di depannya sedang berpelukan sambil tertawa-tawa. Gadis itu berambut cokelat panjang, sedang memeluk anak kecil.

"Permisi," Bintang mencoba menarik perhatian keduanya, yang membuat gadis itu menoleh. "Aku ingin menjemput seseorang."

Bintang menatap gadis itu menilai. Gadis itu kecil bila Bintang yang menjadi pembandingnya. Mungil mungkin kata yang lebih tepat. Rambut panjangnya yang lurus membingkai wajah mungilnya dengan sempurna. Mata hitam jernihnya semakin terlihat kekanakan karena poni yang menutupi dahinya. Gadis itu terlihat cantik dan manis secara bersamaan.

Bintang mengerutkan kening untuk mengusir pikirannya barusan. Sepertinya terlalu banyak kopi membuat otaknya bergeser.

Felicia melepaskan pelukan Rain dan berdiri. Ia menggenggam erat jemari Rain yang kini separuh badannya tersembunyi di balik tubuhnya. Dengan flat shoes di kakinya, tubuhnya hanya setinggi bahu Bintang.

"Menjemput seseorang? Siapa? Di sini sudah tidak ada siapa pun." Felicia menjawab dengan tegas dan dengan dahi berkerut. Jangan-jangan pria di depannya ini adalah penculik? Wajahnya terlihat kusut dan menyeramkan.

"Aku ingin menjemput dia." Bintang menunjuk Rain dengan tatapan tak yakin.

Melihat keraguan Bintang, Felicia menegang kaku. "Jangan berbohong! Dia sedang menunggu orang tuanya, dan itu bukan kau." Suara Felicia naik satu oktaf. Ia tidak akan membiarkan orang itu membohonginya. Ia akan menghadang pria itu meskipun ia penculik sadis.

Bintang memijat pangkal hidungnya dan menghela napas panjang. "Aku benar-benar diminta untuk menjemput anak ini." jawab Bintang meyakinkan gadis di depannya dan juga dirinya sendiri.

Ia yakin anak laki-laki ini yang diminta Mamanya untuk dijemput, karena gadis di hadapannya ini tadi bilang bahwa semua anak sudah pulang dan tinggal anak ini yang menunggu orang tuanya.

"Kau pasti ingin menculik anak ini kan?" Felicia berkacak pinggang dengan berani, sedangkan Rain bersembunyi di belakangnya dan memeluk dengan erat. "Aku tak akan tertipu!"

Bintang melengos mendengar tuduhan itu. "Felicia," panggilan Bintang membuat Felicia mengernyit. Ia mengetahui nama Felicia dari name tag di bajunya. "Aku bukan penculik." Kata Bintang tegas.

Sosok gadis cantik dan juga manis tadi menguap. Bintang merasa menyesal telah menilai gadis di hadapannya ini terlalu tinggi. Yang ada di hadapannya kini hanyalah seorang gadis bar-bar yang menyamar menjadi guru TK.

"Aku tidak akan termakan kata-katamu." Kata Felicia melipat lengannya di depan dada.

"Kau tidak percaya?" tanya Bintang.

Felicia menggeleng tegas.

Bintang mengeluarkan penselnya dan menghubungi mamanya. "Ini!" Bintang menyerahkan ponselnya pada Felicia.

Felicia mengernyit namun tetap menerima ponsel itu. "Halo," sapanya dengan ragu.

"Saya Felicia. Guru Taman Kartika, kelas Matahari." Felicia tampak mendengarkan. "Oh, begitu. Baik, terima kasih." Felicia menutup telepon dan mengembalikannya.

"Apa katanya?" tanya Bintang tajam.

"Nenek yang akhir minggu lalu mengantar Rain bilang bahwa Bintang akan datang menjemput." Felicia  menjawab dengan nada tak bersalah yang membuat Bintang melotot.

"See?" Bintang mendengus kesal. "Apa perlu kutunjukan KTP-ku kalau namaku Bintang, dan aku bukan penculik?" Ia menatap Felicia dengan tajam dan suara yang meninggi karena moodnya anjlok seketika.

"Bukan salahku. Itu salahmu kenapa tiba-tiba datang dan bilang ingin menjemput Rain." Felicia membalas karena tidak terima ia yang disalahkan.

"Kau--!"

