Saturday, October 25, 2014
Semangkuk Matahari
Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*
jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D
Let's begin..
#####
…who said life would be fair anyway.
Sering sekali ia terlihat berjalan ke arah timur pada waktu yang sama dan dengan gaya yang sama. Ia memakai topi warna oranye hangat dan dress dengan warna hampir senada, seakan ia adalah bias matahari. Ia selalu memegang tali selempang tasnya, dan kadang menunduk menatap langkah kakinya. Ia berjalan dengan cepat, namun tidak terlihat terburu-buru, malah terlihat santai.
***
Sekarang waktunya makan siang. Hampir semua teman kerjaku pergi untuk mencari makan. Hanya ada beberapa yang masih di dalam ruangan, menyelesaikan pekerjaan—termasuk aku.
“Lang, apa kau ingin menitip sesuatu?” tanya Raya yang melihatku maasih berkutat di depan laptop dan laporan.
“Tidak, terima kasih. Aku harus menyelesaikan ini secepatnya,” jawabku tersenyum, yang dibalasnya dengan acungan jempol.
Aku bersikeras menahan lapar, karena aku ingin laporan ini segera selesai. Namun, ternyata usahaku untuk menahan lapar belum cukup keras. Perutku tidak bisa diajak kompromi. Aku menyerah. Kumatikan laptop dan kemudian berjalan ke luar untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Aku memilih makan siang di kedai ramen yang ada dekat kantor, karena laporan tadi harus cepat kuselesaikan. Aku memesan semangkuk ramen dan segelas ocha. Sambil menunggu pesanan, aku memperhatikan interior kedai. Meski kecil, tempat itu nyaman.
Ketika aku memandang ke arah dalam—staff only, tak sengaja aku melihat gadis itu keluar membawa nampan. Ya. Gadis yang sering kulihat. Ternyata ia di sini. Gadis yang seperti matahari, bahkan dengan aksesoris yang dipakainya, jepit rambut matahari. Di kedai itu, hanya dirinya yang terlihat jauh dari kesan Japanese, namun ia bisa bekerja sebagaimana orang-orang Asia Timur itu bekerja. Ia terlihat menikmatinya, bahkan tidak merasa berbeda. Gadis yang supel.
Aku kembali ke kantor dengan pikiran terbagi, antara menyelesaikan laporan dan semakin penasaran dengan gadis itu. Aku mencoba mengusir bayangan bagaimana senyum sopannya pada pelanggan dan juga bagaimana ia berinteraksi dengan teman-teman kerjanya. Ah!
Aku harus cepat-cepat menyelesaikan laporanku, sebelum bayangan itu semakin merusak konsentrasiku.
***
Sejak hari itu, aku hampir selalu makan di kedai ramen. Pikiranku semakin dipenuhi rasa penasaran tentangnya. Beberapa teman kerjaku penasaran mengapa kini aku selalu keluar untuk makan siang, suatu hal yang sebelumnya hampir jarang kulakukan. Siapa yang menyangka kalau Si Gadis matahari ini membuatku menjadi merasa berwarna.
“Lang, katakan padaku. Adakah seseorang yang cantik di luar sana? Seseorang yang mampu membuat seorang Elang keluar ‘sarang’ untuk makan siang?” goda Raya.
“Tidak ada. Memang apa salahnya keluar untuk makan siang?” aku memalingkan wajahku ke arah tumpukan dokumen, mencari sesuatu.
“Kau tahu, saat kau berbohong, telingamu akan memerah semerah tomat. Hahaha.”
Aku mengacak rambutku salah tingkah. “Yah, mau bagaimana lagi.” Kulihat Raya menatapku penuh arti. Tatapan bahwa dia menginginkan cerita dariku.
“Aku belum tahu apapun tentangnya. Jangan bertanya lagi. Aku pun masih penasaran tentangnya.” Aku melihat jam tanganku. Sudah saatnya pulang. Aku membereskan apa yang perlu kubawa pulang.
“Kenapa kau terburu-buru?”
“Aku tidak mau ketinggalan bus. Hal itu hanya akan membuatku menunggu lebih lama kedatangan bus berikutnya. Aku duluan,” kulambaikan tangan pada Raya.
Aku melangkah masuk ke halte dengan santai. Sebelum sampai di halte, kulihat gadis matahari itu menunggu di halte yang sama denganku. Aku memilih untuk melihatnya. Bus datang. Kami berada di bus yang sama. Di dalam bus, ia hanya menyenandungkan lagu yang sedang mengalun dari ponsel di tangannya. Ia cuek sekali. Hingga aku turun lebih dulu, ia masih tetap dengan lagunya.
***
Siang itu aku kembali makan siang di kedai ramen. Aku sedang menunggu pesananku. Kulihat gadis itu membawa nampan dan mengantarkannya ke mejaku. Ketika ia membungkuk hormat, jepit rambutnya jatuh ke dalam mangkuk ramenku.
Ia terkejut dan meminta maaf, “Gomennasai,” katanya dalam bahasa Jepang. Kemudian ia buru-buru kembali ke dapur dan menggantinya. Ia kembali dengan mangkuk yang baru dan meminta maaf lagi. Dengan muka merah, ia berbalik dan kembali bekerja.
Sorenya di halte bus, sambil menunggu bus, aku duduk membaca koran sore. Aku terkejut ketika ada seseorang yang berdiri depanku. Aku mendongak.
“Ah, Si jepit matahari!” seruku refleks.
Si gadis matahari itu terkejut. Ia membungkuk dan meminta maaf lagi.
“Kalau boleh tahu, siapa namamu?” tanyaku sambil melipat koran.
“Ruiva,” jawabnya dengan senyum sopan.
Ketika kutanyakan di mana rumahnya—karena aku sering melihatnya, ia menjawab dengan tersenyum. Tempat tinggalnya tak begitu jauh dari rumahku. Hanya di komplek sebelah, tempat aku sering lari pagi di lapangan perumahan sana. Aku semakin menyukainya. Tentang ini: bagaimana cara menanggapi pertanyaanku, yang dijawabnya dengan sopan, tidak berlebihan. Tentang itu: bagaimana ia mengalihkan pembicaran dengan halus, ketika ia tak mau membahas pembicaaraan yang ia tak suka.
