Saturday, October 25, 2014

Semangkuk Matahari

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..

#####


…who said life would be fair anyway.


Sering sekali ia terlihat berjalan ke arah timur pada waktu yang sama dan dengan gaya yang sama. Ia memakai topi warna oranye hangat dan dress dengan warna hampir senada, seakan ia adalah bias matahari. Ia selalu memegang tali selempang tasnya, dan kadang menunduk menatap langkah kakinya. Ia berjalan dengan cepat, namun tidak terlihat terburu-buru, malah terlihat santai.


***


Sekarang waktunya makan siang. Hampir semua teman kerjaku pergi untuk mencari makan. Hanya ada beberapa yang masih di dalam ruangan, menyelesaikan pekerjaan—termasuk aku.

“Lang, apa kau ingin menitip sesuatu?” tanya Raya yang melihatku maasih berkutat di depan laptop dan laporan.

“Tidak, terima kasih. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya,” jawabku tersenyum, yang dibalasnya dengan acungan jempol.

Aku bersikeras menahan lapar, karena aku ingin laporan ini segera selesai. Namun, ternyata usahaku untuk menahan lapar belum cukup keras. Perutku tidak bisa diajak kompromi. Aku menyerah. Kumatikan laptop dan kemudian berjalan ke luar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.

Aku memilih makan siang di kedai ramen yang ada dekat kantor, karena laporan tadi harus cepat kuselesaikan. Aku memesan semangkuk ramen dan segelas ocha. Sambil menunggu pesanan, aku memperhatikan interior kedai. Meski kecil, tempat itu nyaman.

Ketika aku memandang ke arah dalam—staff only, tak sengaja aku melihat gadis itu keluar membawa nampan. Ya. Gadis yang sering kulihat. Ternyata ia di sini. Gadis yang seperti matahari, bahkan dengan aksesoris yang dipakainya, jepit rambut matahari. Di kedai itu, hanya dirinya yang terlihat jauh dari kesan Japanese, namun ia bisa bekerja sebagaimana orang-orang Asia Timur itu bekerja. Ia terlihat menikmatinya, bahkan tidak merasa berbeda. Gadis yang supel.

Aku kembali ke kantor dengan pikiran terbagi, antara menyelesaikan laporan dan semakin penasaran dengan gadis itu. Aku mencoba mengusir bayangan bagaimana senyum sopannya pada pelanggan dan juga bagaimana ia berinteraksi dengan teman-teman kerjanya. Ah!
Aku harus cepat-cepat menyelesaikan laporanku, sebelum bayangan itu semakin merusak konsentrasiku.


***


Sejak hari itu, aku hampir selalu makan di kedai ramen. Pikiranku semakin dipenuhi rasa penasaran tentangnya. Beberapa teman kerjaku penasaran mengapa kini aku selalu keluar untuk makan siang, suatu hal yang sebelumnya hampir jarang kulakukan. Siapa yang menyangka kalau Si Gadis matahari ini membuatku menjadi merasa berwarna.

“Lang, katakan padaku. Adakah seseorang yang cantik di luar sana? Seseorang yang mampu membuat seorang Elang keluar ‘sarang’ untuk makan siang?” goda Raya.

“Tidak ada. Memang apa salahnya keluar untuk makan siang?” aku memalingkan wajahku ke arah tumpukan dokumen, mencari sesuatu.

“Kau tahu, saat kau berbohong, telingamu akan memerah semerah tomat. Hahaha.”

Aku mengacak rambutku salah tingkah. “Yah, mau bagaimana lagi.” Kulihat Raya menatapku penuh arti. Tatapan bahwa dia menginginkan cerita dariku.

“Aku belum tahu apapun tentangnya. Jangan bertanya lagi. Aku pun masih penasaran tentangnya.” Aku melihat jam tanganku. Sudah saatnya pulang. Aku membereskan apa yang perlu kubawa pulang.

“Kenapa kau terburu-buru?”

“Aku tidak mau ketinggalan bus. Hal itu hanya akan membuatku menunggu lebih lama kedatangan bus berikutnya. Aku duluan,” kulambaikan tangan pada Raya.

Aku melangkah masuk ke halte dengan santai. Sebelum sampai di halte, kulihat gadis matahari itu menunggu di halte yang sama denganku. Aku memilih untuk melihatnya. Bus datang. Kami berada di bus yang sama. Di dalam bus, ia hanya menyenandungkan lagu yang sedang mengalun dari ponsel di tangannya. Ia cuek sekali. Hingga aku turun lebih dulu, ia masih tetap dengan lagunya.


