Saturday, November 14, 2015

Another Moon - Part 3

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 3

Felicia sudah berada di halaman sekolah dan menyambut anak didiknya yang baru tiba. Senyumnya terukir manis di bibirnya, membalas sapaan anak-anak yang terlihat bersemangat.

Ketika ia menatap ke arah gerbang sekolah, ia melihat Bintang yang menggandeng Rain. Terlihat manis, seperti ayah dan anak.

“Bunda Feyiii!!” seru Rain melepaskan genggaman Bintang dan berlari menghambur ke arah Felicia. 

“Selamat pagi!” seru Rain mencium punggung tangan Felicia.

Tingkah Rain membuat Felicia tertawa geli. “Selamat pagi, Rain.”

“Ehem!” Bintang berdehem, membuat Felicia dan Rain menoleh ke arahnya.

“Selamat pagi!” sapa Felicia tersenyum. Entah kenapa sejak bangun tidur tadi suasana hatinya sangat baik. Padahal seingatnya, ia tidak memimpikan apa pun.

Bintang membeku sesaat. Ia tidak membayangkan akan mendapatkan sapaan selamat pagi dari Felicia. Setelah kejadian semalam, ia pikir ia akan mendapatkan teriakan atau bahkan lemparan benda yang terjangkau oleh Felicia. Gadis itu benar-benar tak bisa ia prediksi.

“Bintang?” panggilan Felicia menyadarkan Bintang.

“Er, selamat pagi.” Jawabnya agak gugup. Semoga Felicia tidak menyadarinya, pikir Bintang.

“Tumben sekali kau mengantarkannya sangat pagi?” tanya Felicia melirik arlojinya, pukul 7.25.

Bintang berdeham. “Aku ada rapat pagi, jadi aku mengantarnya labih pagi. Iya kan Rain?” Bintang terlihat sedikit salah tingkah.

Felicia bingung melihat Bintang yang menanyakannya pada Rain. Memangnya apa urusannya dengan Rain?

“Iya Bunda, katanya Om Bintang harus rapat setengah sembilan.” Jawab Rain. Ia menjawab sesuai dengan apa yang dikatakan Bintang padanya tadi pagi.

“Oh ya?” jawab Felicia menanggapi Rain.

“Bunda Feyi tahu nggak? Rain bangun jam enam kurang.” Kata Rain bangga.

Felicia agak sedikit terkejut karena menurutnya itu terlalu pagi untuk sekolahnya yang masuk pukul delapan. Rain biasanya datang sekitar pukul 7.45.

“Wah, berarti Rain sudah besar dong?” tanya Felicia. Ia sudah terbiasa menanggapi celotehan anak kecil.

“Iyaaa! Kayak Om Bintaang!” serunya melompat ke arah Bintang. "Om Bintang juga bilang, anak laki-laki yang kuat itu tidak menangis."

Felicia agak sedikit terkejut melihat kedekatan Bintang dan Rain. Sepertinya kemarin tidak sedekat ini. “Terima kasih sudah mengantar. Kau bisa segera berangkat sebelum terlambat rapat.”

“Kau mengusirku?” tanya Bintang menaikkan sebelah alisnya.

“Bukan!” sahut Felicia cepat. Terlalu cepat. “Bukan begitu. Nanti kau terlambat rapat, dan bosmu bisa marah padamu.”

Melihat reaksi Felicia membuat Bintang terkekeh. “Sebenarnya aku ingin minta maaf padamu.”

“Minta maaf? Kenapa?” Felicia menatap Bintang dengan bingung.

“Untuk yang kemarin malam. Aku—”

“Harusnya aku yang minta maaf. Tidak seharusnya aku ikut campur urusanmu.” Sahut Felicia memotong perkataan Bintang.

Bintang menggeleng. “Tidak seharusnya aku membentakmu.”

“Permintaan maaf diterima dengan syarat,” Felicia tersenyum.

“Syarat?” Bintang mengernyitkan kening.

“Es krim.” Jawab Felicia diplomatis kemudian berbalik. Ia menggandeng Rain dan mengajaknya melangkah masuk kelas.

“Syarat diterima.” Seru Bintang yang dibalas senyuman Felicia dan lambaian tangan dari Rain. “Di kafe biasa, seperti biasa.” Tambah Bintang.

Ya, setiap sepulang menjemput Rain, mereka bertiga selalu menghabiskan waktu di kafe hingga sore hari. Dan biasanya, setelah mengantar Rain sampai di rumah, selalu saja ada hal yang membuat Felicia tinggal sedikit lebih lama.

Bintang menatap Felicia yang berlalu dari hadapannya. Ia tak menyangka seorang Felicia sangat berpengaruh padanya. Seperti kepakan kecil dari sepasang sayap, namun mengubah angin yang ada dalam radius kepakannya.

***

Di ruang kerjanya, Bintang tak bisa berhenti tersenyum. Senyumnya langsung mengembang saat ia teringat Felicia. Dan ia hampir tidak bisa menghapus bayangan Felicia yang tersenyum. Bahkan tanpa ia sadari, bayangan Bulan mulai memudar, bahkan di alam bawah sadarnya.

Rekan-rekan kerja Bintang mengira Bintang mulai gila. Siapa yang tidak berpikir seperti itu bila Bintang yang biasanya sibuk dengan kerjaannya, kini mempunyai kesibukan baru: melamun sambil tersenyum.

Bintang tidak peduli. Jika ada rekan kerja yang menegurnya atau mengejeknya, ia akan membalasnya dengan senyum. Harinya terlalu indah untuk dirusak oleh celetukan usil dari rekan-rekannya yang iri karena ia sedang bahagia.

Tunggu! Ia bahagia hanya dengan teringat Felicia?

Bintang menggelengkan kepala. Walaupun logikanya mencoba menyangkal, namun hatinya berkata lain. Bahkan bibirnya pun berkhianat dengan menebar senyum.

“Felicia…” gumam Bintang. “Kau benar-benar menyebalkan.”

Ia menggumamkannya dengan senyum yang masih tersungging.

***

Siang itu, setelah datang ke sekolah untuk menjemput Rain, Bintang membawa Felicia dan Rain ke kafe tempat Emma bekerja. Ia memesan menu yang biasa mereka pesan. Kopi hitam kental tanpa gula, es krim choco-vanila, es krim matcha, dan sepiring macaroon dengan berbagai rasa.

“Kau tahu, kak Emma menyukai bosnya.” Kata Felicia dengan suara pelan. Ia memajukan tubuhnya hingga menempel meja dan menipiskan jarak antara dia dan Bintang.

Bintang mengernyitkan kening. Ia agak bingung dengan topic yang tiba-tiba muncul.

Felicia menunjuk ke arah pintu di belakan konter. Di sana berdiri Emma bersama dengan seorang pria. Mereka  terlihat sedang mengobrol santai.

“Sahabat kak Emma itu duda. Kak Emma menyukainya tapi takut menyatakannya. Ia tidak mau persahabatan mereka rusak.” Kata Felicia sambil memakan es krimnya.

“Kenapa kau mengatakannya padaku?” tanya Bintang menyesap kopinya.

“Siapa tahu kau menyukainya. Jadi kau bisa menyiapkan diri untuk patah hati.” Jawab Felicia dengan polos.

Bintang menghela napas. Ia menatap gadis di depannya ini dengan tatapan tak percaya. “Kubilang, kau salah paham.”

“Atau… kau menyukai Bulan?” tanya Felicia lagi.

Bintang berdehem. “Sejak kapan kakakmu bekerja di sini?” ia mencoba mengalihkan pembicaraan. Bukan membuka luka, hanya saja ia belum siap untuk bercerita. Ia masih dalam proses mengumpulkan serpihan hatinya.

Felicia langsung paham. Bintang menyukai Bulan. Tidak, sangat Bintang mencintainya. Entah mengapa tiba-tiba terasa sesuatu menggores hatinya.

