Saturday, November 14, 2015

Another Moon - Part 4

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 4

Setiap hari Minggu pagi, Felicia selalu menghabiskan waktunya untuk membersihkan rumah. Ia bangun pagi untuk menyapu dan mengepel dalam rumah, menyapu halaman, dan merawat sedikit bunga-bunga yang ada di halaman kecilnya.

"Bunda Feyiii!!!"

Felicia sudah sangat hafal siapa pemilik suara itu. Anak laki-laki yang selama seminggu ini hampir selalu bersamanya.

"Halo, Rain." Sapa Felicia meletakkan sekop tanamannya. Ia melepaskan sarung tangan kemudian mencuci tangannya.

"Selamat pagi, Bunda." Seru Rain dengan sumringah.

"Selamat pagi juga." Jawab Felicia membalas senyum Rain.

"Ehem!"

Felicia juga sangat mengenali dehaman itu. Siapa lagi kalau bukan Bintang si pria menyebalkan? Rasa-rasanya pria itu terlalu sering berdeham padanya sebelum mengucapkan sesuatu. Pasti tenggorokannya terasa tidak nyaman hingga berdeham. Mungkin dia bisa memberikan permen pelega tenggorokan untuk pria itu.

"Ada apa?" Sapa Felicia ramah.

Bintang menatap Felicia ragu. "Apa kami mengganggu?" Tadi ia melihat Felicia menghentikan kegiatannya dan mencuci tangan sebelum akhirnya menemuinya dan Rain.

"Tidak juga." Felicia mengedikkan bahu. "Hanya tidak menyangka."

"Tadi Rain bilang dia ingin bertemu denganmu." Jawab Bintang memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.

Rain? Memangnya dirimu tidak? Dasar tidak jujur. Kenapa sulit mengatakan yang sesungguhnya di depan gadis ini, hah? Katakan saja kalau kau juga ingin bertemu. Ck!

Felicia mengerutkan kening. Ia menyejajarkan dirinya dengan Rain. "Ada apa, Rain?"

"Ini hari Minggu, Rain mau ajak Bunda Feyi main." Jawab Rain dengan polosnya. Karena setiap hari bertemu dengan Felicia, ia merasa ada yang kurang ketika tidak bertemu di hari Minggu.

"Main? Main ke mana?" Tanya Felicia mendongak menatap Bintang.

Bintang hanya mengangkat bahu tanda ia tidak tahu. Ia tidak tahu sama sekali tentang rencana Rain yang mengajaknya bertemu Felicia untuk pergi bermain. Ia mengira mereka hanya akan menghabiskan waktu di rumah Felicia.

"Memangnya Rain mau ke mana?" Tanya Felicia menatap Rain dengan lembut untuk menyembunyikan keterkejutannya.

"Emm..." Rain terlihat berpikir. "Tidak tahu." Rain menggelengkan kepalanya bingung.

Melihat Rain yang bingung membuat Bintang dan Felicia ikut mengerutkan kening. Bingung.

"Rain masuk rumah dengan Om Bintang ya? Bunda Feyi mau menyelesaikan merawat bunganya dulu." Kata Felicia menunjuk ke dua pot terakhir yang belum diurusnya. "Setelah Bunda Feyi selesai, baru kita pergi."

Felicia mengangguk pada Bintang, memberi isyarat untuk duduk di dalam rumah. Bintang yang sejak tadi berdiri kemudian mengucapkan terima kasih, lalu melangkah ke teras dan duduk di sana.

"Madu untuk kupu-kupu?" Tanya Rain ingin tahu.

"Yep, makanan kupu-kupu." Felicia tersenyum pada Rain. Ia tak menyangka Rain akan mengingat penjelasan darinya.

"Rain ikut!!" Seru Rain bersorak seakan ia mendapat hadiah.

"Eits, no no no!" Sambil tersenyum, Felicia menggoyangkan telunjuknya di hadapan Rain. "Nanti bajumu kotor."

Sebenarnya bukan tidak boleh, hanya saja Felicia tidak punya pakaian anak-anak. Jika saja ia punya, ia tidak akan berpikir dua kali untuk memperbolehkan Rain ikut bermain tanah dengannya.

Dengan memperbolehkan Rain bermain tanah bersamanya, Rain akan mampu menangkap lebih banyak pelajaran yang ia dapatkan langsung dari praktek, dibandingkan hanya melihat atau hanya penjelasan.
Felicia menghela napas dan tersenyum. Mungkin lain kali.

"Rain mau ikut Bunda Feyi." Bibir Rain mencebik kecewa karena tidak diperbolehkan.

"Rain boleh ikut Bunda Feyi, tapi hanya melihat. Oke?" Tanya Felicia bernegosiasi.

Rain mengangguk berjanji dan mengikuti Felicia di belakangnya. Mengamati semua yang dilakukan guru kesayangannya itu dengan penuh rasa ingin tahu.

***

Bintang menghentikan mesin mobilnya. Sedetik setelah ia melepas kunci otomatis pintu mobil, anak laki-laki di sebelahnya langsung membuka pintu dan melompat turun.

"Bunda Feyiii!!!" Seru Rain yang membuatnya terkekeh.

Bintang mengunci mobil dan mengikuti Rain menghampiri Felicia. Dilihatnya gadis itu mengenakan kaos lengan panjang yang terlihat kebesaran di tubuhnya, dan dipadukan dengan celana pendek sepaha. Gadis itu terlihat sederhana dan cantik. Bila dengan pakaian kerjanya ia terlihat cantik, maka kali ini lebih cantik. Rasanya seperti menemukan tempat berteduh di bawah terik matahari.

Di teras rumah ada meja kecil yang diapit oleh satu kursi single dan satu kursi panjang. Bintang duduk di kursi panjang menunggu Felicia menyelesaikan mengurus pot bunganya. Dari teras, ia melihat Rain yang berjongkok di sebelah Felicia, pertanyaan-pertanyaan penuh ingin tahu selalu meluncur begitu saja dari bibir mungilnya. Felicia selalu menjawab pertanyaan Rain dengan sabar dan selalu tersenyum.

Bintang tak sadar Felicia telah selesai dengan tanamannya, sampai Felicia ada dihadapannya.

"Tunggu sebentar, aku mandi dulu." Kata Felicia kemudian meninggalkan Rain dan Bintang.

"Kok Om Bintang tidak tahu kalau kita mau pergi main?" Tanya Bintang yang mengangkat dan mendudukkan Rain di sebelahnya.

"Rain cuma ingin sama Bunda Feyi." kata Rain tersenyum polos. "Memangnya Om Bintang tidak mau sama Bunda Feyi?"

Bintang melongo mendengar Rain. Pertanyaan macam apa itu? Dirinya mau sama Bunda Feyi atau tidak? Ya ampun, dia baru tahu kalo Rain juga punya simpanan pertanyaan aneh seperti itu.

"Memangnya Bunda Feyi mau mengajak Rain ke mana?" Tanya Bintang mengabaikan pertanyaan Rain tadi.
Rain menggeleng.

Bintang pikir Felicia sudah memberitahu Rain ke mana mereka akan pergi. Fiuh, sepertinya hari ini akan jadi hari yang panjang.

***

Felicia menatap lemari pakaiannya dengan bingung. Apa yang harus dipakainya?

Ia mengingat Bintang. Pria itu mengenakan celana jins hitam panjang dan polo shirt berwarna hijau army, memperlihatkan dadanya yang bidang dan lengannya yang berotot.

Keputusan akhirnya jatuh pada dress sederhana tanpa lengan, potongan leher yang menutupi tulang selangkanya, dan mengembang jatuh tepat di lututnya. Dress berwarna kuning gading dengan corak bunga di bawahnya, dan sulur melintang hingga ke dada itu terlihat manis dan anggun di tubuh Felicia.

Setelah selesai, Felicia mengunci pintu dan menghadap ke dua laki-laki yang sedang menatapnya tanpa bekedip. Ia mengernyit bingung. Apakah telihat aneh?

"Bunda Feyi cantik!" Seru Rain memecah suasana.

Felicia tersenyum. Sepertinya dress pilihannya tidak salah. "Terima kasih."