Setelah percakapan itu, tanpa sengaja kami sering bertemu di halte ketika pulang kerja. Awalnya ia memang agak menarik diri. Itu terlihat dari cara bicaranya yang terlalu tenang dan sopan. Namun, kini ia lebih ekspresif dalam berbicara. Terkadang ia tertawa sedikit lepas, tidak hanya menyunggingkan senyum seperti biasa. Tapi tetap saja aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.
***
Pagi itu, aku janji bertemu Ruiva di lapangan komplek perumahannya untuk berlari bersama. Awalnya aku ragu karena mengira Ruiva bekerja. Ternyata ia mengiyakan ajakanku karena hari itu Ruiva tidak bekerja. Ia akan mengantar saudaranya ke rumah sakit.
Sambil meluruskan kaki setelah lelah berlari, aku duduk di sebelah Ruiva dan berpikir bahwa hubungan kami semakin membaik. Atmosfer tampak mendukung hingga tanpa sadar aku meminta Ruiva untuk menjadi kekasihku.
“Rui, aku menyukaimu. Maukah kau—”
“Gomennasai, aku harus pulang.” Kata Ruiva cepat memotong kata-kataku. Ia bahkan tak membiarkanku menyelesaikannya. Namun, ia tetap berusaha tersenyum sopan walau tanpa memberi jawaban sepatah katapun. Ruiva beranjak meninggalkanku sendiri yang menatapnya pergi.
***
Semenjak kejadian itu, Ruiva tak pernah terlihat di kedai itu lagi. Mengapa ia tak ada? Apakah ia libur? Atau, apakah ia menjauhiku karena kata-kataku waktu itu? Apa yang harus kulakukan jika ia marah padaku? Kuhela napas panjang dan beranjak untuk membayar ramenku.
“Ah, maaf. Boleh aku bertanya?” kataku pada pegawai di meja kasir sambil membayar.
“Arigatou gozaimasu (terima kasih banyak). Ya, ada yang bisa aku bantu?” jawabnya dengan memberikan uang kembalian padaku.
“Mengapa akhir-akhir ini Ruiva tidak terlihat?” tanyaku ingin tahu.
“Ah, anda teman Rui?” tanyanya, dan aku mengangguk. “Ya, kami sedih sekali ia sudah tidak bekerja di sini. Ia harus dirawat di rumah sakit. Padahal Ruiva anak yang menyenangkan.”
“Di rumah sakit?” tanyaku terkejut.
“Ah, sumimasen (permisi). Saya harus melanjutkan pekerjaan,” katanya, ketika kudengar seseorang memanggilnya dari dalam.
“Maaf menyita waktumu. Terima kasih atas informasinya.”
“Douitashimashite (sama-sama),” jawabnya sambil membungkuk sopan, kemudian masuk ke ruang staff only.
Di rumah sakit? Rui sakit apa? Mengapa ia tak memberitahuku?
***
Hari itu aku bersama teman-teman sekantorku menjenguk seorang rekan kerja di rumah sakit. Aku memilih berjalan perlahan dan membiarkan teman-teman yang lain pulang tanpaku. Dari koridor, aku berhenti dan menatap ke luar jendela melihat angin yang menghembus daun.
Ketika aku berbalik melangkah pulang, aku melihatnya. Ya. Si Gadis matahari itu ada di depanku dengan pakaian rumah sakit dan menatapku tekejut, seakan matanya ingin berkata ‘bagaimana kau tahu aku ada di sini?’
Aku hanya menatapnya dengan senyum.
“Aku tak tahu. Aku hanya menjenguk temanku yang operasi usus buntu.” Kataku mencoba menjawab pertanyaan di matanya. Kulihat dia berbalik.
“Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah orang sakit seharusnya ada di tempat tidur?” tanyaku sambil mengikutinya. Aku meraih lengannya dan tersenyum. “Kamarmu bukan ke arah sana, kan? Aku tahu itu.”
Ruiva menatapku sebentar seakan ingin bilang ‘apa-apaan kau?’, namun kemudian berbalik patuh menuju kamarnya yang sesungguhnya.
“Aku hanya terlalu lelah, dan aku bosan bila harus terus berbaring,” jawabnya mengedikkan bahu dan tersenyum tipis.
Setelah aku tahu di mana Ruiva dirawat, hampir setiap hari aku menjenguknya untuk sekedar berbagi cerita beramanya. Aku ingin tahu bagaimana sebenarnya perasaannya terhadapku. Hingga suatu hari, aku memintanya lagi untuk menjadi kekasihku.
“Suatu hari aku akan menjawabnya.” Ruiva hanya menjawab singkat sembari tersenyum, dan mengalihkan pembicaraan.
***
Karena urusan pekerjaaan, aku harus pergi ke luar kota selama tiga hari. Aku menemui Ruiva sebelum berangkat bertugas.
“Aku tak bisa menemuimu tiga hari nanti, karena ada tugas ke luar kota. Maafkan aku.”
Mendengar kata-kataku, Ruiva hanya tersenyum maklum. Ketika aku melihat sorot matanya, aku benar-benar tidak ingin meninggalkannya jika aku mampu.
Hari itu aku merasa bahwa semua perasaan tidak harus diungkap dengan kata-kata. Rui bahkan mencoba bercerita bagaimana senangnya ia ketika dokter berkata bahwa keadaannya membaik walaupun sedikit. Ia menceritakan apa pun untuk mengisi waktu kebersamaan kami.
Setelah mengobrol dengan Rui, aku berangkat dengan hati berat. Aku tidak suka membayangkan Rui di rumah sakit tanpaku. Aku berharap tiga hari akan cepat berlalu, dan aku bisa bertemu dan mengobrol lagi dengannya. Aku selalu terbayang senyum hangatnya yang seperti matahari.