“Sudah dua tahun ini.” jawab Felicia sambil membersihkan pipi Rain yang terkena es krim.

“Oh,” hanya itu. Bintang tak tahu harus mengatakan apa.

Bintang mengulurkan tangan dan menyentuh sudut bibir Felicia. “Kau juga.” Kata Bintang membersihkan es krim di sana.

“T-terima kasih.” Jawab Felicia gugup.

Bintang terkekeh melihat wajah Felicia yang bersemu.

Felicia menatap Bintang kesal dan melemparkan remasan tisu padanya.  “Menyebalkan!” gerutunya.

“Bunda Feyi, habis.” Kata Rain meletakkan sendoknya.

Felicia menoleh ke arah Rain dan menyodorkan sendoknya berisi es krim matcha miliknya.  “Mau coba punya Bunda Feyi?” 

“Apa itu enak?” tanya Rain yang terlihat ragu.

Felicia mengangguk dan menyodorkan sendoknya semakin dekat, mencoba meyakinkan Rain bahwa es krimnya enak.

“Bagaimana?” tanya Felicia setelah Rain menerima suapan darinya.

“Emm…” Rain terlihat sedang berpikir dan memastikan sesuatu. “Enak!” serunya tersenyum lebar. “Rain boleh minta es krim Bunda Feyi?”

“Semuanya untukmu.” Jawab Felicia tersenyum dan memberikan mangkuk es krimnya yang masih tersisa separuh.

"Yaiiy! Terima kasih, Bunda!" Seru Rain bersorak.

Felicia membayangkan, andai saja dulu ia jadi menikah, pasti akan sangat membahagiakan berbagi es krim dengan anaknya.

“Kupesankan lagi?” tanya Bintang menawarkan.

“Tidak usah, terima kasih. Aku selalu bawa air mineral kok.” Kata Felicia sambil mengeluarkan sebotol air mineral dari tas selempangnya.

Bintang terkekeh. “Kau seperti Rain yang selalu bawa bekal sendiri.”

“Hei, apa maksudmu?” Felicia memicingkan mata dengan kesal. “Kau mau?” tanya Felicia mengeluarkan dua bungkus cokelat dan meletakkannya di meja.

Bintang hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Ia tak habis pikir dengan gadis di depannya ini. Ia terlalu sulit dibaca. Bintang mengambil satu cokelat dan memakannya perlahan. Begitu pula dengan Felicia.

“Bunda Feyi, Rain juga mau.” Pinta rain ketika melihat dua orang dewasa yang bersamanya sedang asyik memakan cokelat.

Belum sempat Felicia mematahkan cokellat di tangannya, Bintang sudah menyodorkan separuh cokelatnya pada Rain.

“Terima kasih, Om!” seru Rain kegirangan. Ia mengunyah cokelat dan sesekali menyuapkan es krim matcha.

Felicia dan Bintang hanya bisa menatap Rain tak berkedip. Memangnya enak makan es krim matcha sambil makan cokelat?

Setelah Rain menghabiskan es krim dan cokelatnya, Felicia membersihkan pipi dan bibir Rain. Tak lama kemudian mereka pamit pada Emma untuk pulang.

Belum sempat Bintang menarik pintu untuk Felicia dan Rain, ia dikejutkan oleh sosok di depannya.

“Friska?” tanya Bintang.

Friska hanya mengangkat bahu. “Obat patah hati itu makan yang banyak.” Jawab Friska sekenanya.

“Semoga cepat sembuh kalau begitu.” Jawab Bintang terkekeh.

“Harusnya kau berkaca.” Balas Friska memutar bola matanya. “Tapi kulihat kau sudah hampir sembuh.” Setelah mengatakan itu Friska langsung menuju konter.

"Satu greentea milkshake dan satu tiramisu." Setelah memesan, Friska menuju tempat duduk paling pojok. Ia sudah tak mengacuhkan Bintang dan berkutat dengan pikirannya sendiri.

Melihat Friska, Bintang jadi berpikir. Apa dulu dia juga terlihat seperti itu? Friska terlihat memaksakan diri. Beruntung Bintang bertemu dengan Felicia dan Rain. Mereka berdua memberi warna pada hidupnya yang abu-abu.

Bintang segera membuka pintu dan menhannya. Membiarkan Felicia dan Rain keluar lebih dulu, kemudian mengikutinya.

“Siapa?” tanya Felicia yang tak bisa menahan rasa penasarannya.

“Teman seperjuangan.” Jawab Bintang enteng, membiarkan Felicia bingung dengan pikirannya sendiri.

Teman seperjuangan? Berjuang? Bintang mencintai Bulan. Bintang pernah memperjuangkan Bulan. Tidak mungkin kan wanita itu juga menyukai Bulan?

Felicia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikirannya yang mulai ngawur.

***

“Nak Feli bantu Tante dulu ya?” bujuk mama Bintang.

Felicia menatap Bintang meminta bantuan. Bintang hanya mengedikkan bahu seakan berkata ‘Sudahlah, ikuti saja’.

"Tapi Rain gimana?" Tanya Felicia mencoba mencari alasan.

"Rain bersamaku. Dia juga tidak protes kok." Bintang menyahut dan tersenyum miring.

Merasa tidak ada pilihan lain, Felicia menghela napas. “Baiklah. Tapi hanya sebentar ya Tante, setelah itu saya pulang.” jawabnya tersenyum kaku.

Bukannya ia tidak mau membantu, hanya saja ia merasa tidak enak hati. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanya orang luar. Tadi mama Bintang memintanya membantu memasak. Memasak? Bukannya mau menolak, tapi memasak itu kan untuk keluarga... sedangkan dia?

Sembari bermain lego di meja ruang tengah, sesekali Bintang mencuri pandang ke arah dapur. Ia bisa mendengar ibunya dan Felicia sedang membicarakan masakan. Bintang tersenyum. Hatinya menghangat hanya dengan melihat Felicia ada di rumahnya. Rain sendiri sedang asyik menyusun lego membentuk istana. Mungkin seperti ini rasanya jika di rumahnya ada seseorang yang mengurusnya dan teman kecil yang mengajaknya bermain.

"Om, robotnya mana?" Tanya Rain. Ya, tadi Rain meminta Bintang membuat robot, sedangkan dirinya membuat istana.

"Tunggu, Om sedang memasang kakinya." Jawab Bintang kembali memasang sambil sesekali menanggapi celotehan Rain.

Bintang bersyukur Rain sudah mulai dekat dengannya. Rain menyenangkan. Hidupnya jauh berubah setelah ia mengenal Felicia dan Rain. Harinya berwarna abu-abu dan gelap sejak ia tahu Bulan telah menikah dan punya anak, dan sejak Bulan memilih kembali pada Reza...

Jujur, Bintang menyesal karena sempat membuat hancur rumah tangga Bulan. Selain Bulan yang tersakiti, begitu pun dirinya. Bintang sempat percaya bahwa Bulan mencintainya, yang ternyata hanyalah cinta semu. Kalau saja ia tidak bertemu Bulan lagi, pasti dirinya dan Bulan tidak akan tersakiti.

Kalau kau tidak bertemu Bulan dan tidak patah hati, kau tidak akan bertemu dengan Felicia.

Bintang terhenyak ketika hatinya berbicara. Ya, dia tidak akan bertemu dengan Felicia karena dia tidak akan bekerja di sini. Jika dulu ia tidak menemui Bulan, pasti sekarang ia masih ada di luar kota.

Bintang tersenyum saat memberikan robotnya yang sudah selesai pada Rain. Felicia dan ibunya pun sudah selesai memasak. Ia bangkit dari duduknya dan menghampiri Felicia.

"Pulang sekarang?" Tanya Bintang.

Felicia mengangguk  dan tersenyum. "Tante, saya pulang dulu. Maafkan saya karena banyak merepotkan." Felicia mencium punggung tangan mama Bintang. Refleks.

