Saturday, October 25, 2014

Keping Memori Terakhir

#Cerpen

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
----


Tetes gerimis yang membasahi bumi menguarkan bau tanah bercampur salju. Seolah langit turut berduka. Salju sudah berhenti ketika pemakaman dilaksanakan, dan digantikan gerimis tipis, seakan langit menangis tak rela.

Beberapa orang terlihat mulai berbalik melangkah ke rumah masing-masing, meninggalkan seseorang yang masih tertunduk menatap gundukan tanah di depannya. Ia masih saja terdiam membiarkan hujan membasuhnya. Membasuh air matanya. Membasuh hatinya.

Seseorang menepuk bahu pemuda itu. “Kai, biarkan Athena beristirahat. Ayo kita pulang.” Pemuda itu menoleh. Ternyata mama Athena.

“Kenapa Bibi belum pulang? Bibi bisa sakit bila kehujanan seperti ini.” kata Kai bangkit, memegang payung yang dibawa mama Athena, supaya mama Athena tidak kehujanan. “Ayo kita pulang.”


-#TenAkatsuki#-


Kai menatap album ditangannya. Ditatapnya lembar demi lembar memori dihadapannya, sambil pikirannya berbalik beberapa waktu lalu.


“Ena! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku basah kuyup! Bagaimana jika nanti aku terkena flu?” seru Kai ketika Athena menyiramnya dengan selang air, di suatu musim panas.

“Hanya orang bodoh yang terkena flu di musim panas!” sahut Athena ceria. Mama Athena yang melihat peristiwa itu hanya tersenyum dan meletakkan sepiring potongan semangka untuk Kai dan Athena.

“Terima kasih, Bibi.” Ucap Kai.

Kai tinggal di sebelah rumah Athena. Mereka sudah berteman sejak kecil meski Kai setahun lebih tua dari Athena, hingga mereka sudah seperti saudara. Bagi mama Athena sendiri Kai sudah seperti anak sendiri.

Athena meletakkan selang airnya dan duduk di sebelah Kai menikmati semangka. “Aaah, segarnya. Di musim panas seperti ini memang lebih asyik bermain air dan makan semangka!” serunya riang yang hanya ditanggapi dengan biasa oleh Kai.

“Ada apa denganmu? Apa kau ada masalah? Atau… jangan-jangan kau sedang jatuh cinta?” seru Athena dengan senyum mengembang cerah.

Kai tersentak. “Apa ekspresi seperti ini adalah ekspresi seseorang yang jatuh cinta?” kata Kai menunjuk wajahnya yang datar.

“Mungkin saja, aku tidak tahu karena wajahmu jarang menampakkan ekspresi. Tapi jika tebakanku benar, aku ingin tahu siapa dia.” Kata-kata Athena yang penuh semangat itu membuat Kai menghela napas, ia kehilangan selera makan semangkanya.

Setelah bertahun-tahun mereka bersama, Kai sendiri baru menyadari perasaannya terhadap Athena beberapa waktu lalu. Tepat ketika seorang pemuda memanggil Athena ke belakang gedung sekolah, dan menyatakan cinta. Namun Kai tidak berani mengetahui jawaban apa yang diberikan oleh Athena.

Athena lah yang telah menyelamatkannya dari kesendirian. Kai hanya tinggal bersama ayahnya yang sibuk. Ayah dan ibunya telah lama bercerai. Setiap hari, tanpa merasa bosan, Athena selalu mengajak Kai bermain bersama.

“Hei, Ena, libur musim panas sudah hampir usai, bagaimana dengan tugas rumahmu?” tanya Kai mengalihkan pembicaraan, yang hanya dijawab Athena dengan cengiran lebar, yang menandakan bahwa tugas-tugas yang diberikan sekolah belum selesai dikerjakan. “Kalau kau berhasil menyelesaikannya dua hari sebelum sekolah dimulai, aku akan mengajakmu ke laut.”

“Benarkah? Kau pasti bercanda!” seru Athena girang, dan Kai hanya mengedikkan bahu. “Paaasti! Pasti akan kuselesaikan.” Kata Ena berapi-api.

Athena berkutat dengan tugas-tugasnya dengan bantuan Kai selama dua hari penuh. Karena tugasnya sudah selesai, Athena pun menagih janjinya pada Kai. Kai pergi ke laut bersama Athena dan mama Athena. Mama Athena mengambil foto untuk kenang-kenangan. Mama Athena memotret bagaimana senangnya Kai dan Athena bermain air di laut. Momen-momen bahagia itu diabadikan oleh mama Athena.


-#TenAkatsuki#-


Kai membalik lembar demi lembar foto lagi. Dilihatnya sebuah foto yang bahkan dia lupa kapan foto tersebut diambil. Foto dimana Athena menarik kedua pipi Kai karena Kai tidak mau tersenyum.