***
Hari itu aku kembali dari tugasku di luar kota dan langsung pergi menemui Ruiva. Telah kuputuskan, aku akan tetap di sisinya walaupun ia tidak mengungkapkan apa yang ia pikirkan tentangku. Aku pun tak akan menanyakan apapun tentangnya. Apa pun itu.
Aku membuka pintu kamarnya. Kulihat tempat tidurnya sudah rapi. Hanya seorang wanita setengah baya yang sedang berdiri menghadap jendela, membelakangiku.
“Permisi. Apa anda tahu pasien yang dirawat di sini sekarang ada di mana? Apa ia dipindahkan ke ruang lain?” tanyaku mencoba mengusir hawa dingin yang tiba-tiba meresap di dada.
“Maaf, apakah anda yang bernama Elang?” tanya wanita itu berbalik menghadapku. Melihat raut wajahnya membuatku terkesiap. Aku mengangguk. Kucoba mengusir semua prasangka yang ada di dalam kepalaku.
“Rui hanya menitipkan ini padaku. Mungkin ini akan menjelaskan semuanya. Terima kasih. Saya permisi.” Kata wanita itu memberikan sepucuk surat dan jepit matahari. Kulihat ia mengusap pipinya ketika berjalan ke luar.
Di sudut kanan bawah amplop tertulis namaku. Aku membuka surat itu dengan tangan gemetar. Hanya ada selembar kertas di dalamnya.
Tidak banyak yang tertulis di situ, namun semua rangkaian kata itu membuatku pedih. Entah bagaimana, aku merasa seakan Ruiva sendiri yang mengatakannya dihadapanku. Aku merasa ia mengatakan banyak hal padaku dalam surat pendeknya itu. Aku bisa merasakan senyum mataharinya.
“Aku juga menyukaimu. Namun aku tak bisa menjadi kekasihmu, karena aku tahu waktuku telah usai. Aku tidak akan minta maaf karena pergi darimu. Tapi, terima kasih telah menemani sisa hariku. Rui.”
Aku hanya berdiri terpaku dan membeku. Seakan ia pergi dengan membawa sebagian hatiku.
==Fin==
Yogyakarta, 10 oktober 2013
Ingat, Allah selalu melihat.. ;)
https://www.wattpad.com/77783174-semangkuk-matahari
Keping Memori Terakhir
Caution!
*This is mine. Don’t copy without my permission!!*
*This is really my original work!*
*Don't like, don't read!*
jangan lupa tinggalkan jejak kripik ataupun sambal yang bijak.. :D
Let's begin..
----
Tetes gerimis yang membasahi bumi menguarkan bau tanah bercampur salju. Seolah langit turut berduka. Salju sudah berhenti ketika pemakaman dilaksanakan, dan digantikan gerimis tipis, seakan langit menangis tak rela.
Beberapa orang terlihat mulai berbalik melangkah ke rumah masing-masing, meninggalkan seseorang yang masih tertunduk menatap gundukan tanah di depannya. Ia masih saja terdiam membiarkan hujan membasuhnya. Membasuh air matanya. Membasuh hatinya.
Seseorang menepuk bahu pemuda itu. “Kai, biarkan Athena beristirahat. Ayo kita pulang.” Pemuda itu menoleh. Ternyata mama Athena.
“Kenapa Bibi belum pulang? Bibi bisa sakit bila kehujanan seperti ini.” kata Kai bangkit, memegang payung yang dibawa mama Athena, supaya mama Athena tidak kehujanan. “Ayo kita pulang.”
-#TenAkatsuki#-
Kai menatap album ditangannya. Ditatapnya lembar demi lembar memori dihadapannya, sambil pikirannya berbalik beberapa waktu lalu.
“Ena! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku basah kuyup! Bagaimana jika nanti aku terkena flu?” seru Kai ketika Athena menyiramnya dengan selang air, di suatu musim panas.
“Hanya orang bodoh yang terkena flu di musim panas!” sahut Athena ceria. Mama Athena yang melihat peristiwa itu hanya tersenyum dan meletakkan sepiring potongan semangka untuk Kai dan Athena.
“Terima kasih, Bibi.” Ucap Kai.
Kai tinggal di sebelah rumah Athena. Mereka sudah berteman sejak kecil meski Kai setahun lebih tua dari Athena, hingga mereka sudah seperti saudara. Bagi mama Athena sendiri Kai sudah seperti anak sendiri.
Athena meletakkan selang airnya dan duduk di sebelah Kai menikmati semangka. “Aaah, segarnya. Di musim panas seperti ini memang lebih asyik bermain air dan makan semangka!” serunya riang yang hanya ditanggapi dengan biasa oleh Kai.
“Ada apa denganmu? Apa kau ada masalah? Atau… jangan-jangan kau sedang jatuh cinta?” seru Athena dengan senyum mengembang cerah.
Kai tersentak. “Apa ekspresi seperti ini adalah ekspresi seseorang yang jatuh cinta?” kata Kai menunjuk wajahnya yang datar.
“Mungkin saja, aku tidak tahu karena wajahmu jarang menampakkan ekspresi. Tapi jika tebakanku benar, aku ingin tahu siapa dia.” Kata-kata Athena yang penuh semangat itu membuat Kai menghela napas, ia kehilangan selera makan semangkanya.
Setelah bertahun-tahun mereka bersama, Kai sendiri baru menyadari perasaannya terhadap Athena beberapa waktu lalu. Tepat ketika seorang pemuda memanggil Athena ke belakang gedung sekolah, dan menyatakan cinta. Namun Kai tidak berani mengetahui jawaban apa yang diberikan oleh Athena.
Athena lah yang telah menyelamatkannya dari kesendirian. Kai hanya tinggal bersama ayahnya yang sibuk. Ayah dan ibunya telah lama bercerai. Setiap hari, tanpa merasa bosan, Athena selalu mengajak Kai bermain bersama.