"Ehem!" Bintang sudah menemukan suaranya lagi. "Jadi, sekarang kita ke mana?"

"Kalian sudah makan?" Tanya Felicia. Ia yakin dua orang di depannya ini belum makan. Mereka datang sangat pagi. Pukul setengah delapan!

"Belum!" Seru Rain dengan semangat, sedangkan Bintang hanya mengedikkan bahu, seakan mengatakan 'mau bagaimana lagi'.

Felicia heran melihat Rain. Energinya selalu ada bahkan saat dia belum makan. "Kalau begitu, ayo!"

Bintang duduk di kursi kemudi dan Felicia duduk di sebelahnya. Semenjak Rain mulai nyaman dengan Bintang, ia tidak masalah duduk sendiri di belakang.

"Perempatan di depan nanti belok kiri." Felicia mengarahkan Bintang. "Nanti ada plang Go Green, nah di sana."

Bintang mengemudikan mobilnya sesuai petunjuk Felicia. "Supermarket?" Tanyanya tak yakin.

Felicia mengangguk. "Ayo turun."

***

Felicia mengambil beberapa sayuran, tepung, cokelat, biskuit, sereal, susu, keju, mentega, gula, dan masih banyak lagi.

Bintang hanya mengikuti Felicia dari belakang sambil menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Rain yang ada di gendongannya. Ia tidak mau Rain hilang di supermarket, walaupun Rain sudah berjanji tidak akan melakukannya. Tapi mencegah lebih baik daripada mengobati, kan?

Ia tertegun melihat Felicia yang selalu melihat bagian komposisi di balik kemasan. Felicia juga hanya mengambil yang diperlukan. Katanya, supaya bahan-bahan yang akan dibuat makanan itu masih dalam keadaan baik.

Ketika berjalan ke antrian kasir, Felicia menepuk dahinya.

"Ada apa?" Tanya Bintang.

"Aku lupa membeli stroberi dan tomat. Bisa tunggu di sini sebentar?" Felicia meminggirkan belanjaannya supaya tidak menghalangi jalan.

"Biar aku saja, kau tunggu di sini."

"Secukupnya saja."

Bintang mengangguk kemudian berlalu dari hadapan Felicia masih dengan menggendong Rain. Sedangkan Felicia mengantri di kasir.

Sudah hampir giliran Felicia ketika Bintang dan Rain kembali. Ia sedang meletakkan belanjaannya di meja kasir. Felicia mengangkat sebelah alisnya ketika melihat apa yang dibawa Bintang. Stroberi dan tomat pesanannya, kemudian anggur, apel, yogurt, dan es krim.

Felicia menatap Bintang meminta penjelasan. Bintang hanya terkekeh.

"Ketika aku mengambil anggur, Rain ikut meminta apel. Dan ketika aku mengambil yogurt, dia meminta es krim." Jelas Bintang tak bisa menyembunyikan kekehannya.

"Cuma satu, Bunda. Ya ya ya?" Rain menata Felicia dengan tatapan penuh harap.

"Hanya satu." Jawab Felicia mengalah. Ia menghela napas. Salahnya juga yang selalu membawa Rain ke kafe untuk makan es krim. Walau anak itu sangat menyukai es krim, tidak seharusnya ia terlalu sering memakannya.

"Wah, anaknya lucu." Cetetuk ibu yang mengantri di belakang Felicia.

Gerakan Felicia yang mengeluarkan belanjaan dari keranjang belanja terhenti. Wajahnya bersemu, dan Bintang bisa melihat itu.

Melihat wajah Felicia yang memerah, Bintang langsung menyahut. "Bukan, Bu. Ini keponakan saya."

"Wah, berarti kalian pengantin baru ya?" Pernyataan ibu itu sukses membuat wajah Felicia semakin merah padam. "Semoga keponakannya bisa jadi pancingan dan cepat dapat momongan ya."

Bintang hanya bisa tersenyum. Tidak tahu harus mengatakan apa. Sedangkan Felicia pura-pura membaca rincian di layar monitor yang bertuliskan belanjaannya.

Kasir menyatakan nominal jumlah yang harus dibayar. Saved by the bell.

"Bayar pakai ini saja." Seru Bintang menyerahkan kartunya pada penjaga kasir.

"Tidak, punyaku saja." Sahut Felicia mengulurkan kartu miliknya.

Bintang menahan tangan Felicia dan menggeleng. "Simpan saja kartumu." Katanya dengan nada yang tak ingin dibantah.

Bintang hanya ingin keluar dari supermarket tanpa harus berdebat dengan Felicia lebih dulu. Ingin segera menyingkir dari tatapan kagum dan sumringah dari ibu-ibu yang mengantri di belakang Felicia.

"Ayo." Seru Bintang mengajak Felicia bergegas setelah pembayaran selesai. Sebelah tangan menggendong Rain, dan sebelahnya lagi membantu membawa kantong belanjaan Felicia.

Di mobil, Bintang tidak segera mengemudikan mobilnya. Ia duduk menyandar dan memejamkan matanya. Mengingat kata-kata ibu tadi membuat hatinya menghangat.

"Bintang?" Tanya Felicia.

Bintang membuka matanya dan menoleh. Ia melihat kekhawatiran di sana. Mungkin lebih tepatnya dia berhalusinasi melihat Felicia khawatir pada dirinya.

"Apa?" Felicia merasa aneh diperhatikan Bintang seperti itu.

Bintang menggeleng. "Ayo pulang." Katanya kemudian menyalakan mesin.

Bintang dengan pikirannya, Felicia dengan pertanyaan tak terucapnya, dan Rain yang sibuk dengan es krimnya.

***

"No! Kalian tidak boleh masuk ke dapur lagi." Seru Felicia berkacak sebelah pinggang. Ia meletakkan sebuah piring buah di meja ruang tengah. "Sekarang cuci muka dan duduk manis di sini."

Setelah meletakkan piring, dan kembali ke dapur dengan mengomel, Felicia melanjutkan lagi pekerjaannya. Rain dan Bintang yang melihat itu hanya masuk ke kamar mandi dengan terkekeh.

Bintang tersenyum. Harum vanilla. Aroma yang sama dengan Felicia. Pikirannya beralih pada Felicia yang mengenakan apron cokelat dengan aksen kotak-kotak di bawahnya, rambut panjangnya digelung ke atas. Cantik.

Ia menggelengkan kepalanya dan segera membersihkan wajah dan tangan Rain yang terkena adonan puding.

"Handuk ada di rak atas wastafel!" Seru Felicia dari dapur.

Bintang mengambil handuk dan mengeringkan rambut Rain yang sudah dicucinya. "Bisa lanjutkan sendiri? Om juga mau bersih-bersih." Kata Bintang sambil menunjuk wajah, rambut, dan bajunya yang sudah penuh dengan tepung.

Rain mengangguk dan keluar kamar mandi. Ia memilih duduk menonton televisi di ruang tengah sambil memakan potongan apel yang tadi diletakkan Felicia.

Bintang lebih memilih untuk mandi karena seluruh tubuhnya lebih kotor dari Rain. Awalnya mereka hanya ingin membantu Felicia, tapi entah sejak kapan berubah jadi bermain tepung.

Felicia yang melihat dapurnya berantakan segera mengusir Rain dan Bintang yang mengganggunya membuat puding. Biasanya Felicia bisa membuat puding dengan cepat, tapi karena Rain dan Bintang, membuatnya memakan waktu lebih lama.

Setelah dari supermarket tadi, Felicia memang sengaja pulang ke rumah untuk memasak karena Rain dan Bintang bilang mereka belum sarapan. Felicia juga belum. Lagipula mereka juga tidak tahu harus ke mana.

Felicia baru saja selesai memasak sop ayam dan sedang menggoreng ikan ketika mendapati Bintang yang melangkah ke dapur mencari gelas. Ia terbiasa minum segelas air mineral setelah mandi.

Ia terkejut melihat Bintang hanya dengan kaos tanpa lengan yang menempel lekat di tubuhnya. Memperlihatkan garis-garis otot liat yang terbentuk di sana. Sebelah tangan Bintang mengeringkan rambutnya dengan handuk.