***


Siang itu aku kembali makan siang di kedai ramen. Aku sedang menunggu pesananku. Kulihat gadis itu membawa nampan dan mengantarkannya ke mejaku. Ketika ia membungkuk hormat, jepit rambutnya jatuh ke dalam mangkuk ramenku.

Ia terkejut dan meminta maaf, “Gomennasai,” katanya dalam bahasa Jepang. Kemudian ia buru-buru kembali ke dapur dan menggantinya. Ia kembali dengan mangkuk yang baru dan meminta maaf lagi. Dengan muka merah, ia berbalik dan kembali bekerja.

Sorenya di halte bus, sambil menunggu bus, aku duduk membaca koran sore. Aku terkejut ketika ada seseorang yang berdiri depanku. Aku mendongak.

“Ah, Si jepit matahari!” seruku refleks.

Si gadis matahari itu terkejut. Ia membungkuk dan meminta maaf lagi.

“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku sambil melipat koran.

“Ruiva,” jawabnya dengan senyum sopan.

Ketika kutanyakan di mana rumahnya—karena aku sering melihatnya, ia menjawab dengan tersenyum. Tempat tinggalnya tak begitu jauh dari rumahku. Hanya di komplek sebelah, tempat aku sering lari pagi di lapangan perumahan sana. Aku semakin menyukainya. Tentang ini: bagaimana cara menanggapi pertanyaanku, yang dijawabnya dengan sopan, tidak berlebihan. Tentang itu: bagaimana ia mengalihkan pembicaran dengan halus, ketika ia tak mau membahas pembicaaraan yang ia tak suka.

Setelah percakapan itu, tanpa sengaja kami sering bertemu di halte ketika pulang kerja. Awalnya ia memang agak menarik diri. Itu terlihat dari cara bicaranya yang terlalu tenang dan sopan. Namun, kini ia lebih ekspresif dalam berbicara. Terkadang ia tertawa sedikit lepas, tidak hanya menyunggingkan senyum seperti biasa. Tapi tetap saja aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.


***


Pagi itu, aku janji bertemu Ruiva di lapangan komplek perumahannya untuk berlari bersama. Awalnya aku ragu karena mengira Ruiva bekerja. Ternyata ia mengiyakan ajakanku karena hari itu Ruiva tidak bekerja. Ia akan mengantar saudaranya ke rumah sakit.

Sambil meluruskan kaki setelah lelah berlari, aku duduk di sebelah Ruiva dan berpikir bahwa hubungan kami semakin membaik. Atmosfer tampak mendukung hingga tanpa sadar aku meminta Ruiva untuk menjadi kekasihku.

“Rui, aku menyukaimu. Maukah kau—”

“Gomennasai, aku harus pulang.” Kata Ruiva cepat memotong kata-kataku. Ia bahkan tak membiarkanku menyelesaikannya. Namun, ia tetap berusaha tersenyum sopan walau tanpa memberi jawaban sepatah katapun. Ruiva beranjak meninggalkanku sendiri yang menatapnya pergi.


***


Semenjak kejadian itu, Ruiva tak pernah terlihat di kedai itu lagi. Mengapa ia tak ada? Apakah ia libur? Atau, apakah ia menjauhiku karena kata-kataku waktu itu? Apa yang harus kulakukan jika ia marah padaku? Kuhela napas panjang dan beranjak untuk membayar ramenku.

“Ah, maaf. Boleh aku bertanya?” kataku pada pegawai di meja kasir sambil membayar.

Arigatou gozaimasu (terima kasih banyak). Ya, ada yang bisa aku bantu?” jawabnya dengan memberikan uang kembalian padaku.

“Mengapa akhir-akhir ini Ruiva tidak terlihat?” tanyaku ingin tahu.

“Ah, anda teman Rui?” tanyanya, dan aku mengangguk. “Ya, kami sedih sekali ia sudah tidak bekerja di sini. Ia harus dirawat di rumah sakit. Padahal Ruiva anak yang menyenangkan.”

“Di rumah sakit?” tanyaku terkejut.

“Ah, sumimasen (permisi). Saya harus melanjutkan pekerjaan,” katanya, ketika kudengar seseorang memanggilnya dari dalam.

“Maaf menyita waktumu. Terima kasih atas informasinya.”

Douitashimashite (sama-sama),” jawabnya sambil membungkuk sopan, kemudian masuk ke ruang staff only.

Di rumah sakit? Rui sakit apa? Mengapa ia tak memberitahuku?


***


Hari itu aku bersama teman-teman sekantorku menjenguk seorang rekan kerja di rumah sakit. Aku memilih berjalan perlahan dan membiarkan teman-teman yang lain pulang tanpaku. Dari koridor, aku berhenti dan menatap ke luar jendela melihat angin yang menghembus daun.

