Friday, October 11, 2013

Resensi: Ayah, Menyayangi Tanpa Akhir

Ayah, Menyayangi Tanpa Akhir – Kirana Kejora
Penerbit : Zetta
Tahun terbit : 2012
Tebal Buku : 372 halaman

Sinopsis
Cerita ini berawal dari Arjuna Dewangga, yang kerap disapa Juna sesosok calon apoteker yang berkenalan dengan Keisha Mizuki, gadis Jepang yang belajar di Indonesia jurusan Arkeologi. Perkenalan mereka berakhir dengan pernikahan walau tanpa restu dari orangtua keduanya.

Juna anak pertama dari orang tuanya yang merupakan darah biru, ningrat Solo, ia rela pergi dari rumah demi menikah dengan Keisha. Keisha seorang gadis yang masih keturunan ningrat, daimyo dan samurai, yang kebanyakan masih berpikir konvensional. Pernikahan mereka dilakukan tanpa hadirnya orangtua kedua belah pihak.

Juna dan Keisha berusaha bagaimana supaya mereka bisa hidup dan juga menyelesaikan studi. Studi merekaselesai dengan cepat, bahkan mereka lulus dengan cum laude. Di dekat kosan tempat tinggal mereka tinggal mbah Ngatinah yang sudah seperti keluarga sendiri, bahkan membantu keperluan Keisha ketika ia hamil. Kehidupan mereka juga melibatkan dua orang sahabat yang selalu ada, yaitu Dean yang calon dokter dan Rosa, mahasiswa calon arkeolog yang pelupa.

Juna yang sudah menjadi seorang apoteker, dan Keisha yang sudah menjadi arkeolog, mempersiapkan nama untuk anak mereka kelak. Rajendra Mada Prawira bila laki-laki, dan Arke Padma Nawangwulan bila perempuan. Ternyata Rajendra Mada Prawira-lah yang lahir. Keisha meninggal beberapa saat setelah melahirkan. Hal ini membuat Juna sangat terpukul dan pindah ke Cibubur bersama Mada dan Mbok Jum serta Pak Ri yang merawatnya dulu semasa kecil.

Juna telah menjadi seorang apoteker bahkan mempunyai perusahaan farmasi dan apotek dimana-mana. Ia membesarkan Mada supaya menjadi pemuda yang sesuai dengan namanya, menjadikan Mada ‘seseorang’ kemudian membawanya ke kedua orang tuanya untuk membuktikan bahwa pilihannya menikahi Keisha adalah tepat. Juna mengajarkan pada Mada seperti apa dan untuk apa arti hidup yang sesungguhnya.

Mada menjadi pribadi yang cerdas, banyak kawan, serta banyak kegiatan. Ia menjadi ‘orang lapangan’. Ada kalanya hubungan Mada dan Juna adalah ayah dan anak, namun lebih sering apa yang terlihat adalah layaknya teman dan sahabat. Betapa dekat dan saling merasakan satu sama lain. Namun kedekatan itu bukan berarti tidak pernah ada pertengkaran antara keduanya. Pertengkaran yang terjadi menyakiti hati satu sama lain, sehingga pertengkaran yang terjadi tidak akan pernah bertahan lama.

Pernah Mada merengek meminta ibu baru. Pernah pula karena hasutan seorang teman sekelasnya ketika SD, Mada mengirim surat dan berharap surat itu sampai kepada ibunya yang sudah meninggal. Ketika Mada tidur, ia memeluk foto ibunya, berharap bisa bertemu dengan ibunya dalam mimpinya.

Namun semua itu akhirnya hanya tinggal kenangan.
Suatu hari Mada yang sakit divonis mengidap kanker otak stadium IV. Juna tidak menginginkan adanya operasi. Ia yang seorang apoteker, bersama Dean yang dokter berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan Mada, walau akhirnya Mada tak tertolong dan meninggal pada umur 17 tahun. Setelah kehilangan yang kedua itulah kemudian juna menyadari bahwa pada saatnya nanti kita semua memang harus sendiri.