“Mengapa kau bersedih, Kai? Tidak bisakah kau perlihatkan padaku wajah penuh senyummu?” kata Athena menarik kedua pipi Kai dan melepasnya ketika Kai mengaduh.

“Aku tidak sebahagia kau, Ena. Kau dan keluargamu. Aku tidak bisa menemukan kebahagiaan itu.”

“Kalau begitu, kenapa tidak kau buat sendiri saja kebahagiaanmu? Kau kan juga keluargaku.” Kata Athena tulus, yang perlahan membuat ujung bibir Kai sedikit tertarik ke atas. “Ah! Kau tersenyum! Barusan kau tersenyum!” Kai memalingkan muka ke arah lain, menyembunyikan rasa malunya.


-#TenAkatsuki#-


Kai masih memandang album dalam diam, hingga mama Athena memanggilnya dan menyerahkan sesuatu padanya. Buku Harian milik Athena. Mama Athena ingin Kai menyimpannya. Dibukanya buku harian itu di bagian tengah.

Tanggal xx bulan xx
Ada yang menyatakan cinta padaku!!
Tapi maaf, hatiku sudah memilih orang lain.. X3
Aku harap dia segera tahu perasaanku, dan mempunyai perasaan yang sama denganku.


Tanggal xx bulan xx
Hari ini ada festival kembang api! Aku tak sabar menantikannya. Aku ingin mengenakan yukata terbaikku. Aku tidak mau kalah dengan gadis lain! Kai! Akan kubuat kau terpesona! Ingin sekali aku berteriak bahwa aku menyukaimu, Kai! Haha XD


Kai kembali membuka buku harian yang dibukanya secara acak.


Tanggal xx bulan xx
Aku harus tetap semangat! Tapi aku penasaran, ekspresi wajah Kai berubah ketika aku berkata apa dia sedang menyukai seseorang. Itu membuat hatiku sakit. Aku tidak ingin Kai pergi meninggalkanku. Tapi, siapa gadis yang sampai bisa masuk ke celah hati Kai?


Kai tersentak. Ia ingat momen itu. Mengapa? Mengapa ini terjadi?!

Walau pikirannya terasa penuh, Kai tetap melanjutkan membaca buku harian itu. Di bukanya pada halaman terakhir.


Tanggal xx bulan xx
Sayonara…
Aku akan melupakanmu, Kai. Pasti. Aku tidak akan merusak hubungan ini hanya karena keegoisanku menyukaimu. Aku tidak akan mengorbankan ikatan keluarga kita. Tenang saja, natal nanti hadiah untukmu tetap yang paling istimewa. Karena kau istimewa untukku.
Gadis itu… gadis yang bersamamu siang itu, aku rasa gadis itu cocok untuk Kai. Gadis yang tenang dan anggun, cocok dengan pembawaan Kai. Aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu, Kai.
Aku berharap dengan senyumku, bisa membuatmu tersenyum dan bahagia, karena aku bahagia jika semua orang di sekitarku bahagia, terutama kau, Kai.


‘Gadis itu hanya teman SMP yang tanpa sengaja bertemu di jalan, Ena! Kenapa kau bahkan tidak menanyakannya padaku?’ seru Kai dalam hati menahan sesal.

Ketika Kai mau menutup buku harian itu, sesuatu terjatuh. Fotonya bersama Athena pada festival kembang api yang diambil oleh teman Athena.


-#TenAkatsuki#-


Kai teringat bagaimana awal pertemuan mereka. Kai yang sendiri selalu menghabiskan waktunya duduk di taman kecil yang ada di kompleks rumah mereka. Kai hanya mampu memandang orang berlalu lalang dan berharap dia juga punya kesempatan untuk bahagia seperti mereka. Hingga pada suatu sore ia melihat gadis itu berjalan ke arahnya. Dia duduk di ayunan yang tergantung di sebelahnya.

“Apa?” tanyaku jengah dengan tatapannya.

“Lututku sakit.” Katanya tersenyum.

Aku mengerutkan alis. Kulihat lututnya yang berdarah. Lalu kenapa jika tututnya sakit? Apa urusannya denganku?

“Namaku Athena. A-T-H-E-N-A. panggil aku Ena.” Katanya mengulurkan tangan padaku. Aku hanya menatap tangannya yang terulur.

Nama yang aneh. Nama orang asing. Cocok sekali dengan dirinya yang aneh dan asing untukku.

Dia berdecak tak sabar dan meraih tanganku, menjabatnya. “Aku tahu namamu Kai. Kau tetangga sebelah yang pendiam itu kan? Aku sering melihatmu di taman ini. Apa ada yang menarik? Aku tahu sih, memang menarik melihat orang berlalu lalang. Aku malah sering sekali menghitungnya. Rekorku yaitu menghitung 437 orang yang lewat.”