Ketika aku berbalik melangkah pulang, aku melihatnya. Ya. Si Gadis matahari itu ada di depanku dengan pakaian rumah sakit dan menatapku tekejut, seakan matanya ingin berkata ‘bagaimana kau tahu aku ada di sini?

Aku hanya menatapnya dengan senyum.

“Aku tak tahu. Aku hanya menjenguk temanku yang operasi usus buntu.” Kataku mencoba menjawab pertanyaan di matanya. Kulihat dia berbalik.

“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah orang sakit seharusnya ada di tempat tidur?” tanyaku sambil mengikutinya. Aku meraih lengannya dan tersenyum. “Kamarmu bukan ke arah sana, kan? Aku tahu itu.”

Ruiva menatapku sebentar seakan ingin bilang ‘apa-apaan kau?’, namun kemudian berbalik patuh menuju kamarnya yang sesungguhnya.

“Aku hanya terlalu lelah, dan aku bosan bila harus terus berbaring,” jawabnya mengedikkan bahu dan tersenyum tipis.

Setelah aku tahu di mana Ruiva dirawat, hampir setiap hari aku menjenguknya untuk sekedar berbagi cerita beramanya. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaannya terhadapku. Hingga suatu hari, aku memintanya lagi untuk menjadi kekasihku.

“Suatu hari aku akan menjawabnya.” Ruiva hanya menjawab singkat sembari tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan.


***


Karena urusan pekerjaaan, aku harus pergi ke luar kota selama tiga hari. Aku menemui Ruiva sebelum berangkat bertugas.

“Aku tak bisa menemuimu tiga hari nanti, karena ada tugas ke luar kota. Maafkan aku.”

Mendengar kata-kataku, Ruiva hanya tersenyum maklum. Ketika aku melihat sorot matanya, aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya jika aku mampu.

Hari itu aku merasa bahwa semua perasaan tidak harus diungkap dengan kata-kata. Rui bahkan mencoba bercerita bagaimana senangnya ia ketika dokter berkata bahwa keadaannya membaik walaupun sedikit. Ia menceritakan apa pun untuk mengisi waktu kebersamaan kami.

Setelah mengobrol dengan Rui, aku berangkat dengan hati berat. Aku tidak suka membayangkan Rui di rumah sakit tanpaku. Aku berharap tiga hari akan cepat berlalu, dan aku bisa bertemu dan mengobrol lagi dengannya. Aku selalu terbayang senyum hangatnya yang seperti matahari.


***


Hari itu aku kembali dari tugasku di luar kota dan langsung pergi menemui Ruiva. Telah kuputuskan, aku akan tetap di sisinya walaupun ia tidak mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentangku. Aku pun tak akan menanyakan apapun tentangnya. Apa pun itu.

Aku membuka pintu kamarnya. Kulihat tempat tidurnya sudah rapi. Hanya seorang wanita setengah baya yang sedang berdiri menghadap jendela, membelakangiku.

“Permisi. Apa anda tahu pasien yang dirawat di sini sekarang ada di mana? Apa ia dipindahkan ke ruang lain?” tanyaku mencoba mengusir hawa dingin yang tiba-tiba meresap di dada.

“Maaf, apakah anda yang bernama Elang?” tanya wanita itu berbalik menghadapku. Melihat raut wajahnya membuatku terkesiap. Aku mengangguk. Kucoba mengusir semua prasangka yang ada di dalam kepalaku.

“Rui hanya menitipkan ini padaku. Mungkin ini akan menjelaskan semuanya. Terima kasih. Saya permisi.” Kata wanita itu memberikan sepucuk surat dan jepit matahari. Kulihat ia mengusap pipinya ketika berjalan ke luar.

Di sudut kanan bawah amplop tertulis namaku. Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar. Hanya ada selembar kertas di dalamnya.

Tidak banyak yang tertulis di situ, namun semua rangkaian kata itu membuatku pedih. Entah bagaimana, aku merasa seakan Ruiva sendiri yang mengatakannya dihadapanku. Aku merasa ia mengatakan banyak hal padaku dalam surat pendeknya itu. Aku bisa merasakan senyum mataharinya.


“Aku juga menyukaimu. Namun aku tak bisa menjadi kekasihmu, karena aku tahu waktuku telah usai. Aku tidak akan minta maaf karena pergi darimu. Tapi, terima kasih telah menemani sisa hariku. Rui.”

Aku hanya berdiri terpaku dan membeku. Seakan ia pergi dengan membawa sebagian hatiku.

==Fin==
Yogyakarta, 10 oktober 2013

Ingat, Allah selalu melihat.. ;)

https://www.wattpad.com/77783174-semangkuk-matahari

No comments:

Post a Comment