“Hei, Ena, libur musim panas sudah hampir usai, bagaimana dengan tugas rumahmu?” tanya Kai mengalihkan pembicaraan, yang hanya dijawab Athena dengan cengiran lebar, yang menandakan bahwa tugas-tugas yang diberikan sekolah belum selesai dikerjakan. “Kalau kau berhasil menyelesaikannya dua hari sebelum sekolah dimulai, aku akan mengajakmu ke laut.”
“Benarkah? Kau pasti bercanda!” seru Athena girang, dan Kai hanya mengedikkan bahu. “Paaasti! Pasti akan kuselesaikan.” Kata Ena berapi-api.
Athena berkutat dengan tugas-tugasnya dengan bantuan Kai selama dua hari penuh. Karena tugasnya sudah selesai, Athena pun menagih janjinya pada Kai. Kai pergi ke laut bersama Athena dan mama Athena. Mama Athena mengambil foto untuk kenang-kenangan. Mama Athena memotret bagaimana senangnya Kai dan Athena bermain air di laut. Momen-momen bahagia itu diabadikan oleh mama Athena.
-#TenAkatsuki#-
Kai membalik lembar demi lembar foto lagi. Dilihatnya sebuah foto yang bahkan dia lupa kapan foto tersebut diambil. Foto dimana Athena menarik kedua pipi Kai karena Kai tidak mau tersenyum.
“Mengapa kau bersedih, Kai? Tidak bisakah kau perlihatkan padaku wajah penuh senyummu?” kata Athena menarik kedua pipi Kai dan melepasnya ketika Kai mengaduh.
“Aku tidak sebahagia kau, Ena. Kau dan keluargamu. Aku tidak bisa menemukan kebahagiaan itu.”
“Kalau begitu, kenapa tidak kau buat sendiri saja kebahagiaanmu? Kau kan juga keluargaku.” Kata Athena tulus, yang perlahan membuat ujung bibir Kai sedikit tertarik ke atas. “Ah! Kau tersenyum! Barusan kau tersenyum!” Kai memalingkan muka ke arah lain, menyembunyikan rasa malunya.
-#TenAkatsuki#-
Kai masih memandang album dalam diam, hingga mama Athena memanggilnya dan menyerahkan sesuatu padanya. Buku Harian milik Athena. Mama Athena ingin Kai menyimpannya. Dibukanya buku harian itu di bagian tengah.
Tanggal xx bulan xx
Ada yang menyatakan cinta padaku!!
Tapi maaf, hatiku sudah memilih orang lain.. X3
Aku harap dia segera tahu perasaanku, dan mempunyai perasaan yang sama denganku.
Tanggal xx bulan xx
Hari ini ada festival kembang api! Aku tak sabar menantikannya. Aku ingin mengenakan yukata terbaikku. Aku tidak mau kalah dengan gadis lain! Kai! Akan kubuat kau terpesona! Ingin sekali aku berteriak bahwa aku menyukaimu, Kai! Haha XD
Kai kembali membuka buku harian yang dibukanya secara acak.
Tanggal xx bulan xx
Aku harus tetap semangat! Tapi aku penasaran, ekspresi wajah Kai berubah ketika aku berkata apa dia sedang menyukai seseorang. Itu membuat hatiku sakit. Aku tidak ingin Kai pergi meninggalkanku. Tapi, siapa gadis yang sampai bisa masuk ke celah hati Kai?
Kai tersentak. Ia ingat momen itu. Mengapa? Mengapa ini terjadi?!
Walau pikirannya terasa penuh, Kai tetap melanjutkan membaca buku harian itu. Di bukanya pada halaman terakhir.
Tanggal xx bulan xx
Sayonara…
Aku akan melupakanmu, Kai. Pasti. Aku tidak akan merusak hubungan ini hanya karena keegoisanku menyukaimu. Aku tidak akan mengorbankan ikatan keluarga kita. Tenang saja, natal nanti hadiah untukmu tetap yang paling istimewa. Karena kau istimewa untukku.
Gadis itu… gadis yang bersamamu siang itu, aku rasa gadis itu cocok untuk Kai. Gadis yang tenang dan anggun, cocok dengan pembawaan Kai. Aku selalu mengharapkan kebahagiaanmu, Kai.
Aku berharap dengan senyumku, bisa membuatmu tersenyum dan bahagia, karena aku bahagia jika semua orang di sekitarku bahagia, terutama kau, Kai.
‘Gadis itu hanya teman SMP yang tanpa sengaja bertemu di jalan, Ena! Kenapa kau bahkan tidak menanyakannya padaku?’ seru Kai dalam hati menahan sesal.
Ketika Kai mau menutup buku harian itu, sesuatu terjatuh. Fotonya bersama Athena pada festival kembang api yang diambil oleh teman Athena.
-#TenAkatsuki#-
Kai teringat bagaimana awal pertemuan mereka. Kai yang sendiri selalu menghabiskan waktunya duduk di taman kecil yang ada di kompleks rumah mereka. Kai hanya mampu memandang orang berlalu lalang dan berharap dia juga punya kesempatan untuk bahagia seperti mereka. Hingga pada suatu sore ia melihat gadis itu berjalan ke arahnya. Dia duduk di ayunan yang tergantung di sebelahnya.
“Apa?” tanyaku jengah dengan tatapannya.
“Lututku sakit.” Katanya tersenyum.
Aku mengerutkan alis. Kulihat lututnya yang berdarah. Lalu kenapa jika tututnya sakit? Apa urusannya denganku?
“Namaku Athena. A-T-H-E-N-A. panggil aku Ena.” Katanya mengulurkan tangan padaku. Aku hanya menatap tangannya yang terulur.
Nama yang aneh. Nama orang asing. Cocok sekali dengan dirinya yang aneh dan asing untukku.
Dia berdecak tak sabar dan meraih tanganku, menjabatnya. “Aku tahu namamu Kai. Kau tetangga sebelah yang pendiam itu kan? Aku sering melihatmu di taman ini. Apa ada yang menarik? Aku tahu sih, memang menarik melihat orang berlalu lalang. Aku malah sering sekali menghitungnya. Rekorku yaitu menghitung 437 orang yang lewat.”