"Tidak makan malam dulu?" Tanya mama Bintang penuh harap.

"Terima kasih, Tante. Mungkin lain kali." Felicia tersenyum mendengar tawaran mama Bintang yang menurutnya menggiurkan.

Ia merasa seperti memiliki sesosok ibu yang dulu pernah dimilikinya. Hatinya menghangat. Biar kebahagiaan semu ini dirasakannya. Sebelum kenyataan menyapa dan menghacurkannya. Mengingatkan bahwa dirinya bukan siapa-siapa.

"Rain, Bunda Feyi pulang ya?" Kata Felicia menghampiri Rain yang sedang bermain.

Rain meletakkan mainannya dan berdiri. "Kok Bunda Feyi pulang sekarang?"

"Besok kita bertemu lagi di sekolah." Jawab Felicia menangkup kedua pipi Rain. "Janji sama Bunda Feyi kalo Rain tidak akan nakal, Rain tidak akan membuat susah Om Bintang dan Nenek."

"Rain janji, Rain kan sudah 0 besar!" Seru Rain mengangkat kedua lengannya membentuk lingkaran besar.

Felicia tersenyum. Ia berpamitan kemudian keluar bersama Bintang. Seperti biasa, Bintang mengantarkannya pulang sampai di depan rumah. Senja sudah turun ketika Felicia sampai. Sebelum turun, ia melihat rumahnya masih gelap. Kakaknya belum pulang. Biasanya kakaknya akan pulang pukul tujuh, dan sekarang masih pukul enam.

"Mau masuk?" Tanya Felicia.

Bintang terlihat menimbang, namun sedetik kemudian mengangguk.

Mereka turun dari mobil dan masuk ke rumah.

"Duduk dulu. Tunggu di sini sebentar." Kata Felicia yang menyalakan lampu ruang tamu, kemudian masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian Felicia keluar dengan pakaian santainya. Celana pendek selutut dan kaos yang terlihat agak kebesaran. Ia membawa secangkir kopi hitam kental tanpa gula untuk Bintang.

"Kopi hitam kental?" Tanya Bintang menaikkan sebelah alisnya.

"Kupikir kau menyukainya. Kau selalu memesan itu setiap datang ke kafe." Jawab Felicia.

Bintang  menyesap  kopinya yang masih panas dengan perlahan. "Pahit." Gumamnya.

Mendengar Bintang memprotes, Felicia mengerucutkan bibirnya kesal. "Lihat aku dan kopimu akan terasa manis." Ia menyahut dengan meleletkan lidah.

Bintang tertawa. Gadis di depannya ini benar-benar membuatnya gemas. "Aku tidak suka kopi pahit." Katanya sambil tersenyum.

"Lalu, kenapa selalu memesan kopi tanpa gula?" Tanya Felicia mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti jalan pikiran pria di depannya ini.

"Kupikir kopi pahit bisa mengurangi sakit di sini." Kata Bintang menunjuk dadanya.

"Sakit jantung?" jawab  Felicia polos yang membuat  Bintang terkekeh.

"Kurang lebih lima tahun lalu, aku pergi meninggalkan orang kucintai. Ketika aku kembali, ia telah bersama yang lain. Sekuat apapun aku berusaha, hatinya sudah ada yang memiliki."  Bintang tersenyum tipis.

"Jangan cerita kalau itu membuka luka hatimu." Sahut Felicia tersenyum ringan. "Kalau hatinya sudah ada yang memiliki, cari saja hati yang masih belum ada pemiliknya."

"Tidak semudah itu." Kata Bintang menyesap kopinya lagi.

"Hati yang hancur menjadi remah-remah itu memang akan sulit disusun lagi, jika kau membayangkan hati itu kaca. Tapi jika kau membayangkan hati itu seperti remah biskuit, untuk apa menyusunnya kembali? Buat saja susu atau es krim, dan campurkan saja dengan biskuit hancur tadi. Itu artinya kau punya cara lain untuk menikmati hidup." Felicia  tersenyum. "Tunggu di sini."

Ia masuk ke dapur dan kembali dengan setoples biskuit dan dua gelas susu vanila. Satu untuknya, satu untuk Bintang.

"Lihat." Felicia  meremukkan sebuah biskuit dengan  tangannya. "Kau akan kesulitan memakannya kalau seperti ini. Tapi kalau begini?"

Bintang mengamati Felicia yang memasukkan remahan biskuit tadi ke dalam gelas di depannya.
 
"Menikmati dengan cara lain." Kata Felicia tersenyum dan meminum susu vanila-biskuitnya.

Setelah melihat Felicia, kini Bintang menatap gelas di depannya. Sedetik kemudian ia meminum susu vanilanya hingga tersisa setengah gelas, kemudian menuangkan kopi ke dalamnya. Kopi susu.

"Menikmati dengan cara yang lain." Kata Bintang tersenyum. Ia menirukan Felicia.

Felicia tertawa. Rasanya ia bahagia sekali hari ini. Ia terlalu banyak melihat senyuman Bintang. Mungkin ia harus memeriksakan diri ke dokter, jangan sampai ia terkena diabetes karena terlalu banyak melihat sisi manis Bintang.

***

Emma masuk ke rumah dengan terkejut, tak menyangka akan melihat Felicia tertawa lepas seperti itu. Dan tawa itu muncul karena adiknya sedang bersama Bintang. Ia semakin yakin bahwa adiknya bisa bahagia bersama Bintang. Tapi juga bisa lebih hancur karena bersamanya.

Melihat Emma pulang, Bintang melirik arlojinya. Setengah delapan malam.

"Sudah malam, aku pulang dulu." Kata Bintang meneguk habis kopi susunya.

"Fey, Arga masih di depan. Tolong carikan map biru yang berisi coretan menu baru, di antara tumpukan kertas di meja kamarku." Emma mencoba mengusir adiknya dengan halus.

Felicia mengangguk dan langsung masuk ke kamar Emma.

Begitu Felicia menghilang di balik pintu, Emma segera meminta waktu bicara dengan Bintang. "Sudah lama?"

"Mungkin sekitar satu atau satu setengah jam yang lalu." Jawab Bintang tenang.

"To the point, aku tahu kau dekat sekali dengan adikku akhir-akhir ini. Aku hanya tidak ingin kau menyakitinya. Jangan terlalu dekat jika kau tak yakin."

Bintang menaikkan sebelah alisnya. "Aku tidak mengerti maksudmu, Em."

Tepat ketika Emma akan menjawab, Felicia muncul dengan map biru di tangannya.

"Thanks." Kata Emma setelah Felicia memberikan map itu padanya.

Emma segera beranjak untuk menemui Arga, bos sekaligus sahabatnya. Sedangkan Bintang masih mengira-ngira apa maksud kata-kata Emma.

"Jangan lupa, kau yang menentukan kebahagiaanmu." Kata Felicia menyadarkan Bintang yang berkutat dengan pikirannya sendiri.

Bintang mengangguk mengiyakan. "Sampai jumpa." Katanya kemudian melangkah ke mobilnya. Tak jauh dari mobilnya terparkir, ada Emma dan Arga yang sedang berbicara.

"Bye." Balas Felicia melambaikan tangan.

Tanpa Felicia dan Bintang sadari, orang yang yang melihat mereka berdua pasti mengira bahwa mereka sepasang kekasih.

***

Let it go. Forget the people who make you sad. Don’t let them affect you. But never forget what they taught you. The choices you make, the struggles you face prepare you for life.

..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144795524-another-moon-re-part-3


Another Moon - Part 2

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 2

Selama tiga hari ini Bintang selalu diminta mamanya untuk menemani Rain. Karena Rain tidak ingin berdua dengannya, otomatis Rain mengajak serta Felicia. Itulah mengapa tiga hari ini tiada waktu tanpa Felicia dalam harinya. Dan kehadiran gadis itu sukses membuatnya sebal setengah mati. Guru Rain itu sepertinya tahu sekali bagaimana merusak hari-hari Bintang.

