Ayah, Menyayangi Tanpa Akhir – Kirana Kejora
Penerbit : Zetta
Tahun terbit : 2012
Tebal Buku : 372 halaman
Sinopsis
Cerita ini berawal dari Arjuna Dewangga, yang kerap disapa Juna sesosok calon apoteker yang berkenalan dengan Keisha Mizuki, gadis Jepang yang belajar di Indonesia jurusan Arkeologi. Perkenalan mereka berakhir dengan pernikahan walau tanpa restu dari orangtua keduanya.
Juna anak pertama dari orang tuanya yang merupakan darah biru, ningrat Solo, ia rela pergi dari rumah demi menikah dengan Keisha. Keisha seorang gadis yang masih keturunan ningrat, daimyo dan samurai, yang kebanyakan masih berpikir konvensional. Pernikahan mereka dilakukan tanpa hadirnya orangtua kedua belah pihak.
Juna dan Keisha berusaha bagaimana supaya mereka bisa hidup dan juga menyelesaikan studi. Studi merekaselesai dengan cepat, bahkan mereka lulus dengan cum laude. Di dekat kosan tempat tinggal mereka tinggal mbah Ngatinah yang sudah seperti keluarga sendiri, bahkan membantu keperluan Keisha ketika ia hamil. Kehidupan mereka juga melibatkan dua orang sahabat yang selalu ada, yaitu Dean yang calon dokter dan Rosa, mahasiswa calon arkeolog yang pelupa.
Juna yang sudah menjadi seorang apoteker, dan Keisha yang sudah menjadi arkeolog, mempersiapkan nama untuk anak mereka kelak. Rajendra Mada Prawira bila laki-laki, dan Arke Padma Nawangwulan bila perempuan. Ternyata Rajendra Mada Prawira-lah yang lahir. Keisha meninggal beberapa saat setelah melahirkan. Hal ini membuat Juna sangat terpukul dan pindah ke Cibubur bersama Mada dan Mbok Jum serta Pak Ri yang merawatnya dulu semasa kecil.
Juna telah menjadi seorang apoteker bahkan mempunyai perusahaan farmasi dan apotek dimana-mana. Ia membesarkan Mada supaya menjadi pemuda yang sesuai dengan namanya, menjadikan Mada ‘seseorang’ kemudian membawanya ke kedua orang tuanya untuk membuktikan bahwa pilihannya menikahi Keisha adalah tepat. Juna mengajarkan pada Mada seperti apa dan untuk apa arti hidup yang sesungguhnya.
Mada menjadi pribadi yang cerdas, banyak kawan, serta banyak kegiatan. Ia menjadi ‘orang lapangan’. Ada kalanya hubungan Mada dan Juna adalah ayah dan anak, namun lebih sering apa yang terlihat adalah layaknya teman dan sahabat. Betapa dekat dan saling merasakan satu sama lain. Namun kedekatan itu bukan berarti tidak pernah ada pertengkaran antara keduanya. Pertengkaran yang terjadi menyakiti hati satu sama lain, sehingga pertengkaran yang terjadi tidak akan pernah bertahan lama.
Pernah Mada merengek meminta ibu baru. Pernah pula karena hasutan seorang teman sekelasnya ketika SD, Mada mengirim surat dan berharap surat itu sampai kepada ibunya yang sudah meninggal. Ketika Mada tidur, ia memeluk foto ibunya, berharap bisa bertemu dengan ibunya dalam mimpinya.
Namun semua itu akhirnya hanya tinggal kenangan.
Suatu hari Mada yang sakit divonis mengidap kanker otak stadium IV. Juna tidak menginginkan adanya operasi. Ia yang seorang apoteker, bersama Dean yang dokter berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan Mada, walau akhirnya Mada tak tertolong dan meninggal pada umur 17 tahun. Setelah kehilangan yang kedua itulah kemudian juna menyadari bahwa pada saatnya nanti kita semua memang harus sendiri.
Yogyakarta, 28 Jun'13
Ps.
salah satu dari 50 hasil resensi novel, tugas akhir mata kuliah Kajian Fiksi.. :D
No comments:
Post a Comment