Yogyakarta, 28 Jun'13



Ps.
salah satu dari 50 hasil resensi novel, tugas akhir mata kuliah Kajian Fiksi.. :D

Dongeng: A Greedy Prince

Once upon a time, there lived a little prince in a castle. He was only child in there castle. His parents and all his maid spoiled him. Uhm… give him anything what he wanted. He wanted any foods. “This foods for you, my prince.” Said a maid. “Nyam-nyam-nyam, gave me more!” command the little prince, with some foods in his mouth. Like that his parents did. So, he was very fat and very very big, and he liked it.

One day, he didn’t want to eat any foods. “No!” rejected the little prince, when the maids and his parents give him some foods. Apparently, he wanted to walk in garden. He stayed there until night came.

Suddenly, he met someone in there, “Hey, who are you?” ask the prince. “You didn’t need to know who I am.” Said the man prepare some foods in the table. The little prince looked the foods.
“What? Did you wanted it?” ask the man, smile. “Uhmm… maybe one?” said the prince. “Pleasure, don’t be afraid to ate it.” Begged the man. And the little prince ate some foods.

But, surprise! He was cursed became a thin prince. He was sad crying. “I was a witch, oh greedy prince! Hahaha!” laugh the witch loudly, then he disappeared and not coming back.

The prince back to his castle. His parents and all his maid shocked by what happened with the prince. And then, his parents and all his maid gave him what he want, he wanted any foods. His parents hopes returned their son. They were give any foods in the table, and so all his maid did.

The little prince ate and drank all that was served. “Graup… graup… nyam-nyam-nyam, gluk-gluk-gluk…” his tummy was getting bigger. But he still ate any foods. He was full and very full.

Surprisingly, he slept very calmly. “Zzzz… zzz… zzzz…” but it happened for many days. Actually he dead. Maybe because of full. Who knows?

I think, the moral that I can get from this story is, don’t be a greedy people, something exaggerate is not good, and don’t trust someone directly.


Magelang, 12 Dec'11


Ps.
Tugas mata pelajaran bahasa inggris, membuat dongeng dan untuk nilai ujian praktek pas kelas 3 SMA. yah, bahasa inggrisnya emang acak-acakan sih, tapi yang penting tugas kelar.. haha :D

Dalam Penantian


Menggapai senja, meraih matahari

Sisipkan sepi dalam penantian hari

Aku menepi berkaca pada angkuhnya sang siang dalam elegi

Menyatu pada rintik air mata suci mentari

Disini kuberdiri, berhadap pada kenyataan tak terselami

Memandang jauh cakrawala setinggi pelangi

Berharap mimpi menjadi seindah di dongeng peri


Magelang, 05 April’12
16:01

Tuesday, October 8, 2013

Senandung Koral - 051013


Desau angin yang berbisik
Hembus ombak yang meraih pantai
Aku disini menatapmu
Menaruh harap padamu

Buih yang membawa pasir menerpa koral
Iramakan senandung laut yang merengkuh karang
Pada rasaku yang tak kumengerti, kau hadir
Bayang senyummu hadirkan sepi dalam relung ini

Salahkah?
Aku bisa berkata tidak pada dunia
Namun degup jantung ini berkata sebaliknya
Desir pasir yang halus ini tetap tinggalkan luka

Kenapa tak bisa?
Seperti karang yang biarkan ombak datang dan pergi
Biarkan rasa menghampiri tanpa tinggalkan jejak pasti
Kenapa harus mempersulit diir?

Lewat ombak aku berbicara
Lewat pasir aku menuis kata
Kutitipkan rasa yang datang ini
Dan meleburnya dalam senandung simfoni


Yogyakarta, 6 okt’13


Ps.
Ini dibuat dengan mengingat debur ombak dan riuhnya laut.
Mengingat dalam ketidaksadaran.. haha XD

Laut – 041013


Ketika debur ombak menggulung pantai
Ketika karang merengkuh buih
Ketika angin meniup pasir putih
Saat itulah aku meresap rasaku padamu

Gelap langit yang sendu
Pekatnya batas cakrawala
Sesosok siluetmu dalam bayang malam
Buatku terpaku terpesona

Renyahnya suara tawamu
Secercah senyum santaimu
Segores raut sedih dan kecewamu
Bahkan setitik amarahmu
Semua itu membuatku berdegup ragu

Aku malu
Aku takut
Tapi…
Aku rindu
Aku sayang

Dalam ramainya gemuruh laut
Kuteriakkan namamu
Supaya dunia tau
Aku punya rasa untukmu



Yogyakarta, 04 Okt’13



Ps.
Puisi ini ditulis ketika eksplorasi alam, latihan drama.
Bukan karena menye-menye.. namun itu lebih karena antara dalam keadaan sadar dan tidur, haha

Tuesday, May 15, 2012

Untukmu

Untukmu sahabatku...