Siang itu, sepulang sekolah, Rain meminta ditemani ke taman kota. Sebagai orang dewasa, itu merupakan hal yang membosankan menurut Bintang. Taman kota? Kenapa harus taman kota? Seperti tidak ada tempat lain saja!

"Berisik!" seru Felicia yang mendengar gerutuan Bintang karena permintaan Rain. "Dasar! Kalau tidak ikhlas tidak usah mengantar!"

Bintang hanya bisa menatap tajam Felicia. Mau tidak mau ia harus menemani Rain daripada ia mendapat ceramah dari mamanya seharian.

Di taman kota, Bintang memilih tempat duduk di bawah pohon tak jauh dari kolam. Pikirannya berkelana jauh. Bulan. Walau ia ingin melupakan, tapi selalu saja terbayang di kepalanya. Seakan-akan otaknya sudah diatur hanya untuk memikirkan Bulan.

Tersadar, Bintang menoleh sekelilingnya mencari Felicia dan Rain. Tidak dilihatnya dua orang yang bersama dirinya tadi. Bintang bangkit dan mencoba mencari di sisi lain taman. Ternyata Felicia dan Rain sedang duduk di dekat rumpun bunga dan pohon kecil sambil makan es krim.

Bintang tak langsung menghampiri, namun memperhatikan agak jauh. Bintang memperhatikan interaksi antara Felicia dan Rain. Melihat betapa sabarnya gadis itu menghadapi bocah menyebalkan yang selalu punya banyak stok pertanyaan.

"Berarti kalau ulat itu sudah makan banyak dan menjadi besar, dia akan berubah jadi kupu-kupu?" tanya Rain sambil merentangkan tangannya ketika mengatakan 'besar'.

"Tapi, sebelum berubah jadi kupu-kupu, ulat yang sudah kenyang itu akan tidur dulu. Nah, ia tidur di dalam kepompong." Jawab Felicia dengan sabar.

"Kepompong?"

"Yep, seperti selimut. Selimut itu membungkus si ulat selama beberapa waktu." Jawab Felicia menjelaskan.

"Berapa lama?" tanya Rain yang selalu ingin tahu.

"Sampai dia lapar lagi."

"Berapa lama dia lapar lagi?"

"Kurang lebih dua minggu. Baru kemudian si ulat yang tidur tadi bangun dan keluar dari kepompong menjadi kupu-kupu." Felicia menjelaskan dengan sabar dan menggunakan penjelasan yang mudah.

"Ulat makan daun, tapi Rain lihat kupu-kupu sering ada di atas bunga. Apa kupu-kupu makan bunga?" dengan mata bulat yang selalu ingin tahu itu, Rain menunjuk ke arah kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga.

Mendengar penuturan Rain membuat Felicia tertawa. "Tidak. Kupu-kupu tidak makan bunga. Biasanya, kupu-kupu makan madu yang ada pada bunga. Madu pada bunga itu namanya nektar."

"Rain juga suka madu. Manis. Besok Rain mau bawa madu untuk kupu-kupu." Seru Rain penuh semangat. Sesekali ia memakan es krim di tangannya.

Felicia tertawa dan mencubit pipi Rain dengan gemas. "Kupu-kupu hanya suka madu yang ada di bunga. Tidak suka madu yang lain."

Rain terlihat mengangguk-anggukkan kepala seolah sudah mengerti. Ia mencoba memahami apa yang tadi dijelaskan padanya.

"Karena tadi Rain yang menemukan ulat dan kupu-kupu, sekarang Bunda Feyi yang mencari kepompongnya." Felicia memutari rumpun untuk mencari kepompong.

Bintang memperhatikan Rain yang mengekor di belakang Felicia dengan penasaran, kemudian terjatuh karena menabrak Felicia yang tiba-tiba berhenti. Seketika Bintang bergegas menghampiri dua orang yang sedari tadi dipandanginya. Tapi ia hanya berdiri, melihat Felicia yang memperlakukan Rain dengan sangat baik dan penuh sayang.

"Maaf, baju Bunda Feyi jadi kotor." Kata Rain yang melihat baju Felicia kotor terkena es krim.

Felicia menggeleng tak mempermasalahkannya. "Rain tidak apa-apa?" tanya Felicia khawatir. Ia menepuk-nepuk pakaian Rain untuk membersihkan debu. Untung saja sedang tidak hujan.

Rain menggeleng. "Kan Bunda Feyi yang bilang kalau Rain kuat." Ia tersenyum lebar dan menunjukkan telapak tangannya yang sedikit terluka.

"Sakit?" tanya Bintang yang tiba-tiba sudah berjongkok di sebelah Felicia.

Rain mengangguk dan tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang mungil. "Tapi Rain tidak menangis. Rain kuat."

Bintang tersenyum dan mengacak rambut Rain. "Itu baru namanya anak laki-laki." Bintang menggendong Rain dan mendudukkannya di bangku bawah pohon yang teduh.

"Rain duduk manis dan tunggu Bunda Feyi di sini." kata Felicia yang di sambut anggukan Rain.

Felicia membasahi sapu tangan yang dibawanya di keran air bersih terdekat. Ketika ia sedang membasahi sapu tangannya, seorang ibu datang menggandeng puteranya.

"Mau cuci tangan?" tanya Felicia pada anak itu, dan anak itu mengangguk. "Silahkan."

"Senangnya jalan-jalan bersama keluarga." Celetuk ibu anak itu tersenyum.

Felicia mengerutkan keningnya. "Keluarga?" tanyanya tak mengerti.

"Iya, itu suami dan anaknya kan?" ibu itu menunjuk ke arah pohon tempat di mana Rain dan Bintang duduk. "Semoga langgeng dan bahagia ya."

Felicia hanya bisa tersenyum kaku menanggapi ibu itu, kemudian segera pamit.

Jika orang mengira Rain adalah anaknya, itu adalah hal biasa. Ia sering dikira seorang ibu ketika berjalan dengan anak kecil. Tapi Bintang, menjadi suaminya? Mungkin dunia sudah gila jika itu terjadi. Felicia menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan apa yang dikatakan ibu tadi.

Begitu Felicia sampai di tempat Rain dan Bintang duduk, ia segera mengusapkan sapu tangan basah itu ke tangan Rain yang terluka.

"Sakit?" tanya Felicia.

"Seperti digigit semut." Rain menjawab dengan mantap.

Bintang tertawa mendengar jawaban Rain, dan itu membuat Felicia mengangkat sebelah alisnya. Bintang? Tertawa? Ia jadi teringat lagi perkataan ibu tadi. Ugh! Kenapa harus Bintang?!

"Es krimnya..." sahut Rain menggantung.

"Ayo kita ke tempat es krim yang enak!" seru Felicia menghibur Rain.

***

Felicia mengambil tempat duduk di depan Bintang dan di sebelah Rain. Bintang mengamati tempat yang dipilih Felicia. Kafe di mana ia biasa memesan kopinya.

"Hai Kak Emma!" sapa Felicia ketika seorang waiters yang datang ke meja mereka.

Bintang menatap sekilas pada waiters itu. Waiters yang biasa menyajikan kopi pesanannya.

Waiters itu mengernyitkan kening. "Kalian saling mengenal?" tanyanya.

"Dia orang yang pernah kuceritakan pada kakak." Jawab Felicia sambil membaca menu.

"Si pria menyebalkan itu?" tanya Emma, dan dijawab Felicia dengan anggukan tanpa menoleh. Ia tidak tahu kini Bintang menatapnya tajam meminta penjelasan.

Seperti menyadari ada sesuatu, Emma membaca ulang pesanan Felicia yang baru saja diberikan padanya. "Es krim choco-vanilla, es krim matcha, dan macaroon. Ada lagi?"