Benar-benar gadis yang berisik dan kurang kerjaan. Dia melepaskan genggaman tangannya dari tanganku.
“Ayo pulang.” Katanya kembali menarik tanganku dan menggandengku pulang. Aku memilih diam.
“Kau tahu, mengapa Mama memberiku nama Athena?” aku menggeleng. “Karena kata Mama aku anak yang kuat dan tidak cengeng. Tadi aku tersandung dan jatuh, tapi aku tidak menangis karena aku kuat.” Katanya terkekeh.
Sepanjang perjalanan gadis itu tak henti-hentinya berbicara. Heran, apa dia tidak lelah berbicara tanpa henti seperti itu? Aku melepas genggaman tangannya dan berhenti.
“Ada apa?” tanyanya bingung.
“Ini rumahku.” Giliranku yang menatapnya dengan bingung. Kami sudah berdiri di depan pintu gerbang halaman rumahku.
Tiba-tiba gadis itu tersenyum dan menarik tanganku lagi. “Kita pulang ke rumahku.”
Aku hanya menatap rumahku yang gelap. Itu berarti tidak ada siapapun di rumah.
“Mamaaa! Kami pulang!” serunya yang kemudian disambut mamanya dengan senyum. Mama gadis itu pun menyambtku dengan hangat. Baru kali ini aku merasa seperti betul-betul pulang ke rumah. Pertama kalinya aku merasa punya tempat untuk tersenyum. Apakah ini kesempatan untukku bahagia?
Tapi itu hanyalah pemikiran naïf dari aku yang belum tahu apa arti keadilan hidup. Karena dalam kamus hidupku tidak akan pernah ditemukan kata ‘adil’. Karena hidup itu tak adil.
-#TenAkatsuki#-
Halaman demi halaman album foto dibukanya untuk mengingat kebersamaannya dengan Athena. Kai menelusuri memorinya bersama Athena sampai yang terakhir. Foto terakhir Athena. Foto itu diambil tepat sebelum saat kematian Athena. Foto di pagi hari pada hari sebelum natal tiba.
“Kai, apa ada yang kau inginkan?” tanya Athena tiba-tiba.
Aku menginginkanmu, Ena. “Tidak, aku tidak menginginkan apa-apa.” Kata Kai meletakkan tangannya di pucuk kepala Athena.
“Tapi, malam natal nanti bertepatan dengan hari ulang tahunmu, Kai. Kau boleh meminta apapun dariku.” Kata Athena riang. “Kau mau aku membelikanmu kado apa?”
“Tidak. Lihat ini, jam tangan hadiah natal dua tahun yang lalu pun masih bekerja dengan baik dan selalu kupakai. Aku tidak membutuhkan apa-apa, Ena. Terima kasih.”
“Tapi—”
“Kalau kau memaksa, pulanglah lebih awal, dan kita akan berkumpul satu keluarga.” Kata Kai tersenyum. Baru kali ini senyum Kai terlihat manis. Baru kali ini juga kai mengatakan “Kita… keluarga…”
“Aku dengar dari berita cuaca tadi, bahwa malam ini salju akan turun. Aku ingin melihat salju pertama yang turun bersamamu! Kita semua akan berbahagia malam ini, yaiy!!” seru Athena penuh sukacita dan bahagia.
Athena mengingat percakapan pagi itu dan tidak sabar untuk segera pulang. Ia menyeberang dengan tergesa tepat pada saat ada sebuah mobil yang tergelincir. Kecelakaan pun tak terelakkan lagi.
Athena yang langsung dilarikan ke rumah sakit sempat koma beberapa waktu. Ia membuka mata dan tersenyum. “Aku ingin melihat salju pertama turun bersamamu.” Athena pergi ke tempat yang tak bisa Kai raih.
Tak berapa lama salju pertama pun turun di kota. Kai melihatnya. Seakan putihnya salju turut membawa kepergian Athena.
“Ena… Enaaaa!!!” baru kali ini Kai menangis setelah hampir 10 tahun sejak perceraian orang tuanya. Mama Athena membekap mulut menahan tangisnya yang menyesakkan.
-#TenAkatsuki#-
Kenapa kau tak pernah mengatakannya padaku? Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku? Kau tahu Ena, seandainya kau bertanya padaku siapa gadis itu, itu kau! Itu kau, Ena!
Kai mengambil fotonya bersama Ena pada saat festifal kembang api, dimana Kai dan Ena tersenyum, memasangnya pada pigura dan meletakkannya di meja. Kai memasukkan album dan buku harian Athena ke dalam kotak, berharap apa yang terjadi hanyalah mimpi.
==Fin==
Yogyakarta, 25 Juni 2013
Ingat, Allah selalu melihat.. ;)
https://www.wattpad.com/77762530-keping-memori-terakhir
*This is mine. Don’t copy without my permission. Ten akatsuki!!*
Tuesday, December 24, 2013
JEPANG DAN INSPIRASI
Setiap keberhasilan membutuhkan usaha dan kerja keras.Semua itu dimulai dari nol. Hal tersebut tidak gampang, apalagi hanya mengandalkan ijazah dalam mencari pekerjaan.
Bermula dari sebuah kesenangan, siapa yang menyangka bahwa hal tersebut menjadi penghantar kesuksesan? Awalnya iahanya suka tentang hal-hal yang berbau Jepang;ia pun melihat sebuah celah kesempatan yang kini menjadi realitas jalan hidupnya.
Baim-san begitu ia dipanggil. Ia lahir di Jakarta. Sejak kecil di masa sekolah, jiwa usahawannya memang sudah terlihat.Baim-san ingin seperti orang tuanya yang juga berjiwa usahawan.Orang tuanya menekunibeberapa usaha danjualannya.Motivasi awalnya adalah untuk menambah uang jajan; Baim-san pernah berjualan koran, menjajakan makanan yang di buat ibunya, dan berjualan parfum.
