Sunday, November 2, 2014

Hujan di Musim Panas

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####


Suara serangga di pohon menambah kental suasana musim panas. Hal yang paling menyenangkan dilakukan pada saat ini tentu saja bermain air dan makan semangka.

Tapi tidak dengan gadis itu. Dia menghabiskan musim panasnya dengan laki-laki di sampingnya. Mereka duduk bersebelahan, saling menggenggam tangan, menikmati hembusan angin musim panas.

"Kau tahu," kata gadis itu menoleh ke arah laki-laki di sampingnya. "Aku ingin selalu bersamamu. Tidak hanya di musim panas. Ketika musim semi, musim gugur, dan juga musim dingin."

"Hei, kau tak bisa begitu." Kata laki-laki itu tertawa. "Aku tak akan ke mana-mana. Aku akan selalu mengunggumu di sini."

***

Gadis itu menatap ke kejauhan. Ia bertahan, supaya dapat sedikit lebih lama menahan cairan bening di ujung matanya. Ia tidak mau menangis. Ia akan menjalaninya dengan biasa, dengan senyum dan tawa. Ia hanya berharap semua akan berakhir dengan baik.

Sebuah lengan melingkar di bahu gadis itu, memeluknya, berharap pelukannya bisa meringankan kesedihan gadis itu. Ia tahu itu, kehadirannya lah penyebab gadis itu bersedih.

Gadis itu melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Ia berbalik dan tersenyum.

"Aku akan baik-baik saja." Katanya dengan bibir tersenyum. Tapi tidak untuk matanya. Mata tak bisa berbohong. Dengan jujur, setetes air mata lolos dari pertahannya. Mata selalu jujur. Ya, gadis itu menangis.

"Sssh," kata laki-laki itu mencoba menenangkan dengan mengusap pipi gadis itu. Menghapus air matanya. "Kita akan baik-baik saja." Katanya meyakinkan. Air mata gadis itu mengalir di dalam pelukannya, membasahi hatinya.

Laki-laki itu mempererat pelukannya. Ia dapat merasakan kesedihan gadis yang dipeluknya, karena ia juga merasakan hal yang sama. Ia takut. Ia juga sedih. Tapi, jika hal itu diperlihatkannya, sama saja menambahkan kesedihan pada gadisnya. Gadis yang sangat ia cintai.

"Aku benar-benar mencintaimu. Aku tak ingin berpisah denganmu." Kata gadis itu disela isak tangisnya.

"Sssh, tanpa kau katakan pun aku tahu itu." Kata laki-laki itu mengecup puncak kepala gadis di pelukannya. "Kita akan selalu bersama. Di hatimu. Di hatiku."

Gadis itu melepaskan tangan laki-laki yang memeluknya, dan menatapnya sebentar dalam diam. Sampai angin yang berhembus sedikit kencang menyadarkan mereka.

"Ayo kita turun. Sepertinya angin yang berhembus di atap ini semakin kencang." Dia menarik tangan itu dan melangkah menuju tangga.

"Mungkin akan hujan." Kata laki-laki itu mengedikkan bahu dan mengikuti langkah gadisnya.

***

"Ayo kita jalan-jalan sebentar." Kata laki-laki itu meraih tangan gadisnya pada suatu pagi.

Gadis itu menatap dengan ragu tangan mereka yang bertaut. "Tapi,"

"Tenang saja. Tidak jauh. Hanya ke taman di depan supermarket." Katanya bersemangat.

Gadis itu hanya bisa menghela napas panjang. "Baiklah. Hanya sebentar." Kata gadis itu mengalah.

Mereka berjalan bergandengan di jalan kota. Menyusur trotoar tepi jalan dan penuh tawa. Mereka menyeberang menuju ke taman kecil di tengah kota. Mereka mengambil tempat duduk di bawah pohon, tak jauh dari danau buatan. Ya, berkat danau itu musim panas jadi tak sepanas seharusnya.

"Apa kau lelah?" Tanya gadis itu.

"Hei, harusnya aku yang bertanya padamu." Kata laki-laki itu terkekeh.

Tak jauh dari tempat mereka mengobrol dan bercanda, ada kakak adik yang sedang bermain kran air, membuat airnya menyemprot ke segala arah dan membasahi mereka.

Mereka berdua hanya menatap kakak adik yang basah itu dengan tawa tertahan.

"Melihat air yang jatuh ke tanah itu mengingatkanku pada hujan." Kata laki-laki itu menggenggam jemari gadis di sampingnya.