Terdengar suara isakan kecil dari balik tubuh Felicia, yang membuat Felicia dan Bintang menoleh.

Dengan sigap Felicia berbalik dan berjongkok memeluk Rain. Rain langsung mengalungkan lengannya ke leher Felicia dan menyembunyikan wajahnya sambil masih terisak.

"Rain kenapa?" tanya Felicia yang suaranya berubah melembut. Bintang mendengus melihat perubahan itu.

Rain mengambil napas dan mengusap air matanya. "Rain takut Om itu. Om itu jahat ke Bunda Feyi."
Felicia tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Rain pelan. "Kenapa Rain bilang Om itu jahat ke Bunda Feyi?"

Kata-kata Felicia membuat Bintang menatapnya tajam.

"Om itu berteriak ke Bunda Feyi." Kata Rain memundurkan tubuhnya untuk menatap Felicia.

Felicia tertegun dengan apa yang diucapkan Rain. "Rain masih mau permen?" tanya Felicia mengalihkan pembicaraan.

"Dan cokelat." Jawab Rain malu-malu.

Hal itu membuat Felicia tertawa dan memegang kedua pipi Rain dengan gemas. "Kalau begitu jangan menangis lagi. Kau lebih tampan kalau tersenyum."

Felicia berdiri dan menggandeng tangan Rain. Ia mengambil ransel Rain di dekat pintu depan, kemudian masuk ke ruang untuk guru dengan Bintang mengikuti di belakangnya.

"Tunggu di sini."  kata Felicia mendudukkan Rain di kursi panjang tak jauh dari pintu ruang guru.

Tak lama, Felicia kembali dengan membawa sebuah permen lollipop dan dua cokelat. "Ini untuk Rain. Sekarang Rain pulang sama Om Bintang, ya?"

Felicia berjongkok di depan Rain yang menggeleng, sedangkan Bintang berdiri bersandar di daun pintu.
"Kenapa?" tanya Felicia dengan lembut.

"Rain mau pulang sama Bunda Feyi." Kata Rain menunduk dan memegang lengan kemeja Felicia.

Felicia melepas tangan Rain dari kemejanya. Sambil menggenggam tangan Rain, Felicia tersenyum dan mencoba memberi pengertian. "Kan Bunda Feyi harus beres-beres kelas dulu. Kalau tidak, besok kelasnya tidak bisa dipakai."

"Kalau gitu Rain bantu." Rain meloncat turun dari kursi dan menggandeng tangan Felicia, sedangkan tangan satunya membawa permen dan cokelat.

Sambil menggandeng tangan Felicia, Rain berjalan dengan cepat menuju ruang kelasnya. Ia meletakkan permen dan cokelatnya di salah satu meja kemudian mulai merapikan mainan yang ada di rak.

Walaupun anak-anak sudah mengembalikan apa yang tadinya di ambil kembali ke tempatnya, tetap saja ada beberapa yang masih berantakan. Selain itu meja dan kursi juga kurang rapi.

Felicia merapikan rak di sisi yang lain sambil tersenyum. Melihat Felicia dan Rain sibuk sendiri, Bintang menghela napas. Mau tak mau ia juga harus ikut membantu kalau ingin cepat pulang dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Ia merapikan semua meja dan kursi hingga rapi.

***

Felicia langsung melompat turun begitu mobil berhenti.

"Hei!" seru Bintang menahan kesal. Dilihatnya Felicia langsung menghambur masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikannya, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih. "Dasar gadis kasar yang menyebalkan! Tidak ada manis-manisnya sama sekali!" gerutu Bintang kemudian memacu mobilnya pulang ke rumah.

"Sudah kau antarkan sampai rumahnya?" tanya mama Bintang sambil meletakkan secangkir teh ketika puteranya masuk ke rumah.

"Ma, Bintang yang jadi korban, tapi kenapa Mama malah membela dia sih?" sungut Bintang yang mehempaskan tubuhnya di sofa depan mamanya.

"Memang kamu yang salah kan? Mengambil kesempatan dalam kesempitan?" goda mamanya yang membuat wajah Bintang semakin keruh.

"Ya ampun, Ma, tadi Bintang hanya menahannya supaya tidak terjatuh!" kata Bintang membela diri.

"Tetap saja, kan?"