Benar-benar gadis yang berisik dan kurang kerjaan. Dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.

“Ayo pulang.” Katanya kembali menarik tanganku dan menggandengku pulang. Aku memilih diam.

“Kau tahu, mengapa Mama memberiku nama Athena?” aku menggeleng. “Karena kata Mama aku anak yang kuat dan tidak cengeng. Tadi aku tersandung dan jatuh, tapi aku tidak menangis karena aku kuat.” Katanya terkekeh.

Sepanjang perjalanan gadis itu tak henti-hentinya berbicara. Heran, apa dia tidak lelah berbicara tanpa henti seperti itu? Aku melepas genggaman tangannya dan berhenti.

“Ada apa?” tanyanya bingung.

“Ini rumahku.” Giliranku yang menatapnya dengan bingung. Kami sudah berdiri di depan pintu gerbang halaman rumahku.

Tiba-tiba gadis itu tersenyum dan menarik tanganku lagi. “Kita pulang ke rumahku.”

Aku hanya menatap rumahku yang gelap. Itu berarti tidak ada siapapun di rumah.

“Mamaaa! Kami pulang!” serunya yang kemudian disambut mamanya dengan senyum. Mama gadis itu pun menyambtku dengan hangat. Baru kali ini aku merasa seperti betul-betul pulang ke rumah. Pertama kalinya aku merasa punya tempat untuk tersenyum. Apakah ini kesempatan untukku bahagia?


Tapi itu hanyalah pemikiran naïf dari aku yang belum tahu apa arti keadilan hidup. Karena dalam kamus hidupku tidak akan pernah ditemukan kata ‘adil’. Karena hidup itu tak adil.


-#TenAkatsuki#-


Halaman demi halaman album foto dibukanya untuk mengingat kebersamaannya dengan Athena. Kai menelusuri memorinya bersama Athena sampai yang terakhir. Foto terakhir Athena. Foto itu diambil tepat sebelum saat kematian Athena. Foto di pagi hari pada hari sebelum natal tiba.

“Kai, apa ada yang kau inginkan?” tanya Athena tiba-tiba.

Aku menginginkanmu, Ena. “Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa.” Kata Kai meletakkan tangannya di pucuk kepala Athena.

“Tapi, malam natal nanti bertepatan dengan hari ulang tahunmu, Kai. Kau boleh meminta apapun dariku.” Kata Athena riang. “Kau mau aku membelikanmu kado apa?”

“Tidak. Lihat ini, jam tangan hadiah natal dua tahun yang lalu pun masih bekerja dengan baik dan selalu kupakai. Aku tidak membutuhkan apa-apa, Ena. Terima kasih.”

“Tapi—”

“Kalau kau memaksa, pulanglah lebih awal, dan kita akan berkumpul satu keluarga.” Kata Kai tersenyum. Baru kali ini senyum Kai terlihat manis. Baru kali ini juga kai mengatakan “Kita… keluarga…”

“Aku dengar dari berita cuaca tadi, bahwa malam ini salju akan turun. Aku ingin melihat salju pertama yang turun bersamamu! Kita semua akan berbahagia malam ini, yaiy!!” seru Athena penuh sukacita dan bahagia.

Athena mengingat percakapan pagi itu dan tidak sabar untuk segera pulang. Ia menyeberang dengan tergesa tepat pada saat ada sebuah mobil yang tergelincir. Kecelakaan pun tak terelakkan lagi.

Athena yang langsung dilarikan ke rumah sakit sempat koma beberapa waktu. Ia membuka mata dan tersenyum. “Aku ingin melihat salju pertama turun bersamamu.” Athena pergi ke tempat yang tak bisa Kai raih.

Tak berapa lama salju pertama pun turun di kota. Kai melihatnya. Seakan putihnya salju turut membawa kepergian Athena.

“Ena… Enaaaa!!!” baru kali ini Kai menangis setelah hampir 10 tahun sejak perceraian orang tuanya. Mama Athena membekap mulut menahan tangisnya yang menyesakkan.


-#TenAkatsuki#-


Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Kau tahu Ena, seandainya kau bertanya padaku siapa gadis itu, itu kau! Itu kau, Ena!

Kai mengambil fotonya bersama Ena pada saat festifal kembang api, dimana Kai dan Ena tersenyum, memasangnya pada pigura dan meletakkannya di meja. Kai memasukkan album dan buku harian Athena ke dalam kotak, berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi.

==Fin==
Yogyakarta, 25 Juni 2013

Ingat, Allah selalu melihat.. ;)

https://www.wattpad.com/77762530-keping-memori-terakhir

*This is mine. Don’t copy without my permission. Ten akatsuki!!*

No comments:

Post a Comment