"Mengapa? Apa karena sekarang musim panas dan kau merindukan hujan?" Tanya gadis itu tak mengerti.

Laki-laki itu tertawa. "Bukan. Bukan itu." Laki-laki itu mengacak kepala gadisnya. "Melihat itu, mengingatkanku tentang hujan. Hujan di musim panas. Tetes airnya akan dengan cepat menghilang dibalik butiran tanah."

Gadis itu menoleh, menatap laki-laki di sampingnya. "Apa yang kau pikirkan?"

Laki-laki itu mengangkat sebelah alisnya lalu tersenyum. "Tak ada. Hanya tentang kau dan aku."

"Kau tahu," gadis itu kembali menatap ke arah kakak beradik tadi. "Walaupun air hujan itu nantinya menghilang, sebelum menghilang ia telah membuat sesuatu yang indah. Pelangi. Bahkan setelah ia masuk ke dalam tanah, ia telah berbuat suatu hal yang menakjubkan. Air hujan yang masuk ke tanah akan membuat warna tanaman semakin indah."

Laki-laki itu hanya mengangguk-anggukkan kepala mendengar penjelasan gadis yang kini di peluknya. Dia tersenyum.

"Kau pucat. Sepertinya kau butuh minum. Biar kubelikan sebentar." Kata laki-laki itu seraya bangkit dari duduknya.

"Aku ikut. Aku masih ingin bersamamu." Dengan reflek, gadis itu meraih lengan bajunya.

"Tunggulah di sini. Aku tak lama." Kata laki-laki itu tersenyum meyakinkan dan melangkah pergi.

Hingga kemudian yang tersisa hanya bunyi ambulans yang menuntut akses jalan ke rumah sakit.

***


"Kau tahu, kau selalu khawatir padaku. Kau pikir aku tak khawatir padamu, huh?" Serunya ketika kekasihnya telah siuman, tetapi tetap masih tergolek lemah.

Dia hanya tersenyum dibalik alat bantu pernapasan.

"Bukankah kau berjanji bahwa kita akan selalu bersama?" Katanya lembut mengusap jemari yang tidak terpasang infus.

"Istirahatlah. Ada yang harus kubicarakan dengan dokter." Perlahan ia mengecup tangan itu dan pergi.

***

Dia melangkah tergesa karena ingin segera menemui kekasihnya.

"Hai," sapanya. Dan ia terkejut mendapati kekasihnya sedang duduk dengan buku dan alat tulis dihadapannya.

"Hai. Pagi sekali kau datang. Maafkan aku selalu merepotkanmu." Jawabnya tersenyum.

"Kau selalu merepotkanku. Kau tahu, betapa khawatirnya aku ketika kau tidak kembali dari supermarket dan aku mendengar ambulans? Aku berlari ke supermarket dan menanyakanmu pada petugas di sana. Mereka bilang kau dibawa ambulans, dan aku segera kemari. Aku benar-benar tidak ingin kehilanganmu." Kata gadis itu tersenyum.

Laki-laki itu terkekeh. "Kau masih ingat kata-kataku tentang hujan di musim panas?" Ia bertanya dan meletakkan bukunya. Gadis itu mengangguk.

"Itulah aku."

Gadis itu mengerutkan kening tak mengerti.

"Kalau aku pergi, kesedihan itu akan datang namun tak lama ia akan hilang bersama waktu. Bagai hujan di musim panas. Tak berjejak." Katanya tersenyum.

Mata gadis itu membulat syok. Air mata kesedihan kembali terjun bebas tanpa diharapkan.

"Aku berharap aku tak perlu meninggalkan jejak kepedihan yang akan selalu membuatmu menangis seperti ini." Kata laki-laki itu mengusap lembut pipi gadis di sampingnya, mengusap air matanya. Berharap dapat mengurangi kesedihan yang bergelung di hatinya.

"Bukankah kau bilang kita akan selalu bersama?" Tanya gadis itu mencoba menahan air matanya.

"Sssh, jangan menangis. Kita akan selalu bersama. Aku kan hanya mengatakan 'kalau'." Kata laki-laki itu nyengir dengan wajah tak berdosa.

"Kau menyebalkan. Bercandamu tak lucu." Kata gadis itu menggigit pelan tangan yang tadi mengelus pipinya. Membuat si pemilik mengaduh namun tetap terkekeh.

"Berjanjilah padaku kau tidak akan menangis seperti tadi." Kata-kata laki-laki itu membuat bibir gadis yang dicintainya itu mengerucut. "Karena kau cantik sekali ketika tersenyum. Senyummu selalu membuatku jatuh cinta."