"Aww!" Felicia berseru tertahan karena tangannya terciprat minyak dari ikan di penggorengan.

Bintang segera meraih tangan Felicia tempat cuci piring dan mencucinya di bawah air keran yang mengalir.

"Ck! Ceroboh!" Hanya itu yang diucapkan Bintang pada Felicia.

"Bajumu--"

"Kotor." Sahut Bintang singkat.

Felicia menahan jantungnya yang berdegub lebih cepat dari biasanya, berharap Bintang tidak mendengarnya. Posisi Bintang yang menempel sangat dekat di sebelah membuatnya sulit bernapas. Padahal Bintang hanya memegang tangannya dan mencucinya.

"Kau obati lukamu saja biar aku yang menggoreng ikannya." Kata Bintang menutup keran.

"Memangnya kau bisa?" Tanya Felicia yang dalam suaranya kentara sekali bahwa ia tak yakin.

"Yang penting bisa dimakan. Sudah sana!" Seru Bintang yang fokus dengan penggorengan di depannya.

Felicia mengambil salep untuk luka bakar dan mengolesi lukanya dengan bibir mengerucut kesal. Dasar tukang paksa!

Tanpa Felicia tahu kalau Bintang melakukan itu untuk menjauhkan Felicia dari dirinya. Ia tidak ingin Felicia mendengar degub jantungnya yang bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya hanya dengan berdiri sangat dekat dengan gadis itu.

***

Setelah makan, Felicia, Bintang, dan Rain duduk di ruang tengah sambil makan puding karamel yang tadi dibuatnya. Rain dan Bintang dengan toping anggur dan madu, dan Felicia dengan lelehan cokelat dan stroberi.

Rain menatap Bintang yang sedang meneguk yogurt dari botolnya dengan wajah penasaran. Bintang menatap Rain dengan alis terangkat.

"Rain mau yogurt?" Tanya Bintang membuat Rain mengangguk antusias. "Biar Om ambilkan."

"Tunggu!" Sergah Felicia ketika melihat Bintang hendak bangkit dan mengambil yogurt di kulkas.

Felicia mengambil sendok puding milik Rain dan meraih botol yogurt yang digenggam Bintang. Bintang hanya menaikkan sebelah alisnya bingung.

"Ayo Rain aaaa dulu." Pinta Felicia menyodorkan sendok yang telah dituang yogurt.

Dengan semangat, Rain membuka mulutnya dan menelannya dengan cepat. Wajah Rain mengkerut masam. "Asaaam!"

Felicia dan Bintang terkekeh.

"Mau lagi?" Tanya Felicia yang disahut dengan gelengan Rain cepat. Felicia menyendok pudingnya dan memberikannya pada Rain. "Ini manis."

Rain membuka mulutnya kemudian tersenyum karena menyukainya. Felicia menyuapkan pudingnya pada Rain hingga habis tak tersisa.

Felicia membereskan handuk yang tadi dipakai Rain dan Bintang, kemudian mengumpulkan piring puding dan gelas minum mereka yang sudah kosong untuk dibawa ke tempat cucian. Setelah selesai mencuci, ia mengeluarkan dua toples bersih lalu memasukkan biskuit dan sereal ke dalam toples yang berbeda. Ia membawa dua toples itu ke meja ruang tengah.

"Cemilan sehat." Kata Felicia tersenyum ketika melihat wajah Bintang penuh tanya.

"Tadi buah, sekarang biskuit dan sereal, eh?" Tanya Bintang tersenyum miring. "Benar-benar sehat."

Felicia hanya terkekeh dan mengambil tempat duduk persis di sebelah Bintang. Rain tidur dengan kepala di pangkuan Bintang dan kakinya menjulur di sisi Bintang yang lain.

Sejenak mereka berada di situasi canggung.

"Ehem, Emma di mana?" Tanya Bintang membuka percakapan.

"Kak Emma di kafe, menggantikan temannya yang sakit." Jawab Felicia mengambil toples sereal dan memakannya.

"Oh," Bintang bingung harus berkata apa. "Orang tuamu?"

Felicia mengangkat bahu. "Tidak ada."

Bintang merasa sudah mengungkit topik yang sensitif. "Maaf, kami jadi mengganggu hari liburmu."

"Tidak apa, bersama Rain sangat menyenangkan." Jawab Felicia tersenyum. Bersamamu juga.

"Pacarmu tidak datang? Aku takut kalau kami mengacaukannya." Tanya Bintang. Ia penasaran. Tak pernah sekalipun Felicia membicarakan pria siapa pun itu.

Felicia menggeleng. "Tidak ada."

Bintang terdiam. Ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia menghela napas panjang. "Rasanya hidupku berantakan." Bintang mendongak menatap langit-langit. "Bertahun-tahun mencintai seseorang, mempercayakan hatimu padanya, tapi kemudian kau menemukan hatimu hancur terserak.

Tapi kau mengajarkan padaku bagaimana caranya untuk bisa menyatukannya lagi melalui remahan biskuit. Kau juga mengajarkanku untuk bahagia. Mengubah pahitnya kenangan menjadi menyenangkan dengan kopi susu." Ia menoleh ke arah Felicia dan tersenyum.

"Bukan aku. Kopi susu itu kau sendiri." Sergah Felicia.

"Tapi tetap saja semua berkat dirimu." Jawab Bintang tanpa sadar mengelus rambut Rain dan membuat Rain terbangun.

"Om Bintang?" Gumam Rain yang langsung melihat Bintang ketika membuka matanya. Ia bangun dan duduk di sofa dengan terkantuk-kantuk.

Bintang terkekeh melihat Rain. "Sepertinya kami harus pulang. Rain butuh tidur siang." Ia melirik arlojinya yang hampir menunjukkan pukul satu.

Felicia ingin sekali menyarankan supaya Rain tidur di kamarnya, tapi ia urungkan. Bintang benar. Untuk anak seumuran Rain, tidur siang itu penting. Sedangkan selama seminggu bersamanya, Rain tidak pernah tidur siang.

Bintang menggendong Rain, meletakkannya di kursi depan dan memasang seat belt-nya. Ia tidak langsung pergi, namun mendekati Felicia untuk berpamitan.

"Sampai jumpa hari Senin. Hati-hati di rumah." Tanpa berpikir, Bintang langsung mengecup pipi Felicia dengan cepat dan segera berlari kembali ke mobil. Gadis itu terkesiap.

Felicia yang sudah kembali dari keterkejutannya langsung berteriak kesal. "Bintaaaaang!! Dasar menyebalkan!"

Mendengar itu, Bintang hanya terkekeh kemudian melajukan mobilnya pulang ke rumah.

***

Sore itu Bintang masih terlelap di kamarnya ketika Rain menyerbu masuk dan membangunkannya dengan ekstrim.

"Om Bintaaang!!" Seru Rain melompat dan menindih Bintang yang tengkurap. "Nenek bilang Om Bintang harus bangun dan menjemput Bunda Feyi!"

"Ugh!"

Bintang menarik Rain yang mengganggu tidurnya hingga rebah, kemudian menggelitiknya tanpa ampun. Rain yang digelitik pun hanya bisa tertawa terpingkal-pingkal, pasrah.

"Bilang pada nenek kalau Om Bintang sedang mandi." Bintang segera masuk ke kamar mandi, sedangkan Rain keluar kamarnya berlari menemui mama Bintang.

Mama Bintang sedang memasak ketika Bintang turun dari kamarnya. Bintang segera ke dapur dan mencium pipi mamanya. Ia tidak melihat Rain di dapur, jadi kemungkinan dia sedang di ruang tengah.

"Ada apa, Ma?" Tanya Bintang sambil mencomot nugget yang ada di piring saji.

"Jemput Felicia untuk makan malam bersama." Kata mama Bintang memukul tangan puteranya yang asal comot.

"Untuk apa?"

Mama Bintang menatap tajam puteranya. "Jangan banyak tanya! Tinggal bilang iya saja kok susah!" Gerutunya.

"Kalau begitu Bintang menolak." Kata Bintang. Bukan benar-benar menolak, tapi ia ingin tahu apa alasannya.