Alumnus Fakultas Ekonomi UGM ini mengungkapkan bahwa ketika mahasiswa dulu, iamemanfaatkan ilmunya dan mengombinasikannya dengan kesukaannya terhadap Jepang.Ketertarikan Baim-san pada Jepang telah menginspirasinya untuk mencoba bisnis kuliner dengan membuka kedai, yaitu Nikkou Ramen di Jl. Sangaji 79, Yogyakarta.
Baim-sanmembaca peluang bahwa masyarakat Yogyakarta dianggap cukup memiliki antusias yang cukup tinggi terhadap makanan khas Jepang.Hal ini dapat dilihat dari julukan Yogyakarta sebagai “Kota Pelajar” yang pada umumnya pelajar/mahasiswa memiliki gaya hidup yang konsumtif.
Pada tahun 2008, Baim-san bersama salah seorang teman memulai usaha kuliner khas Jepang ini dengan bermodal ide dan semangat. Dengan modal sedikit dan kemudian membukit. Artinya, ia memulai usaha dari nol.Selain Nikkou Ramen, Baim-san juga membuka cabang di lokasi lain, yaitu di Seturan.Saat ini Baim-san sudah memiliki kurang lebih 13-17 orang karyawan yang sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa.
Ada kendala dan juga pasang surut dalam usahanya.Salah satunya terkait dengan efektivitas waktu pekerja yang umumnya adalah mahasiswa.Pada jam aktif, yaitu buka pukul 10.00 dan tutup maksimal pukul 20.00,namun selesainya jam kerja tidak selalu berpatokan pada waktu tersebut.Ketika musim liburan, jumlah konsumen berkurang karena banyak pelajar libur dan banyak mahasiswa yang pulang ke kampung halaman.Pernah juga Baim-san membuka cabang di daerah Selokan Mataram, namun karena suatu alasan, cabang di sana tidak berjalan dengan baik dan kemudian ditutup.
Menurut Baim-san, enterpreneur yang baik adalah tidak pernah takut mencoba, pantang menyerah, cerdas, bervisi “Jual yang mereka butuhkan, jangan jual apa yang kita punya”. Ada pula tips berwirausaha dari Baim-san yaitu survei peluang, memilih target customer secara tepat, berani ambil resiko, modal memadai, dan jangan takut gagal.
By: 11201244016/N PBSI'11/04 Nov'13
Friday, October 11, 2013
Resensi: Ayah, Menyayangi Tanpa Akhir
Penerbit : Zetta
Tahun terbit : 2012
Tebal Buku : 372 halaman
Sinopsis
Cerita ini berawal dari Arjuna Dewangga, yang kerap disapa Juna sesosok calon apoteker yang berkenalan dengan Keisha Mizuki, gadis Jepang yang belajar di Indonesia jurusan Arkeologi. Perkenalan mereka berakhir dengan pernikahan walau tanpa restu dari orangtua keduanya.
Juna anak pertama dari orang tuanya yang merupakan darah biru, ningrat Solo, ia rela pergi dari rumah demi menikah dengan Keisha. Keisha seorang gadis yang masih keturunan ningrat, daimyo dan samurai, yang kebanyakan masih berpikir konvensional. Pernikahan mereka dilakukan tanpa hadirnya orangtua kedua belah pihak.
Juna dan Keisha berusaha bagaimana supaya mereka bisa hidup dan juga menyelesaikan studi. Studi merekaselesai dengan cepat, bahkan mereka lulus dengan cum laude. Di dekat kosan tempat tinggal mereka tinggal mbah Ngatinah yang sudah seperti keluarga sendiri, bahkan membantu keperluan Keisha ketika ia hamil. Kehidupan mereka juga melibatkan dua orang sahabat yang selalu ada, yaitu Dean yang calon dokter dan Rosa, mahasiswa calon arkeolog yang pelupa.
Juna yang sudah menjadi seorang apoteker, dan Keisha yang sudah menjadi arkeolog, mempersiapkan nama untuk anak mereka kelak. Rajendra Mada Prawira bila laki-laki, dan Arke Padma Nawangwulan bila perempuan. Ternyata Rajendra Mada Prawira-lah yang lahir. Keisha meninggal beberapa saat setelah melahirkan. Hal ini membuat Juna sangat terpukul dan pindah ke Cibubur bersama Mada dan Mbok Jum serta Pak Ri yang merawatnya dulu semasa kecil.
Juna telah menjadi seorang apoteker bahkan mempunyai perusahaan farmasi dan apotek dimana-mana. Ia membesarkan Mada supaya menjadi pemuda yang sesuai dengan namanya, menjadikan Mada ‘seseorang’ kemudian membawanya ke kedua orang tuanya untuk membuktikan bahwa pilihannya menikahi Keisha adalah tepat. Juna mengajarkan pada Mada seperti apa dan untuk apa arti hidup yang sesungguhnya.
Mada menjadi pribadi yang cerdas, banyak kawan, serta banyak kegiatan. Ia menjadi ‘orang lapangan’. Ada kalanya hubungan Mada dan Juna adalah ayah dan anak, namun lebih sering apa yang terlihat adalah layaknya teman dan sahabat. Betapa dekat dan saling merasakan satu sama lain. Namun kedekatan itu bukan berarti tidak pernah ada pertengkaran antara keduanya. Pertengkaran yang terjadi menyakiti hati satu sama lain, sehingga pertengkaran yang terjadi tidak akan pernah bertahan lama.
Pernah Mada merengek meminta ibu baru. Pernah pula karena hasutan seorang teman sekelasnya ketika SD, Mada mengirim surat dan berharap surat itu sampai kepada ibunya yang sudah meninggal. Ketika Mada tidur, ia memeluk foto ibunya, berharap bisa bertemu dengan ibunya dalam mimpinya.
Namun semua itu akhirnya hanya tinggal kenangan.