Kutorehkan warna oranye tuk senyummu,

Kusapukan hijau tuk damaimu,

Dan kugoreskan biruku tuk air matamu…

Kan kuberikan semua warnaku tuk lukiskanmu

Kau, sahabatku…

Tak kan kubiarkan kau sendiri dengan warnamu,

Karna ku kan temani mu bersama warnaku…





Yogyakarta, 03 April’12 21:19

Friday, July 30, 2010

Sejarah Indonesia (1945-1949)

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia, bukan berarti perjuangan rakyat Indonesia telah selesai sampai di situ. Tidak serta merta Indonesia bisa bebas dari penjajahan Jepang, belum lagi kekuatan asing lain yang masuk kedalamnya.  Masa-masa di awal kemerdekaan Indonesia lebih banyak diwarnai oleh berbagai macam pertempuran dan bentrokan di sana sini daripada kedamaian.

Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun 1945-1949:


1945

Mendaratnya Belanda dan Sekutu

Pada 23 Agustus 1945, Inggris bersama dengan tentara Belanda mendarat di Sabang, Aceh.


Pertempuran Melawan Sekutu dan NICA

Banyak pertempuran yang terjadi ketika masuknya Sekutu dan NICA ke Indonesia, diantaranya :

  1. Peristiwa 10 November, di daerah Surabaya dan sekitarnya.
  2. Palagan Ambarawa, di daerah Ambarawa, Semarang dan sekitarnya.
  3. Perjuangan Gerilya Jenderal Soedirman, meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur
  4. Bandung Lautan Api, di daerah Bandung dan sekitarnya.

1946-1947

Ibukota Dipindah ke Yogyakarta

Pada tanggal 4 Januari 1946, Soekarno dan Hatta pindah ke Yogyakarta sekaligus memindahkan ibukota Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta karena keadaan Jakarta yang dirasa semakin gawat akibat serangan dari NICA.


Perubahan Sistem Pemerintahan

Salah satu faktor yang memicu perubahan sistem pemerintahan dari presidensiil menjadi parlementer adalah pernyataan van Mook untuk tidak berunding dengan Soekarno. Tindakan ini sudah terbaca oleh pihak Republik Indonesia, karena itu sehari sebelum kedatangan Sekutu, tanggal 14 November 1945, Soekarno sebagai kepala pemerintahan republik diganti oleh Sutan Sjahrir yang seorang sosialis dianggap sebagai tokoh yang tepat untuk dijadikan andalan diplomatik, bertepatan dengan terkenalnya partai sosialis di Belanda.

Terjadinya perubahan besar dalam sistem pemerintahan Republik Indonesia (dari sistem Presidensiil menjadi sistem Parlementer) memungkinkan perundingan antara pihak RI dan Belanda. Dalam pandangan Inggris dan Belanda, Sutan Sjahrir dinilai sebagai seorang moderat, seorang intelek, dan seorang yang telah berperang selama pemerintahan Jepang.


Penculikan Terhadap PM Syahrir

Tanggal 27 Juni 1946 terjadi peristiwa penculikan terhadap Perdana Menteri Sjahrir, karena ia dicap sebagai "pengkhianat yang menjual tanah airnya kepada musuh". Sjahrir diculik di Surakarta, ketika ia berhenti dalam perjalanan politik menelusuri Jawa. Kemudian ia dibawa ke Paras, kota dekat Solo, di rumah peristirahatan seorang pangeran Solo dan ditahan di sana dengan pengawasan Komandan Batalyon setempat.