"Ck, dasar! Besok Selasa pagi, eyangnya Rain akan menjemput. Teman Mama itu bilang kalau besok Selasa orang tua Rain akan pulang dari luar kota." Mama Bintang menjelaskan sambil tetap fokus pada masakannya.

"Kan Felicia masih bisa bertemu Rain di sekolah, Ma."

"Itu kalau orang tua Rain tidak membawa Rain bersama mereka. Tapi sepertinya, orang tua Rain ingin mereka tinggal bersama." Sahut mama Bintang. Ia tidak tahu kalau jawabannya itu membuat puteranya sedikit kecewa.

"Jadi sepi dong. Bilang ke tante Ma, biar cucunya di sini dulu selama seminggu lagi." Bintang mencoba merayu mamanya. Ia sudah terlanjur nyaman dengan kehadiran Rain.

"Makanya nikah sana! Umurmu sudah cukup untuk berumah tangga dan punya anak." Jawab mamanya dengan polos.

Sepertinya Bintang salah topik. "Bintang jemput Felicia dulu!" Seru Bintang bergegas keluar dapur untuk menghindar.

Di ruang tengah, Bintang melihat televisi menyala. Ia kira Rain sedang menonton, tapi ia salah. Rain yang membelakanginya sedang berkutat dengan sesuatu.

"Rain sedang apa?" Tanya Bintang ingin tahu. Ia penasaran.

Rain mendongak dan tersenyum lebar. "Ini!" Ia menunjukkan gambarnya di kertas hvs.

"Apa yang Rain gambar?"

"Ini Rain, Mama, dan Papa!" Rain menunjukkan gambarnya yang sudah jadi. "Ini Rain, Bunda Feyi, dan Om Bintang!" Seru Rain menunjukkan gambar yang sedang ia warnai.

Bintang tercengang. Melihat gambar Rain membuatnya tersentuh. Bukan bagus tidaknya gambar itu, namun karena di mata Rain ia memiliki sedikit arti. Semoga, jika Rain benar akan pindah dan tinggal bersama orang tuanya, ia tidak akan melupakan Bunda Feyi-nya dan Bintang.

"Sudah selesai?"

Rain mengangguk.

"Mau ikut Om Bintang menjemput Bunda Feyi untuk makan malam?" Tanya Bintang menggoyangkan kunci mobil di hadapan Rain.

Rain tersenyum lebar dan dengan bersemangat menarik Bintang untuk segera sampai ke mobil.

"Rain ingin bertemu mama dan papa?" Tanya Bintang ketika mobil melaju ke rumah Felicia.

Rain mengangguk. "Rain kangen! Rain sayang mama papa!" Serunya tersenyum lebar.

"Kalau Om Bintang dan bunda Feyi?"

"Rain sayang bunda Feyi!" Rain menjawab dengan semangat.

"Hanya bunda Feyi? Om Bintang tidak?" Bintang merajuk. Baru kali ini ia bersikap seperti itu. Ia sendiri terkejut bisa merajuk, pada Rain pula!

Rain tertawa. "Rain sayang Om Bintang, tapi lebih sayang bunda Feyi."

Bintang terkekeh mendengar penuturan Rain. Ia mengacak rambut Rain dengan gemas. Kata-kata anak kecil  itu polos. Murni dari apa yang dipikirkan dan dirasakan.

***

Felicia datang makan malam dengan mengenakan dress batik selutut dengan lengan pendek, rambut panjangnya diikat tinggi menjadi ekor kuda, dengan sapuan make up tipis di wajahnya, dan flat shoes cokelat menyempurnakae penampilannya. Sopan namun tetap terlihat santai. Tadinya ia sangat terkejut mendapati Bintang dan Rain di depannya. Ia mengira akan bertemu mereka lagi besok Senin.

Selama makan malam, Bintang mencoba menyela mamanya ketika ingin mengatakan kalau Rain kemungkinan besar akan pindah. Ia tidak ingin Felicia mengetahui itu di meja makan. Ia akan mengatakannya pada Felicia ketika mengantarnya pulang.

Bintang mengantar Felicia pulang setelah yakin Rain benar-benar tertidur lelap. Ia membiarkan Rain yang merajuk ingin tidur dengan dibacakan dongeng oleh Felicia. Sebenarnya ia tak tega pada Felicia, tapi sudahlah. Nanti pun Felicia akan ia beritahu.

Sesampainya di depan rumah Felicia, Bintang tidak langsung turun dari mobil. Begitu pun Felicia. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran masing-masing.

"Terima kasih sudah datang memenuhi undangan mama." Kata Bintang memecah sunyi.

"Tidak, aku yang harusnya berterima kasih. Sudah lama aku tidak makan malam bersama seperti itu. Pasti mamamu kerepotan menyiapkan semuanya sendiri." Felicia menatap Bintang dan tersenyum teduh.

"Mama tidak akan keberatan kalau kau sering makan malam bersama kami. Mama pasti senang." Bintang membalas senyum Felicia.

Felicia melihat ke depan. Walaupun senyum masih tersungging di bibirnya, tapi tidak dengan matanya. Senyum itu tidak menyentuh matanya. Mata itu hanya menatap jauh ke depan. Kosong.

"Ayah selingkuh dan bercerai saat umurku empat tahun dan kak Emma sepuluh tahun, dan ibu meninggal dua tahun lalu. Mantan pacar kak Emma yang dulu sekali, sering menampar kak Emma dan kemudian meminta maaf, dan berulang lagi hingga akhirnya kak Emma mengakhiri hubungannya. Kak Emma tidak tahu kalau aku sering melihatnya diperlakukan seperti itu. Lalu mantan calon suamiku membatalkan pernikahan kami seminggu sebelum hari-H tanpa alasan yang jelas." Felicia menghela napas.

"Tapi sekarang aku bahagia. Dan aku yakin kau pun bisa sepertiku, bahkan bisa lebih bahagia dariku jika kau mau."

Tanpa disadari, secara tidak langsung Felicia trauma pada cinta. Melihat bagaimana ayah yang meninggalkan ibunya demi wanita lain. Melihat bagaimana perlakuan mantan pacar Emma yang dulu. Kemudian yang paling membekas adalah bagaimana mantan calon suaminya itu membatalkan pernikahan tanpa alasan yang jelas.

Bintang senang karena Felicia mau menceritakan tentang dirinya. Tapi ia tak menyangka Felicia mengalami banyak hal buruk di masa lalunya. Melihat kesungguhan kata-kata Felicia, ia sadar bukan hanya dirinya saja yang pernah merasakan sakit karena cinta. Bahkan Felicia lebih parah, sejak dulu ia terlalu mengenal apa arti dari ditinggalkan.

Felicia menoleh ke arah Bintang dan tersenyum menenangkan. Namun efeknya menjadi terbalik pada jantung Bintang yang melompat-lompat. Bintang menggenggam tangan Felicia dan meremasnya, mencoba memberi tahu Felicia bahwa semua baik-baik saja.

Refleks, Bintang mendekatkan wajahnya pada Felicia dan mengecup bibirnya perlahan dan dengan lembut. Felicia tersentak, hanya beberapa detik. Tak menyangkal bahwa ia juga menikmatinya bahkan membalas kecupan Bintang pada detik berikutnya. Beberapa saat kemudian Felicia menarik diri.

"Ini untukmu." Felicia menyerahkan sekotak permen pelega tenggorokan. "Aku harus masuk. Sampai jumpa." Felicia keluar dari mobil dengan senyum yang sangat manis.

Meninggalkan Bintang dengan pikirannya sendiri sesaat, sebelum akhirnya kesadarannya kembali dan segera pulang.

***

Bintang berbaring terlentang sambil menatap langit-langit kamarnya. Sambil menggenggam permen dari Felicia, ia memikirkan kata-kata gadis itu.

Bahagia? Dirinya? Apa bisa?

Felicia benar. Mungkin Bintang harus mencoba cara lain untuk mendapatkan kebahagiaannya. Dia tidak bisa seperti ini terus. Tidak bisa hanya diam di titik ini.

"Felicia..." Bintang menggumam dan tersenyum.