"Kopi hitam kental tanpa gula." Jawab Bintang.

Felicia mengernyit bingung dengan pesanan Bintang. Kopi hitam yang pahit? Memangnya enak? Dasar aneh!

"Oke, tunggu sebentar." Emma mengangguk dan berlalu.

"Siapa?" tanya Bintang.

"Apa?" tanya Felicia tak mengerti. "Oh, kakakku." Jawab Felicia mengikuti arah pandang Bintang ke pintu di mana kakaknya menghilang.

"Kenapa? Kau menyukainya?" tanya Felicia dengan polosnya. "Percuma, dia sudah menyukai orang lain."

Bintang menatap Felicia dengan kesal. Gadis di depannya ini benar-benar menyebalkan dan sok tahu. Ia tidak mengacuhkan kata-kata Felicia tadi. Ia bertanya karena wajah Emma sudah tak begitu asing baginya. Emma lah yang memberikan banana pie padanya waktu itu.

Felicia sendiri pun tidak mempedulikan apa dan bagaimana tanggapan Bintang mengenai kata-katanya. Ia sibuk menjawab pertanyaan Rain yang sedang asyik dengan buku menu di hadapannya.

"Ini pesanan kalian." Kata Emma meletakkan dua mangkuk es krim, secangkir kopi, dan sepiring macaroon ke meja Felicia.

"Terima kasih." Jawab Felicia yang diikuti oleh Rain.

Emma menoleh ke arah Bintang. "Jika kau kemari untuk secangkir kopi, ketika sore hari biasanya ada seorang gadis yang selalu kemari untuk segelas greentea milkshake." Emma tersenyum kemudian kembali ke balik konter.

Bintang hanya mengedikkan bahu tak peduli. Lalu apa hubungannya dengannya?

Sembari sesekali menyesap kopinya, sesekali pula Bintang mengamati Felicia yang sangat memperhatikan Rain. Mungkin karena ia guru TK, sehingga sangat suka pada anak-anak. Felicia terlihat sangat keibuan dan penyayang. Kesabarannya dalam menjelaskan, senyumnya yang selalu melengkung jika berhadapan dengan anak-anak membuatnya semakin terlihat lembut.

Bintang hanya mendesah dan berharap dalam hati, semoga saja dia mendapatkan pengganti Bulan yang nantinya akan memperhatikannya keluarganya seperti Felicia yang memperhatikan Rain dengan sayang.

Tunggu! Kenapa harus yang seperti Felicia?! Aaargh! Bintang menggelengkan kepalanya menepis pikiran yang barusan muncul.

Ketika Bintang menoleh ke konter, ia melihat orang yang sudah tidak asing baginya. Siapa lagi jika bukan pemilik separuh hatinya. Bulan. Bulan datang bersama Reza. Hanya berdua. Seperti ABG yang sedang berkencan.

*** 

Cemburu? Tentu saja Bintang cemburu. Tapi entah kenapa tidak sesakit dulu. Ataukah karena sudah terlalu lama ia merasakan sakit, sehingga hatinya sudah kebal hingga mati rasa?

Felicia yang melihat Bintang terdiam langsung mengikuti arah pandangnya ke konter. Entah kenapa walaupun dia sebal pada Bintang, dadanya terasa nyeri ketika melihat Bintang memperhatikan wanita lain. Lebih sakit dari saat calon suaminya membatalkan pernikahannya.

Tiba-tiba Bulan menoleh ke arah meja di mana Bintang berada dan menghampirinya, sedangkan Reza masih di depan konter menunggu pesanannya dibungkus.

"Ta, apa kabar? Lama sekali tak mendengar kabarmu." Kata Bulan dengan senyum manisnya.
"Aku baik. Kau sendiri?" Bintang menjawab dengan senyum kaku dan mempersilahkan Bulan duduk.

"Baik."

Dari jawaban Bulan dan raut wajahnya yang bersinar, Bintang tahu kalau Bulan baik-baik saja tanpanya. Sama seperti dulu ketika ia pergi meninggalkan Bulan. Seharusnya ia tidak kembali. Seharusnya mereka tak bertemu lagi.

"Memangnya kau sudah boleh berpergian?" Bintang teringat bahwa Bulan baru saja melahirkan dengan operasi caesar.

"Aku baru saja dari rumah sakit untuk cek. Dan kondisiku sudah semakin membaik." Jawab Bulan.

"Syukurlah. Ingin memesan sesuatu?" tanya Bintang basa-basi untuk menghapus kecanggungan di antara mereka.

"Tidak. Kami mampir untuk membeli kue favorit Bumi. Dia meminta hadiah itu karena telah menjaga Rayya dengan baik." Bulan menjawab dengan senyum keibuan. "Apakah ini pacarmu?"

Bintang hanya tersenyum kaku. "Kulihat kalian sangat bahagia." Kata Bintang mengalihkan pembicaraan dengan mengedikkan kepala ke arah Reza.

"Aku bahagia, dan kuharap kau pun juga bahagia." Bulan tersenyum tulus. Kemudian ia menoleh ke arah Felicia. "Bintang pria yang baik, jaga dia."

Bintang bahagia? Entahlah. Mungkin hanya keajaiban yang dapat membuatnya bahagia tanpa Bulan di sisinya.

Bintang menyesap kopinya. Jika ia pria yang baik, kenapa Bulan memilih Reza dan menolak untuk bersamanya? Apa ia harus menjadi pria brengsek dulu supaya Bulan mau bersamanya? Bintang hanya terdiam dan menghembuskan napas lelah dengan perlahan.

Setelah berkenalan dengan Felicia dan Rain, Bulan segera pamit karena sudah ditunggu oleh putera-puterinya. Reza sendiri walaupun sudah memaafkan, bukan berarti melupakan apa yang dilakukan Bulan dan Bintang dulu. Ia hanya mengangguk pada Bintang dan pergi dengan menggandeng Bulan.

Felicia yang melihat itu hanya bisa menghela napas. Kenapa harus dirinya yang menjaga Bintang? Dia bukan siapa-siapa. Dan kenapa harus Bintang? Aaargh! Sejak bertemu Bintang, hidupnya seakan menjadi keluar dari orbitnya. Jika dia adalah sebuah planet dan tata surya adalah hidupnya, maka pastilah tata surya sudah berantakan.

***

Setelah sampai di depan rumah Felicia, Felicia tidak segera turun. Ia masih duduk di tempatnya dalam diam.

"Kau tahu, lupakan hal-hal yang membuatmu sedih. Kau sendiri yang memilih, antara ingin bahagia atau tak bergerak dari kesedihan masa lalumu." Felicia menatap ke luar kaca mobil. "Melangkahlah maju dan kau akan baik-baik saja."

"Kau tak tahu apa pun. Diam dan segera turun." Sahut Bintang dengan ketus. Ia merasa terusik mendengar perkataan Felicia tentang Bulan.

"Karena aku yakin hidupmu masih lebih beruntung dari pada aku. Kau masih bisa bahagia jika kau mau mensyukuri yang kau punya." Tambah Felicia.

"Cukup! Cepat turun dan segera masuk!" seru Bintang yang tanpa sadar berteriak pada Felicia.

Felicia menahan napas ketika mendengar Bintang berteriak. Ini pertama kalinya Felicia melihat Bintang marah. Biasanya, sekesal apapun Bintang, ia tidak sampai meninggikan suaranya seperti saat ini. Mungkin ia sudah ikut campur terlalu jauh.

Tidak ingin melihat Bintang semakin marah, Felicia melepas seat belt-nya dan turun dari mobil. Tak lama setelah ia turun, Bintang segera melajukan mobilnya pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Felicia menghela napas panjang. Tidak seharusnya ia mencampuri urusan orang lain. Sedekat apa pun dia dengan Bintang, tidak seharusnya ia memaksakan pemikirannya pada Bintang. Mungkin ia bisa bertahan dengan pemikiran itu, namun belum tentu dengan Bintang.