Pada malam tanggal 28 Juni 1946, Ir Soekarno berpidato di radio Yogyakarta. Ia mengumumkan bahwa keadaan di dalam negeri saat itu sedang berbahaya, maka dari itu Soekarno dengan persetujuan kabinetnya mengambil alih semua kekuasaan pemerintah dan hal itu berlangsung selama sebulan lebih. Tanggal 3 Juli 1946, Sjahrir dibebaskan dari penculikan; namun baru tanggal 14 Agustus 1946, Sjahrir diminta kembali untuk membentuk kabinet dan resmi kembali menjadi perdana menteri pada tanggal 2 Oktober 1946.


Peristiwa Westerling

Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda dibawah pimpinan Westerling. Peristiwa ini terjadi pada Desember 1946-Februari 1947.


Proklamasi Negara Pasundan

Di awal bulan Mei 1947 pihak Belanda yang memprakarsai berdirinya Negara Pasundan . Sejak awal Belanda memang sudah merencanakan bahwa mereka harus menyerang Republik secara langsung. Kalangan militer Belanda merasa yakin bahwa kota-kota yang dikuasai pihak Republik dapat ditaklukkan dalam waktu dua minggu dan untuk menguasai seluruh wilayah Republik dalam waktu enam bulan. Namun mereka pun menyadari begitu besarnya biaya yang ditanggung untuk pemeliharaan suatu pasukan bersenjata sekitar 100.000 serdadu di Jawa, yang sebagian besar dari pasukan itu tidak aktif, merupakan pemborosan keuangan yang serius yang tidak mungkin dipikul oleh perekonomian negeri Belanda yang hancur diakibatkan perang. Oleh karena itu untuk mempertahankan pasukan ini maka pihak Belanda memerlukan komoditi dari Jawa (khususnya gula) dan Sumatera (khususnya minyak dan karet).


Agresi Militer I

Pada tanggal 27 Mei 1947, Belanda mengirimkan Nota Ultimatum, yang harus dijawab dalam 14 hari agar supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis demarkasi. Namun RI menolak hal ini.

Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam, terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan ini sebagai urusan dalam negeri.

Serangan di beberapa daerah, seperti di Jawa Timur, bahkan telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli malam. Belanda berhasil menerobos ke daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula.


1948-1949

Perjanjian Renville

Perjanjian ini dilakukan di atas kapal perang milik Amerika yang bernama USS Renville pada tanggal 17 Januari 1948 yang dintandatangani oleh Belanda dan Indonesia.

Pemerintah RI dan Belanda sebelumnya pada 17 Agustus 1947 sepakat untuk melakukan gencatan senjata hingga ditandatanganinya Persetujuan Renville, tapi pertempuran terus terjadi antara tentara Belanda dengan berbagai laskar-laskar yang tidak termasuk TNI, dan sesekali unit pasukan TNI juga terlibat baku tembak dengan tentara Belanda, seperti yang terjadi antara Karawang dan Bekasi.


Agresi Militer II


Agresi Militer Belanda II terjadi pada tanggal 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya. Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.

Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta. Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat diadakan.


Jatuhnya Kabinet Amir dan Naiknya Hatta Sebagai Perdana Menteri


Amir meletakkan jabatannya sebagai Perdana Menteri pada tanggal 23 Januari 1948. Dengan pengunduran dirinya ini, dia mengharapkan munculnya kabinet baru yang beraliran komunis untuk menggantikan posisinya. Harapan itu menjadi buyar ketika Soekarno berpaling ke arah lain dengan menunjuk Hatta untuk memimpin suatu 'kabinet presidentil' darurat (1948-1949), dimana seluruh pertanggungjawabannya dilaporkan kepada Soekarno sebagai Presiden.

Dengan terpilihnya Hatta, dia menunjuk para anggota yang duduk dalam kabinetnya mengambil dari golongan tengah, terutama orang-orang PNI, Masyumi, dan tokoh-tokoh yang tidak berpartai. Amir dan kelompoknya dari sayap kiri kini menjadi pihak oposisi. Dengan mengambil sikap sebagai oposisi tersebut membuat para pengikut Sjahrir mempertegas perpecahan mereka dengan pengikut-pengikut Amir dengan membentuk partai tersendiri yaitu Partai Sosialis Indonesia (PSI), pada bulan Februari 1948, dan sekaligus memberikan dukungannya kepada pemerintah Hatta.