Mengingat Felicia dan kebersamaan mereka seminggu ini, terutama hari ini, membuatnya berani membuat harapan baru. Harapan untuk bahagia. Walau ia belum yakin pada perasaannya. "Jika denganmu mungkin aku bisa."

Tiba-tiba Bintang tersentak dan mengusap wajahnya. "Aku lupa memberitahunya tentang Rain..."

***

Bintang terkejut ketika ia datang ke sekolah untuk menjemput Rain. Rain menangis dan wajah Felicia memerah menahan tangis. Di sana ada sepasang suami istri yang berdiri di belakang Rain.

Biasanya ketika ia menjemput Felicia dan Rain, sekolah sudah sepi. Siapa mereka?

"Bunda Feyi jangan lupa sama Rain ya? Rain sayang Bunda Feyi." Rain melepaskan pelukannya pada Felicia dan mencium pipinya penuh sayang. "Ini untuk Bunda Feyi." Rain menyerahkan gambar yang ia buat kemarin.

"Rain? Kenapa menangis?" tanya Bintang mendekati keduanya.

"Om Bintang harus jaga Bunda Feyi! Awas kalau bikin Bunda Feyi menangis!" seru Rain mengusap air matanya kemudian melangkah ke arah pasangan suami istri tadi.

Sepasang suami istri tersebut mengucapkan terima kasih dan berpamitan, kemudian segera melaju pergi. Rain melambaikan tangan kecilnya pada Felicia dan Bintang melalui kaca belakang mobil.

"Dah Bunda Feyi, dah Om Bintang!" Serunya.

Ternyata suami istri tadi adalah orang tua Rain. Mereka datang untuk membawa Rain untuk tinggal bersama mereka.

Ya, melihat ekspresi Felicia bisa dipastikan bahwa Bintang lupa memberi tahu Felicia. Tadi pagi Bintang kesiangan mengantar Rain ke sekolah dan bergegas supaya tidak terlambat kerja. Itu yang membuatnya lupa.

Felicia duduk di ayunan yang teduh di bawah pohon. Siapa pun yang melihat wajah Felicia pasti akan tahu bahwa perpisahan itu membuatnya sedih. Apalagi setelah beberapa hari ini.

"Kenapa kau menangis?" tanya Bintang yang mengambil tempat duduk di ayunan sebelah Felicia.

Dengan kesal Felicia memukul bahu Bintang dan membuatnya meringis menahan sakit. "Aku tidak menangis!"

"Ya, kau hampir menangis." Jawab Bintang enteng.

"Aku tidak--!"

"Katamu, kita harus melepaskan hal yang membuat kita sedih? Tapi kenapa yang kulihat berbeda dengan yang kudengar ya Fey?" kata Bintang memotong perkataan Felicia.

Untuk menutupi perasaannya, Felicia menatap Bintang tajam, seakan-akan ingin membunuhnya.

"Maaf," Felicia menatap Bintang dengan bingung. "Kemarin aku ingin memberi tahumu, tapi lupa. Lagipula aku tidak menyangka Rain akan dijemput hari ini. Mama bilang, eyangnya akan menjemput Rain besok." Sahut Bintang sebelum Felicia bertanya.

Felicia hanya menatap ke depan dalam diam. Ia tidak menangis. Ia tahu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Merasa kehilangan? Sudah pasti. Tapi ia bisa apa jika memang takdir sudah menentukan?

"Kalau kau begitu kehilangan Rain, kenapa kau tidak membuat anak saja denganku? Kita buat Rain yang lain." celetuk Bintang yang menatap Felicia dengan polosnya.

Entah dari mana Bintang bisa mempunyai pikiran itu. Yang ia tahu, ia ingin menghibur ketika melihat Felicia sedih. Walau Felicia tidak mengatakannya, ia tahu itu. Ia bisa melihatnya.

Felicia terbelalak terkejut. Sadar dari keterkejutannya, Felicia memukul bahu Bintang dengan keras. "Bercandamu tidak lucu! Kau pikir aku gadis macam apa hah?!"

"Hei! Aku serius! Kau ini selalu saja kasar padaku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti setelah aku menikah denganmu." Bintang mengelus lengannya yang dipukul Felicia.

"Kumohon jangan bercanda lagi." Felicia berkata lirih. Mendengar kata-kata Bintang membuatnya berharap. Ia takut hal yang dulu terulang lagi. Lagipula keberadaan Bintang hanya karena Rain, dan Rain sudah tidak di sini. Mereka bertemu untuk berpisah di sini.

"Aku tidak bercanda. Menikahlah denganku, Fey. Kau sendiri yang bilang bahwa kita yang menentukan kebahagiaan kita sendiri. Aku ingin bahagia, dan aku memilihmu." Bintang menatap Felicia serius.

"Aku tidak mau terluka lagi." sahut Felicia dengan cepat.

"Tidak akan!" Sanggah Bintang dengan yakin.

Entah sejak kapan Bintang mulai menaruh perhatiannya pada Felicia tanpa ia sadari. Namun yang pasti, Bintang bisa melupakan Bulan jika berada dalam radius Felicia. Ia sangat suka melihat Felicia yang perhatian dan terlihat sangat sayang pada anak-anak. Dia juga menyukai bagaimana Felicia berteriak padanya. Dia mulai menyukai semuanya yang ada pada diri gadis itu. Dan Bintang pikir bahwa Felicia gadis yang menarik. Ia yakin hidupnya akan lebih baik jika mencoba bersamanya.

"Semua orang bertemu untuk berpisah. Kita bertemu karena Rain, dan kita pun berpisah di sini." Jawab Felicia menunduk.

"Di sini aku sedang berusaha meyakinkan diriku untuk percaya bahwa aku bisa melangkah maju seperti yang pernah kau bilang. Tapi kenapa kau tidak percaya pada dirimu sendiri bahwa kau pun bisa bahagia karena cinta?" Bintang masih mencoba membujuk Felicia. Namun masih tak ada tanggapan.

"Yang terpenting adalah bagaimana kau menikmati waktumu sebelum perpisahan. Kalau kau tak percaya pada hatimu, bagaimana aku bisa mempercayakan remahan hatiku yang kukumpulkan ini untuk kau jaga?"

Felicia tercenung mendengar kata-kata Bintang. Bintang percaya padanya?

"Ayolah Fey, menikahlah denganku." Bintang meminta lagi.

"Tidak mau!" Sahut Felicia tegas.

"Kena--"

"Kenapa kau memanggilku 'Fey'?" Felicia menyahut cepat dan mengerutkan alisnya.

"Terbiasa mendengar anak-anak memanggilmu 'Bunda Feyi', dan memanggilmu 'Fey' sangat pas di lidahku. Fey-yi." Bintang mengedikkan bahu dan menampilkan senyum miringnya.

Felicia mendengus kesal.

"Jadi? Apa kau mau me--" Bintang hampir mengulang pertanyaannya tadi.

"Kubilang tidak!"

Seruan Felicia membuat raut wajah Bintang berubah pias karena kecewa atas penolakannya yang kedua kalinya.

"Aku tidak mau menikah. Aku belum mengenalmu, dan aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak kukenal." lanjut Felicia tanpa ragu.

Ia bangkit dan berdiri di hadapan Bintang. "Kenalkan, namaku Felicia Luna, 24 tahun." Felicia mengulurkan tangannya sambil tersenyum.

Bintang terhenyak. Ia menatap Felicia dengan tatapan tak percaya. Ia merasa hatinya ringan karena Felicia memberinya kesempatan untuk mencoba bahagia. Ia diberi kesempatan untuk mengenal gadis di hadapannya ini.

"Bintang Lazuardi, 27 tahun. Senang berkenalan denganmu." Kata Bintang menjabat tangan Felicia dengan senyum yang tersungging dengan sendirinya. Sesaat kemudian ia menyeringai jahil. "Kupikir umurmu 20 tahun, tidak kusangka umurmu lebih tua dari tampilanmu."

Kalimat terakhir Bintang sukses membuat Felicia kesal. Ia memukul lengan Bintang sekuat tenaga sampai Bintang mengaduh meminta ampun.