Mengingat bagaimana reaksi Bintang ketika berada di dekat bulan, ketika Bintang meminta Bulan untuk duduk, ketika Bintang menanyakan kebahagiaan Bulan, semua itu sudah sangat jelas bahwa Bulan memiliki tempat yang sangat special di hati Bintang.

Felicia memukul kepalanya kesal. "Ck! Lalu kenapa kalau Bulan special di hati Bintang? Bukan urusanku!" serunya ketika masuk rumah dan menutup pintu dengan kasar.

***

Emma menoleh ketika mendengar suara pintu yang menutup dengan keras. Terdengar suara hentakan kaki yang sudah ia hafal. Siapa lagi kalau bakan langkah kaki Felicia yang sedang kesal.

"Kenapa Fey?" tanya Emma yang sedang menonton televisi di ruang tengah.

"Kak! Kenapa sih pria itu kepala batu? Huh! Bisanya selalu membuat orang kesal! Bisa darah tinggi kalau keseringan bersamanya!" Felicia melemparkan tas selempangnya ke sofa, sedangkan ia sendiri menghempaskan diri di samping kakaknya.

Mendengar gerutuan kesal Felicia, mau tak mau Emma tersenyum. Paling tidak adik kesayangannya ini sekarang menjadi sedikit lebih ekspresif. Tidak seperti dulu, yang hanya selalu tersenyum tipis setelah ditinggalkan mantan calon suaminya.

"Bintang?" tanya Emma.

"Siapa lagi kalau bukan si pria menyebalkan itu!" gerutu Felicia sambil mencomot keripik di toples yang dibawa Emma.

"Kulihat kau sangat akrab dengannya. Bahkan ketika kau bersama dengannya dan Rain, kalian terlihat seperti keluarga bahagia. Akhir-akhir ini jam pulangmu selalu sama. Kau tidak akan pulang jam delapan malam jika tidak akrab dengannya." kata Emma menggoda adiknya.

"Kami tidak akrab! Dia hanya orang yang menyebalkan." gumam Felicia.

"Hei, cinta dan benci itu batasnya hanya setipis kertas." Sahut Emma mengomentari. Tinggal berdua dengan Felicia membuat Emma begitu memahami adik semata wayangnya ini. Ayahnya pergi dan ibunya meninggal dua tahun yang lalu.
"Ck! Siapa bilang aku membencinya?" Felicia merebut toples kripik itu dari tangan Emma.

"Jadi, kau mencintainya?" tanya Emma yang langsung membuat gerakan Felicia terhenti.

Cinta? Felicia mencintai Bintang? Tidak mungkin dan tidak akan! Ia tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke lubang yang sama lagi karena cinta. Karena cinta, ibunya menderita. Karena cinta, kakaknya menderita. Karena cinta pula ia pernah menderita.

"Tidak akan!" seru Felicia menghempaskan toples keripik ke tangan Emma. Ia segera meraih tasnya dan masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.

Emma hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan adiknya. Ia hanya berharap semoga dengan hadirnya Bintang ini bisa membuat Felicia melupakan masa lalunya.

"Semoga kau segera menemukan kebahagiaanmu, Fey." Gumam Emma.

***

Setelah membersihkan diri, Felicia bersiap tidur dengan memeluk guling kesayangannya. Ia tidak bisa tidur jika tidak memeluk guling.

Pikirannya terbayang pada sosok Bintang yang akhir-akhir ini selalu mengisi harinya. Bagaimana sikap ketusnya, kata-katanya yang selalu membuat kesal, wajah kesalnya, dan yang paling menenangkan adalah wajahnya yang tersenyum dan tertawa di taman karena Rain.

Jika ia bisa tersenyum dan tertawa, kenapa dia harus memasang wajah kesal? Ck! Dasar menyebalkan. namun tak dapat dipungkiri bahwa ia mulai merasa nyaman jika berada di dekat Bintang. Pria itu menjadi menarik, bukan karena wajahnya atau hartanya. Walau selalu terlihat kesal, tapi dia pria yang baik. Ia menarik dengan caranya sendiri Sesuai dengan namanya. Bintang. Ia mempunyai cahaya sendiri.

"Bintang menyebalkan..." gumam Felicia sebelum terlelap hanyut dalam tidurnya.

***

Everyone make mistakes in life, but that doesnt mean they have to pay for them the rest of their life. Sometime good people make bad choices. It doesnt mean theyre bad. It means theyre human.

..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144795299-another-moon-re-part-2


Another Moon - Part 1

Karena ini fanfic, maka suka-suka aku nulisnya (bahasa, chara tokoh, dan cerita) karena sulit untuk plek seperti di LMOTR (Langit Malam - Over the Rain) punya mbak Asri Tahir yang sekarang udah cetak di Elex Media.. :D

Aku udah nyoba semampuku buat nulis ulang dari masukan mbak-mbak penulis yang udah lebih senior. Makasih banyak buat semuanya (di Another Moon yang hilang T.T) yang udah ngasih masukan dan nebar bintang (lempar Bang Bintang ke aku!). :D
 - - - - - 

#FanFiction

Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*

jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D

Let's begin..
#####

Part 1

Apakah patah hati memiliki kadaluarsa? Jika iya, kapan kadaluarsa itu menyapanya hingga ia terbebas dari rasa sakit?

Siang itu ia menghentikan laju mobilnya dan masuk ke sebuah kafe yang sudah hampir dua bulan ini selalu didatanginya, kafe yang terletak tak jauh dari rumah sakit. Ia masuk dan memilih tempat duduk di samping jendela yang langsung menghadap langit di antara hutan beton. Seperti biasa, ia memesan kopi kental yang pahit. Minuman yang selalu menemaninya sendirian menatap langit. Entah sejak kapan ia menyukainya. Mungkin sejak ia kehilangan separuh hatinya.

Bintang. Ia menepati janjinya untuk tidak muncul di hadapan Bulan dan Reza lagi, meski hatinya berontak ingin tahu apakah anak yang dilahirkan Bulan adalah anaknya atau bukan. Ia menjauh, sebisa mungkin menghindari tempat-tempat di mana ia biasa melihat Bulan. Namun apa daya, hatinya masih tertambat dan terperangkap. Ia belum bisa melepaskan diri dari wanita yang dicintainya sepenuh hati. Ia hanya mampu menatapnya dari jauh, diam dalam bayang.

Sudah hampir dua bulan sejak Bulan melahirkan. Selama dua bulan itu pula Bintang berusaha melupakan perasaannnya. Melupakan cintanya. Melupakan patah hatinya. Menjauhi segala hal yang menjadi sumber rasa sakitnya. Lagipula, Bulan sudah bahagia dengan keluarganya sekarang. Suami yang menerimanya kembali dan dua anak yang lucu. Kehidupan yang sempurna.

Lelaki itu masih memandang ke luar jendela dan dengan pikirannya sendiri, ketika seorang waiters meletakkan cangkir kopinya yang keempat. Ia mengangkat sebelah alisnya dengan bingung ketika akan meraih cangkir kopinya.

"Aku tidak pesan kue." Kata Bintang menatap waiters di depannya.

Waiters itu tersenyum. "Traktiranku karena kau menjadi pelanggan tetap kami. Banana pie."

"Terima kasih. Tapi aku tidak suka manis." Tolak Bintang yang kemudian menyesap kopinya perlahan dan kembali menatap ke luar jendela. Ia berharap pahitnya kopi mampu mengenyahkan lubang tak kasat mata di dadanya.

"Hanya kali ini aku mentraktirmu. Makanlah. Aku yakin perutmu hanya terisi kopi selama beberapa hari ini." tak lama waiters itu pun pergi meninggalkan meja Bintang.