"Sudahlah! Sekarang jelaskan ke Bintang, siapa Rain?" Bintang melipat lenganya di depan dada, masih kesal dengan kejadian hari ini.

Mama Bintang hanya tertawa. "Rainfal itu cucu teman mama, orang tuanya sangat sibuk bekerja hingga dia selalu bersama Eyangnya. Tiga hari ini teman Mama itu harus opname untuk cek kesehatan secara keseluruhan."

"Rainfall?"

"Rainfal! Aduh, telingamu ini!" gerutu Mama Bintang. "Ya sudah, bersihkan badanmu kemudian istirahat."

"Tapi kenapa Bintang tidak tahu kalau Rain di sini?" tanya Bintang yang keningnya sudah berkerut bingung.

"Tentu saja kau tidak tahu, kau berangkat kerja pagi sekali dan selalu pulang larut." Mama bangkit meninggalkan Bintang untuk kembali ke kamarnya.

***

Felicia menatap langit-langit kamarnya dengan kesal. "Pria menyebalkaaan!!" serunya sambil menekan wajahnya dengan bantal.

Felicia mengingat harinya tadi yang menurutnya teramat sangat sial.

Rain hanya ingin ikut pulang dengan Bintang jika Felicia ikut bersamanya. Akhirnya dengan terpaksa dan sedikit debat, Felicia pun ikut mobil Bintang dan menemani Rain pulang. Bintang menatap Felicia dengan tatapan tidak suka ketika Felicia dan Rain duduk di bangku belakang. Jadilah bangku depan ditempati oleh kotak berisi banana pie.

"Siapa pun, pindah ke depan!" seru Bintang dengan geraman tertahan. "Aku bukan sopir kalian!"

Namun Felicia dan Rain hanya bergeming, tak bergerak. Bahkan terlihat tidak peduli dengan Bintang yang menahan kesal. Ia menghela napas panjang dengan kesal. Bersama dua orang ini bisa membuat umurnya berkurang.

Rain tidak mau duduk di depan yang bersebelahan dengan Bintang, tapi Rain juga tidak mau duduk sendiri di belakang karena aura Bintang yang mengintimidasi. Daripada melihat Rain menangis, lebih baik dia duduk bersama Rain di bangku belakang, itu yang Felicia pikirkan.

Setelah sampai dan menyerahkan Rain pada mama Bintang, Felicia pamit pulang, namun mama Bintang memintanya menemani Rain dulu karena ia sedang memasak.

"Tolong temani Rain dulu ya, Nak Feli." Mama Bintang meminta dengan wibawa seorang ibu yang tidak bisa ditolak oleh Felicia.

"Iya Tante." Felicia memanggilnya tante karena mama Bintang yang memintanya.

Akhirnya Felicia menemani Rain bermain, berceloteh, dan makan banana pie yang tadi dibawa oleh Bintang.

Rain anak yang aktif dan ceria, namun perasaannya sangatlah sensitif. Bintang duduk di depan televisi karena ia dilarang ke kamar oleh mamanya.  Felicia dan Rain bermain puzzle bergambar transportasi di atas karpet tak jauh dari tempat Bintang duduk.

Telalu asyik bermain dengan Rain, Felicia tidak sadar bahwa hari sudah gelap dan saatnya makan malam. Mau tak mau Felicia ikut makan malam bersama keluarga Bintang baru kemudian diantarkan Bintang untuk pulang.

Setelah selesai makan malam, Felicia membantu membereskan meja makan. Ketika ia bangkit, kakinya terantuk kaki kursi yang didudukinya.

Melihat dia yang hampir terjungkal, Bintang refleks berdiri dan meraih tubuhnya supaya tidak jatuh. Namun bukan itu yang membuat Felicia marah dan juga malu, tapi tangan Bintang yang tak sengaja menyentuh dadanya ketika menahan tubuhnya. Felicia langsung melepaskan diri dan menendang tulang kering Bintang hingga berteriak kesakitan.

"Aaarrgh! Bintang sialaaan!!" seru Felicia yang menelungkup sambil menghentakkan kedua kakinya di ranjang.

***

Sometimes we need to forget some people from our past because of one simple reason; they just don't belong to our future.
..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144794591-another-moon-re-part-1


No comments:

Post a Comment