Bintang menahan tangan Felicia dan menggenggamnya. "Kuberi waktu satu minggu untuk saling mengenal. Kemudian aku akan datang ke rumahmu bersama keluargaku."

Felicia hanya terbelalak mendengar penuturan Bintang. Satu minggu perkenalan. Satu minggu? "Satu minggu?!" Serunya. "Ck! Kau ini benar-benar tukang paksa yang menyebalkan!"

"Tukang paksa menyebalkan yang akan segera jadi calon suamimu." Jawab Bintang mengecup jemari Felicia yang masih digenggamnya. "Hanya kematian yang nantinya akan memisahkanmu dan aku." Bisiknya lagi.

Dalam hati Bintang tertawa dengan geli. Gadis yang membuatnya nyaman seperti rumah. Rasanya seperti puzzle yang dipasang pas dengan pasangannya. Mungkin inilah takdirnya. Bulan yang ditakdirkan untuk Bintang. Felicia Luna.

If I know what love is, it's because of you...

***

Moving on doesn't mean you forget about things. It just means you have to accept what happened and continue living.

..+..+..+..+..+..

FIN.

- - - - -
 
Aku belajar banyak pas nulis Another Moon. Terutama satu pelajaran berharga buatku: kalau nulis jangan lupa dibackup, karena apapun bisa terjadi. Tulisan yang ditulis sepenuh hati, kemudian tiba-tiba hilang... sakitnya lebih dari sakit ketika patah hati. _):'3
Maaf kalau ceritanya diluar ekspektasi kalian..

..+..+..+..+..+..
https://www.wattpad.com/144796433-another-moon-re-part-4


Another Moon - Part 3

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 3

Felicia sudah berada di halaman sekolah dan menyambut anak didiknya yang baru tiba. Senyumnya terukir manis di bibirnya, membalas sapaan anak-anak yang terlihat bersemangat.

Ketika ia menatap ke arah gerbang sekolah, ia melihat Bintang yang menggandeng Rain. Terlihat manis, seperti ayah dan anak.

“Bunda Feyiii!!” seru Rain melepaskan genggaman Bintang dan berlari menghambur ke arah Felicia. 

“Selamat pagi!” seru Rain mencium punggung tangan Felicia.

Tingkah Rain membuat Felicia tertawa geli. “Selamat pagi, Rain.”

“Ehem!” Bintang berdehem, membuat Felicia dan Rain menoleh ke arahnya.

“Selamat pagi!” sapa Felicia tersenyum. Entah kenapa sejak bangun tidur tadi suasana hatinya sangat baik. Padahal seingatnya, ia tidak memimpikan apa pun.

Bintang membeku sesaat. Ia tidak membayangkan akan mendapatkan sapaan selamat pagi dari Felicia. Setelah kejadian semalam, ia pikir ia akan mendapatkan teriakan atau bahkan lemparan benda yang terjangkau oleh Felicia. Gadis itu benar-benar tak bisa ia prediksi.

“Bintang?” panggilan Felicia menyadarkan Bintang.

“Er, selamat pagi.” Jawabnya agak gugup. Semoga Felicia tidak menyadarinya, pikir Bintang.

“Tumben sekali kau mengantarkannya sangat pagi?” tanya Felicia melirik arlojinya, pukul 7.25.

Bintang berdeham. “Aku ada rapat pagi, jadi aku mengantarnya labih pagi. Iya kan Rain?” Bintang terlihat sedikit salah tingkah.

Felicia bingung melihat Bintang yang menanyakannya pada Rain. Memangnya apa urusannya dengan Rain?

“Iya Bunda, katanya Om Bintang harus rapat setengah sembilan.” Jawab Rain. Ia menjawab sesuai dengan apa yang dikatakan Bintang padanya tadi pagi.

“Oh ya?” jawab Felicia menanggapi Rain.

“Bunda Feyi tahu nggak? Rain bangun jam enam kurang.” Kata Rain bangga.

Felicia agak sedikit terkejut karena menurutnya itu terlalu pagi untuk sekolahnya yang masuk pukul delapan. Rain biasanya datang sekitar pukul 7.45.

“Wah, berarti Rain sudah besar dong?” tanya Felicia. Ia sudah terbiasa menanggapi celotehan anak kecil.

“Iyaaa! Kayak Om Bintaang!” serunya melompat ke arah Bintang. "Om Bintang juga bilang, anak laki-laki yang kuat itu tidak menangis."

Felicia agak sedikit terkejut melihat kedekatan Bintang dan Rain. Sepertinya kemarin tidak sedekat ini. “Terima kasih sudah mengantar. Kau bisa segera berangkat sebelum terlambat rapat.”

“Kau mengusirku?” tanya Bintang menaikkan sebelah alisnya.

“Bukan!” sahut Felicia cepat. Terlalu cepat. “Bukan begitu. Nanti kau terlambat rapat, dan bosmu bisa marah padamu.”

Melihat reaksi Felicia membuat Bintang terkekeh. “Sebenarnya aku ingin minta maaf padamu.”

“Minta maaf? Kenapa?” Felicia menatap Bintang dengan bingung.

“Untuk yang kemarin malam. Aku—”

“Harusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku ikut campur urusanmu.” Sahut Felicia memotong perkataan Bintang.

Bintang menggeleng. “Tidak seharusnya aku membentakmu.”

“Permintaan maaf diterima dengan syarat,” Felicia tersenyum.

“Syarat?” Bintang mengernyitkan kening.

“Es krim.” Jawab Felicia diplomatis kemudian berbalik. Ia menggandeng Rain dan mengajaknya melangkah masuk kelas.

“Syarat diterima.” Seru Bintang yang dibalas senyuman Felicia dan lambaian tangan dari Rain. “Di kafe biasa, seperti biasa.” Tambah Bintang.

Ya, setiap sepulang menjemput Rain, mereka bertiga selalu menghabiskan waktu di kafe hingga sore hari. Dan biasanya, setelah mengantar Rain sampai di rumah, selalu saja ada hal yang membuat Felicia tinggal sedikit lebih lama.

Bintang menatap Felicia yang berlalu dari hadapannya. Ia tak menyangka seorang Felicia sangat berpengaruh padanya. Seperti kepakan kecil dari sepasang sayap, namun mengubah angin yang ada dalam radius kepakannya.

***

Di ruang kerjanya, Bintang tak bisa berhenti tersenyum. Senyumnya langsung mengembang saat ia teringat Felicia. Dan ia hampir tidak bisa menghapus bayangan Felicia yang tersenyum. Bahkan tanpa ia sadari, bayangan Bulan mulai memudar, bahkan di alam bawah sadarnya.

Rekan-rekan kerja Bintang mengira Bintang mulai gila. Siapa yang tidak berpikir seperti itu bila Bintang yang biasanya sibuk dengan kerjaannya, kini mempunyai kesibukan baru: melamun sambil tersenyum.

Bintang tidak peduli. Jika ada rekan kerja yang menegurnya atau mengejeknya, ia akan membalasnya dengan senyum. Harinya terlalu indah untuk dirusak oleh celetukan usil dari rekan-rekannya yang iri karena ia sedang bahagia.

Tunggu! Ia bahagia hanya dengan teringat Felicia?

Bintang menggelengkan kepala. Walaupun logikanya mencoba menyangkal, namun hatinya berkata lain. Bahkan bibirnya pun berkhianat dengan menebar senyum.

“Felicia…” gumam Bintang. “Kau benar-benar menyebalkan.”

Ia menggumamkannya dengan senyum yang masih tersungging.

***

Siang itu, setelah datang ke sekolah untuk menjemput Rain, Bintang membawa Felicia dan Rain ke kafe tempat Emma bekerja. Ia memesan menu yang biasa mereka pesan. Kopi hitam kental tanpa gula, es krim choco-vanila, es krim matcha, dan sepiring macaroon dengan berbagai rasa.

“Kau tahu, kak Emma menyukai bosnya.” Kata Felicia dengan suara pelan. Ia memajukan tubuhnya hingga menempel meja dan menipiskan jarak antara dia dan Bintang.

Bintang mengernyitkan kening. Ia agak bingung dengan topic yang tiba-tiba muncul.