Bintang mendengus. Pasti waiters tadi salah satu dari wanita yang hanya ingin mencari perhatiannya. Dia tidak akan tertipu. Lagipula dia juga belum bisa mengumpulkan remah-remah hatinya yang hancur. Hatinya yang seluruhnya telah ia berikan pada Bulan. Walau pun ia lelaki, tapi ia juga memiliki hati. Ia bisa mencintai. Juga patah hati.

Siapa bilang cinta itu adalah bahagia jika melihat orang yang kita cintai bahagia walau tidak bersama kita. Bullshit! Jika memang definisi cinta seperti itu, harusnya ia tidak merasakan sakit seperti sekarang ini. perasaan hampa dan kehilangan.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi.

"Ya, Ma?" sapa Bintang. Ia mengernyitkan kening ketika mendengar Mamanya berbicara.

"Kenapa harus aku?"

Bintang menghela napas panjang. "Baiklah, aku pergi sekarang. Bye, Ma."

Bintang memutus panggilan dan kemudian pergi setelah membayar tagihannya. Ia meminta banana pie tadi untuk dibungkus dan dibawanya.

***

Gadis itu sedang membereskan kelas yang berantakan karena anak didiknya, ketika dilihatnya seorang anak masih duduk dan bermain di bak pasir. Salah satu anak dari kelas yang diasuhnya. Ia meninggalkan pekerjaannya dan menghampirinya.

Ia berjongkok bersebelahan dengan anak itu. "Rain, apa yang sedang kau lakukan?"

Anak laki-laki itu menoleh dan tersenyum.

"Membuat istana." Rain melanjutkan kegiatannya membangun istana pasir menggunakan ember dan sekop kecil.

"Istanamu bagus." Sahut gadis itu.

"Tentu saja. Aku ingin Mama dan Papa melihat istanaku ini. Pasti hari ini mereka akan menjemputku. Apa Bunda Feyi ingin kubuatkan juga?" Rain menatap gurunya dengan mata berbinar. Ya, namanya Felicia namun anak-anak memanggilnya Bunda Feyi.

"Terima kasih, Rain. Sekarang masuk yuk. Istanamu sudah jadi dan kita akan menunggu Papa dan Mama di dalam." Bujuk Felicia. "Di mana ranselmu?"

"Tapi--"

"Bunda Feyi punya permen dan cokelat. Apa kau mau?" sahut Felicia cepat ketika melihat keengganan dari Rain.

"Mauuu!!" seru Rain melonjak dan langsung memeluk Felicia hingga hampir terjungkal ke belakang. Sebelah lutut Felicia menyentuh pasir untuk menyangga tubuhnya. "Ranselku ada di dekat pintu."

"Wow, ketika kau besar nanti kau pasti jadi pria yang kuat. Kau membuat Bunda Feyi hampir terjungkal." Felicia mengacak rambut Rain yang memeluknya dengan erat.

Rain hanya terkekeh dan menyurukkan wajahnya ke rambut panjang Felicia.

"Permisi," terdengar suara yang membuat Felicia menoleh. "Aku ingin menjemput seseorang."

***

Bintang menatap dua orang di depannya dengan pandangan aneh. Dua orang di depannya sedang berpelukan sambil tertawa-tawa. Gadis itu berambut cokelat panjang, sedang memeluk anak kecil.

"Permisi," Bintang mencoba menarik perhatian keduanya, yang membuat gadis itu menoleh. "Aku ingin menjemput seseorang."

Bintang menatap gadis itu menilai. Gadis itu kecil bila Bintang yang menjadi pembandingnya. Mungil mungkin kata yang lebih tepat. Rambut panjangnya yang lurus membingkai wajah mungilnya dengan sempurna. Mata hitam jernihnya semakin terlihat kekanakan karena poni yang menutupi dahinya. Gadis itu terlihat cantik dan manis secara bersamaan.

Bintang mengerutkan kening untuk mengusir pikirannya barusan. Sepertinya terlalu banyak kopi membuat otaknya bergeser.

Felicia melepaskan pelukan Rain dan berdiri. Ia menggenggam erat jemari Rain yang kini separuh badannya tersembunyi di balik tubuhnya. Dengan flat shoes di kakinya, tubuhnya hanya setinggi bahu Bintang.

"Menjemput seseorang? Siapa? Di sini sudah tidak ada siapa pun." Felicia menjawab dengan tegas dan dengan dahi berkerut. Jangan-jangan pria di depannya ini adalah penculik? Wajahnya terlihat kusut dan menyeramkan.

"Aku ingin menjemput dia." Bintang menunjuk Rain dengan tatapan tak yakin.

Melihat keraguan Bintang, Felicia menegang kaku. "Jangan berbohong! Dia sedang menunggu orang tuanya, dan itu bukan kau." Suara Felicia naik satu oktaf. Ia tidak akan membiarkan orang itu membohonginya. Ia akan menghadang pria itu meskipun ia penculik sadis.

Bintang memijat pangkal hidungnya dan menghela napas panjang. "Aku benar-benar diminta untuk menjemput anak ini." jawab Bintang meyakinkan gadis di depannya dan juga dirinya sendiri.

Ia yakin anak laki-laki ini yang diminta Mamanya untuk dijemput, karena gadis di hadapannya ini tadi bilang bahwa semua anak sudah pulang dan tinggal anak ini yang menunggu orang tuanya.

"Kau pasti ingin menculik anak ini kan?" Felicia berkacak pinggang dengan berani, sedangkan Rain bersembunyi di belakangnya dan memeluk dengan erat. "Aku tak akan tertipu!"

Bintang melengos mendengar tuduhan itu. "Felicia," panggilan Bintang membuat Felicia mengernyit. Ia mengetahui nama Felicia dari name tag di bajunya. "Aku bukan penculik." Kata Bintang tegas.

Sosok gadis cantik dan juga manis tadi menguap. Bintang merasa menyesal telah menilai gadis di hadapannya ini terlalu tinggi. Yang ada di hadapannya kini hanyalah seorang gadis bar-bar yang menyamar menjadi guru TK.

"Aku tidak akan termakan kata-katamu." Kata Felicia melipat lengannya di depan dada.

"Kau tidak percaya?" tanya Bintang.

Felicia menggeleng tegas.

Bintang mengeluarkan penselnya dan menghubungi mamanya. "Ini!" Bintang menyerahkan ponselnya pada Felicia.

Felicia mengernyit namun tetap menerima ponsel itu. "Halo," sapanya dengan ragu.

"Saya Felicia. Guru Taman Kartika, kelas Matahari." Felicia tampak mendengarkan. "Oh, begitu. Baik, terima kasih." Felicia menutup telepon dan mengembalikannya.

"Apa katanya?" tanya Bintang tajam.

"Nenek yang akhir minggu lalu mengantar Rain bilang bahwa Bintang akan datang menjemput." Felicia  menjawab dengan nada tak bersalah yang membuat Bintang melotot.

"See?" Bintang mendengus kesal. "Apa perlu kutunjukan KTP-ku kalau namaku Bintang, dan aku bukan penculik?" Ia menatap Felicia dengan tajam dan suara yang meninggi karena moodnya anjlok seketika.

"Bukan salahku. Itu salahmu kenapa tiba-tiba datang dan bilang ingin menjemput Rain." Felicia membalas karena tidak terima ia yang disalahkan.

"Kau--!"

Terdengar suara isakan kecil dari balik tubuh Felicia, yang membuat Felicia dan Bintang menoleh.

Dengan sigap Felicia berbalik dan berjongkok memeluk Rain. Rain langsung mengalungkan lengannya ke leher Felicia dan menyembunyikan wajahnya sambil masih terisak.

"Rain kenapa?" tanya Felicia yang suaranya berubah melembut. Bintang mendengus melihat perubahan itu.

Rain mengambil napas dan mengusap air matanya. "Rain takut Om itu. Om itu jahat ke Bunda Feyi."
Felicia tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Rain pelan. "Kenapa Rain bilang Om itu jahat ke Bunda Feyi?"