Perjanjian Roem-Royen


Perjanjian Roem-Royen dimulai pada tanggal 14 April 1949 dan akhirnya ditandatangani pada tanggal 7 Mei 1949 di Hotel Des Indes, Jakarta. Perjanjian ini dipimpin oleh Mohammad Roem (Indonesia) dan Herman van Roijen (Belanda).

Hasil pertemuan ini adalah bahwa seluruh angkatan bersenjata Indonesia akan menghentikan semua aktivitas gerilya, pemerintah Republik Indonesia akan menghadiri Konferensi Meja Bundar, pemerintahan Republik Indonesia dikembalikan ke Yogyakarta dan angkatan bersenjata Belanda akan menghentikan semua operasi militer dan membebaskan semua tawanan perang.

Pada tanggal 22 Juni, sebuah pertemuan lain diadakan dan menghasilkan keputusan yaitu, kedaulatan akan diserahkan kepada Indonesia secara utuh dan tanpa syarat sesuai dengan Perjanjian Renville pada 1948, Belanda dan Indonesia akan mendirikan sebuah persekutuan dengan dasar sukarela dan persamaan hak, Hindia Belanda akan menyerahkan semua hak, kekuasaan, dan kewajiban kepada Indonesia.


Serangan Umum 1 Maret 1949 

Serangan Umum 1 Maret 1949 adalah serangan yang dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta secara secara besar-besaran yang direncanakan dan dipersiapkan berdasarkan instruksi dari Panglima Besar Sudirman, untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa TNI - berarti juga Republik Indonesia - masih ada dan cukup kuat, sehingga dengan demikian dapat memperkuat posisi Indonesia dalam perundingan yang sedang berlangsung di Dewan Keamanan PBB dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa TNI masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.


Serangan Umum Surakarta

Serangan Umum Surakarta berlangsung pada tanggal 7-10 Agustus 1949 secara gerilya oleh para pejuang, pelajar, dan mahasiswa. Mereka berhasil membumihanguskan dan menduduki markas-maskas Belanda di Solo dan sekitarnya. Serangan itu menyadarkan Belanda bila mereka tidak akan mungkin menang secara militer, mengingat Solo yang merupakan kota yang pertahanannya terkuat pada waktu itu berhasil dikuasai oleh TNI yang secara peralatan lebih tertinggal tetapi didukung oleh rakyat dan dipimpin oleh seorang pemimpin yang andal seperti Slamet Riyadi. Pelajar dan mahasiswa yang berjuang tersebut kemudian dikenal sebagai tentara pelajar.


Konferensi Meja Bundar

Konferensi Meja Bundar dilaksanakan pada tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949 di Den Haag, Belanda. Hasil dari KMB adalah:

  • Penyerahterimaan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia, kecuali Papua bagian barat. Indonesia ingin agar semua bekas daerah Hindia Belanda menjadi daerah Indonesia, sedangkan Belanda ingin menjadikan Papua bagian barat negara terpisah karena perbedaan etnis. Konferensi ditutup tanpa keputusan mengenai hal ini. Karena itu pasal 2 menyebutkan bahwa Papua bagian barat bukan bagian dari serahterima, dan bahwa masalah ini akan diselesaikan dalam waktu satu tahun.
  • Dibentuknya sebuah persekutuan Belanda-Indonesia, dengan Belanda sebagai kepala negara.
  • Pengambil alihan hutang Hindia Belanda oleh Republik Indonesia Serikat.

Terbentuknya RIS

Tanggal 27 Desember 1949, pemerintahan sementara negara dilantik. Soekarno menjadi Presiden, dengan Hatta sebagai Perdana Menteri. Mereka membentuk Kabinet Republik Indonesia Serikat. Indonesia Serikat telah dibentuk seperti republik federasi berdaulat yang terdiri dari 16 negara yang memiliki persamaan persekutuan dengan Kerajaan Belanda.


Belanda Mengakui Kemerdekaan Indonesia


Belanda tidak mengakui kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 dan Belanda baru menganggap kemerdekaan Indonesia baru terjadi pada 27 Desember 1949, yaitu ketika penyerahan kedaulatan yang ditandatangani di Istana Dam, Amsterdam. Pihak Belanda khawatir bahwa mengakui Indonesia merdeka pada tahun 1945 sama saja mengakui tindakan Aksi Polisionil pada 1945-1949 adalah ilegal.