Felicia menunjuk ke arah pintu di belakan konter. Di sana berdiri Emma bersama dengan seorang pria. Mereka  terlihat sedang mengobrol santai.

“Sahabat kak Emma itu duda. Kak Emma menyukainya tapi takut menyatakannya. Ia tidak mau persahabatan mereka rusak.” Kata Felicia sambil memakan es krimnya.

“Kenapa kau mengatakannya padaku?” tanya Bintang menyesap kopinya.

“Siapa tahu kau menyukainya. Jadi kau bisa menyiapkan diri untuk patah hati.” Jawab Felicia dengan polos.

Bintang menghela napas. Ia menatap gadis di depannya ini dengan tatapan tak percaya. “Kubilang, kau salah paham.”

“Atau… kau menyukai Bulan?” tanya Felicia lagi.

Bintang berdehem. “Sejak kapan kakakmu bekerja di sini?” ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Bukan membuka luka, hanya saja ia belum siap untuk bercerita. Ia masih dalam proses mengumpulkan serpihan hatinya.

Felicia langsung paham. Bintang menyukai Bulan. Tidak, sangat Bintang mencintainya. Entah mengapa tiba-tiba terasa sesuatu menggores hatinya.

“Sudah dua tahun ini.” jawab Felicia sambil membersihkan pipi Rain yang terkena es krim.

“Oh,” hanya itu. Bintang tak tahu harus mengatakan apa.

Bintang mengulurkan tangan dan menyentuh sudut bibir Felicia. “Kau juga.” Kata Bintang membersihkan es krim di sana.

“T-terima kasih.” Jawab Felicia gugup.

Bintang terkekeh melihat wajah Felicia yang bersemu.

Felicia menatap Bintang kesal dan melemparkan remasan tisu padanya.  “Menyebalkan!” gerutunya.

“Bunda Feyi, habis.” Kata Rain meletakkan sendoknya.

Felicia menoleh ke arah Rain dan menyodorkan sendoknya berisi es krim matcha miliknya.  “Mau coba punya Bunda Feyi?” 

“Apa itu enak?” tanya Rain yang terlihat ragu.

Felicia mengangguk dan menyodorkan sendoknya semakin dekat, mencoba meyakinkan Rain bahwa es krimnya enak.

“Bagaimana?” tanya Felicia setelah Rain menerima suapan darinya.

“Emm…” Rain terlihat sedang berpikir dan memastikan sesuatu. “Enak!” serunya tersenyum lebar. “Rain boleh minta es krim Bunda Feyi?”

“Semuanya untukmu.” Jawab Felicia tersenyum dan memberikan mangkuk es krimnya yang masih tersisa separuh.

"Yaiiy! Terima kasih, Bunda!" Seru Rain bersorak.

Felicia membayangkan, andai saja dulu ia jadi menikah, pasti akan sangat membahagiakan berbagi es krim dengan anaknya.

“Kupesankan lagi?” tanya Bintang menawarkan.

“Tidak usah, terima kasih. Aku selalu bawa air mineral kok.” Kata Felicia sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari tas selempangnya.

Bintang terkekeh. “Kau seperti Rain yang selalu bawa bekal sendiri.”

“Hei, apa maksudmu?” Felicia memicingkan mata dengan kesal. “Kau mau?” tanya Felicia mengeluarkan dua bungkus cokelat dan meletakkannya di meja.

Bintang hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Ia tak habis pikir dengan gadis di depannya ini. Ia terlalu sulit dibaca. Bintang mengambil satu cokelat dan memakannya perlahan. Begitu pula dengan Felicia.

“Bunda Feyi, Rain juga mau.” Pinta rain ketika melihat dua orang dewasa yang bersamanya sedang asyik memakan cokelat.

Belum sempat Felicia mematahkan cokellat di tangannya, Bintang sudah menyodorkan separuh cokelatnya pada Rain.

“Terima kasih, Om!” seru Rain kegirangan. Ia mengunyah cokelat dan sesekali menyuapkan es krim matcha.

Felicia dan Bintang hanya bisa menatap Rain tak berkedip. Memangnya enak makan es krim matcha sambil makan cokelat?

Setelah Rain menghabiskan es krim dan cokelatnya, Felicia membersihkan pipi dan bibir Rain. Tak lama kemudian mereka pamit pada Emma untuk pulang.

Belum sempat Bintang menarik pintu untuk Felicia dan Rain, ia dikejutkan oleh sosok di depannya.

“Friska?” tanya Bintang.

Friska hanya mengangkat bahu. “Obat patah hati itu makan yang banyak.” Jawab Friska sekenanya.

“Semoga cepat sembuh kalau begitu.” Jawab Bintang terkekeh.

“Harusnya kau berkaca.” Balas Friska memutar bola matanya. “Tapi kulihat kau sudah hampir sembuh.” Setelah mengatakan itu Friska langsung menuju konter.

"Satu greentea milkshake dan satu tiramisu." Setelah memesan, Friska menuju tempat duduk paling pojok. Ia sudah tak mengacuhkan Bintang dan berkutat dengan pikirannya sendiri.

Melihat Friska, Bintang jadi berpikir. Apa dulu dia juga terlihat seperti itu? Friska terlihat memaksakan diri. Beruntung Bintang bertemu dengan Felicia dan Rain. Mereka berdua memberi warna pada hidupnya yang abu-abu.

Bintang segera membuka pintu dan menhannya. Membiarkan Felicia dan Rain keluar lebih dulu, kemudian mengikutinya.

“Siapa?” tanya Felicia yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Teman seperjuangan.” Jawab Bintang enteng, membiarkan Felicia bingung dengan pikirannya sendiri.

Teman seperjuangan? Berjuang? Bintang mencintai Bulan. Bintang pernah memperjuangkan Bulan. Tidak mungkin kan wanita itu juga menyukai Bulan?

Felicia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikirannya yang mulai ngawur.

***

“Nak Feli bantu Tante dulu ya?” bujuk mama Bintang.

Felicia menatap Bintang meminta bantuan. Bintang hanya mengedikkan bahu seakan berkata ‘Sudahlah, ikuti saja’.

"Tapi Rain gimana?" Tanya Felicia mencoba mencari alasan.

"Rain bersamaku. Dia juga tidak protes kok." Bintang menyahut dan tersenyum miring.

Merasa tidak ada pilihan lain, Felicia menghela napas. “Baiklah. Tapi hanya sebentar ya Tante, setelah itu saya pulang.” jawabnya tersenyum kaku.

Bukannya ia tidak mau membantu, hanya saja ia merasa tidak enak hati. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya orang luar. Tadi mama Bintang memintanya membantu memasak. Memasak? Bukannya mau menolak, tapi memasak itu kan untuk keluarga... sedangkan dia?

Sembari bermain lego di meja ruang tengah, sesekali Bintang mencuri pandang ke arah dapur. Ia bisa mendengar ibunya dan Felicia sedang membicarakan masakan. Bintang tersenyum. Hatinya menghangat hanya dengan melihat Felicia ada di rumahnya. Rain sendiri sedang asyik menyusun lego membentuk istana. Mungkin seperti ini rasanya jika di rumahnya ada seseorang yang mengurusnya dan teman kecil yang mengajaknya bermain.

"Om, robotnya mana?" Tanya Rain. Ya, tadi Rain meminta Bintang membuat robot, sedangkan dirinya membuat istana.

"Tunggu, Om sedang memasang kakinya." Jawab Bintang kembali memasang sambil sesekali menanggapi celotehan Rain.

Bintang bersyukur Rain sudah mulai dekat dengannya. Rain menyenangkan. Hidupnya jauh berubah setelah ia mengenal Felicia dan Rain. Harinya berwarna abu-abu dan gelap sejak ia tahu Bulan telah menikah dan punya anak, dan sejak Bulan memilih kembali pada Reza...

Jujur, Bintang menyesal karena sempat membuat hancur rumah tangga Bulan. Selain Bulan yang tersakiti, begitu pun dirinya. Bintang sempat percaya bahwa Bulan mencintainya, yang ternyata hanyalah cinta semu. Kalau saja ia tidak bertemu Bulan lagi, pasti dirinya dan Bulan tidak akan tersakiti.