Suatu hari Mada yang sakit divonis mengidap kanker otak stadium IV. Juna tidak menginginkan adanya operasi. Ia yang seorang apoteker, bersama Dean yang dokter berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan Mada, walau akhirnya Mada tak tertolong dan meninggal pada umur 17 tahun. Setelah kehilangan yang kedua itulah kemudian juna menyadari bahwa pada saatnya nanti kita semua memang harus sendiri.
Yogyakarta, 28 Jun'13
Ps.
salah satu dari 50 hasil resensi novel, tugas akhir mata kuliah Kajian Fiksi.. :D
Dongeng: A Greedy Prince
One day, he didn’t want to eat any foods. “No!” rejected the little prince, when the maids and his parents give him some foods. Apparently, he wanted to walk in garden. He stayed there until night came.
Suddenly, he met someone in there, “Hey, who are you?” ask the prince. “You didn’t need to know who I am.” Said the man prepare some foods in the table. The little prince looked the foods.
“What? Did you wanted it?” ask the man, smile. “Uhmm… maybe one?” said the prince. “Pleasure, don’t be afraid to ate it.” Begged the man. And the little prince ate some foods.
But, surprise! He was cursed became a thin prince. He was sad crying. “I was a witch, oh greedy prince! Hahaha!” laugh the witch loudly, then he disappeared and not coming back.
The prince back to his castle. His parents and all his maid shocked by what happened with the prince. And then, his parents and all his maid gave him what he want, he wanted any foods. His parents hopes returned their son. They were give any foods in the table, and so all his maid did.
The little prince ate and drank all that was served. “Graup… graup… nyam-nyam-nyam, gluk-gluk-gluk…” his tummy was getting bigger. But he still ate any foods. He was full and very full.
Surprisingly, he slept very calmly. “Zzzz… zzz… zzzz…” but it happened for many days. Actually he dead. Maybe because of full. Who knows?
I think, the moral that I can get from this story is, don’t be a greedy people, something exaggerate is not good, and don’t trust someone directly.
Magelang, 12 Dec'11
Ps.
Tugas mata pelajaran bahasa inggris, membuat dongeng dan untuk nilai ujian praktek pas kelas 3 SMA. yah, bahasa inggrisnya emang acak-acakan sih, tapi yang penting tugas kelar.. haha :D
Dalam Penantian
Menggapai senja, meraih matahari
Sisipkan sepi dalam penantian hari
Aku menepi berkaca pada angkuhnya sang siang dalam elegi
Menyatu pada rintik air mata suci mentari
Disini kuberdiri, berhadap pada kenyataan tak terselami
Memandang jauh cakrawala setinggi pelangi
Berharap mimpi menjadi seindah di dongeng peri
Magelang, 05 April’12
16:01
Tuesday, October 8, 2013
Senandung Koral - 051013
Desau angin yang berbisik
Hembus ombak yang meraih pantai
Aku disini menatapmu
Menaruh harap padamu
Buih yang membawa pasir menerpa koral
Iramakan senandung laut yang merengkuh karang
Pada rasaku yang tak kumengerti, kau hadir
Bayang senyummu hadirkan sepi dalam relung ini
Salahkah?
Aku bisa berkata tidak pada dunia
Namun degup jantung ini berkata sebaliknya
Desir pasir yang halus ini tetap tinggalkan luka
Kenapa tak bisa?
Seperti karang yang biarkan ombak datang dan pergi
Biarkan rasa menghampiri tanpa tinggalkan jejak pasti
Kenapa harus mempersulit diir?
Lewat ombak aku berbicara
Lewat pasir aku menuis kata
Kutitipkan rasa yang datang ini
Dan meleburnya dalam senandung simfoni
Yogyakarta, 6 okt’13
Ps.
Ini dibuat dengan mengingat debur ombak dan riuhnya laut.
Mengingat dalam ketidaksadaran.. haha XD
Laut – 041013
Ketika debur ombak menggulung pantai
Ketika karang merengkuh buih
Ketika angin meniup pasir putih
Saat itulah aku meresap rasaku padamu
Gelap langit yang sendu
Pekatnya batas cakrawala
Sesosok siluetmu dalam bayang malam
Buatku terpaku terpesona
Renyahnya suara tawamu
Secercah senyum santaimu
Segores raut sedih dan kecewamu
Bahkan setitik amarahmu
Semua itu membuatku berdegup ragu
Aku malu
Aku takut
Tapi…
Aku rindu
Aku sayang
Dalam ramainya gemuruh laut
Kuteriakkan namamu
Supaya dunia tau
Aku punya rasa untukmu
Yogyakarta, 04 Okt’13
Ps.
Puisi ini ditulis ketika eksplorasi alam, latihan drama.
Bukan karena menye-menye.. namun itu lebih karena antara dalam keadaan sadar dan tidur, haha
Tuesday, May 15, 2012
Untukmu
Kutorehkan warna oranye tuk senyummu,
Kusapukan hijau tuk damaimu,
Dan kugoreskan biruku tuk air matamu…
Kan kuberikan semua warnaku tuk lukiskanmu
Kau, sahabatku…
Tak kan kubiarkan kau sendiri dengan warnamu,
Karna ku kan temani mu bersama warnaku…
Yogyakarta, 03 April’12 21:19
Friday, July 30, 2010
Sejarah Indonesia (1945-1949)
Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan berarti perjuangan rakyat Indonesia telah selesai sampai di situ. Tidak serta merta Indonesia bisa bebas dari penjajahan Jepang, belum lagi kekuatan asing lain yang masuk kedalamnya. Masa-masa di awal kemerdekaan Indonesia lebih banyak diwarnai oleh berbagai macam pertempuran dan bentrokan di sana sini daripada kedamaian.
Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1945-1949:
1945
Mendaratnya Belanda dan Sekutu
Pada 23 Agustus 1945, Inggris bersama dengan tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh.
Pertempuran Melawan Sekutu dan NICA
Banyak pertempuran yang terjadi ketika masuknya Sekutu dan NICA ke Indonesia, diantaranya :
- Peristiwa 10 November, di daerah Surabaya dan sekitarnya.
- Palagan Ambarawa, di daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya.
- Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur
- Bandung Lautan Api, di daerah Bandung dan sekitarnya.
1946-1947
Ibukota Dipindah ke Yogyakarta
Pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta pindah ke Yogyakarta sekaligus memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta karena keadaan Jakarta yang dirasa semakin gawat akibat serangan dari NICA.
Perubahan Sistem Pemerintahan
Salah satu faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil menjadi parlementer adalah pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno. Tindakan ini sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai kepala pemerintahan republik diganti oleh Sutan Sjahrir yang seorang sosialis dianggap sebagai tokoh yang tepat untuk dijadikan andalan diplomatik, bertepatan dengan terkenalnya partai sosialis di Belanda.
Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (dari sistem Presidensiil menjadi sistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara pihak RI dan Belanda. Dalam pandangan Inggris dan Belanda, Sutan Sjahrir dinilai sebagai seorang moderat, seorang intelek, dan seorang yang telah berperang selama pemerintahan Jepang.Penculikan Terhadap PM Syahrir
Tanggal 27 Juni 1946 terjadi peristiwa penculikan terhadap Perdana Menteri Sjahrir, karena ia dicap sebagai "pengkhianat yang menjual tanah airnya kepada musuh". Sjahrir diculik di Surakarta, ketika ia berhenti dalam perjalanan politik menelusuri Jawa. Kemudian ia dibawa ke Paras, kota dekat Solo, di rumah peristirahatan seorang pangeran Solo dan ditahan di sana dengan pengawasan Komandan Batalyon setempat.
Pada malam tanggal 28 Juni 1946, Ir Soekarno berpidato di radio Yogyakarta. Ia mengumumkan bahwa keadaan di dalam negeri saat itu sedang berbahaya, maka dari itu Soekarno dengan persetujuan kabinetnya mengambil alih semua kekuasaan pemerintah dan hal itu berlangsung selama sebulan lebih. Tanggal 3 Juli 1946, Sjahrir dibebaskan dari penculikan; namun baru tanggal 14 Agustus 1946, Sjahrir diminta kembali untuk membentuk kabinet dan resmi kembali menjadi perdana menteri pada tanggal 2 Oktober 1946.
Peristiwa Westerling
Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda dibawah pimpinan Westerling. Peristiwa ini terjadi pada Desember 1946-Februari 1947.
Proklamasi Negara Pasundan
Di awal bulan Mei 1947 pihak Belanda yang memprakarsai berdirinya Negara Pasundan . Sejak awal Belanda memang sudah merencanakan bahwa mereka harus menyerang Republik secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan. Namun mereka pun menyadari begitu besarnya biaya yang ditanggung untuk pemeliharaan suatu pasukan bersenjata sekitar 100.000 serdadu di Jawa, yang sebagian besar dari pasukan itu tidak aktif, merupakan pemborosan keuangan yang serius yang tidak mungkin dipikul oleh perekonomian negeri Belanda yang hancur diakibatkan perang. Oleh karena itu untuk mempertahankan pasukan ini maka pihak Belanda memerlukan komoditi dari Jawa (khususnya gula) dan Sumatera (khususnya minyak dan karet).
Agresi Militer I
Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri.
Serangan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, bahkan telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli malam. Belanda berhasil menerobos ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula.
1948-1949
Perjanjian Renville
Perjanjian ini dilakukan di atas kapal perang milik Amerika yang bernama USS Renville pada tanggal 17 Januari 1948 yang dintandatangani oleh Belanda dan Indonesia.
Pemerintah RI dan Belanda sebelumnya pada 17 Agustus 1947 sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga ditandatanganinya Persetujuan Renville, tapi pertempuran terus terjadi antara tentara Belanda dengan berbagai laskar-laskar yang tidak termasuk TNI, dan sesekali unit pasukan TNI juga terlibat baku tembak dengan tentara Belanda, seperti yang terjadi antara Karawang dan Bekasi.
Agresi Militer Belanda II terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.
Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.
Jatuhnya Kabinet Amir dan Naiknya Hatta Sebagai Perdana Menteri
Amir meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Dengan pengunduran dirinya ini, dia mengharapkan munculnya kabinet baru yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin suatu 'kabinet presidentil' darurat (1948-1949), dimana seluruh pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.
Dengan terpilihnya Hatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orang PNI, Masyumi, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai. Amir dan kelompoknya dari sayap kiri kini menjadi pihak oposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat para pengikut Sjahrir mempertegas perpecahan mereka dengan pengikut-pengikut Amir dengan membentuk partai tersendiri yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada bulan Februari 1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada pemerintah Hatta.
Perjanjian Roem-Royen
Perjanjian Roem-Royen dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Perjanjian ini dipimpin oleh Mohammad Roem (Indonesia) dan Herman van Roijen (Belanda).
Hasil pertemuan ini adalah bahwa seluruh angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya, pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar, pemerintahan Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta dan angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua tawanan perang.
Pada tanggal 22 Juni, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan yaitu, kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai dengan Perjanjian Renville pada 1948, Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan persamaan hak, Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada Indonesia.
Serangan Umum 1 Maret 1949
Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.
Serangan Umum Surakarta
Serangan Umum Surakarta berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. Serangan itu menyadarkan Belanda bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar.
Konferensi Meja Bundar
Konferensi Meja Bundar dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949 di Den Haag, Belanda. Hasil dari KMB adalah:
- Penyerahterimaan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia, kecuali Papua bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagian barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serahterima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
- Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan Belanda sebagai kepala negara.
- Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat.
Terbentuknya RIS
Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi Presiden, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri. Mereka membentuk Kabinet Republik Indonesia Serikat. Indonesia Serikat telah dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16 negara yang memiliki persamaan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.
Belanda Mengakui Kemerdekaan Indonesia
Belanda tidak mengakui kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan Belanda baru menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949, yaitu ketika penyerahan kedaulatan yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Pihak Belanda khawatir bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan Aksi Polisionil pada 1945-1949 adalah ilegal.