Kata-kata Felicia membuat Bintang menatapnya tajam.

"Om itu berteriak ke Bunda Feyi." Kata Rain memundurkan tubuhnya untuk menatap Felicia.

Felicia tertegun dengan apa yang diucapkan Rain. "Rain masih mau permen?" tanya Felicia mengalihkan pembicaraan.

"Dan cokelat." Jawab Rain malu-malu.

Hal itu membuat Felicia tertawa dan memegang kedua pipi Rain dengan gemas. "Kalau begitu jangan menangis lagi. Kau lebih tampan kalau tersenyum."

Felicia berdiri dan menggandeng tangan Rain. Ia mengambil ransel Rain di dekat pintu depan, kemudian masuk ke ruang untuk guru dengan Bintang mengikuti di belakangnya.

"Tunggu di sini."  kata Felicia mendudukkan Rain di kursi panjang tak jauh dari pintu ruang guru.

Tak lama, Felicia kembali dengan membawa sebuah permen lollipop dan dua cokelat. "Ini untuk Rain. Sekarang Rain pulang sama Om Bintang, ya?"

Felicia berjongkok di depan Rain yang menggeleng, sedangkan Bintang berdiri bersandar di daun pintu.
"Kenapa?" tanya Felicia dengan lembut.

"Rain mau pulang sama Bunda Feyi." Kata Rain menunduk dan memegang lengan kemeja Felicia.

Felicia melepas tangan Rain dari kemejanya. Sambil menggenggam tangan Rain, Felicia tersenyum dan mencoba memberi pengertian. "Kan Bunda Feyi harus beres-beres kelas dulu. Kalau tidak, besok kelasnya tidak bisa dipakai."

"Kalau gitu Rain bantu." Rain meloncat turun dari kursi dan menggandeng tangan Felicia, sedangkan tangan satunya membawa permen dan cokelat.

Sambil menggandeng tangan Felicia, Rain berjalan dengan cepat menuju ruang kelasnya. Ia meletakkan permen dan cokelatnya di salah satu meja kemudian mulai merapikan mainan yang ada di rak.

Walaupun anak-anak sudah mengembalikan apa yang tadinya di ambil kembali ke tempatnya, tetap saja ada beberapa yang masih berantakan. Selain itu meja dan kursi juga kurang rapi.

Felicia merapikan rak di sisi yang lain sambil tersenyum. Melihat Felicia dan Rain sibuk sendiri, Bintang menghela napas. Mau tak mau ia juga harus ikut membantu kalau ingin cepat pulang dan merebahkan tubuhnya yang lelah. Ia merapikan semua meja dan kursi hingga rapi.

***

Felicia langsung melompat turun begitu mobil berhenti.

"Hei!" seru Bintang menahan kesal. Dilihatnya Felicia langsung menghambur masuk ke dalam rumah tanpa mempedulikannya, bahkan tanpa mengucapkan terima kasih. "Dasar gadis kasar yang menyebalkan! Tidak ada manis-manisnya sama sekali!" gerutu Bintang kemudian memacu mobilnya pulang ke rumah.

"Sudah kau antarkan sampai rumahnya?" tanya mama Bintang sambil meletakkan secangkir teh ketika puteranya masuk ke rumah.

"Ma, Bintang yang jadi korban, tapi kenapa Mama malah membela dia sih?" sungut Bintang yang mehempaskan tubuhnya di sofa depan mamanya.

"Memang kamu yang salah kan? Mengambil kesempatan dalam kesempitan?" goda mamanya yang membuat wajah Bintang semakin keruh.

"Ya ampun, Ma, tadi Bintang hanya menahannya supaya tidak terjatuh!" kata Bintang membela diri.

"Tetap saja, kan?"

"Sudahlah! Sekarang jelaskan ke Bintang, siapa Rain?" Bintang melipat lenganya di depan dada, masih kesal dengan kejadian hari ini.

Mama Bintang hanya tertawa. "Rainfal itu cucu teman mama, orang tuanya sangat sibuk bekerja hingga dia selalu bersama Eyangnya. Tiga hari ini teman Mama itu harus opname untuk cek kesehatan secara keseluruhan."

"Rainfall?"

"Rainfal! Aduh, telingamu ini!" gerutu Mama Bintang. "Ya sudah, bersihkan badanmu kemudian istirahat."

"Tapi kenapa Bintang tidak tahu kalau Rain di sini?" tanya Bintang yang keningnya sudah berkerut bingung.

"Tentu saja kau tidak tahu, kau berangkat kerja pagi sekali dan selalu pulang larut." Mama bangkit meninggalkan Bintang untuk kembali ke kamarnya.

***

Felicia menatap langit-langit kamarnya dengan kesal. "Pria menyebalkaaan!!" serunya sambil menekan wajahnya dengan bantal.

Felicia mengingat harinya tadi yang menurutnya teramat sangat sial.

Rain hanya ingin ikut pulang dengan Bintang jika Felicia ikut bersamanya. Akhirnya dengan terpaksa dan sedikit debat, Felicia pun ikut mobil Bintang dan menemani Rain pulang. Bintang menatap Felicia dengan tatapan tidak suka ketika Felicia dan Rain duduk di bangku belakang. Jadilah bangku depan ditempati oleh kotak berisi banana pie.

"Siapa pun, pindah ke depan!" seru Bintang dengan geraman tertahan. "Aku bukan sopir kalian!"

Namun Felicia dan Rain hanya bergeming, tak bergerak. Bahkan terlihat tidak peduli dengan Bintang yang menahan kesal. Ia menghela napas panjang dengan kesal. Bersama dua orang ini bisa membuat umurnya berkurang.

Rain tidak mau duduk di depan yang bersebelahan dengan Bintang, tapi Rain juga tidak mau duduk sendiri di belakang karena aura Bintang yang mengintimidasi. Daripada melihat Rain menangis, lebih baik dia duduk bersama Rain di bangku belakang, itu yang Felicia pikirkan.

Setelah sampai dan menyerahkan Rain pada mama Bintang, Felicia pamit pulang, namun mama Bintang memintanya menemani Rain dulu karena ia sedang memasak.

"Tolong temani Rain dulu ya, Nak Feli." Mama Bintang meminta dengan wibawa seorang ibu yang tidak bisa ditolak oleh Felicia.

"Iya Tante." Felicia memanggilnya tante karena mama Bintang yang memintanya.

Akhirnya Felicia menemani Rain bermain, berceloteh, dan makan banana pie yang tadi dibawa oleh Bintang.

Rain anak yang aktif dan ceria, namun perasaannya sangatlah sensitif. Bintang duduk di depan televisi karena ia dilarang ke kamar oleh mamanya.  Felicia dan Rain bermain puzzle bergambar transportasi di atas karpet tak jauh dari tempat Bintang duduk.

Telalu asyik bermain dengan Rain, Felicia tidak sadar bahwa hari sudah gelap dan saatnya makan malam. Mau tak mau Felicia ikut makan malam bersama keluarga Bintang baru kemudian diantarkan Bintang untuk pulang.

Setelah selesai makan malam, Felicia membantu membereskan meja makan. Ketika ia bangkit, kakinya terantuk kaki kursi yang didudukinya.

Melihat dia yang hampir terjungkal, Bintang refleks berdiri dan meraih tubuhnya supaya tidak jatuh. Namun bukan itu yang membuat Felicia marah dan juga malu, tapi tangan Bintang yang tak sengaja menyentuh dadanya ketika menahan tubuhnya. Felicia langsung melepaskan diri dan menendang tulang kering Bintang hingga berteriak kesakitan.

"Aaarrgh! Bintang sialaaan!!" seru Felicia yang menelungkup sambil menghentakkan kedua kakinya di ranjang.

***

Sometimes we need to forget some people from our past because of one simple reason; they just don't belong to our future.
..+..+..+..+..+..

https://www.wattpad.com/144794591-another-moon-re-part-1