Kalau kau tidak bertemu Bulan dan tidak patah hati, kau tidak akan bertemu dengan Felicia.

Bintang terhenyak ketika hatinya berbicara. Ya, dia tidak akan bertemu dengan Felicia karena dia tidak akan bekerja di sini. Jika dulu ia tidak menemui Bulan, pasti sekarang ia masih ada di luar kota.

Bintang tersenyum saat memberikan robotnya yang sudah selesai pada Rain. Felicia dan ibunya pun sudah selesai memasak. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Felicia.

"Pulang sekarang?" Tanya Bintang.

Felicia mengangguk  dan tersenyum. "Tante, saya pulang dulu. Maafkan saya karena banyak merepotkan." Felicia mencium punggung tangan mama Bintang. Refleks.

"Tidak makan malam dulu?" Tanya mama Bintang penuh harap.

"Terima kasih, Tante. Mungkin lain kali." Felicia tersenyum mendengar tawaran mama Bintang yang menurutnya menggiurkan.

Ia merasa seperti memiliki sesosok ibu yang dulu pernah dimilikinya. Hatinya menghangat. Biar kebahagiaan semu ini dirasakannya. Sebelum kenyataan menyapa dan menghacurkannya. Mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa.

"Rain, Bunda Feyi pulang ya?" Kata Felicia menghampiri Rain yang sedang bermain.

Rain meletakkan mainannya dan berdiri. "Kok Bunda Feyi pulang sekarang?"

"Besok kita bertemu lagi di sekolah." Jawab Felicia menangkup kedua pipi Rain. "Janji sama Bunda Feyi kalo Rain tidak akan nakal, Rain tidak akan membuat susah Om Bintang dan Nenek."

"Rain janji, Rain kan sudah 0 besar!" Seru Rain mengangkat kedua lengannya membentuk lingkaran besar.

Felicia tersenyum. Ia berpamitan kemudian keluar bersama Bintang. Seperti biasa, Bintang mengantarkannya pulang sampai di depan rumah. Senja sudah turun ketika Felicia sampai. Sebelum turun, ia melihat rumahnya masih gelap. Kakaknya belum pulang. Biasanya kakaknya akan pulang pukul tujuh, dan sekarang masih pukul enam.

"Mau masuk?" Tanya Felicia.

Bintang terlihat menimbang, namun sedetik kemudian mengangguk.

Mereka turun dari mobil dan masuk ke rumah.

"Duduk dulu. Tunggu di sini sebentar." Kata Felicia yang menyalakan lampu ruang tamu, kemudian masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian Felicia keluar dengan pakaian santainya. Celana pendek selutut dan kaos yang terlihat agak kebesaran. Ia membawa secangkir kopi hitam kental tanpa gula untuk Bintang.

"Kopi hitam kental?" Tanya Bintang menaikkan sebelah alisnya.

"Kupikir kau menyukainya. Kau selalu memesan itu setiap datang ke kafe." Jawab Felicia.

Bintang  menyesap  kopinya yang masih panas dengan perlahan. "Pahit." Gumamnya.

Mendengar Bintang memprotes, Felicia mengerucutkan bibirnya kesal. "Lihat aku dan kopimu akan terasa manis." Ia menyahut dengan meleletkan lidah.

Bintang tertawa. Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya gemas. "Aku tidak suka kopi pahit." Katanya sambil tersenyum.

"Lalu, kenapa selalu memesan kopi tanpa gula?" Tanya Felicia mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti jalan pikiran pria di depannya ini.

"Kupikir kopi pahit bisa mengurangi sakit di sini." Kata Bintang menunjuk dadanya.

"Sakit jantung?" jawab  Felicia polos yang membuat  Bintang terkekeh.

"Kurang lebih lima tahun lalu, aku pergi meninggalkan orang kucintai. Ketika aku kembali, ia telah bersama yang lain. Sekuat apapun aku berusaha, hatinya sudah ada yang memiliki."  Bintang tersenyum tipis.

"Jangan cerita kalau itu membuka luka hatimu." Sahut Felicia tersenyum ringan. "Kalau hatinya sudah ada yang memiliki, cari saja hati yang masih belum ada pemiliknya."

"Tidak semudah itu." Kata Bintang menyesap kopinya lagi.

"Hati yang hancur menjadi remah-remah itu memang akan sulit disusun lagi, jika kau membayangkan hati itu kaca. Tapi jika kau membayangkan hati itu seperti remah biskuit, untuk apa menyusunnya kembali? Buat saja susu atau es krim, dan campurkan saja dengan biskuit hancur tadi. Itu artinya kau punya cara lain untuk menikmati hidup." Felicia  tersenyum. "Tunggu di sini."

Ia masuk ke dapur dan kembali dengan setoples biskuit dan dua gelas susu vanila. Satu untuknya, satu untuk Bintang.

"Lihat." Felicia  meremukkan sebuah biskuit dengan  tangannya. "Kau akan kesulitan memakannya kalau seperti ini. Tapi kalau begini?"

Bintang mengamati Felicia yang memasukkan remahan biskuit tadi ke dalam gelas di depannya.
 
"Menikmati dengan cara lain." Kata Felicia tersenyum dan meminum susu vanila-biskuitnya.

Setelah melihat Felicia, kini Bintang menatap gelas di depannya. Sedetik kemudian ia meminum susu vanilanya hingga tersisa setengah gelas, kemudian menuangkan kopi ke dalamnya. Kopi susu.

"Menikmati dengan cara yang lain." Kata Bintang tersenyum. Ia menirukan Felicia.

Felicia tertawa. Rasanya ia bahagia sekali hari ini. Ia terlalu banyak melihat senyuman Bintang. Mungkin ia harus memeriksakan diri ke dokter, jangan sampai ia terkena diabetes karena terlalu banyak melihat sisi manis Bintang.

***

Emma masuk ke rumah dengan terkejut, tak menyangka akan melihat Felicia tertawa lepas seperti itu. Dan tawa itu muncul karena adiknya sedang bersama Bintang. Ia semakin yakin bahwa adiknya bisa bahagia bersama Bintang. Tapi juga bisa lebih hancur karena bersamanya.

Melihat Emma pulang, Bintang melirik arlojinya. Setengah delapan malam.

"Sudah malam, aku pulang dulu." Kata Bintang meneguk habis kopi susunya.

"Fey, Arga masih di depan. Tolong carikan map biru yang berisi coretan menu baru, di antara tumpukan kertas di meja kamarku." Emma mencoba mengusir adiknya dengan halus.

Felicia mengangguk dan langsung masuk ke kamar Emma.

Begitu Felicia menghilang di balik pintu, Emma segera meminta waktu bicara dengan Bintang. "Sudah lama?"

"Mungkin sekitar satu atau satu setengah jam yang lalu." Jawab Bintang tenang.

"To the point, aku tahu kau dekat sekali dengan adikku akhir-akhir ini. Aku hanya tidak ingin kau menyakitinya. Jangan terlalu dekat jika kau tak yakin."

Bintang menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak mengerti maksudmu, Em."

Tepat ketika Emma akan menjawab, Felicia muncul dengan map biru di tangannya.

"Thanks." Kata Emma setelah Felicia memberikan map itu padanya.

Emma segera beranjak untuk menemui Arga, bos sekaligus sahabatnya. Sedangkan Bintang masih mengira-ngira apa maksud kata-kata Emma.

"Jangan lupa, kau yang menentukan kebahagiaanmu." Kata Felicia menyadarkan Bintang yang berkutat dengan pikirannya sendiri.

Bintang mengangguk mengiyakan. "Sampai jumpa." Katanya kemudian melangkah ke mobilnya. Tak jauh dari mobilnya terparkir, ada Emma dan Arga yang sedang berbicara.

"Bye." Balas Felicia melambaikan tangan.

Tanpa Felicia dan Bintang sadari, orang yang yang melihat mereka berdua pasti mengira bahwa mereka sepasang kekasih.

***

Let it go. Forget the people who make you sad. Don’t let them affect you. But never forget what they taught you. The choices you make, the struggles you face prepare you for life.

..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144795524-another-moon-re-part-3