Mata gadis itu membelalak sekejap karena terkejut. Dia kemudian mengangkat telapak tangannya, berusaha menyembunyikan wajahnya yang merah padam karena malu.

"Kau berjanji akan selalu tersenyum dan membuatku jatuh cinta?" Kata laki-laki itu menggoda.

Gadis itu mengangkat wajahnya yang merah dan mendaratkan pukulan ringan di tangan laki-laki itu.

"Aku berjanji."

"Hei, ini sudah mendekati akhir musim panas. Kapan kau akan berangkat?" Tanya laki-laki itu.

"Apa kau mengusirku?" Tanya gadis itu mencebik kesal.

Laki-laki itu tertawa melihat gadisnya. "Tidak, hanya saja kau juga punya kegiatan lain di sana. Aku mengkhawatirkanmu."

Gadis itu diam, terlihat sedang berpikir.

"Kau tak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik-baik saja di sini. Ayolah, kau harus segera menyiapkan tiketmu."

"Baiklah, baiklah. Aku akan berangkat lusa. Kau puas?" Kata gadis itu memutar bola matanya dengan kesal.

"Ahaha. Aku akan selalu menunggumu di sini. Akan kukirimkan surat padamu ketika aku sudah keluar dari rumah sakit." Laki-laki itu mengacak rambut gadis yang masih berwajah kesal di sampingnya.

"Kalau begitu, aku akan langsung datang menemuimu." Kata gadis itu bersemangat.

"Jangan, kau bisa datang kapan pun ketika kau libur. Jangan memaksakan diri."

"Kalau begitu aku akan datang di pertengahan musim gugur."

"Apakah kau libur?" tanya laki-laki itu penuh selidik.

"Tidak, aku akan cepat-cepat menyelesaikan tugasku dan mengambil izin cuti untuk menemuimu." Gadis itu meleletkan lidahnya seakan ingin mengatakan pada laki-laki itu untuk tidak sok tahu.

"Aku harap bosmu tidak marah." Kata laki-laki itu tersenyum miring.

"Tidak mungkin kakakku akan memecatku. Aku kan desainer yang tak tergantikan." Jawab gadis itu terkekeh dan membuat laki-laki itu mengulurkan tangan mengacak rambutnya.

***

Sudah tiga minggu sejak gadis itu meninggalkan kekasihnya. Ia melakukan aktivitasnya seperti sebelum ia menghabiskan akhir musim panas dengan kekasihnya.

Gadis itu mendapatkan surat yang dijanjikan hanya dua minggu setelah ia pergi.

"Hai, bagaimana kabarmu? Gadis sepertimu pasti akan selalu baik-baik saja. Aku sudah keluar dari rumah sakit. Aku sudah sembuh. Ingin sekali aku bertemu dan memelukmu. Tapi tidak mungkin. Kau berada jauh di sana. Hei, berjanjilah kau akan baik-baik di sana. Aku menyayangimu."

Entah sudah berapa kali gadis itu membaca surat yang dipegangnya. Gadis itu sudah membalas surat yang diterimanya. Dia sedang menunggu surat balasan. Dia tersenyum membayangkan pertengahan musim gugur nanti.

***

Tak terasa dua minggu sejak ia mendapatkan surat balasan dari laki-laki yang dicintainya. Tak banyak yang ditulisnya, tapi tetap saja surat itu selalu membuat gadis itu tersenyum.

"Hei, sedang apa kau? Jangan terlalu sering memikirkanku! Aku tidak suka membayangkan kekasihku tersenyum dengan muka bodoh karena memikirkanku. Baik-baik di sana. Aku menyayangimu."

"Huh, dasar pelit. Membuatku menunggu lama hanya untuk mendapatkan balasan sependek ini." Gerutu gadis itu ketika pertama kali menerimanya.

Karena kesibukannya, gadis itu lupa membalas surat yang diterimanya. Hingga ia mendapati seorang tukang pos yang mengantarkan surat laki-laki itu padanya.

"Kumohon berhentilah memikirkanku. Aku serius. Kau sudah berjanji padaku untuk selalu tersenyum. Aku tidak ingin melihat air matamu. Melihatmu menangis membuatku sedih karena tak ada di sampingmu untuk menghapusnya. Aku mengharapkan kebahagiaanmu. Tidak adil jika hanya aku yang berbahagia karena mencintaimu. Kini giliranmu, carilah penggantiku dan berbahagialah."

Gadis itu menatap bingung surat ditangannya. Apa maksudnya? Apa laki-laki itu marah karena suratnya yang lalu belum dibalas?

Gadis itu melipat suratnya. Ia sudah memutuskan, besok pagi ia akan pergi menemui kekasihnya untuk meminta penjelasan.

***

Gadis itu tersenyum, menahan air matanya. ia memutar kembali ingatannya ketika ia berbicara dengan dokter yang menengani kekasihnya.


"Maafkan kami, Nona. Tapi kami sudah melakukan yang kami bisa semampu kami." kata Dokter itu di ruangannya, menjelaskan sambil mengamati perubahan raut muka gadis di depannya.

"Berapa lama?" sahut gadis itu.

Dokter itu menghela napas panjang. "Paling lama satu tahun." Dokter itu kembali menarik napas, seakan-akan pasokan udara di paru-parunya tidak terlalu banyak. "Itu jika jantungnya tidak mengalami serangan mendadak, dan juga tergantung ketahanan kondisi fisiknya."

"Jika, ada serangan mendadak atau kondisinya menurun? Dia—" kata gadis itu menyimpulkan. dan dokter itu mengangguk.

Gadis itu menarik napas panjang dan menghembuskannya. "Baiklah. Terima kasih, Dok." kata gadis itu bangkit dari duduknya dan keluar dari ruang dokter.


Kini, mau tak mau gadis itu mencurahkan keluh kesalnya di hadapan kekasihnya.

"Kau benar-benar menepati janjimu. Selalu menungguku di sini. Kenapa kau selalu memaksakan diri? Bukankah kau bilang bahwa kau sudah sembuh?" Kata gadis itu. Yang ia ajak bicara tetap bergeming tak bergerak menatapnya.

"Apa kau meragukan cintaku? Kau lah satu-satunya pelangi di hatiku, walaupun kau bilang kau adalah hujan di musim panas." Gadis itu menarik napas panjang.

"Sebelum air hujan jatuh ke tanah dan menghilang, kau telah meninggalkan pelangi warna warni yang tak akan pernah kulupakan."

"Aku sudah menemukan kebahagiaanku." Kata gadis itu mengulurkan tangan. "Di masa laluku hingga sekarang, bahagiaku adalah karena aku bersamamu. Dan bahagiaku nanti adalah karena selamanya kau ada di hatiku."

"Kau bilang, kau tidak ingin melihatku menangis. Bolehkah aku melanggar janjiku untuk kali ini? Ini terakhir kalinya aku menangis di hadapanmu. Aku janji." Kata gadis itu yang air matanya mulai mengalir.

"Kenapa waktu itu kau membiarkanku pergi? Kenapa? Kenapa kau lakukan semua ini padaku?" Gadis itu menghapus air matanya. "Kalau aku tahu kau akan pergi, waktu itu aku tidak akan meninggalkanmu."

Gadis itu menarik napas panjang dan menghentikan tangisnya. Ia tersenyum. "Terima kasih kau telah bahagia karena mencintaiku. Sampai jumpa lagi. Aku akan selalu menyempatkan diri untuk menjengukmu. Kau benar. Kini kau telah terbebas dari rasa sakit." katanya mengusap nisan di depannya.

Gadis itu berbalik dan pergi. Ia bergegas ke stasiun dan mengambil tiket kereta yang akan membawanya pulang.

Di kereta, gadis itu hanya menatap ke luar jendela. Tanpa ia sadari, ia tertidur. Meninggalkan surat terakhir yang masih terbuka di tangannya. Dalam tidurnya ia bermimpi. Entah mimpi apa hingga tanpa ia tahu, air mata sudah mengalir di pipinya.

***

"Maafkan aku. Tapi aku tidak akan menyesalinya. Jika kau membaca surat ini, berarti kau sudah mengetahui semuanya. Ketika suratku sampai kepadamu, berarti aku sudah pergi dan jauh darimu. Maafkan aku mengenai semua surat yang kau terima. Aku sengaja melakukannya. Aku hanya menginginkan kebahagiaanmu tanpa adanya bayang-bayangku.

Aku sudah menepati janjiku padamu, untuk selalu menunggumu di sini. Kini giliranmu menepati janjimu padaku untuk tidak menangis dan selalu tersenyum. Kau mau aku selalu jatuh cinta padamu kan? Haha, aku hanya bercanda. Selamat tinggal, baik-baiklah di sana. Aku mencintaimu."



==Fin==

Magelang, 02 November 2014

https://www.wattpad.com/79193851-rain-in-summer


No comments:

Post a Comment